ENLOVQER DEVIL – 16

ENLOVQER DEVIL – 16

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

****

 

         

          Ify membenarkan roknya setelah keluar dari mobil illy. Dengan berbagai perjuangan melawan pengawal-pengawalnya akhirnya ia berhasil lepas, dengan bantuan illy, dia pun kini dapat berdiri di center of Haling Corp. Ify menarik nafas panjang-panjang dan melepaskannya dalam satu helaan. Dengan meyakinkan dirinnya sekali lagi, ia mencoba untuk confident.

“Lo pasti bisa Ify!! “

****

Ingatan Ify bisa dikatakan diatas dari baik.  Ia masih mengingat dimana ruang kerja Rio. Tepat berada lantai up ujung sendiri. Ify tidak peduli banyak pasang mata yang melihatnya aneh. Ia berhasil melewati pemeriksaan satpam dengan bantuan card-up  yang dipinjamkan illy kepadannya, kartu agar bisa memasuki perusahaan ini. Jelas saja illy mempunyai kartu tersebut. She is haling’s corp sister.

Ify berdiri didepan meja resepsionis yang terjaga oleh seorang gadis tinggi, dengan dandanan yang lumayan tebal dan bisa ditebak bahwa gadis itu adalah sekertaris Rio.

“Ada yang bisa saya bantu adek?” tanya gadis itu dengan begitu sopan. Senyumnya yang lumayan menawan menunjukkan dimples dikedua pipinya.

“Gue mau ketemu sama Rio” jawab Ify dengan tenang sambil membenahkan tasnya.

“Adek sudah ada janji?”

“Gue pacarnya” jawab Ify sekali lagi penuh percaya diri. Sang sekertaris mengernyitkan kening, menatap Ify mulai aneh.

“Maaf adek, disini bukan tempat untuk main-main. Jad—“

“YOOOO !!! KALAU LO NGGAK KELUAR HINGGA HITUNGAN KETIGA, GUE AKAN BERUBAH FIKIRAN BUAT JADI PACAR LO!!”

Ify langsung teriak tanpa kontrol. Membuat sekertaris didepannya mulai kesal.

“Dek!! Mohon yang sopan! Ini kantor, kamu nggak bisa te—,“

“SATU!!”

“DUA!!!”

 

Ckleeekkkkk

 

          Suara pintu terbuka, nampaklah sang punya perusahaan. Ify melambaikan tangannya dengan  tak berdosa kearah pria tersebut yang tak lain dan tentu jelas adalah Rio.

“Maaf pak, Saya sangat minta maaf, Saya akan panggil satpam agar gadis ini bis—“

“Biarkan dia masuk” ujar Rio kepada sang sekertaris, kemudian beranjak masuk kembali.

Ify tersenyum puas ketika melihat sekertaris tersebut hanya terdiam shock, tak percaya dengan kedua mata membuka lebar pastinya.

“Udah gue bilang, gue pacarnya! “

“Aissh!”

*****

Ify memasuki ruang kerja Rio, ia mendapati pria itu sudah kembali duduk dikursi dan berkutik di depan laptop dengan wajah setengah serius. Ify sendiri tak ingin basa-basi bah tuan putri yang berlaku anggun. Tanpa disuruh ia duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Jadi lo udah buat keputusan untuk jadi pacar gue?” tanya Rio membuka suara, tatapannya tetap fokus ke arah laptopnya tanpa teralih sedikit pun.

“Hmm—, tapi dengan syarat lo harus turutin semua permintaan gue”

“Asal gue bisa, pasti gue turutin” jawab Rio penuh keyakinan. Ify mengangkat bahunya seolah sedikit tak percaya dengan ucapan Rio.

Ify mengangkat kakinya ke atas sofa, melihat Rio yang sangat serius dengan pekerjaanya. Ia mulai terfirkir untuk menjalankan aksinya, seperti yang disyarankan oleh illy tadi disekolah. Sudut mata Ify terangkat. Ready Action!!

“Gue tadi kesini diantar sama illy “

“Beliin gue mobil kayak punya illy”pinta Ify dengan  tak tau dirinnya. Ucapan Ify barusan tentu saja membuat Rio menghentikkan pekerjannya.

“Lo belum punya SIM”

“Illy juga belum punya!”

“Dia udah punya, umurnya lebih tua 2 tahun dari lo. Dia telat sekolah”

“HELL!!”

“POKOKNYA BELIIN GUE MOBIL SEKARANG!!!”

“Gue nggak akan makai mobilnya sampai gue punya SIM”

“Yaudah belinya pas lo udah punya SIM aja”

“GUE PINGINNYA SEKARANGG!! LO NGGAK MAU BELIIN?”

Rio mengangkat kepalannya, kedua matannya mengarah ke Ify yang ada di sebrang sana. Duduk tak berdosa diatas sofa dengan tatapan mata elang yang terus mengibarkan bendera api.

“Terserah! Lo bisa beli sendiri.  Gue masih harus selesaikan pekerjaan gue”

Rio mengambil sesuatu dari jasnya, setelah menemukan dompetnya ia melemparkan begitu saja ke arah Ify. Untung saja Ify langsung menangkap dompet tersebut dalam sekali tangkapan tanpa jatuh ke lantai. Ify melengos dengan apa yang dilakukan oleh Rio barusan.  Pria itu benar-benar menuruti ucapannya? Tapi bukan ini yang dia mau. Rio harus sekesal mungkin dengannya.

“Ogah gue beli sendiri! Emang gue cewek apaan! Cuma nerima duit doang”

“Gue maunya beli sama lo!” paksa Ify, nadanya mulai meninggi.

“Gue masih sibuk”

“Pokoknya gue mau belinya sama lo!! SEKARANG!!! “

“Lo bisa tunggu 2 jam lagi, gue akan anterin lo” nada suara Rio terdengar sangat tenang bahkan kedua matannya tak teralihkan untuk menatap ify sedikit pun, membuat gadis itu semakin naik pitam.

“ SEKARANG YA SEKARANGG!! “ teriak Ify mulai mengeluarkan jurus manja-paksanya yang tak pernah ia keluarkan.

“Kerjaan gue masih banyak, sebentar lagi gue ada grand opening ” Rio mencoba tetap bersabar, kini gadis SMA itu telah menyandang sebagai kekasihnya.

Ify menunggu kata-kata tersebut keluar, ia bersiap untuk mengeluarkan jurus paling ampuhnya diantara jurus lainnya.

“Jadi lo lebih milih pekerjaan lo dari pada gue?”

SKAKMAT!!! Kedua tangan Rio langsung berhenti bergerak diatas laptop, ia melihat Ify sekilas, gadis itu menatapnya sinis. Helaan nafas berat keluar dari mulut dan hidung Rio. Mimpi apa dirinnya semalam!.

 

Bukkkk

Rio langsung menutup laptopnya begitu saja, kemudian berdiri dari kursi kerjannya.

“Ayo!”

Ify meneguk ludahnya dan menatap Rio tak percaya. Apa barusan pria itu menuruti ucapannya? Sejak kapan Rio jadi setenang ini dan sebaik ini? Tidak mungkin. Apakah pria itu bukan Rio? Tapi wajahnya memang benar Rio. Hell~

“Jadi beli apa nggak ?”  tanya Rio, sudah berdiri dihadapan Ify entah sejak kapan.

“Mmm—, jadi” Ify pun dengan cepat berdiri dan mengikuti Rio yang sudah duluan berjalan keluar dari ruang kerjannya.

*****

Rio benar-benar membawannya ke sebuah soorum mobil. Rio benar-benar membelikannya mobil. Ify sedikit tak enak, padahal ia berharap Rio akan marah dan mencampakannya dan akhirnya memutuskannya. Namun? What is that? Pria itu benar-benar menuruti ucapannya.

“Lo mau yang mana?” tanya Rio kepada Ify yang hanya terdiam saja sedari tadi.

“Terserah! Yang paling mahal” jawab Ify dengan tatapan blank. Rio mendecak tak percaya.

“Turuti ucapan dia” ujar Rio kepada pegawai soorum.

 

Setelah selesai membayar mobil permintaan Ify dengan harga senilai 4,5 M, mereka berdua kembali ke parkiran. Lebih tepatnya kembali ke mobil untuk beranjak dari sana. Ify mengehalan nafas berat, menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Sekali lagi, Ia benar-benar tak percaya bahwa Rio rela mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menuruti permintaan konyolnya.

“Mobilnya akan diantar besok pagi ke rumah lo” jelas Rio yang mulai menyalakan mobilnya. Ify hanya bisa mengangguk-angguk saja.

Didalam perjalanan, Ify terus berfikir dan berfikir. Ia merasa bahwa ia kalah, ia tak mau terkalahkan oleh Rio. Ia tak boleh kasihan dengan pria itu. Ia harus mendapatkan kata “Putus”  dari Rio !! Harus!. Ia harus bangkit dan kembali menyusun strateginnya dengan matang!! Wajib!!

“Gue lapar” ujar Ify kepada Rio.

“Lo mau makan apa?”

“Pizza, burger, sandwich, Float”

“Pantesan aja otak lo nggak pernah berkembang, konsumsi lo junk food semua! “

“YAAA!!! “ teriak Ify tak terima dengan ejekan Rio barusan.

 

DRRTTDRTT

 

 

Ponsel Rio berbunyi, ia melihat layar ponselnya dan melihat nama sekertarisnya tertera di layar tersebut. Rio segera memakai alat handsfree ke telinganya dan mengangkat sambungan telfon tersebut.

“Ada apa?”

“Maaf pak, tuan Rollen sudah sampai diruang kerja bapak saat ini. Beliau ingin meminta tanda tangan persetujuan untuk CSR yang akan mulai dilaksanakan  di Daegu-korea selatan besok pagi”

         

 

Rio melirik sekilas ke Ify yang sedari tadi ternyata mengamatinya. Rio kembali fokus kedepan.

“Suruh wakil direktur untuk menandatanginya, saya tidak bisa kembali ke kantor saat ini”

 

“Tapi pak in—“

 

 

 

“ Saya masih ada janji yang lebih penting. Jalankan perintah saya”

Rio mematikan sambungannya, melepaskan handsfree ditelingannya begitu saja dan sekali lagi kembali fokus kedepan. Ify mengalihkan tatapanya ke luar jendela sedikit memfikirkan ucapan Rio, apa barusan yang dimaksud “ janji lebih penting “ itu adalah dengan dirinnya. Ify mengangkat bahu mencoba tak peduli.

*****

Mereka berdua berhenti di restoran pasta yang lumayan terkenal akhir-akhir ini. Ify ikut turun mengikuti Rio.  Mereka berdua memilih makan di lantai 3 dari restoran tersebut, karena di lantai 3 privasi mereka dapat terjaga. Dilantai 3 disediakan berbagai ruangan sendiri seperti private-room bagi para kelas VIP, yah seperti Rio.

Mereka duduk di ruangan makan. Ify merasa sangat canggung, meskipun ini bukan pertama kalinnya ia makan ditempat seperti ini. Ia merasa sedikit tak nyaman bersama dengan seorang pria.

“Apalagi yang ingin lo minta?” tanya Rio bah  menantang Ify.

“Cihh—, kenapa lo harus turutin semua ucapan gue?”

“Lo yang minta”

“Sejak kapan lo jadi pria penurut kayak gini ?”

“Sejak lo jadi pacar gue” jawab  Rio tanpa fikir dua kali.

“Lo ngajak gue bercanda???” kesal Ify dibuat semakin frustasi oleh Rio. Ini semua diluar skenario harusnya. Ify mencoba berfikir lebih keras.

“Besok lo harus anterin gue ke sekolah dan jemput gue sekolah”

“Gue bukan supir pribadi lo” tolak Rio mentah-mentah.

“Tapi lo pacar gue! Semua teman gue yang punya pacar berangkat dan pulang bersama dengan pacarnya” jelas Ify tak mau kalah.

“Lo bisa berangkat dengan adik dari pacar lo, Si illy “

“Lo nolak permintaan gue?” tajam Ify mencoba untuk marah. Rio menghela nafas pasrah.

“Gue anterin”

“Serius?” Ify dibuat tak percaya kembali.

“Hmm” dehem Rio dengan wajah terpaksanya yang kentara.

“Setelah itu gue pingin shoopping” ucap Ify dengan cepat, ia benar-benar menyerang Rio dalam oneshoot-attack.

“Sejak kapan lo suka shopping?”

“Sejak kapan lo tau banyak kehidupan gue ?”

“Lo bisa bawa kartu kredit gue, lo belanja sendiri aja sepuas lo”

“Gue butuh lo bukan uang lo! “

Ucapan Ify yang entah sadar atau tidak membuat Rio langsung terdiam. Ia menatap Ify kembali yang kini sedang menatapnya dengan wajah yang lebih dari serius.

“Lo tau kan gue orang paling sibuk di dunia ini ?”

“I know—“

“Kalau lo udah tau jika sangat sibuk, lo nggak usah pacaran! Lo bisa nikahi semua pekerjaan lo dan uang-uang lo” Rio dibuat menyerah dan tak bisa berkata-kata kembali. Ucapan Ify benar-benar menusuk.

“Terserah lo!”

****

Rio menghentikkan mobilnya didepan rumah Ify, ia mengantarkan kekasih barunya tersebut untuk pulang terlebih dahulu sebelum ia kembali lagi ke kantor. Ia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tertunda.

“Mau kemana lo?” tanya Rio ketika melihat Ify akan turun dari mobilnya. Ify menolehkan wajahnya ke arah Rio.

“Keluar lah!”

“Langsung turun gitu aja?” tanya Rio seolah memberikan kode maksud lain.

“Terus?” binggung Ify yang sama sekali tak faham dengan pembicaraan dan maksud dari ucapan Rio. Membingungkan!

 

 

“Salam perpisahan !”

“Heh?”

Rio mengetuk pipi bagian kirinya dua kali menggunakan jari telunjuknya, menunjukkan kode yang jelas agar Ify memberikan cheek-kiss kepadannya.

 

PLAAAKK

 

“Lo mau mati disini?”

Bukan sebuah ciuman yang ia dapat melainkan tamparan panas dari Ify di pipinya. Rio melengos, mendesah berat. Ia tak menyangka jika berpacaran akan sesusah ini.

“Ponsel lo mana?” tanya Rio mencoba melupakan sejenak kejadian memalukan barusan.

“Buat apa?”

“Lo nggak butuh nomer gue?”

“ Nggak” jawab Ify dengan sangat yakin bahkan lebih dari 100 yakin. Rio mendesis.

“Serahin ponsel lo sekarang! “

“Lo bisa minta Ando”

“Serahin ponsel lo sekarang!! “ ancam Rio untuk kedua kalinnya dengan nada sangat serius membuat Ify menyerah. Ia pun  mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menyerahkan ke Rio.

Ify menunggu saja Rio yang sedang mengotak-atik ponselnaya.

“Simpan baik-baik”

Rio mengembalikkan ponselnya, Ify menerima ponsel dengan layar yang masih menyala sehingga ia dapat melihat jelas apa yang ada di depan matannya saat ini.

“Hell!! Lo udah nggak waras? “

Ify menatap Rio dengan tatapan tak percaya, sejak kapan pria dingin ini jadi begitu menjijikan saat ini. Rio menyimpan nomernya sendiri di ponselnya dengan username “ Pria Idaman “

Sebelum dirinnya semakin jijik dan muntah ditempat, Ify segera keluar dari mobil Rio. Ia bergidik ngeri.

“Jangan dihapus!! “

“Jangan diganti!!!” teriak Rio dari dalam mobil. Ify tak mempedulikannya dan terus saja berjalan cepat untuk masuk kedalam rumah.

Rio terdiam sesaat di dalam mobil setelah kepergian Ify. Ia tertawa pelan sendiri. Sejak kapan ia jadi pria menjijikan seperti ini. Entahlah, ia sendiri tak mengerti apa yang dilakukannya sedari tadi. Ia juga tak tau kenapa ia begitu menurut kepada Ify. Mungkin, ia melakukanya untuk mengetahui apakah dirinnya benar ada rasa kepada gadis itu? Dia ingin memastikan? Mungkin saja.

*****

Matahari sudah berada di bujur timur, mentransferkan energi hangat bagi seluruh makhluk. Di pagi hari ini pula seorang pria dengan wajah masih setengah-mengantuk, kaos oblong, celana selutut sudah sibuk mencomoti roti di ruang makan.

“Kesurupan apa lo jam segini sudah bangun?” tanya illy kepada sang kakak. Heran tentunya.

“Ma, Rio berangkat dulu” teriak Rio pamit ke mamanya tanpa mempedulikan pertanyaan illy. Rio meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja.

“Eitss—, mau kemana lo?”

“Nggak mungkin lo ke kantor kayak gini!” curiga illy, ia menarik kaos kakaknya, mencegah.

Rio menghela berat, melepaskan tangan adiknya dalam satu sentakan dari kaosnya.

“Nganterin Ify ke sekolah” jawab Rio dengan malas. Sedangkan si pendengar jawaban, membelakan mata tak percaya. Illy tanpa sadar menarik kaos kakaknya lebih erat membuat sang kakak hampir terjatuh.

“YAAA!!!! LO BENAR-BENAR KAKAK KEJAM!!” teriak illy benar-benar tak  habis fikir dengan sang kakak.

“Apaan ?” kesal Rio dan mencoba melepaskan tangan adiknya. Namun kali ini tak berhasil, Rio dapat melihat percikan api yang keluar dari kedua mata sang adik.

“Gue bahkan hampir seribu kali memohon, bersujud agar lo nganterin gue ke sekolah tapi lo nggak pernah melakukannya! “

“Lo nggak pernah ngabulin”

“DAN LO SEKARANG NGANTERIN IFY??”

“LO BENAR-BENAR—“

“Waaahhhh!!” illy menggeleng-gelengkan kepalannya benar-benar tak dapat mentoleransi semua ini.

“GUE ADIK LO!!! “

“So?” sahut Rio dengan tak berdosa.

“NGAPAIN LO ANTERIN IFY ?? “

“Dia pacar gue “ jawab Rio tanpa fikir dua kali, ia melepaskan tangan adiknya dan berlalu secepat mungkin, meninggalkan illy yang semakin berapi-api.

“WAAAHHHH!! LO EMANG GILAA!! “

“ LO BENERAN NGGAK WARAS!! “

“LO KAKAK KEJAM!! “

“LO NGGAK TAU DIRI!! “

“GUE NGGAK BAKAL AKUIN LO JADI KAKAK GUE LAGI!!! “

“GUE BENCI SAMA LO!!! “

******

Ando mengukur tengkuk kepalannya, menatap pemandangan di depannya setengah tak yakin. Apa benar pria yang dilihatnya tersebut adalah Rio.

“Lo kesurupan apa? Ha?” tanya Ando dengan bergidik ngeri, Rio hanya membalas dengan cengiran ringan.

“AYO CEPETAN!! NANTI GUE TELAT!! “

Suara teriakan Ify dari dalam mobil Rio membuat pria itu hanya bisa bersabar dan mendecak menahan kesal. Rio melambaikan tangannya ke Ando.

“Gue ngantar tuan putri dulu”

“Hati-hati yo, Sorry adek gue ngerepotin lo”

Rio pun segera masuk kedalam mobil, dan menancap gas untuk beranjak dari sana meninggalkan Ando yang masih dengan wajah binggung dan illy yang menatap penuh amarah didepan rumahnya.

“Lo nggak berangkat?” tanya Ando yang melihat illy masih didepan rumah. Illy sedikit terkejut, moodnya yang hancur langsung 360 derajat berubah berseri bah ditaburi cherry blossom disekitarnya.

“Ini mau berangkat kak” jawab illy semanis mungkin.

“Hati-hati dijalan”

“Kak, nanti sore bisa minta bantuan nggak?” tanya illy membuat Ando mengernyitkan keningnya.

“Bantuan? Apa?”

“It—, Itu, kamar di lampu illy mati. Terus nggak ada yang benahin. Kak Rio pasti pulang malam, mama pergi ke luar negeri sampai lusa, terus tukang kebun dirumah masih sakit” illy mulai membuat beribu alasan palsu.

“Oke, nanti sore, gue ke rumah lo” jawab Ando tanpa fikir panjang, mendengar persetujuan Ando langsung membuat illy girang dalam hati tak karuan. Ingin rasannya ia berteriak-teriak sambil joget zumba.

“Thanks kak, illy berangkat dulu”

*****

Ify melepaskan seatbelt-nya. Ia kini sudah sampai didepan sekolahnya dengan supir-pribadi barunya yang tak lain adalah kekasih baru yang tak pernah ia anggap. Mario Adipati Haling.

“Jangan lupa jemput gue”

“Iya tuan puteri” jawab Rio dengan nada enggan.

“Lo nggak ikhlas nganterin gue?”

“Banget!”

“Aisshh—“ decak Ify sangat kesal. Sekali lagi harus ia tekankan, Rio adalah pria paling kejam dan terjujur tak tau diri serta tak bisa membuat hati seorang gadis bergetar.

“Eits!” cegah Rio ketika Ify akan keluar.

“Apaan lagi?”

“Lo kira gue nganterin lo ini gratis?”

“Terus?”

Rio menatap Ify dengan tersenyum penuh arti, seperti yang dilakukannya kemarin, ia mengetuk dua kali pipinya dengan jari telunjuknya. Ify langsung bergidik tajam.

“Lo mau gue tampar lagi?”

“Aisshh—“ desis Rio benar-benar kesal.

“Udah sana keluar!! Keluar!!“ ucap Rio mengusir Ify, tangannya mendorong tubuh Ify dengan sedikit kasar agar gadis itu segera keluar dari mobilnya.

“LO NGGAK WARAS!!! “ teriak Ify sangat kesal, seragamnya jadi sedikit berantakan gara-gara Rio.

Mobil Rio segera lepas-landas dari hadapan Ify, meninggalkan gadis itu yang masih mencak-mencak tak jelas  akibat kelakukan kekasih-barunya.

******

Rio tiba di kantornya, ia dikejutkan dengan kedatangan beberapa dewan pemegang saham yang entah kenapa datang tanpa ada janji  terlebih dahulu dengan Rio. Namun, bagi Rio ini bukanlah hal yang harus dikhawatirkan karena kejadian seperti ini sering terjadi jika menginjak akhir tuhan ketika annual report perusahaan akan dipublishkan.

Rio mengambil tempat duduk yang telah diperuntukkan untuknya, ia mengikuti rapat dadakan pagi setengah siang ini.

“Baiklah, saya rasa tidak ada masalah baik di sektor manufcature, jasa ataupun yang lainnya. “

“Terima kasih atas kerja sama semuannya”

Rio mengakhiri rapat, dan segera meninggalkan ruangan terlebih dahulu. Rio melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 12.00 siang dan 2 jam lagi ia harus sudah menjemput kekasihnya.

“Pak, pesawat pribadi anda sudah kami siapkan” ucap Agni sekertaris Rio dan membuat langkah Rio langsung terhenti.

“Apa saya ada janji diluar negeri hari ini?” tanya Rio yang memang tak ingat.

“Opening Haling otomotiv di Macau diselenggaran nanti malam, apa bapak lupa?” Rio mendesah pelan, ia sedikit kesal dengan dirinnya sendiri. Kenapa ia jadi pelupa dan merasa kurang tanggung jawab seperti ini. Ini tidak seperti dirinnya.

Agni menatap Rio dengan tatapan aneh. Yah, ini untuk pertama kalinnya Rio seperti tak fokus. Sejak dulu sampai sekarang tanpa perlu di ingatkan saja Rio akan sangat ingat dengan jadwal schedule.nya sendiri.

“Baiklah kita berangkat ke bandara sekarang”

Rio berjalan menuju luar perusahaan, ia disambut oleh pengawal-pengawal pribadinya seperti biasannya. Sebelum masuk kedalam mobil Rio mengajak bicara Mr. An, yang merupakan kepala dari semua pengawal pribadinya.

“Mr.An tidak perlu menemaniku hari ini, cukup 3 anak buah Mr. An saja. Mr. An saya berikan tugas lainnya”

*****

Ify menatap pemandangan didepannya dengan sedikit angker. Kenapa bisa ada 10 orang berbaju hitam dan membuat dirinnya kini menjadi bahan tontonan tak jelas teman-temannya yang baru pulang sekolah.

“Dimana Rio??” tanya Ify. Nada suarannya sudah dapat menandakan bahwa gadis ini sangat kesal.

“Maaf nona, tuan Rio ada grand opening di Macau, dia baru saja terbang ke Macau” jelas Mr.An yang nampak sabar dan mungkin sudah cukup tau bagaimana watak Ify.

“Aissh—“ desis Ify lebih kesal lagi. Ify segera mengeluarkan ponselnya dan memainkan ponselnya untuk mencari salah satu nomer yang harus ia hubungi detik ini juga.

Sambungan Ify akhirnya terangkat, suara bass berat dan berkharisma mulai membuat getaran suara di gendang telinga kanan Ify.

“Dimana lo?”

“Sorry gue nggak bisa jemput lo, gu—“

“Gue tanya dimana lo sekarang??” tajam Ify memberi penekanan. Untuk beberapa detik, Ify tak mendengarkan suara apapun. Pria itu terdiam tak membalas.

Gue dipesawat” jawabnya dengan suara sedikit berat.

“Gue nyuruh lo yang jemput gue, bukan pengawal-pengawal lo!!”

“Gue ada grand opening di Macau, gue nggak bi—“

“Lo kesini sekarang jemput gue atau kita putus!” ancam Ify yang begitu memaksa.

“Gue udah ada didalam pesawat, lo kira ini taxi yang bisa stop dimana pun yang lo mau?” suara Rio mulai ikut emosi. Permintaan Ify benar-benar sangat konyol dan tak masuk akal.

“Gue nggak peduli! Yaudah kalau lo mau hubungan kita berakhir—”

“Nggak usah jemput gue!”

Ify tersenyum puas, akhirnya tiba juga kondisi yang sangat ia tunggu sedari kemarin. Ify tau jelas bahwa Rio akan memilih pekerjaannya yang sangat penting itu dari pada dirinnya. Ia sangat yakin 100% bahwa Rio akan kesal, marah bahkan akan membencinya. Ify tak peduli yang terpenting ia bisa mengakhiri hubungan konyol ini.

“Tunggu disana—“

“Gue jemput sekarang!”

Ify akan berniat menutup sambungannya namun suara jawaban disebrang sana membuat dirinya mematung seribu bahasa, tak bisa berkata apapun dan tentu saja ia tidak percaya bahwa Rio rela melepaskan pekerjaannya yang menurutnya adalah sangat penting.

“Hell!!”

*****

Rio benar-benar datang menjemputnya, pria itu tiba disekolahnya dengan helikopter pribadi yang diturunkan di helipad rooftoop sekolah. Ify tak perlu kaget jika yang melakukan hal tersebut adalah seorang Mario Adipati Haling. Dengan kekuasan dan uang semuannya dapat terwujudkan.

Pria itu kini sudah ada dihadapannya tanpa menatapnya sedikit pun bahkan tanpa menyapannya sedikit pun. Sepertinya dia marah!.

“Kalian boleh pergi, dia akan saya antarkan pulang” perintah Rio kepada para pengawalnya yang langsung menjalankannya.

“Ini tuan, kunci mobilnya” ujar Mr. An memberikan kunci mobil Rio yang harusnya digunakan untuk menjemput Ify.

Setelah menerima kunci mobilnya, Rio segera masuk terlebih dahulu kedalam mobil tanpa mengajak Ify.

“Kalau marah nggak usah kesini juga kali!!” Ify pun jadi ikut-ikutan kesal. Ia mencoba tak takut dan memasang wajah muka tembok. Ia mengikuti Rio untuk masuk kedalam mobil.

Rio menancap gas dan menjalankan mobilnya dengan kecapatan yang sedikit diatas rata-rata. Dari carannya menyetir sudah dipastikan bahwa pria itu sedang marah. Sangat marah!.

Ify binggung harus apa saat ini? Apa dia minta saja berhenti dipinggir jalan? Ah—,jangan. Bisa-bisa Rio langsung memutilasi dirinnya saat ini juga.

“Bodo amat !! pasang muka badak yang ditembokin aja!”

Ify menyalakan musik yang ada di dalam mobil Rio, namun tak sampai baris pertama penyanyi itu menyelesaikan lagu Rio langsung mematikannya. Ify melirik  Rio dengan kedua mata elangnya.

“Gue lapar!! “ tajam Ify yang  sama sekali tak lagi takut dengan Rio.

*****

Rio mengajak Ify makan di restoran yang ada didalam perumahan. Mereka memakan makanan mereka masih dalam diam tanpa ada yang membungkam suara. Mungkin tidak akan ada yang mengalah disini, keduanya sama-sama memiliki watak batu dan keras kepala.

“Besok lo yang harus jemput gue lagi, Gue nggak mau pengawal-pengawal lo!” ucap Ify mengingatkan, pernyataan yang dilontarkannya seperti orang yang tak punya dosa sama sekali.

“Hm” jawab Rio singkat dan fokus ke makannya lagi.

“Lo—, lo—“

“Lo bisa kembali ke Macau sekarang”

Rio menghentikkan aktivitasnya, kepalannya terangkat dan kini dirinnya benar-benar menatap Ify tepat dikedua mata gadis itu.

“Lo fikir pekerjaan gue lelucon buat lo?” Ify meneguk ludahnya, Rio sangat marah besar kepadannya. Sangat!. Ia dapat melihat jelas kedua mata Rio yang lebih dari serius seperti biasannya.

“Gu—, Gu—, Guee nggak suka orang yang tidak menepati janji” jawab Ify mencari pembelaan.

“Lo tau arti toleransi?” tanya Rio semakin menyudutkan Ify

“Lo sendiri tau arti tanggung jawab?”  sekali lagi Ify membalas ucapan Rio, ia tak suka disudutkan dan seolah dirinnya yang sangat bersalah disini. Walaupun memang benar dirinnya sangat salah.

Rio mendesah berat.

“Habisin makanan lo, kita nggak usah bahas ini lagi”

Rio melanjutkan kembali makannya, menghindari tatapan Ify.

*****

Setelah makan, Ify mengajak Rio untuk shopping seperti yang ia minta kemarin. Dan Rio pun menurutinya tanpa banyak protes. Mereka belanja di sebuah Mall Elite yang ada di bagian barat ibukota. Mall yang hanya berisi barang-barang real brand  dengan harga yang  fantastis. Semua harga barang disana dimulai dengan 0 sejumlah 6 dan diatasnya.

Ify memang sengaja memilih mall ini, menguji kembali apakah Rio akan tetap sabar dengannya. Ify akan menjalankan aksinya kembali dalam rangka menjelma menjadi gadis matre kelas akud!

“Gue tunggu di cafe atas, lo bisa belanja sendiri” ujar Rio dengan menyerahkan kartunya ke Ify.

“Nggak mau!” tolak Ify mentah-mentah dan membuat Rio hanya bisa pasrah untuk sekian kalinnya.

Rio sama sekali tidak suka shopping dan segala macamnya. Ia tidak mengerti kenapa seorang gadis sangat suka sekali berbelanja di Mall, hangout tak jelas dengan teman-temannya. Menurut Rio itu sama sekali tak ada manfaatnya. Jika memang ingin melakukan social relationship bisa dilakukan disebuah forum yang jelas dan terverifikasi. Bukan dilakukan dengan seperti ini!.

“Semuannya Rp. 35.572.500 “ Rio memberikan kartunya kepada petugas kasir. Ini sudah toko ke 5 yang mereka masuki. Rio hanya bisa berdecak dan geleng-geleng melihat kekasih kecil nya tersebut berbelanja seperti orang kalut. Mulai dari pakaian bawah, atas, sepatu, tas, hingga di toko berlian. Rio tak menghitung berapa banyak yang sudah ia keluarkan dalam waktu kurang dari 1 jam ini.

Setelah selsai membayar, penderitaan Rio bertambah. Ia harus membawakan semua belanjaan Ify tanpa jatuh dan tertinggal sedikit pun. Rio meminta Ify agar barangnya di bawahkan oleh serviceshopper atau sebutan bagi pelayan yang bersedia membawakan barang belanjaan pengunjung atau pembeli yang telah disediakan oleh Mall. Namun, Ify melarangnya dengan keras.

“Kemana lagi?” tanya Rio sudah terlihat lelah. Ify mengedarkan kepalannya seolah mencari satu tempat lagi yang ingin ia masuki.

“Kesana—“ Ify menunjuk kearah tokoh pakaian pria, dan tanpa sadar tangan Ify langsung menarik tangan kanan Rio membuat pria itu mau tak mau mengikutinya.

Rio mengernyitkan kening, kenapa gadis ini masuk ke pakaian pria. Apakah ia akan membelikan Ando? Atau Iqbal?. Rio hanya bisa mengangkat bahunya tak tau dan juga tak mau tahu.

“Silahkan, ada yang bisa kami bantu?” sambut dua pelayan cantik di tempat tersebut.

“tolong ambilkan dasi yang paling bagus dan warnanya jangan terlalu vancy.”

Pelayan tersebut mengangguk dan mulai mengambilkan barang permintaan Ify.

“Lo beliin Ando?” tanya Rio yang akhirnya cukup penasaran.

“Nggak” jawab Ify tanpa membalikkan badannya sedikit pun ke arah Rio. Ia terlalu fokus melihat dompet-dompet pria yang terpasang di etalase depan.

“Terus? Lo beliin siapa?”

“Lo”

Jawaban Ify yang singkat, jelas namun penuh kejujuran tersebut berhasil membuat Rio terdiam. Ia menatap gadis itu yang hanya menampakkan bagian belakang tubuhnya. Tanpa sadar kedua sudut bibir Rio terangkat sedikit. Membentuk sebuah senyuman ringan.

“Saya ambil yang ini aja mbak, nggak usah di bungkus”

Ify pun menerima dasi berwarna navy pekat. Sangat sederhana namun nampak elegant. Ia kemudian membalikkan badannya, berjalan mendekati Rio yang masih saja terdiam disana.

“Lepas dasi lo!” suruh Ify dengan suara tak ada manis-manisnya. Rio mengerutkan keningnya sebentar, namun detik kemudian ia melakukan perintah Ify. Ia menaruh semua belanjaan Ify dibawah lantai kemudian tanpa fikir panjang melepas dasi warna hitam yang ia pakai.

Ify lebih mendekat ke Rio, ia langsung memakaikan dasi yang dipilihnya tersebut ke kerah Rio. Ify memakaikannya dan merangkaikan dasinya dengan begitu teliti dan memperhatikan sekali nilai estetika pada setiap lekukan yang ia masukkan.

Ify tak sadar dengan apa yang dilakukannya itu berhasil membuat pria di depannya hanya bisa meneguk luda, dan menahan nafas. Rio dapat melihat wajah Ify sangat dekat dengan dirinnya, ia memperhatikan lekat gadis itu.  Bulu mata yang panjang dan melengkung alami, bibir yang mungil, hidung mancung, dagu tirus. Rio harus mengakui sekarang bahwa gadis ini sangatlah cantik.

“Selesai! Waaah—, good!” Ify tersenyum sangat puas dengan hasil karyanya.

Rio mendadak ragu, apakah benar gadis didepannya ini adalah Ify? Atau sisi Ify yang lain barusaja muncul? Gadis ini tak seperti Ify yang ia kenal.

“Apa lo lihat-lihat?”

 

PYAAAARRR!!

         

          Seperti mendapat jatuhan piring pecah, semua ilusinya terbuyarkan. Gadis didepannya memang benar Ify. Sangat benar!! Terjamin!. Rio hanya dapat melengos, baru saja ia memuji gadis ini.

“Silahkan dibayar di kasir”

Rio mengikuti Ify yang duluan berjalan ke kasir. Rio mengeluarkan dompetnya seperti yang dilakukannya di 5 tempat yang lainnya.

“Nona pintar sekali memilih dasi, itu adalah dasi limited edision yang di desain dan dibuat sendiri oleh Robert Julz.” puji petugas kasir sambil memasukkan kotak dasi dan juga sertifikasi dasi tersebut. Ify hanya dapat membalas dengan senyuman canggung.

“Semuannya Rp. 9.700.000”

Rio menyerahkan kartunya ke petugas kasir, namun langsung dicegah oleh Ify.

“Nggak usah”  tolak Ify dan untuk kedua kalinnya membuat Rio terdiam binggung.

“Ini mbak” Ify menyerahkan kartu kreditnya sendiri, ekspresi terkejut mulai kentara di wajah Rio.

Rio melirik kartu yang dikeluarkan oleh Ify dan cukup kaget bahwa gadis itu memiliki black card yang sama dengannya. Jujur, ia tidak pernah tau bagaimana latar keluarga Ando selama ini apakah benar-benar dari keluarga konglomerat, kaya baru atau sederhana. Ia bahkan tak pernah bertemu dengan kedua orang tua Ando secara personal. Baginya, Ando cukup misterius sama halnya dengan gadis di depannya saat ini. Namun, dilihat dari rumah dan all of good yang dimiliki oleh keluarga Ando bisa dibilang mereka dari keluarga golongan atas. Akan tetapi, jika diperhatikan kembali dari life style dan kebiasaan mereka sangat menjauhi dari seorang bangsawan atau konglomerat. Entahlah, Rio tak ingin memfikirkannya lebih jauh.

“Ayo pulang!! “

Ajak Ify setelah membayar dasi yang ia belikan untuk Rio. Mereka berdua berjalan bersamaan keluar dari Mall.

Bersambung. . .  .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s