ENLOVQER DEVIL – 17

ENLOVQER DEVIL – 17

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

*****

 

          Hampir mendekati 1 bulan lamannya Ify menjalani hubungan sebagai kekasih seorang miliader muda Mario Adipati Haling, dan selama 1 bulan itu pula Ify dibuat frustasi oleh Rio. Pria itu benar-benar tahan banting menghadapinya.

 

Ify menaruh tasnya diatas meja, kemudian duduk tenang dengan wajah yang terasa berat. Sivia melihat ke Ify sebentar, meneliti raut ekspresi gadis itu.

 

 

“Kenapa lo?” tanya Sivia heran.

 

 

“Gue setres!!” jawab Ify jujur.

 

 

“Why?”

 

Belum juga Ify menjawab, datanglah tuan putri pembuat touble-maker yang tiba-tiba langsung duduk dihadapan Ify. illy menyerahkan sebuah kotak bekal dihadapan Ify dan membuat raut wajah gadis itu lebih berat lagi.

 

 

“Lo sebenarnya pingin putus dari kakak gue? Atau lo beneran suka sama kakak gue?”

 

 

“Kenapa lo jadi sering sekali keluar sama kakak gue? Hampir everyday!!”

 

 

“Terus? Nih bekal!!”

 

 

“Lo nyuruh kakak gue masak pagi-pagi buta?”

 

 

Illy datang dengan wajah tak habis fikir dan menerjang Ify dengan berbagai pertanyaan. Ia mengingat sebelum ia berangkat sekolah mamanya meminta illy membawakan bekal untuk Ify yang sebelumnya telah disiapkan oleh sang kakak sendiri.

 

 

“AISSHHH!! GUE SETRES!!” teriak Ify sangat frustasi, illy sedikit memundurkan badannya takut juga jika tiba-tiba dirinnya diterkam oleh Ify.

 

 

“Gue udah lakuin segala hal, mulai dari habisin uang dia, nyuruh-nyuruh dia kayak supir pribadi, gue batalin keberangkatan dia ke grand opening perusahaannya di macau hanya untuk jemput gue, dan gue kacaukan semua pekerjaannya di kantor tapi kakak lo tetap aja nggak marah sama gue, nggak putusin gue, bahkan dia dengan senang hati melakukannya demi gue”

 

 

“Lo kurang kali habisin uangnya dia” celetuk Sivia iseng. Ify menghela berat.

 

 

“Dia ngebeliin gue mobil seharga 4,5 M “

 

 

“WHAATTTTT??” tak hanya Sivia yang dibuat shock, gadis didepan Ify mendadak berdiri dan menatap Ify dengan tak percaya.

 

“LO NGGAK WARAS? ?” teriak illy yang nampak sedikit emosi. Mengingat yang diperlakukan buruk oleh Ify adalah kakaknya sendiri.

 

 

“kakak lo yang nggak waras!!” sahut Ify kehabisan kesabaran, illy memilih duduk kembali.

 

 

“Apa gue coba minta beliin pesawat aja ?’” gumam Ify yang tak bisa berfikir sehat kembali. Ia hampir menyerah, apa dia mencoba ikhlaskan saja untuk menjadi pacar Rio.

 

 

“Sekalian aja kapal pesiar” sahut illy menambahkan ide yang semakin konyol.

 

 

Ify mengeluarkan ponselnya yang sempat berdering. Ia melihat layar ponselnya.

 

 

“Kakak lo habis transfer gue uang” ujar Ify pelan seolah kehabisan asupan oksigen, ia menunjukkan isi dari pemberitahuan mobile-bank. Nya. Illy dan Sivia membaca baik-baik pemberitahuan tersebut.

 

 

Trx Rek. 001XXXX. Transaksi KREDIT Sebesar Rp. 55.000.000

pada tanggal 11/11/16 pukul 09:59:11

 

 

“Hell!!!” serempak illy dan Sivia bersamaan, mereka menatap Ify penuh menyelidik. Apalagi tatapan illy yang paling memburu.

 

 

“Gue tadi minta uang bulanan ke dia, gue cuma ngetes aja. Gue nggak tau kalau dia bakalan transfer uang beneran ke gue. Gimana dong?”

 

 

“Gimana apannya? Lo beneran pingin buat bangkrut kakak gue?”

 

 

“Mangkannya cariin cara biar gue bisa putus dengan kakak lo!!”

 

 

Illy mendesah, ia juga cukup binggung dan tak menyangka kakaknya benar-benar melakukan semua permintaan Ify. Apa kakaknya beneran menyukai Ify? Ia seolah sudah tak mengenal kakaknya sendiri. Ia tak lagi melihat pria berhati dingin dan kejam. Yang ia lihat adalah Rio yang penurut kepada sang tuan putri.

 

 

****

 

Sabtu. Rio meminta Ify untuk menemaninya menghadiri pernikahan salah satu mitra pentingnya yang ada di Vietnam. Tentu saja Ify mengatakan tidak berkali-kali, tapi karena paksaan langsung dari nyonya Abahay membuat Ify tak bisa menolak lagi. Ia pun menurutinya dengan sedikit terpaksa. Mereka akan disana selama 2 hari 1 malam.

 

Ify keluar dari rumah dengan membawa tas ransel kecil. Ia tak berniat membawa apapun. Toh, disana nantinya ia dapat menyuruh-menyuruh Rio untuk membelikannya baju dan keprluan lainnya yang ia butuhkan. Ia tak perlu susah-susah.

 

 

“Ganti baju lo” suruh Rio ketika melihat sang kekasih. Ify men-scann dirinnya sendiri dari atas sampai bawah. Menurutnya tidak ada yang aneh. Ia menggenakan celana jeans pendek, dengan kaos tanpa lengan.

 

 

“Nggak mau”

 

“Nggak usah pakai baju aja sekalian” Ify mendesah berat, meskipun Rio selalu menuruti ucapannya akan tetapi perkataan kasar dan dingin pria itu sama sekali tak pernah hilang. Sama sekali!!.

 

Ify kembali masuk kedalam kamar, mengganti bajunya dengan cepat. Ia hanya tak ingin memperpanjang masalah dengan Rio. Ia terlalu lelah.  Di sela aktivitasnya terselib beberapa ide baru yang dapat membuat Rio marah kepadannya.

 

****

Mereka berdua pun terbang ke Vietnam menggunakan pesawat pribadi keluarga Haling. Pernikahan yang akan mereka hadiri akan berlangsung malam ini di salah satu hotel mewah ditengah kota Hanoi.

 

*****

 

Hujan deras menyambut kedatangan mereka, vietnam memiliki musim yang hampir tak jauh beda dengan Indonesia. Rio disambut oleh beberapa kolegannya ketika sampai di hotel yang memang disediakan untuknya. Selama turun dari mobil sampai masuk ke dalam hotel, Rio tak melepaskan sama sekali genggaman tangannya dari Ify. Dirinnya tak peduli banyak pasang mata yang nampak penasaran dengan gadis yang dibawahnya. Berbagai pers vietnam pun nampak ikut tertarik dan mengabadikan moment tersebut. Rio membiarkannya saja.

 

Ify mencoba tenang, dan terus menundukkan kepalannya. Banyak orang yang mencoba mengerubuti dirinnya dan Rio. Ia tak menyangka bahwa kepopularitasan Rio begitu melejit dikalangan para pengusaha dan pers business. Ify mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Rio. Ia melakukannya secara sadar, karena ia tak ingin tiba-tiba tertinggal dan menjadi bahan konyol di negeri orang.

 

*****

 

Rio mengunci kamar hotelnya dengan 5 pengawal pribadi yang siap menunggu didepan pintu. Ketika sampai di dalam, Rio melepaskan begitu saja tangannya dari Ify dan berlagak seolah tak terjadi apapun.

 

“Kenapa hanya ada 1 kamar?” protes Ify yang tak ingin satu kamar dengan Rio.

 

 

“Tempatnya cukup besar, ini terlihat seperti apartement. Terdapat 2 ruangan lagi disana untuk tidur” jelas Rio sambil mengarahkan jarik telunjuknya.

 

 

“Lo istirahat aja dulu. 3 jam lagi kita berangkat ke venue” Ify mengangguk singkat dan berjalan ke kamarnya yang ditunjukkan Rio tadi.

 

*****

Rio membenahkan dasi yang ia pakai, ia sengaja memakai dasi yang dibelikan oleh Ify kemarin, ia paduhkan dengan setelan celana dan jas biru donker serta kemeja biru pastel didalam. Terlihat begitu mewah dan elegant. Rio mengangkat kepalannya ketika melihat dua kaki jenjang keluar dari kamar dan berjalan mengarahnya. Rio mematung.

 

 

“Ayo berangkat” ucap gadis itu yang nampaknya sudah siap.

 

 

“Lo ngajak gue bercanda?”

 

 

“ganti baju lo!” tajam Rio yang tak habis fikir dengan baju yang dipakai oleh Ify saat ini. Gadis itu mengenakan rok merah yang sangat mini dengan atasan croptee warna hitam polos sehingga dapat ter-ekspos jelas bagian pusarnya.

 

 

“Nggak mau!” tolak Ify mentah-mentah.

 

 

“Gue bilang ganti baju lo!”

 

 

“Gue bilang nggak mau!”

 

 

Rio mendesah berat. Gadis ini benar-benar sangat keras kepala. Ia berjalan mendekat ke arah Ify.

 

 

“Lo ganti sendiri? Atau gue yang gantiin baju lo?”

 

 

“Lo fikir gue takut? Coba aja kalau berani?” tantang Ify makin menjadi. Rio menunjukkan smrik khasnya dan berhasil membuat Ify meneguk ludah, sedikit takut juga dengan tatapan Rio seperti itu. Namun, Ify mencoba untuk tenang dan menunjukkan ekspresi dinginnya.

 

 

“Oke kalau itu mau lo”

 

Rio menarik baju Ify membuat tubuh gadis itu pun  tertarik kedepan dekat dengannya. Rio dapat merasakan nafas Ify yang menghembus di lehernya.

 

 

“Gue kasih kesempatan satu lagi, buat lo ganti baju sendiri!” bisik Rio pelan namun sangat tajam.

 

 

“Gue tetap akan pakai baju ini. Coba aja lo berani gantiin baju gue!”

 

 

“Lo nantangin gue?”

 

 

“Cihh—, Kayak lo berani aja!!”

 

 

SREEEKKK

 

Ify meneguk ludahnya dalam sekali tegukan, kedua matanya membulat sempurna. Ia dapat merasakan dinginnya air-conditioner menerobos ke kulit bagian belakangnya. Rio  benar-benar melakukannya, pria itu membuka resleting belakang bajunya. He is psycho!!

 

 

“Mau gue lanjutkan?”   bisik Rio menakutkan, perlahan tangannya mulai turun menuju resleting rok yang dipakai oleh Ify.

 

 

“Gue bisa ganti sendiri!!” cegah Ify dengan cepat, ia menjauhkan tubuh Rio kemudian berjalan kembali ke kamarnya dengan emosi yang pastinya sudah di ujung ubun.

 

*****

 

Ify masih sangat kesal dengan kejadian beberapa menit yang lalu, ia memilih diam saja tak mempedulikan Rio yang juga nampak tak peduli dengannya. Mereka berdua memasuki venue yang berada di rooftop sebuah hotel. Pesta pernikahan terlihat sangat mewah. Terdapat kolam renang yang di dekor begitu indah, semuanya bernuansa putih.

 

Ify memaksakan senyumnya kepada siapapun yang menyapa Rio dan menjabat tangannya dan tangan Rio. Kekasihnya yang sangat famous itu memperkenalkannya ke setiap kolega yang ditemui di pesta malam ini. Terbesit rasa bangga mungkin? Apa Rio sungguh-sungguh denganya? Entah mengapa Ify mulai merasa bahwa yang dilakukan Rio kepadannya semuannya adalah tulus. Buktinya sudah terlalu banyak untuk disangkal bahwa semua itu hanya sebuah kebohongan semata.

 

 

“ Mario!!” seorang gadis tinggi semapai dengan baju putih ketat press tubuh, rambut digerai, alis tebal, kulit exotis berjalan mendekati Rio dan Ify. Gadis itu tiba-tiba langsung memeluk Rio dan memberikan cipika-cipiki. Ify menatapnya sedikit shock.

 

 

“Apa kabar? Gue kira lo nggak datang” cerocos gadis tersebut. Ify melihat Rio membalas dengan sebuah senyum canggung.

 

 

“Siapa?” tanya gadis itu yang baru menyadari kehadiran Ify. Rio ikut mengarahkan wajahnya ke Ify.

 

 

“Dia calon istri gue” Rio tak segan merangkul bahu Ify dengan erat. Tak hanya gadis didepan Rio yang kaget dengan jawaban Rio, Ify sendiri hanya bisa mematung dan mendadak blushing tak jelas.

 

Ify merasa ada sesuatu aneh yang menyambar seluruh tubuhnya. Aliran darahnya mendadak terpompa cepat. Rio menyebutnya calon istri? Entah kenapa dia tidak marah saat ini? Ada apa denganmu Ify? Apa lo—?.

 

 

“ Lo mau nikah? Yah—, patah hati gue” ekspresi gadis itu terlihat benar-benar kecewa. Ia melirik Ify dengan sinis dan kentara sekali ekspresi tak sukannya.

 

 

“Kenalin gue Allena, teman SMA Rio sekaligus cinta pertama Rio dulu” gadis itu mengulurkan tangannya ke Ify dengan wajah songgong dan seolah ingin membuat Ify cemburu. Namun, sepertinya gadis itu salah sasaran. Ify tersenyum sedikit sinis, membalas!.

 

 

“Ify, pacar sekaligus calon istri Rio”  balas Ify dengan penuh penekanan. Ekspresi gadis itu perlahan berubah, sangat marah dan kesal kepada Ify.

 

 

“Gu—, Gue ke teman-teman yang disana dulu. Bye” gadis itu memilih langsung pergi dari hadapan Rio dan Ify.

 

 

Ify menghela nafas legah, ingin rasannya tadi ia mencakar wajah gadis itu yang sangat menjengkelkan. Rio tertawa kecil melihat ekspresi kesal Ify.

 

 

“Kenapa? Lo cemburu?” goda Rio

 

 

“Heh? Cemburu? Sama siapa? Mak lampir tadi? “

 

 

“Hell!!”

 

 

“Jadi, lo udah ngakuin gue pacar lo ?”

 

 

“Terpaksa!” jawab Ify sambil  menghempaskan rangkulan tangan Rio dari tubuhnya. Ify berjalan duluan meninggalkan Rio.

 

*****

 

Rio mencari Ify yang sudah tak bersama dengan dirinnya lebih dari 30 menit, ia berjalan ke sudut-sudut tempat. Sampai akhirnya ia menemukan seorang gadis bergaun putih sedang asik duduk disebuah ayunan bersama dengan seorang gadis kecil. Rio mendekati dua orang tersebut

 

 

“This is for you” Rio memberikan sebuah permen lolipop kepada gadis kecil tersebut. Ify mendongakkan kepalannya sedikit kaget dengan kedatangan Rio yang tanpa suara.

 

 

“Thank you” jawab gadis kecil lucu tersebut terlihat senang mendapatkan hadiah kecil dari Rio.

 

 

“Is he your boyfriend?” tanya gadis mungil  itu begitu polos. Ify terdiam sesaat, nampak binggung harus menjawab apa. Rio memperhatikan Ify, menanti bagaimana jawaban yang akan dilontarkan gadis itu.

 

 

“Yes. He is” jawab Ify dengan menunjukkan senyum tipisnya

 

 

“Oke, i will not distrube you and your boyfriend. I will leave. Bye”

 

 

Gadis kecil itu memberikan kecupan di pipi kiri Ify lantas beranjak dari sana meninggalkan Ify dan Rio berdua. Ify masih tak bisa melepaskan kedua matannya dari gadis kecil yang semakin menjauh darinya. Ia begitu senang melihat kelucuan anak tersebut meskipun sebenarnya ia tak sebegitu menyukai anak kecil.

 

 

“Jadi—,”

 

 

“ Lo udah ngakuin gue adalah pacar lo?” tanya Rio sambil duduk di ayunan yang sebelumnya di duduki oleh gadis kecil tadi. Senyum yang ada diwajah Ify mendadak menghilang seketika.

 

 

“Gue pingin pulang, capek!”

 

 

Rio tertawa ringan, gadis disebelahnya memang sangat pandai dalam hal pengalihan topic. Ify menghindari pertanyaannya, namun entah mengapa itu sudah lebih dari cukup dan membuatnya senang. Setidaknya gadis itu tidak menjawabnya dengan kata “Tidak” atau “Terpaksa” seperti tadi.

 

 

“Baiklah tuan putri”

 

 

*****

 

Rio menyiapkan makan malam yang baru saja diantarkan oleh pengawalnya. Ify menjadikannya budak percobaan kembali. Gadis itu menolak untuk makan di restoran pilihan Rio dan meminta untuk dibelikan Nom Hoa Chuoi, salad khas negara ini yang memang enak dan wajib dicoba ketika berada di Vietnam.

 

Rio berjalan ke kamar Ify untuk memanggil gadis itu, ia mengetuk pintu kamar Ify beberapa kali.

 

 

“Fy!!”

 

 

“Ify!!”

 

 

“IFY!!”

 

 

Tidak ada jawaban sama sekali, Rio sedikit khawatir. Takut jika tiba-tiba penyakit gadis itu kambuh. Rio menghela nafas pelan, dan meyakinkan dirinnya untuk membuka pintu kamar Ify. Mengecek kondisi gadis itu apa tidak apa-apa.

 

 

CLKEEEKKK

 

 

“ HUAAAAAAAA!!!!”

 

 

Rio mematung ditempat, ia tak pernah menyangka akan mendapatkan pemandangan yang luar biasa seperti ini. Ia mendapati Ify yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan balutan sehelai handuk dan rambut yang masih basah. Untung saja tadi, Ify belum sempat membuka handuknya.

 

 

“Makanannya udah datang”  ucap Rio dengan tak berdosannya.

 

 

“NGAPAIN LO MASIH DISANA? TUTUP PINTUNYA!!! “

 

 

“Ah—, haruskah?”

 

 

“Udah telanjur kelihatan juga” lanjut Rio dengan sok polosnya.

 

 

“LO PINGIN MATI DISINI? HA?

 

 

“Thanks!”

 

 

BRAAKKK

 

          Dengan cepat ia menutup pintu kamar Ify sebelum gadis itu benar-benar membunuhnya ditempat. Rio menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal dengan senyuman tak jelas yang menghiasi wajahnya. That’s Good! .

 

****

 

TAAAKKKKK

 

          Rio meringis sambil memegangi kepalannya yang mendapat tabokan dari Ify. Gadis itu muncul dengan pajamanya dan wajah yang extra kesal. Ify mengambil duduk disamping Rio. Mereka berdua sengaja makan di atas sofa sekalian menonton televisi.

 

 

“Dasar om mesum!”

 

 

“Gue nggak sengaja” bela Rio tak ingin disalahkan,

 

 

“Nggak sengaja tapi diterusin!”

 

 

“Hehehehe” cengir Rio bah anak SD polos yang baru saja disunat. Ify bergidik jijik melihat ekspresi yang barusan ditunjukkan oleh Rio.

 

 

Ify menatap keluar jendela hotel. Malam ini hujan turun kembali bahkan lebih deras dengan kilatan petir tanpa suara yang terlihat jelas diatas langit gelap. Ify mendesah pelan, ia sedikit takut. Suasanannya menyeramkan.

 

 

“Kenapa?”

 

 

“Nggak apa-apa” Ify mencoba melupakan dan fokus ke makanan yang ada didepannya. Perutnya lebih penting saat ini. Ia memakan salad dengan sangat lahap. Yummy.

 

****

 

Ify menarik selimutnya dan lebih masuk kedalam, sudah lebih dari 45 menit ia tidak bisa tidur. Suara gemuruh langit dan sambaran petir terdengar begitu keras dan membuatnya gemetar sejak tadi. Hal yang paling ia benci di dunia ini adalah gelap dan suara petir. Ia sangat takut dan terus was-was sendiri. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matannya.

 

 

DUAAAARRRRRGGRRRRRRRDDDDDUAAARRRR

 

 

          Tubuh Ify spontan terpelonjat dari kasur. Ia dengan cepat berjalan keluar kamarnya dan mendapati pemandangan lebih menyeramkan. Rio telah mematikan seluruh lampu disekitar. Ify mencoba untuk tidak takut dan berjalan ke arah kamar Rio.

 

 

TokkkkTookkkkTokkkkk

 

 

Ify mengetuk pintu kamar Rio beberapa kali, berharap pria itu akan segera membuka pintunya. Namun, tak ada sahutan juga.  Ify berniat akan mengetuk kembali namun ia urungkan karena akhirnya si pemilik kamar muncul dari balik pintu dengan kedua mata setengah terbuka dan kondisi rambut yang sangat berantakkan. Rio terlihat sudah terlelap sebelumnya.

 

 

“Ada apa?” tanya Rio mencoba untuk membuka matannya walaupun sedikit susah.

 

 

“Hujan”

 

 

“Terus?”

 

 

“Petir juga”

 

 

“Terus?”

 

 

Ify mendesah berat. Apa sangat susah untuk mengartikan ucapannya. Apakah ia harus menjelaskannya lengkap terlebih dahulu baru pria didepannya ini sadar?. Dasar tidak peka!!. Ify kehilangan kesabaran.

 

 

“Tau ah!!” kesal Ify dan segera membalikkan badannya untuk kembali ke kamarnya, namun tangannya langsung digenggam oleh Rio. Pria itu mencegahnya.

 

 

“Masuk” suruh Rio yang nampaknya mengerti maksud dari kekasihnya.

 

 

Ify pun tak berfikir panjang, ia menuruti ucapan Rio dan segera masuk kedalam kamar. Bau masculine menyambut rongga hidung Ify. Ini benar-benar khas sekali bau Rio. Ify berjalan ke kasur dan segera membaringkan tubuhnya disana. Ia sudah cukup lelah karena tidak bisa tidur sedari tadi.

 

Ia melirik ke Rio yang juga akan berbaring di kasur tepat disampingnya.

 

 

“Ngapain lo?” tanya Ify mencegah Rio.

 

 

“Tidurlah”

 

 

“Dibawah sana!!” tajam Ify dan membuat kedua mata Rio yang tadinya masih setengah terbuka menjadi terbuka sempurna.

 

 

“Dingin!”

 

 

“Tidur dibawah!!” gertak Ify lebih tajam. Rio mendesah berat.

 

 

“Gue nggak nafsu sama lo!!”

 

 

Ify memberikan tatapan yang lebih menyeramkan, mengintimidasi Rio saat itu juga.

 

 

“Aisshh!!”

 

 

Rio menyerah saja dan mengalah toh pada akhirnya ia tidak akan menang. Ia segera mengambil selimut dan bantalnya untuk tidur dibawah. Dikamarnya sama sekali tak ada sofa. Ify menatap Rio dengan puas tanpa kasihan sedikit pun. Ia membiarkan saja pria itu mati kedinginan.

 

*****

 

Ify mengerjapkan kedua matannya pelan-pelan, masih terasa begitu berat. Namun, ia tak hanya merasakan matanya saja yang berat, pinggangnya juga seperti ada sebuah benda yang menjatuhinya.

 

 

Ify melihat ke bawah tubuhnya, kaget mendapati sebuah tangan yang besar dan gagah melingkar indah di pinggangnya. Dengan cepat ia bangun dari kasur. Ia melihat ke samping dan lebih shock kembali melihat Rio tak berdosanya tidur disebelahnya. Ify meneguk ludahnya, ia melihat ke dirinnya sendiri.

 

 

“Baju gue masih lengkap!”

 

 

Ify mendesah berat. Hampir saja jantungnya akan lepas dari tempatnya jika saja—, Aisshh!!

 

 

PLAAAAAKKPLAAAAKKK

 

 

Ify memukul kepala Rio dengan tragis,

 

 

“BANGUN LO!!”

 

 

Rio merasakan kepalannya yang sakit, ia meringis sambil mencoba membuka kedua matanya.

 

 

“Apaan sih Fy!” protes Rio masih memegangi kepalannya yang panas.

 

 

“Ngapain lo tidur diatas?”

 

 

“Dingin semalam” jawab Rio dengan jujur. Ia menarik selimutnya, berniat melanjutkan tidurnya. Ify menatap Rio dengan tak percaya.

 

 

“Lo mau merkosa gue? Ha?” Ify masih meneruskan serangannya. Ia sangat kesal sekali.

 

 

“Gue masih pilih-pilih buat nyerang cewek—“

 

 

“Tubuh lo nggak ada yang bisa dilihat, diraba dan diterawang”

 

 

“YAAAA!!!!”

 

 

“Berisikkk!!” Rio menutupi semua tubuhnya dengan selimut.

 

 

“Bangunn lo!! BANGUN CEPETAAN!!”

 

 

Ify semakin menggila, ia menendangi tubuh Rio tanpa ampun sampai akhirnya tubuh pria itu terjatuh dari atas kasur, mengeluarkan suara yang cukup keras.

 

 

“Aissh—, sakit !” desis Rio mencoba bangun, tangannya memegangi tubuhnya yang tak karuan akibat tendangan Ify yang brutal.

 

 

“Apa salah gue?”

 

 

“Gue cuma tidur diatas kasur, gue juga nggak nyentuh lo”

 

 

“Gue nggak nafsu sama lo, nggak ada yang menarik”

 

 

“Dada standart, pinggang standart, pantat standart, nggak ada yang menggoda”

 

 

Ify menyilangkan kedua tangannya didepan dada, tak percaya dengan ucapan Rio barusan. Apakah pria ini sunggu seorang psikopat mesum?. Ia sama sekali tak bisa menerima celaan dari Rio.  Sama sekali!!

 

Ify berdiri dan berjalan mendekati Rio.

 

 

“Nggak ada yang menggoda?”

 

 

“Lo nantangin gue buat seduction lo saat ini?” tantang Ify bah preman. Rio menggeleng, langsung menolak.

 

 

“Gue nggak bakal tergoda!”

 

 

Rio baru saja akan berjalan untuk keluar kamar, namun kaosnya langsung ditarik Ify dengan kuat, membuat tubuh Rio tertarik mendekat ke Ify. Dengan kasar, Ify mendorong tubuh Rio hingga menabrak ke lemari yang tak jauh dari mereka berdiri.  Rio mengerjapkan matanya beberapa kali, binggung.

 

 

“Lo ngatain dada gue standart? Gue nggak menggoda?”

 

 

Ify mendekat perlahan, menujukkan ekspresi yang paling menggoda.

 

 

“Lo lebih baik mundur” ucap Rio mengingatkan, ia menahan nafas.

 

 

“Why? Lo mau nyerang gue?”

 

 

“Fy masih pagi”

 

 

Nampaknya, gadis ini sama sekali tak menghiraukan ucapan Rio dan makin menjadi. Ify perlahan mengalungkan kedua tangannya ke leher Rio, lebih mendekatkan tubuhnya lagi hingga akhirnya ia merasakan dadanya tepat menempel di dada bidang Rio.

 

 

Suara desahan berat terdengar dari mulut Rio, wajahnya segera ia palingkan ke arah lain, tak ingin menatap Ify.

 

 

“Lepasin Fy!” pinta Rio mencoba melepaskan tangan Ify yang membelit di lehernya.

 

 

“Why? Lo udah tergoda?” Ify memajukan wajahnya mungkin jaraknya kini hanya sekitar 5 cm saja dari Rio.

 

 

“Gue juga cowok, mending lo minggir sekarang” ucap Rio sekali lagi mengingatkan.

 

 

“Nggak mau” tolak Ify manja. Rio mendesah berat, ia memberanikan diri menatap Ify.

 

 

“Dalam hitungan ketiga, lo nggak ngejauh—“

 

 

“Gue habisi bibir lo sekarang juga”

 

 

Tangan Ify sedikit bergetar, ekspresinya berubah. Namun, bukan Ify namannya jika kalah dalam peperangan. Ia menajamkan kembali tatapannya, semakin menantang Rio.

 

 

“Satu” Ify memulai menghitung, membuat Rio tak percaya. Gadis itu benar-benar ingin bermanin dengannya?

 

 

“Dua”

 

 

Kedua mata mereka saling menatap, saling mengintimidasi satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah. Baik Ify maupun Rio.

 

 

“Ti—“

 

 

Belum selesai Ify mengakhiri ucapan terakhirnya, bibirnya sungguh telah dibungkam oleh Rio. Pria itu seperti kerasukan, langsung melahap bibir Ify.

 

 

Ify tak tau harus apa sekarang, matannya membulat sempurna, ia dapat melihat bagaimana Rio mencium bibirnya dengan kedua mata tertutup. Aliran darah Ify semakin cepat terpompa, kedua tangannya yang berada di leher Rio perlahan merosot.

 

 

Brukkk

 

 

Rio dengan cepat mengalihkan posisinya, ia memindahkan tubuh Ify, menabrakannya ke sudut almari seperti yang dilakukan Ify tadi. Membuat Ify semakin membeku. Kedua tangan Rio menyentuh rahang Ify, memperdalam ciuman yang dilakukannya, dan mendekatkan dada bidangnya benar-benar mengintimidasi seluruh tubuh Ify.

 

 

Perlahan Rio melepaskan jaraknya, ia sama sekali tak merasakan pergerakan dari bibir Ify. Gadis itu tak membalasnya.

 

 

“Gue udah bilang, gue juga cowok”

 

 

Rio menatap Ify sesaat, mengacak-acak puncak rambutnya. Ia terkekeh pelan melihat Ify yang masih diam mematung tak bergerak.

 

 

“Gue mandi dulu”

 

 

Ify akhirnya dapat bernafas legah setelah kepergian Rio. Ia perlahan menyentuh bibirnya. Basah. Ify mengigit bibir bagian dalam, tangannya masih terasa sedikit gemetar.

 

 

“Ah—, ada yang ingin gue ralat “ tiba-tiba Rio muncul dari balik kamar mandi membuat Ify terpelonjat kaget.

 

 

“APA???”  kesal Ify mencoba bersikap biasa saja.

 

 

“Dada lo ternyata berisi”

 

 

Braaakkk—,

 

 

Pintu kamar mandi langsung tertutup kembali kurang dari sedetik.

 

 

“MARIOOOOOOOO BRENGSEKKKKK!!!!”

 

 

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s