ENLOVQER DEVIL – 18

ENLOVQER DEVIL – 18

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

******

 

         

          Mereka berdua tiba selamat didepan rumah pukul 04.00 sore. Sepanjang perjalanan Ify tak banyak bicara seperti biasannya. Rio pun memilih diam saja, ia tau bahwa gadis itu terlihat canggung akibat kejadian tadi pagi.

 

 

“Lo jadi minta anterin ke toko buku? “ tanya Rio membukakan seatbelt yang di kenakan oleh Ify.

 

 

“ Nggak usah, gue bisa sendiri” tolak Ify dengan cepat, ia sedikit menjauhkan wajahnya agar tak terlalu dekat.

 

 

Rio mendongakkan kepalannya, melihat Ify sedikit heran.

 

 

“Lo lagi ngejauhin gue?”

 

 

“Nggak”

 

Rio terkekeh ringan, menjauhkan tubuhnya setelah selesai melepaskan seatbelt Ify.

 

 

“Lo ngak turun ?” usir Rio dengan wajah polosnya. Ify melengos dan dengan cepat turun dari mobil Rio, membanting keras pintu tak berdosa itu.

 

 

“Lo brengsek!!”

 

         

          Rio terkekeh dari dalam mobil, mendengar suara teriakan makian Ify kepadannya, gadis itu nampak sangat marah. Setelah melihat Ify menghilang dari tatapannya, Rio menancap gas mobilnya untuk beranjak ke perusahaan. Pekerjaanya senantiasa menunggunya tiap detik.

 

*****

 

 

Ify mengajak Sivia untuk pergi ke toko buku petang ini, dan Sivia mengajak illy yang memang sudah sedari pagi di rumahnya. Mereka bertiga ke toko buku menggunakan mobil illy dengan di ikuti pengawal Ify dari belakang.

 

 

“ Gimana honeymoon lo di Vietnam?” tanya illy asal sambil mencomot ice cream yang ada ditangannya. Ify mendecak kesal.

 

 

“ Lo nggak tidur bareng kan?” illy kembali menyerang, namun untuk pertanyaan satu ini langsung membuat Ify terdiam.

 

 

“Lo—, Lo—, Lo—,”

 

 

“Lo tidur sama kakak gue?”

 

Plaakk!!

 

 

Ify tak segan menabok kepala Ily dengan dompetnya, membuat gadis itu meringis kesakitan menyumpahi Ify. Mereka memasuki restoran china untuk makan.

 

 

“Gue masih waras buat nyerahin diri gue ke kakak lo!” jawab Ify akhirnya.

 

 

“Gong Bao, Wonton, Chow Mein, Lemon Squas 3” Sivia memesankan makanan,

 

 

“yang satu ice nya sedikit! “ lanjut Ify yang dibarengi oleh Sivia dan illy. Ify terkekeh ringan, kedua temannya ini begitu hafal sekali dengan minuman pesanannya. Bisa dikatakan pertemanan mereka bertiga semakin akrab dan dekat.

 

 

“Baiklah, silahkan ditunggu”

 

 

Illy dengan cepat menjauhkan kotak tissue yang berada paling dekat dengan Ify. ia yakin gadis itu akan menghabiskan tissue tersebut kurang dari 15 menit. Menurutnya, Ify memang sangat gila jika sudah bertemu dengan tissue.

 

 

“Kenapa lo nggak nyoba aja buka hati buat Kak Rio, beneran pacaran sama Kak Rio. “

 

 

“Dia kaya raya, cakep banget, baik, keren, pinter. Gadis mana coba yang nggak mau?”

 

 

 

“GUE!!” jawab Ify dan illy dengan bersamaan, mereka berdua langsung melakukan highfive. Sivia melengos, terkadang jika kedua sahabatnya itu akur benar-benar menjijikan.

 

 

“Tapi kalau di fikir-fikir, bener juga ucapan Sivia” ujar illy dengan wajah meyakinkan.

 

 

“Kakak gue tipe cowok setia banget dan jika lo mengesampingkan sifat dinginnya, dia benar-benar cowok idaman semua cewek!. Dijamin lo nggak bakal rugi dapetin dia!!”

 

 

“Lo bakalan dapat untung banyak pacaran sama miliader kaya, palingan kerugian yang bakal lo dapat cuma satu” lanjut Sivia sambil membantu pelayan restoran meletakkan piring-piring makanan yang sudah tiba diatas meja.

 

 

“Apaan?” tanya Ify dan illy yang terlihat penasaran.

 

 

“Dapat adik ipar kayak dia” jawab Sivia dengan wajah datar dan telunjuk mengarah tak sopan ke illy.

 

 

“Sialan lo!!”  desis illy memajukan bibirnya, Ify dan Sivia tertawa sangat puas. Kini giliran mereka berdua yang melakukan highfive.

 

 

Mereka pun segera memakan pesanan mereka sebelum dingin, hari juga mulai malam. Besok mereka harus masuk lagi ke sekolah di hari senin yang penuh ceria. Hell!

 

*****

 

1 minggu lagi merupakan Dies Natalis Haling Corporation, persiapan untuk merayakan acara tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak 2 bulan lalu oleh bagian HRD. Pesta perayaan kali ini akan sangat meriah dan berbeda dari sebelum-sebelumnya yang diselenggarakan di dua tempat dan dua hari. Hari pertama di laksanakan di stadium gymnastic Haling Corp dengan mengundang 10.000 anak yatim, duafa dan fakir miskin, dengan membagikan sembako gratis. Di hari kedua, dilaksanakan di Pulau Aling yaitu pulau pribadi keluarga Haling yang dibeli oleh Nyonya Abahay 5 tahun yang lalu. Tidak dapat dibayangkan lagi bagaimana kaya rayannya keluarga Haling.

 

 

Rio mulai sibuk rapat dewan beberapa hari terakhir ini, ia sampai tidak mempunyai waktu hanya untuk memejamkan matannya sesaat. Namun, di kesibukannya tersebut ia masih tetap menuruti permintaan sang tuan puteri.

 

 

“Gue balik dulu ke kantor” pamit Rio setelah mengantarkan Ify pulang dari sekolah, ia langsung menancap gas mobilnya.

 

 

Ify melihat kepergian Rio, menatap kosong mobil sport merah tersebut yang semakin menjauh. Entah apa yang di fikirkannya sekarang. Semuanya semakin menjadi dilema dalam benaknya.

 

 

“Ngapain lo ?” tanya Iqbal yang entah sejak kapan sudah di samping sang kakak, Iqbal celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri penasaran sang kakak sebenarnya sedang apa.

 

 

“Anak kecil nggak usah mau tau urusan orang dewasa” balas Ify sengit. Ia membalikkan badan untuk masuk kedalam rumah.

 

 

“Cihh—, kayak lo udah dewasa aja” kata Iqbal tak terima. Ify mengembangkan senyum piciknya.

 

 

“Kalau lo udah mimpi basah, baru gue legalisir lo udah dewasa!!” teriak Ify dari dalam rumah. Iqbal mendesis tajam,

 

 

“YAAAAAAA!” teriak Iqbal tak terima.

 

*****

Rio menghentikkan pekerjaanya, matannya terasa panas. Ia menyenderkan tubuhnya ke belakang, mencari rasa nyaman pada sanggahan kursi kerjannya. Desahan nafas berat berkali-kali ia keluarkan. Kedua matannya melirik ke tumpukkan map yang berisikan proposal yang harus ia periksa dan tanda-tangani.

 

Rio mengambil ponsel yang tak jauh dari laptopnya, ia mengotak-atik ponselnya dengan pandangan kosong. Setelah selesai, ia meletakkan kembali ponselnya.

 

DRTTDRTT

 

 

Suara ponsel Rio berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Rio kembali meraih ponsel tersebut. Ia membaca pesan yang didapatkannya.

 

 

From : Tuan Puteri

Lo udah nggak waras??

 

 

Rio terkekeh ringan, menggoda Ify adalah salah satu cara menghilangkan rasa penatnya. Seperti yang ia lakukan saat ini. Dengan cepat tangan Rio bergeliat diatas layar ponsel. Membalas pesan Ify.

 

 

From : Tuan puteri

Psycho!!

 

Ify membalasnya,

 

 

“Cihh—, “ desis Rio. Ia menutup ponselnya, memilih tak membalas pesan terakhir dari Ify. Ia meletakkan ponsel dan kembali untuk bekerja. Ia tak bisa menunda semua pekerjaannya ini atau akan semakin menumpuk.

 

*****

 

 

Ify baru saja keluar dari kamar mandi, hawa dingin sore ini begitu segar. Ify berjalan ke meja belajarnya. Ia melihat ponselnya bergetar.

 

 

“Ngapain om gila ngirim sms?”

 

 

Ify segera membuka dan membacanya,

 

 

From : Pria Idaman

Gue kangen sama lo!

 

 

“Cihh—, menjijikan !!” Ify bergidik ngeri, ia dengan cepat membalas pesan Rio. Bulu di tangannya hampir rontok semua.

 

 

DRTTDRRR

 

 

Ify mendapat balasan dari Rio.

 

 

From : Pria Idaman

Apalagi sama bibir lo (titikduabintang)

 

 

“HUAAAAAAA” teriak Ify dengan kerasnya, rasannya ia ingin menangis saja. Pria ini benar-benar sudah tak waras. Ify membalasnya dengan cepat kemudian melempar ponselnya ke manapun. Ia lebih merinding dua kali lipat.

 

Ify buru-buru keluar dari kamar, ia membutuhkan udara yang lebih segar. Sangat!!

 

*****

 

Ify menghentikkan langkahnya tepat di ruang tengah. Ia melihat sang kakak dan sang adik sedang saling menodongkan pistol satu sama lain. Ify mengernyitkan kening, mendekati mereka berdua.

 

 

PLAAAKKK!!

 

PLAAAKKKK!!!

 

 

“Awwww—“

 

 

“Awwww—“

 

 

Ando dan Iqbal meringis memegangi kepala mereka yang sudah menjadi santapan hangat tabokan Ify. mereka berdua melirik Ify ganas.

 

 

“Kalian berdua ngapain?” tanya Ify sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

 

“Kalau berani pakai pistol beneran” lanjutnya, mengambil duduk diatas sofa.

 

 

Iqbal dan Ando mendesis, jengkel dengan tingkah gadis setan satu ini. Mengganggu saja!

 

 

“Minggir kalian berdua!! Nggak kelihatan tv.nya!!” teriak Ify tanpa sopan santun yang apik.

 

 

“ Aisshh—, hari ini semua orang bertingkah aneh!” gumam Ify tak habis fikir. Ia mengambil remote yang ada disebelahnya dan menyalakan televisi.

 

 

Ando melemparkan pistol yang sebelumnya ia pegang ke Iqbal, ia berjalan dan mengambil duduk disamping sang adik perempuan tercinta.

 

 

“Gimana hubungan lo sama Rio?” tanya Ando memulai perbincangan.

 

 

“Biasa aja” jawab Ify seadannya. Ia fokus kedepan.

 

 

“Lo kok nggak pernah cerita kalau kalian berdua pacaran?”

 

 

“Huff—“ Ify merasa sedikit terganggu, sebenarnya bukan karena sepenuhnya ia tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan Ando. Tapi ia binggung menjelaskannya bagaimana tentang hubungan dirinnya dengan Rio yang sebenarnya. Ia mulai goyah dengan perasannya. Mungkin,

 

 

“Lo juga kenapa nggak pernah cerita kalau udah ditolak Sivia 141 kali?”

 

 

Ify berhasil mengalihkan topik. Ia membuat Ando terdiam, tertegun. Bagaimana sang adik bisa tau tentang aibnya ini. Ando mendesis pelan.

 

 

“Lo tau kenapa Sivia selau tolak lo?”

 

 

Ando menggeleng lemas, seperti orang bodoh.

 

 

“Ada 3 kemungkinan, lo mau gue jelasin?”

 

 

“Hmm” Ando mengangguk-anggukan kepalannya seperti orang yang lebih bodoh dari sekedar orang bodoh.

 

 

Ify menghela nafas panjang terlebih dahulu, dan bersiap menjelaskan.

 

 

“Yang pertama : Karena Sivia nggak suka lo”

 

 

“Yang kedua: Karena Sivia sangat nggak suka sama lo”

 

 

“ Yang ketiga : Karena Sivia nggak pernah sama sekali suka sama lo”

 

 

Ify mengakhiri penjelasannya dengan senyuman merekah tanpa berdosa.

 

 

ProokkkProookkkProookkk

 

 

“That’s good answer”

 

 

“Bravo”

 

 

Suara tepuk tangan Iqbal menambah efek sensasional dari pernyataan Ify yang sangar. Ando menatap adiknya satu persatu dengan wajah tak percaya. Merasa begitu hina dirinnya saat ini karena dua adiknya.

 

 

“Kalian berdua ngajak gue bercanda?”

 

 

****

 

Illy muncul dari pintu kelas dengan wajah penuh keluh keringat. Matanya mengedar mencari sosok yang ia butuhkan saat ini.

 

 

“Dimana Ify?” tanya illy kepada siapapun teman kelasnya yang mau menjawab.

 

 

PLAAAKKK

 

 

“Gue disini” jawab Ify yang sudah bertenger di belakang illy entah sejak kapan.

 

 

Illy memegangi puncak kepalannya, pukulan Ify sangat menyeramkan.

 

 

“Fy gue ada info penting banget!!” ujar illy, ekspresinya mulai serius. Alis kanan Ify terangkat, penasaran.

 

 

“Apa?”

 

 

“ Makan malam romantis dengan Ando”

 

 

“Kan kemarin udah”

 

 

“Authornya nggak jelasin di cerita ini tentang makan malam kemarin!!” tajam illy tak terima.

 

 

“Aissh! Iya iya”

 

 

“That’s good, dengerin baik-baik”

 

 

“Kakak gue ada rapat dengan seluruh dewan, kali ini bukan hanya pemegang saham yang ada di dalam negeri, semua pemegang saham di luar negeri hadir dan datang ke perusahaan siang ini. “

 

 

“Ini kesempatan lo!!”

 

 

“Buat?” tanya Ify nampak masih tak connect dengan maksud dari Illy.

 

 

“Aduhhhh—“ gemas illy dengan kepolosan temannya.

 

 

“Perkenalkan diri lo sebagai Nyonya Haling”

 

 

“Lo ngajak gue bercanda?” sinis Ify

 

 

“Ya buat putus dari kakak gue lah! Itu kan yang lo pingin”

 

 

“Ah—“

 

 

Ekspresi Ify mulai berubah, ia mendadak diam. Fikirannya mulai entah kemana. Memang benar ini yang ia tunggu sedari sebulan yang lalu. Tapi entah kenapa rasanya ada yang aneh.

 

 

“Fy”

 

 

“Fy”

 

 

“Ify”

 

 

“Hah? Apaan?” sahut Ify mendadak linglung. Ia menatap illy yang kini sedikit curiga kepadannya. Wajah illy seolah menyelidik.

 

 

“Lo dilema? “

 

 

“Apaan?”

 

 

“Antara ingin putus atau tidak dengan kakak gue?”

 

 

“Enak aja. Enggaklah! Gue pingin banget putus dari dia!!” sangkal Ify dengan cepat. Ekspresinya segera ia rubah seolah menyinis dan dingin. Illy memincingkan senyumannya.

 

 

“Sepertinya, bukan itu jawaban yang sesungguhnya”

 

 

“Lo mulai suka sama kakak gue?”

 

 

 

PLAAAAKKKK

 

 

“ Lo masih pingin hidup?”

 

 

“Masih!! Masih” jawab Illy dengan cepat, ia segera berjalan ke bangkunya menghindari Ify.

 

 

Ify menghela nafas panjang, mengikuti illy dari belakang. Fikirannya mulai melayang kembali entah kemana. Apa yang harus ia lakukan? Tapi benar kata illy, ini yang sudah ia tunggu sedari dulu. Ia tidak boleh melewatkannya. Tidak boleh!!

 

 

“Fy, ini kesempatan terakhir lo!”

 

 

“Lo harus putus dari Rio”

 

*****

 

Ify memasukkan buku dan beberapa alat tulisnya kedalam tas.. Ia melakukannya dengan tatapan yang entahlah. Seolah antara hati dan tubuhnya saling melawan. Namun, tubuhnya mendominasi dirinnya sendiri.

 

 

“Lo mau kemana?” tanya Sivia yang baru datang dari kantin bersama dengan illy.

 

 

“Dia mau minta putus dari kakak gue” jawab illy dengan wajah santainya sambil memainkan lolipop yang ia makan. Sivia mengangguk-angguk, menatap Ify yang terus fokus dengan barang-barangnya.

 

 

“Lo mau izin pulang?” tanya Sivia kembali.

 

 

Ify mengenakkan tas ranselnya, kemudian keluar dari bangku. Ia menatap Sivia dan illy dengan wajah setengah terkejut.

 

 

“Sejak kapan kalian disini?” tanyanya yang baru sadar. Sivia dan illy melengos.

 

 

“Gue pulang dulu. Bye!” tanpa menunggu jawaban dari dua sahabatnya tersebut Ify segera beranjak, meninggalkan Sivia yang masih binggung dan illy yang hanya bisa mendoakan kelancarannya.

 

“Kayak ada yang aneh sama tingkahnya” gumam Sivia sangat pelan sekali.

 

 

“Apaan vi?” tanya illy yang tak cukup terdengar.

 

 

“Nggak apa-apa” Sivia menggelengkan kepalanya dan memberikan senyum kaku.

 

*****

 

Ify keluar dari kantor guru, ia telah meminta izin kepada guru piket untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan  sakit. Untung saja, ia langsung di izinkan tanpa kecurigaan sedikit pun dari sang guru.

 

Ify berjalan ke gerbang sekolah, tak ada pengawalnya disana. Yah, mereka pasti belum datang menjemput karena memang belum saatnya jam pulang sekolah. Ify memberikan surat izin keluar kepada satpam jaga.

 

 

“ Terima kasih pak” ujar Ify dan berjalan keluar melewati gerbang sekolah.

 

 

Ia menyetop taxi yang melewatinya, menumpangi dan beranjak dari sana untuk menuju perusahaan Rio. Ia benar-benar akan melakukannya. Yah, dia harus melakukannya! .

 

****

 

Kedua mata Ify menatap gedung bertingkat dengan lambang “H” besar, memperhatikannya dalam diam dari jendela taxi. Ia telah sampai di parkiran depan perusahaan Rio. Kakinya menyuruhnya untuk segera turun, namun hatinya meronta agar dirinnya tetap tak bergerak.

 

 

“Non, sudah sampai” ucap sang supir taxi, menyadarkan Ify.

 

 

“Ah—“

 

 

“Iya pak, terima kasih” Ify membayar, dan segera keluar dari taxi tersebut.

 

 

Ify membenahkan tasnya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia memejamkan matannya beberapa detik, mengumpulkan segala tekat dan keberanian. Ia tidak hanya sedang berhadapan dengan Rio, ia mempertaruhkan her selfregard untuk mempermalukan diri disana nantinya.

 

 

“Ini keputusan lo! “

 

 

Ify membuka matannya, melangkahnya kedua kakinya masuk kedalam gedung besar tersebut. Tekadnya sangat bulat. Ia tidak akan mundur lagi.

 

*****

 

Ify mendekati meja resepsionis, tempat sekertaris Rio berada. Untung saja wanita itu ada disana, memudahkan Ify untuk mencari Rio.

 

 

“Rio ada?” tanya Ify, nadanya terdengar dingin tak bertenaga. Wanita itu sedikit terkejut dengan kedatangan Ify. Meskipun Ify sendiri sudah cukup sering terlihat berkeliaran di perusahaan sebulan terakhir.

 

 

“Tuan Rio sedang ada rapat”

 

 

“Panggilkan dia” perintah Ify, tatapannya mengintimidasi, membuat sekertaris itu sedikit bergidik.

 

 

“Silahkan nona masuk dulu. Saya akan beritahu tuan Rio”

 

 

“Hm”

 

 

Ify menganggukan kepalannya, ia kemudian berjalan masuk kedalam ruang kerja Rio. Menunggu sekertaris Rio menjalankan perintahnya. Darahnya bergerak cepat, kecemasan mulai menggeliuti hatinya sendiri.

 

 

15 menit. Pintu ruang kerja Rio dibuka, seorang wanita muncul dari balik pintu tersebut. Sekertaris Rio.

 

 

Ify mengernyitkan kening,

 

 

“Maaf Nona, rapat tuan Rio masih belum selesai”

 

 

“Tuan Rio berpesan, nona disuruh menunggu 30 menit lagi disini”

 

 

“Nggak mau!!” tolak Ify mentah-mentah. Ia sengaja melakukannya.

 

 

Ify berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mendekati sekertaris tersebut.

 

 

“Dimana dia berada sekarang??”

 

 

Wanita ini hanya bisa meneguk ludah, ia tak tahu apa yang sedang terjadi antara bossnya dan sang pacar. Sepertinya hubungan mereka sedang dalam situasi yang tidak baik. Menurutnya.

 

 

“Di bawah lantai ini, ujung paling kanan ada ruang dewan. Disana tempatnya” jelas sekertaris Rio dengan energi melawan takut.

 

 

“Thanks”

 

 

Ify segera berjalan keluar dari ruang kerja Rio, beranjak ke tempat yang dijelaskan oleh wanita tersebut. Fikiran Ify sudah kosong, ia hanya terus berjalan. Tak ada persiapan apapun. Ia hanya menuruti tubuhnya berkehendak.

 

 

*****

 

Ia telah sampai di depan ruang dewan. Disana terdapat 4 pengawal Rio yang cukup familiar di mata Ify. 4 pengawal tersebut langsung membungkukan kepala dengan sopan ketika mendapati keberadaan Ify.

 

 

“Panggilkan Rio” suruh Ify dengan nada yang jelas dan tajam.

 

 

“Maaf nona, tuan sedang ada rapat penting, nona bis—“

 

 

“PANGGILKAN SEKARANG!!” Ify sengaja meninggikan suarannya, ia berharap semua orang didalam sana dapat mendengarnya. Mr.An menghela nafas panjang, binggung dan panik harus apa saat ini.

 

 

“Nona sabar, kita ak—“

 

 

“PANGGILKAN SEKARANG ATAU GUE MASUK!!”

 

 

CKLEEEKK

 

 

          Pintu ruang dewan terbuka, kepala Ify terangkat. Ia mendapati Rio yang keluar dengan tatapan entahlah. Ify tak bisa mendeskripsikanya. Ify menahan nafas, mencoba untuk tenang dan tidak takut.

 

 

“15 menit lagi” ucap Rio dingin sebelum masuk kembali dan akan menutup pintu.

 

 

“Lo tutup, kita putus”

 

 

 

Rio mematung, ia dapat melihat setengah wajah Ify dari pintu yang baru saja akan ia tutup. Kedua mata gadis itu semakin menajam,mengintimidasi dan tanpa takut. Rio berada dalam dilema. Rapat yang sedang ia lakukan sekarang, bukan rapat yang bisa ia tinggal seenaknya. Mereka adalah investor, pemumupuk dan guardian dari seluruh perusahaannya yang hampir ada di seluruh negera.

 

 

Braaaakkk

 

 

          Rio menutup pintunya, tak mempedulikan ancaman Ify, yang dilakukan oleh Rio berhasil membuat Ify naik pitam. Ify memincingkan senyumnya, menahan amarah. Ify mengeluarkan helaan nafas berat. Inilah saatnya!!

 

 

BRAAAAAKKKKK

 

 

Ify menendang pintu didepannya dengan kekuatan penuh, melakukannya tanpa fikir panjang, tak peduli dengan resikonnya nanti. Ia dapat melihat bagaimana ekspresi terkejut Rio dengan kedua mata terbuka didepan sana. Dan terdapat hampir 25 orang dengan berbagai macam kulit, wajah, bentuk mata, dan bentuk hidung duduk melingkar di meja rapat, menatapnya tanpa berkedip.

 

 

Mr. An dan 3 pengawal lainnya menganga, tak percaya dengan yang dilakukan oleh Ify. gadis itu memang sudah gila!

 

 

“I’m so sorry” Rio menatap ke seluruh dewan sambil membungkukan kepalannya sopan. Tentu saja, mereka semua terkejut dan  binggung dengan kehadiran Ify seperti itu.

 

 

“ I will be back”

 

 

Rio meninggalkan seluruh dewan dan berjalan ke pintu. Ia terus berjalan tanpa menatap Ify sedikit pun yang sedari tadi fokus dengannya. Rio langsung menarik tangan Ify, menyeret gadis itu keluar dari sana.

 

 

Ify diam saja, tak melawan. Ia mengikuti Rio yang terlihat sangat marah dengannya. Ify dapat merasakan dari aura belakang tubuh Rio yang nampak berkobar, dan dari bagaimana pria ini mengenggam pergelangan tanganya. Sangat erat sekali.

 

 

Mereka berhenti di koridor ujung yang sepi,

 

 

Rio menghempaskan tangan Ify dengan kuat, membuat gadis itu meringis tertahan. Suara desahan berat terdengar dari mulut Rio.

 

 

“Apa mau lo sekarang?” suara tegas dan amarah tertahan Rio mulai menyerang Ify. Rio menatap Ify tajam. Ia merasa yang dilakukan oleh gadis itu sudah terlewat batas. Ia sama sekali tak habis pikir.

 

 

“Lo nemuin gue!” jawab Ify belagak tenang. Ia menyembunyikan kecemasan, ketakutannya dengan mengigit bibir bagian dalam.

 

 

Rio tertawa sinis,

 

 

“Lo fikir pekerjaan gue beneran lelucon buat lo?”

 

 

“Lo fikir bisa terus berbuat seenaknya seperti ini? “

 

 

“Gue hanya minta 15 menit. Setelah itu gue pasti temuin lo”

 

 

“Apa begitu susah?”

 

 

 

Ify memilih diam, tak menjawab. Ia berfikir keras agar bisa mengakhiri semuanya dengan cepat. Rio benar-benar telah marah kepadanya. Yah, semuanya berjalan seperti yang ia bayangkan, semuanya berjalan seperti yang ia inginkan. Tapi entah kenapa, ia merasa bahwa dirinnya sangat salah. Bibir Ify mulai keluh, ingin meminta maaf. Tapi sekali lagi tubuhnya menolak. Menyuruhnya bungkam.

 

 

Rio memilih diam, menatap Ify yang sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak berani membalas kedua matannya. Ia tak mengerti dengan jalan fikir gadis ini.

 

 

“Putuskan gue!!”

 

 

Ify membuka suara, perlahan memberanikan diri untuk menatap Rio yang nampak terkejut dengan permintaan Ify barusan. Rio menatapnya lekat-lekat seolah mencari kebenaran akan permintaan konyol itu.

 

 

“Apa lo sebegitu inginnya putus dari gue?”

 

 

“Hmm”

 

 

“Sangat!!” jawab Ify dengan yakin, kedua mata elangnya terbuka lebar. Memberikan penekanan kepada Rio.

 

 

Rio perlahan tertunduk, terdengar suara tawa miris dari bibirnya. Ify semakin mengigit bibir dalamnya. Mencoba untuk tidak takut, meyakinkan dirinya bahwa ini keputusan benar. Ia tak akan menyesalinya. Tak akan!!.

 

 

“Baiklah—“

 

 

Rio menatap Ify kembali, tatapannya kentara sekali bahwa ia sangat kecewa dengan gadis yang sebulan terakhir ini berhasil meraih hatinya.

 

 

 

“Kita selesai!”

 

 

          Tanpa banyak kata, tanpa memperpanjang lagi. Rio membalikkan badannya, berjalan meninggalkan Ify yang mematung terdiam ditempat. Rio berjalan dengan langkah pasti, tangan kanannya melonggarkan dasi yang sedang ia kenakan, menariknya sampai akhirnya dasi tersebut terlepas. Rio melirik ke tempat sampah yang tak jauh di depannya dan—,

 

 

Membuangnya!

 

 

 

Tubuh Ify perlahan bergetar, kedua matannya dapat melihat jelas bagaimana Rio membuang dasi tak berdosa itu. Yah, itu adalah dasi pemberiannya beberapa waktu lalu. Ify merasakan dadanya memanas, seolah ada yang meremas, menyayat dan mencengkram erat. Rasanya sakit.

 

 

Tangan Ify langsung berpegang pada tembok di sebelahnya, kakinya melemas. Ia menatap punggung Rio yang semakin menjauh, pria itu tak melihatnya lagi, tak membalikkan badannya sedikit pun. Yah, mereka benar-benar sudah selesai.

 

 

 

“Fy, ini yang lo mau!!”

 

 

“Ini yang lo mau!!!”

 

 

“Semuanya sudah selesai!!!”

 

*****
Ando melihat Ify dengan heran, gadis itu berjalan melewatinya begitu saja. Tatapannya sangat kosong, seolah tak sadar dengan sekitarnya. Mata Ando melirik ke jam tangannya. Masih menunjukkan pukul 12 siang. Belum waktu seharusnya jam Ify pulang sekolah.

 

 

 

“Lo bolos sekolah?” tanya Ando kepada sang adik yang sedang menaiki tangga menuju kamar.

 

 

Tak ada jawaban,

 

 

“Fy” panggil Ando yang memang tak suka diacuhkan.

 

 

 

“DAFYCHI!!”

 

 

 

Sekali lagi tak ada jawaban, sang adik tetap berjalan lurus. Ando mulai panik. Ia dengan cepat berjalan setengah berlari mengejar Ify.

 

 

“Lo kenapa?” Ando membalikkan tubuh Ify, raut wajahnya sangat panik takut adiknya kenapa-kenapa.

 

 

Perlahan Ify mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap sang kakak.

 

 

“Gue kangen mama” lirih Ify pelan, tatapanya melemah. Jawaban yang dilontarkan Ify berhasil membuat Ando terbungkam seribu bahasa.

 

 

Ando dapat merasakan bahu sang adik mulai bergetar, ia mendapati kedua mata gadis itu memerah sampai akhirnya terdapat bendungan penuh didalam sana.

 

 

“Lo kenapa?? Kenapa lo nangis?”

 

 

Ando tahu jelas bagaimana sang adik. Pasti telah terjadi sesuatu dengannya.

 

 

“Gue kangen mama!!” jawab Ify dengan nada sedikit meninggi. Bendungan dikedua matannya memecah, menjadikan aliran-aliran sungai kecil di kedua pipi pucatnya. Perlahan, Ify tertunduk. Menahan agar isakannya tak bersuara.

 

 

Ando binggung harus berbuat apa saat ini. Ify hampir tidak pernah menangis dihadapannya. Ia tau sang adik sangat tangguh dan pandai menyembunyikan emotionalnya.  Namun, saat ini ia melihat sang adik meneteskan air mata. Pasti telah terjadi sesuatu.

 

 

“Gue kangen mama” lirih Ify sangat pelan.

 

 

Melihat adiknya seperti ini membuat Ando ikut merasakan sakit dan pedih. Ia begitu menyayangi Ify. Sangat!.

 

 

Ando menarik sang adik, memeluknya dengan erat. Tangis Ify mulai memecah, bersuara. Ando membiarkannya saja, ia tak lagi menanyakan dan memaksa gadis ini untuk bercerita kepadannya. Ia membelai lembut rambut kepala sang adik. Menenangkannya.

 

 

Sedari tadi Iqbal melihatnya, memperhatikan semuanya. Ia tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan kedua kakaknya. Namun, entah kenapa ia ikut menangis tak bersuara. Iqbal dengan cepat menghapus air mata yang sempat beberapa kali jatuh.

 

 

Iqbal berjalan mendekat,

 

 

“Gue yang nggak pernah tau wajah mama,  santai!!! “

 

 

Suara Iqbal memecah ruangan, Ando dan Ify segera melepaskan pelukan mereka. Menatap Iqbal yang sudah berdiri dibawah dengan wajah cengengesan tak tau dirinnya. Iqbal mengembangkan senyumnya.

 

 

 

“Ayo kita makan di luar”

 

 

“Udah lama, kita nggak jalan-jalan bersama” ajak Iqbal. Ia hanya ingin mencoba menjadi penghibur disini. Meskipun sebenarnya hatinya sama rapuhnya dengan sang kakak. Ia tak ingin menunjukannya, ia harus menjaga kakak perempuannya.

 

 

“Good idea” sorak Ando mencoba ikut menaikkan suasana. Ando dan Iqbal menatap Ify meminta persetujuan.

 

 

Ify menghela nafas panjang, menghembuskannya.

 

 

“Hmm—,  Ayo” Ify mencoba untuk tersenyum. Kakak dan adiknya memang anugerah yang paling indah dan paling sempurna yang tuhan berikan. Mereka selalu ada untuknya, entah itu disaat sedih maupun senang. Ify sangat bersyukur.

 

 

Ando memebalai pipi Ify, membersihkan sisa air mata yang membekas disana. Ando merasakan benar-benar memiliki adik perempuan, yang ternyata memiliki sisi ingin dilindungi. Ando sedikit bersalah, bahwa dirinnya kurang peka kepada dua adiknya. Harusnya, ia benar-benar bisa menjaga, melindungi dan menghibur sang adik.

 

 

 

******

 

Rio menundukkan kepalannya, ia telah menyelesaikan rapat dewan dengan lancar meskipun terjadi beberapa kejadian yang tak terduga namun tak memberikan effect yang negative akan rapat ini. Ia terdiam sendiri di ruangan yang telah kosong. Tak ada siapapun.

 

 

Kedua tangannya mengepal entah sejak kapan. Fikirannya kembali berputar dengan kejadian 45 menit yang lalu. Ia tak pernah bisa menahan emosinya. Mungkin ia sudah berhasil menahannya sedari sebulan terakhir, namun kejadian tadi hampir membuatnya meledak.

 

 

“Arghhhhhhh!!!”

 

 

 

*****

 

Ando dan Iqbal mengajak Ify pergi ke pasar malam yang tak sengaja mereka lihat ketika perjalanan pulang dari makan bersama. Mereka menikmati waktu bersama. Baik Ando, Iqbal dan Ify tertawa begitu lepas ketika saling beradu melemparkan bola ke kaleng untuk mendapatkan hadiah yang disiapkan oleh penjualnya.

 

 

Mereka terus tertawa, seolah semua beban, penat dan masalah hilang.

 

 

“Kak Ando curaangg!!!! “

 

 

 

“Kak Ando curaangg!!! “ teriak Ify dan Iqbal tak terima. Mereka memukuli Ando dengan sepuas mungkin. Kapan lagi mereka bisa melakukan hal seperti ini. Hihihi.

 

 

Ando hanya bisa pasrah mendapatkan serangan brutal dari kedua adiknya. Ia mencoba menikmatinya saja. Membuat kedua adiknya tertawa lepas adalah kepuasan sendiri yang ingin ia capai saat ini.

 

****

 

Waktu telah menunjukkan tengah malam, Ify mulai mengantuk didalam mobil. Energinya hanya tertinggal beberapa watt saja. Sangat melelahkan dan menyenangkan.

 

 

“Kak, berhenti di cafe sebrang kompleks. Gue ingin Hot americano” ujar Iqbal dari bangku belakang. Ando mengangguk.

 

 

“ Biar gue yang turun, gue ke toilet sekalian” sahut Ify dengan mata setengah terbukannya.

 

 

*****

 

Ando memarkirkan mobilnya, mematikan mesin. Membiarkan sang adik perempuan turun untuk membelikan pesanan Iqbal dan dirinnya. Ify berjalan dengan langkah lemas dan tak bertenaga. Ando geleng-geleng melihat tingkah adiknya tersebut tak pernah berubah dari dulu.

 

 

“Kak” panggil Iqbal yang sedari tadi juga memperhatikan sang kakak perempuan.

 

 

“Hmm” balas Ando singkat.

 

 

“Kak Ify kenapa tadi nangis?” Ando tersenyum ringan, ia sudah dapat menebak pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Iqbal.

 

 

“Entahlah, gue juga nggak tau” jawab Ando jujur, Iqbal mengangguk-angguk.

 

 

“Dia kalau kangen mama pasti nggak pulang kerumah, dia bakalan lari kerumah dulu” jelas Iqbal merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya. Kini giliran Ando yang mengangguk-angguk. Ando mengernyitkan kening, mulai ikut curiga.

 

 

“Dia nggak biasannya nangis kayak gitu” gumam Ando pelan namun cukup terdengar oleh Iqbal.

 

 

“Terakhir kali gue lihat dia nangis, 3 tahun yang lalu”

 

 

*****

 

Ify mencoba untuk  membuka matannya, ia benar-benar sangat mengantuk. Beberapa kali dirinnya menggeleng-gelengkan kepala menyadarkan diri. Ify berdiri di depan kasir, menunggu pesanannya dibuatkan.

 

 

“Kak, yang Chocolate latte pakai cream?” tanya petugas pelayan kepada Ify.

 

 

“kasih cream yang banyak, tambahkan madu diatasnya dan  ice nya sedikit saja.”

 

 

Ify langsung mendongakkan kepalannya. Bukan dia yang menjawab pertanyaan dari pelayan tersebut. Ify merasa familiar dengan suara itu, Perlahan Ify membalikkan badannya, melihat siapa pemilik sumber suara.

 

 

 

“Long time no see, nona Guanni ”

 

 

 

Bersambung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s