ENLOVQER DEVIL – 19

ENLOVQER DEVIL – 19

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

 

 

“Long time no see, nona Guanni “

 

 

Mata Ify terbuka sempurna, rasa kantuk yang sebelumnya menyerang habis energi di seluruh organnya mendadak hilang dalam sekejap. Ify mengerjapkan matannya beberapa kali. Mencoba untuk meyakinkan bahwa pengelihatannya masih normal.

 

 

“Ba—, Ba—, bagaimana lo bisa disini?”

 

 

“Tentu saja bisa” jawab orang tersebut dengan terus menunjukkan senyum kharismanya yang dapat membuat siapa pun jatuh cinta.

 

 

Ify tidak tau harus bereaksi bagaimana lagi, semuanya terlalu mengejutkan dan tiba-tiba. Ia tentu sangat kenal jelas siapa pria didepannya. Pria bertubuh 10 cm lebih tinggi darinya, dengan kedua mata sedikit sipit dan berwarna cokelat, bibir tipis, alis tebal, dan kedua pipi yang memiliki lesung pipi.

 

 

          Brian. Seorang pria yang pernah mengisi hatinya, menghiasi hari-harinya, memberikan segalanya untuknya 3 tahun yang lalu sampai mereka terpaksa berpisah karena keadaan yang memaksanya.

“Hei!! Apa gue terlalu menakutkan buat lo? ” Brian menyadarkan Ify yang benggong cukup lama. Ify mendadak sedikit salah tingkah.

“Itu pesanan lo udah selesai ” lanjtnya kembali mengingatkan. Ify menoleh ke arah kasir, benar saja semua pesanan minumannya sudah dimasukkan ke kantong.

Ify menghela nafas panjang, menyadarkan fikirannya. Menenangkan.

 
Ia segera mengambil minuman tersebut.

“Gue balik dulu kak” pamit Ify. Ia tak ingin berlama-lama disini atau fikirannya akan kacau lagi seperti tadi.

 
Ify melangkahkan kakinya, melewati Brian tanpa mencoba untuk menatap kembali atau sedikit memberikan lirkan mata. Ify fokus kedepan dengan tatapan yang kosong, tentunya. Tangannya terkepal erat memegangi kantong yang dibawahnya, menghilangkan perasaan yang entah ia tak dapat mendiskripsikannya saat ini.

“Apa lo masih marah sama gue?” Brian tiba-tiba mencegahnya, memegang pergelangan tangan Ify dan membuatnya berhenti.

 

“Kakak dan adik gue udah nunggu dimobil” jawab Ify mengalihkan. Terdengar desahan berat dari suara dibelakangnya.

 
” Baiklah ”

Perlahan genggaman Brian melonggar dan akhirnya terlepas, membiarkan Ify untuk melanjutkan langkahnya kembali.

*****

 

 

“ Kak lama ba—“

 

“Jalan sekarang kak!”

 
Iqbal memilih tak menyelesiakan ucapannya, ia mendadak diam ketika melihat raut wajah sang kakak yang seperti baru saja melihat hantu. Begtu juga Ando merasa ada yang aneh dengan sang adik. Ada apa lagi dengannya??

 
“Lo nggak apa-apa?”

“Jalan kak!!” Tajam ify dengan tatapan tetap ke depan. Nafasnya mulai terdengar tak beraturan.

Ando menurut saja, tak banyak bertanya lagi. Ia menancap gas mobilnya dan beranjak dari sana.

Mendadak suasana didalam mobil hening, penuh kecanggungan.

 

*****

 

Setiba dirumah, Ify segera masuk kedalam menuju kamarnya. Meninggalkan dua saudarannya yang masih binggung memperhatikannya dari belakang. Ify tak peduli, ia hanya butuh untuk sampai di dalam kamarnya saat ini.

 

 

“Kakak lo kenapa?” tanya Ando ke Iqbal yang berdiri disampingnya. Iqbal mengangkat bahu,

 

 

“Jangan-jangan dia ketemu orang cabul di cafe—“

 

 

“Kan sekarang banyak tuh, orang gila cabul yang tiba-tiba menunjukkan alat kelaminnya” jawab Iqbal dengan asal, Ando melengos menataps sang adik yang kelewatan ngawur.

 

 

“Lo kayaknya sangat lelah!! Sana tidur!!”

 

 

“Yes, Sir” Iqbal menunduk menurut. Berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai.

 

****

 

Ify menutup pintu kamar, menjatuhkan diri perlahan diatas lantai menyandarkan tubuhnya di belakang pintu. Ia memegangi dahinya, sedikit memijat. Kepalanya terasa pusing. Banyak pertanyaan-pertanyaan di benaknya saat ini, masalahnya seakan bertambah dan membuatnya tertekan.

 

 

02.00, waktu dini hari. Ify masih berada ditempat tak berpindah. Ia tak bisa tidur.  Kejadian siang tadi dan kejadian beberapa jam yang lalu terus berputar, mengganggunya.

 

 

“Apa yang dia lakukan disini?”

 

*****

 

Pagi telah kembali datang. Jam di dinging masih menujukkan pukul 06.00 a.m, tapi gadis ini sudah siap dengan seragam sekolahnya dan tas yang ada dipunggungnya. Ia langsung berjalan keluar rumah yang masih sepi, hanya beberapa pembantu rumah yang melakukan pekerjaan.

 

 

Ify membuka gerbang rumahnya, langkahnya mendadak berhenti. Ia merasa ada yang aneh, ada yang miss. Yah, biasannya di pagi seperti ini sosok Rio sudah bertenger di depan rumah dan mengantarkannya sekolah.

 

 

Ify menghela berat.

 

 

“Aissh!!!”

 

 

Ify menyandarkan tubuhnya di pagar samping, menunggu pengawal yang akan mengantarkan dirinnya ke sekolah. Ia menatap ke bawah, menendangi apapun yang ada didepannya. Sejujurnya, ia sedang tak memiliki mood untuk melakukan apapun. Tapi ia harus pergi dari rumah. Ia tak mau Ando meng-introgasinya lagi.

 

 

Beberapa menit kemudian, terdengar sebuah mobil sport merah datang. Ify sangat mengenalnya, Ia menatap mobil itu yang mulai masuk kedalam rumah sebrang. Sebuah senyum miris muncul di bibir Ify. Ia yakin bahwa pria pemilik mobil itu sudah tak akan lagi peduli dengannya. Pria itu sudah membencinya.

 

 

Ify melihat Rio keluar dari mobil, tanpa menatapnya sedikit pun dan menganggap bahwa dirinnya tak ada disana, Rio langsung melangkah masuk kedalam rumah. Ify sekali lagi tersenyum kecut, rasa sakit di dadanya muncul kembali.

 

 

“Aissh!!!” desisnya semakin kesal dengan dirinnya sendiri. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Apa dia menyesal? Entahlah .

 

 

Mobil yang akan mengantarkan Ify akhirnya keluar, Ify pun dengan cepat masuk kedalam. Tak ingin berlama-lama disana.

 

****

 

Di sisi lain. Rio melangkah ke arah dapur, ia mengambil air minum dingin didalam kulkas. Meminum sebotol 1,5 liter sampai habis. Mungkin dirinnya sedang kalut.

 

 

Suara illy terdengar, gadis itu berjalan menuruni tangga. Rio berpapasan dengan sang adik.

 

 

“Lo nggak ngaterin Ify?” tanya illy sok heran. Kakaknya masih lengkap dengan baju kerja walaupun terlihat sangat berantakan. Rio menepuk pundak adiknya.

 

 

“Gue udah berakhir dengan temen lo” lirihnya tenang dan meneruskan langkahnya kembali.  Berjalan meninggalkan adiknya yang melongo.

 

 

“WHAT?? SERIUS LO??” teriak illy tak santai,

 

 

“KOK BISA? GIMANA CERITANYA? KAK BENERAN??”

 

 

Illy tersenyum kecut, ternyata ber-acting cukup sulit juga. Ia jelas sudah tau bahwa kakaknya dan Ify putus kemarin. Illy  mendadak sedikit  heran dan binggung. Apa benar kakaknya telah jatuh cinta ke Ify? melihat ekspresinya tadi? Nampak sedikit frustasi.

 

 

“Bodo amatlah!!”

 

 

Illy segera memilih beranjak dari rumah, pergi ke sekolahnya. Ia tak sabar untuk bertemu Ify dan menyuruh gadis itu memberikan cerita lengkap tentang kejadian kemarin. Ia sangat penasaran!! Sangat!

 

****

 

 

 

Sivia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, apakah hari ini dirinnya tak lagi bermimpi? Atau dirinnya salah kelas?. Ify telah berada di kelas sepagi ini dan gadis itu sedang membaca buku pelajaran. That’s not like Ify.

 

 

“Lo sakit?” tanya Sivia sambil memeriksa dahi Ify, membuat si-empu dahi terkejut.

 

 

“Apaan sih!!” Ify menepis tangan Sivia.

 

 

Sivia menatap Ify lekat-lekat,

 

 

“Tumben lo baca buku pelajaran?” tanya Sivia sambil meletakkan tasnya.

 

 

“Gue pingin pinter kayak lo” jawab Ify asal, Sivia membalas dengan desisan sinis. “Cihh—“

 

 

“Kalau gue pinter, pasti gue yang dapat peringkat satu, bukan lo!” lanjut Sivia lebih sinis.

 

 

Ify menutup bukunya, tak lagi mood dengan gambar-gambar molekul, jaringan atom dan teman-temannya, Ia terlalu hafal dengan semua itu. Ify menolehkan kepalanya ke arah Sivia.

 

 

“Gue semalam bertemu Brian” Ify mulai bersuara kembali. Ia tak kuat lagi membendung kegelisahannya, ia hanya masih binggung dan butuh untuk bercerita.

 

 

“Brian siapa?” Sivia meyahuti santai, ia membuka buku tulisnya ingin meneruskan catatannya semalam yang belum selesai.

 

 

Ify mendesah berat,

 

 

“Lo nggak tau apa pura-pura nggak tau?” kesal Ify. Sivia menghentikkan aktivitasnya menoleh ke Ify.

 

 

“Brian anak kelas sebelah?” tanya Sivia yang masih tak connect. Ify menghela pasrah.

 

 

“Emang ada berapa Brian sih yang lo kenal?” emosi Ify semakin menjadi, Sivia menaikkan sebelah alisnya tampak berfikir.

 

 

“Banyak!! Bryan Domani, Brian Andrew, Bryan O’brien” jawab Sivia dengan senyum bangganya.

 

 

“Itu Dylan O’brien bukan Brian!!! “ teriak Ify tak bisa lagi menahan kemarahannya. Sivia tertawa puas, wajah Ify benar-benar sangat lucu sekali.

 

 

“Ah—, gue kenal satu lagi orang yang bernama Brian” Sivia menghentikkan tawannya dan mulai serius kembali.

 

 

“Brian Kwan Phalevi, mantan lo” mendadak Sivia mematung setelah menyelesaikan ucapannya. Ia bertatapan dengan Ify cukup lama.

 

 

“Ng—, Nga—, nggak mungkin Brian ini kan?” tanya Sivia nampak hati-hati. Ify memincingkan senyumnya.

 

 

“Hm! Brian Kwan Phalevi” jawab Ify, raut wajahnya menjadi sedikit suram.

 

 

“Waaah—, lo ngajak gue bercanda!! “ tuding Sivia tak ingin percaya.

 

 

“Gue bertemu di cafe depan kompleks kemarin malam. “

 

 

“SUMPAAAHHH??”

 

 

Ify merasakan gendang telinga kirinya hampir pecah, suara Sivia melengking bah dolpin yang menemukan pasangannya. Ia menatap Sivia kesal.

 

 

“Ngapain dia disini? Bu—, bukannya—, Bukannya di—“

 

 

“WOIII FYY!!! CERITAIN GIMANA LO BISA PUTUS!!”

 

 

Suara cempreng illy memutuskan pembicaraan Sivia dan Ify, gadis itu setengah berlari menuju bangku di depan Ify, mendudukinya. Ify menatap illy gagal paham.

 

 

“Cepat ceritain!!” paksanya. Ify dan Sivia mengernyitkan kening.

 

 

“Apaan?” tanya Ify balik.

 

 

“Lo bisa putus sama kakak gue” jawab illy memperjelas. Sivia menoleh ke Ify.

 

 

“Lo putus sama Kak Rio?” kini Sivia ikut-ikutan menyerang.

 

 

“Gue akan jawab pertanyaan lo berdua setelah lo mau ngelakuin suatu hal buat gue”

 

 

“Apaan?” serempak Sivia dan illy antusias.

 

 

*****

 

Ify tersenyum puas. Akhirnya ia terbebas dari pelajaran pagi ini. Sivia dan illy melakukan perintahnya dengan perfect!!. Mereka mengantarkannya ke UKS, dan memintakan izin kepada guru kimianya agar dirinnya bisa beristirahat di UKS. Toh, dia tidak bohong-bohong banget, dirinnya memang saat ini sedang sakit!! Sangat sakit!!. Hatinya !!!

 

 

Ify berbaring leluasa di kasur, ia menikmati freedom nya ini.

 

 

“Selamat pagi Dok” suara siswa-siswi yang sedang piket di UKS terdengar oleh Ify yang berada di salah satu bilik, tertutup rapi oleh selambu putih.

 

 

Ify mencoba tidak peduli, ia mengenakan headphone di telinganya, memutar musik dan memejamkan mata. Ia ingin tidur saja!.

 

 

“Selamat pagi”

 

 

“Untuk hari ini hanya ada 1 pasien saja dok, dia berada di ujung bilik”

 

 

“Dia sakit apa ?”

 

 

“Sepertinya hanya tidak enak badan”

 

 

 

“Baiklah saya akan memeriksanya setelah ini—“

 

 

“Kalian semua boleh kembali ke kelas sekarang, biar saja saya yang jaga disini. Ini hari pertama saya menjadi volunteer. Kalian tidak boleh bolos hanya karena piket kalian”

 

 

“Baiklah dok”

 

“Belajar yang rajin!”

 

Ucapan dokter tersebut membuat siswi-siswi itu senyum-senyum salah tingkah, Mereka terlalu senang, kelihatannya.

 

 

Dokter itu perlahan melangkah, mendekati bilik Ify.

 

 

Sreeekkk

 

 

          Suara selambu terbuka, Ify terlalu peka dengan kehadiran seseorang, ia langsung membuka matannya dan melihat siapa yang datang.

 

 

Mendadak hening, Ify mematung dan orang tersebut juga ikut mematung untuk beberapa detik. Mereka saling bertatap mata,

 

 

 

“Lo masih suka bolos pelajaran?” orang tersebut membuka suara dengan senyum yang ia tunjukkan menampakkan lesung di kedua pipinya.

 

 

Ify tersadar, segera melepaskan headphonenya dan bangun.

 

 

“Tidur aja! Gue akan periksa lo” Ify semakin salah tingkah ketika orang itu mendekat.

 

 

 

“Gue nggak apa-apa!”

 

 

 

“Gue bilang berbaring!”paksanya,

 

 

“Gue nggak sakit!!” tajam Ify yang akan turun dari kasur, namun langsung dicegah oleh orang tersebut, membuat Ify terdiam mematung untuk kedua kalinya.

 

 

 

“Kenapa buru-buru?”

 

 

“Kakak dan adik lo udah nungguin lo?”

 

 

Ify mendudukan kepala, mengigit bibir bagian dalamnya. Sedikit malu, mendapat sindiran halus dari orang tersebut.

 

 

“Kenapa dia harus disini!!!”

 

 

 

Yah, dia adalah Brian Kwan Phalevi !! Orang yang baru saja tadi pagi ia bicarakan dengan Sivia. Bagaimana bisa pria ini berada di sekolahnya? Jangan katakan bahwa ini semua takdir?!! Bullshit!!.

 

 

“ Apa lo akan terus memegang tangan gue?” Ify mendongakkan kepala, mencoba tenang. Ia membaranikan dirinnya untuk menatap Brian.

 

 

“Ah—, Sorry” Brian melepaskan tangannya tak lupa dengan senyuman yang selalu ia sebarkan.

 

 

Ify pasrah, ia kembali menaikkan kedua kakinya ke kasur. Walaupun rasanya ia sangat ingin kabur dari sini. Ternyata, ini adalah karma yang ia dapat karena sedikit  berbohong kepada gurunya. Ia sangat menyesal!!! Sangat!! .

 

 

“ Lo sakit?” tanya Brian, ia lebih mendekat. Ify menggeleng mengalihkan tatapanya ke arah lain.

 

 

“Istirahatlah”

 

 

Brian menyunggingkan senyum tipis, kemudian memilih untuk beranjak dari bilik Ify. Membiarkan gadis itu untuk sendiri. Mungkin memang kedatangannya terlalu mengejutkan.

 

*****

 

Jam Istirahat datang. Sivia dan illy membawakan bekal untuk Ify, mereka berjalan bersamaan menuju UKS. Kedua langkah mereka terhenti, melihat UKS yang sangat ramai dengan kerumunan siswi-siswi disana. Sivia dan illy bertatapan binggung.

 

 

“Apa ada artis di UKS?” tanya Sivia tak paham.

 

 

“Vi, jangan-jangan ada yang mati disana?”

 

 

“Jangan-jangan Ify mati”

 

 

PLAAAKKK

 

 

“Ngomong yang bener” sinis Sivia kepada illy yang hanya bisa meringis dan tersenyum kecut.

 

 

“Yaudah meniding kita cek kedalam”

 

 

Illy mengangguk, mereka meneruskan langkah mendekati UKS.

 

 

Butuh perjuangan bagi mereka berdua agar bisa masuk, gerumbulan gadis-gadis aneh ini menyesakkan jalan. Kalau bukan karena Ray, mereka tidak akan bisa masuk kedalam UKS. Untung saja hari ini adalah jadwal piket Ray jaga di UKS, mengingat pria itu adalah ketua PMR (palang merah remaja) di sekolah ini.

 

 

“Teman-teman tolong kembali ke kelas!!” teriak Ray kehabisan kesabaran, ia segera menutup pintu UKS dan membuat gadis-gadis itu gemerutu tak jelas dan menyumpahi Ray.

 

 

Ray mengelap keluh keringat dingin di wajahnya, menghadapi gadis-gadis itu lebih menyeramkan daripada memberikan makan kepada Singa di Taman Safari. Ray melihat Sivia dan illy yang menunggunya.

 

 

“Ada apa sih? Kok rame banget kayak gitu? Nggak biasannya?” tanya Sivia yang penasaran sedari tadi. Illy mengangguk-angguk mendukung pertanyaan Sivia.

 

 

“Ada Dokter volunteer baru di UKS.”

 

 

“Terus?”

 

 

“Katanya sih dia tampan mirip aktor korea yang lagi trend saat ini” jelas Ray dengan nada enggan.

 

 

“masak sih?” illy nampak paling antusias. “Dimana dia sekarang”

 

 

“Tuh”

 

Ray menunjuk dengan dagunya ke arah seorang pria yang baru saja keluar dari bilik 1. Sivia dan illy langsung membalikkan badan mereka, untuk melihat.

 

 

 

“Buuuseeett!! Cakep gilaaa!!! “ histeris illy tak sadar dengan suaranya. Sedangkan teman sebelahnya hanya diam dengan mulut setengah terbuka, kedua mata blank.

 

 

 

“Br—, Bri—, Kak Brian?”

 

 

Brian mengangkat kepalannya, menoleh ke sumber suara yang memanggil namannya. Brian nampak terkejut melihat Sivia.

 

 

“Lo kenal sama dia?” bisik illy takjub. Sivia tak menggubrisnya, ia terlalu fokus menatap Brian.

 

 

“Sivia” balas Brian tersadar, ia mendekat, berjalan ke arah Sivia.

 

 

“Kakak kok bisa ada disini?”

 

 

“Waah—, ternyata kalian berdua memang sahabat sejati”

 

 

“Apa kalian berdua sudah sekongkol memberikan pertanyaan itu?”

 

 

Tawa Brian terdengar renyah,

 

 

 

“Vi, kok lo kenal sama dokter cakep ini!! Dia siapaa??”  bisik illy tajam penuh memaksa sambil merenggek menarik rok Sivia.

 

 

“Dia mantannya Ify” balas Sivia dengan suara pelan.

 

 

“WHATTT??”

 

 

Brian dan Sivia membelakakan mata, kaget dengan teriakan illy yang tak santai. Sivia menatap illy dengan kesal. Gadis ini selalu saja mempermalukan dirinnya sendiri. Sivia mencoba bersabar.

 

 

“Kakak mantannya Ify?” cerocos illy tanpa rem.

 

 

 

SREEKKK

 

 

          Pertanyaan illy tersebut nampaknya terdengar sampai bilik Ify. Gadis itu menadak membuka selambu dan menujukkan kedua mata elang tajam yang penuh amarah. Semuanya mengarah ke Ify.

 

 

“Bukan gue yang bilang! Sumpah!!” dengan cepat Sivia mencari pembelaan, ia tak ingin dimakan hidup-hidup oleh Ify yang telah menatapnya dengan membunuh.

 

 

“Ray yang bilang” tunjuk Sivia kepada citizen tak bersalah dibelakangnya. Ray mengangkat bahu binggung.

 

 

“Kok jadi gue? —“

 

 

“Gue aja nggak tau kalau dia mantan lo” jelas Ray sambil menunjuk ke arah Brian yang terdiam  tak faham dengan situasi disekitarnya.

 

 

“ARGHHSSS!!!” teriak Ify benar-benar sangat kesal. Ia turun dari kasur, memakai sepatunya dan berjalan mendekat ke mereka semua yang hanya bisa meneguk ludah.

 

 

“Mampus gue” batin Sivia yang hanya bisa pasrah.

 

 

Ify berjalan saja terus, ia berniat untuk keluar dari UKS. Disini terlalu ramai dan semakin membuatnya pusing.

 

 

“Lo mau kemana?” cegah Brian, memegangi pergelangan Ify.

 

 

Ify mendesah berat, membalikkan badan menatap Brian.

 

 

“Apa lo terlalu suka dengan tangan gue?” tajam Ify

 

 

“Ah—, sorry” Brian melepaskan genggamannya.

 

 

“Lo buatkan surat izin dan diagnosa palsu buat gue” suruh Ify seenaknya, Brian mengernyitkan kening.

 

 

“Lo mau kemana?”

 

 

“PULANG!”

 

 

“Kok lo jadi kasar kayak gini?” tanya Brian yang merasakan bahwa gadis ini banyak berubah. Sekali lagi Ify mencoba bersabar.

 

 

 

Ia perlahan mendekat ke Brian tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun.

 

 

“Gara-gara lo, Brengsek!!”

 

         

 

          Baik Brian, Sivia, illy dan Ray mematung. Suara Ify sangat menakutkan. Mereka tak ada yang bergerak dari tempatnya. Membiarkan Ify mulai melangkah, beranjak keluar dari UKS.

 

         

*****

 

Ify benar-benar kabur dari sekolah, ia sudah lama tak melakukan ini. Meloncat pagar belakang sekolah. Ia tak peduli dengan barang-barangnya yang masih di kelas. Toh, ada Sivia dan illy yang akan setia membawakannya. Palingan juga kalau dua temannya tidak mau masih ada Ray. Pengangumnya.

 

Ify menaiki taxi untuk pulang kerumah.

 

 

*****

 

Ify masuk kedalam rumah, tak peduli jika nanti Ando marah-marah kepadannya karena sudah pulang di jam segini tanpa tas. Sudah pasti dirinnya terlihat seperti gadis kabur dari sekolah. Ify melangkah masuk kedalam, dari luar ia dapat mendengar suara Ando.

 

 

“Kok lo udah pulang?”

 

 

Ify menghentikkan langkahnya, bukan karena Ando ataupun pertanyaan Ando. Melainkan kedua matannya menemukan Rio yang telah duduk manis di ruang makan.

 

 

“Lo kabur dari sekolah?” tanya Ando sekali lagi, ia mendekat ke Ify.

 

 

Rio sama sekali tak membalikkan badannya, pria itu meneruskan makan seolah dirinnya tak ada disini, seolah Ando sedang mengajak bicara makhluk lain. Ify menahan tubuhnya yang sedikit bergetar. Ingatannya pada kejadian kemarin, terputar cepat di otaknya.

 

 

 

“Baju lo kotor semua! Lo loncat dari pagar belakang lagi??” Ando terlihat mengamuk. Ify tetap tak mempedulikannya. Matannya masih fokus menatap punggung belakang Rio.

 

 

“ DAFYCHI!!” teriak Ando, membuat Ify mendongakkan kepalannya menatap Ando. Jika, Ando sudah memanggil dirinnya seperti itu, menandakan bahwa Ando tak ingin di bantah dan ia sedang marah, khawatir, dan cemas kepadannya.

 

 

“Sebenarnya, Lo kenapa sih Fy?” Ando tak bisa menahannya lagi, ia butuh penjelasan. Kelakukan Adiknya sudah aneh sejak kemarin.

 

 

“ Gue ingin bertemu papa”  jawab Ify diluar dugaan.

 

 

“Heh?”

 

 

“Gue pingin pindah ke prancis! Sekarang juga!!”

 

 

Pyaaarrrr!!

 

 

          Suara gelas pecah, mengalihkan tatapan Ando dan Ify. Mereka melihat Rio menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya. Pria itu nampak salah tingkah dan berusaha membersihkan ulah.nya.

 

 

“Biarin aja yo, nanti dibersihkan sama Bi Ina” ucap Ando mencegah Rio yang akan membersihkan pecahan gelas-gelas tersebut, Rio menurut saja kembali fokus ke makanannya. Mungkin!

 

 

Ando kembali menatap sang adik

 

 

“Lo kenapa sih sebenarnya? Lo sakit? Atau kenapa??”

 

 

“Sekali lo pindah ke Prancis, lo nggak bakalan bisa balik kesini lagi” Ando mulai serius, ia tak faham dengan permintaan konyol sang adik yang tiba-tiba. Ia yakin bahwa telah terjadi sesuatu kepada Ify. entah itu apa, dan ia perlu tau. Sangat!

 

 

“Gue bisa berangkat sendiri sekarang, kalau lo nggak mau ngabulin”

 

 

“Akan gue terima resikonya”

 

 

“FY!!!” bentak Ando karena ucapan Ify sudah keterlaluan.

 

 

Rio berdiri dari kursinya, ia merasa tak pantas untuk berada disini. Ini adalah urusan keluarga Ando. Ia tak mau menjadi saksi bisu. Ia memilih untuk beranjak, pulang kerumah.

 

 

“Gue balik dulu, thanks makanannya” Rio pamit ke Ando kemudian pergi begitu saja. Sekali lagi, pria itu mengabaikan Ify. Tak menatap gadis itu sedikit pun.

 

 

Tak terasa, Ify mengepalkan kedua tangannya. Menahan lagi tubuhnya yang mulai bergetar. Dadanya sangat penuh!.

 

 

“ Lo masuk ke kamar sekarang! “ perintah Ando, otot-otot diwajahnya terlihat menegang, menandakan bahwa diirnnya menahan amarah.

 

 

“Hm” Ify menurut saja, tak mau memperpanjang masalah. Bisa-bisa Ando semakin murka besar kepadannya. Ia melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.

 

*****

 

Brian mengajak Sivia untuk makan siang berdua sepulang dari sekolah. Banyak hal yang ingin Brian pertanyakan mengenai Ify. Mendengar ucapan terakhir Ify ketika di UKS membuat dirinnya binggung, tak mengerti.

 

 

“Gimana kabar lo?” tanya Brian basa-basi. Ia sangat pandai jika mengenai table manners dengan seorang gadis.

 

 

“Baik, Kakak sendiri?”

 

 

“Baik juga” Brian membantu Sivia menata piring diatas meja.

 

 

“Kakak ingin tanya-tanya apa? Perkataan Ify tadi? Atau yang mana?” Beda Brian beda lagi Sivia,  gadis itu tak suka basa-basi, ia jelas tahu maksud dari Brian mengajaknya makan siang. Brian tersenyum ringan.

 

 

“Bagaimana kabar dia?”

 

 

“Dia? Ify?” pancing Sivia menggoda. Brian kembali tertawa, lesung di pipinya terlihat sangat jelas dengan kedua mata yang semakin menyipit.

 

 

“Hmm” Brian mengangguk ringan, memasukkan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya.

 

 

“Dia baik, walaupun sifat dinginnya semakin tidak baik” jujur Sivia meyakinkan, Brian mengangkat satu alisnya,

 

 

“Dia sekarang pemarah? Karena gue?”

 

 

“Dia bukannya emang kayak gitu sejak dulu?” tanya Sivia balik. Brian mengangguk-angguk ringan,

 

 

“Tapi lebih parah sekarang. Dia dulu sama gue berskipa manis, penurut nggak pemarah banget seperti sekarang”

 

 

“Anak SMA kelas 2 lo samain kayak anak SMP kelas 2, yang benar aja kak”

 

 

“Ah—, iya juga sih”

 

 

“Dia cuma tambah dingin aja sejak putus dari lo”

 

 

“Kok bisa?”

 

 

“Kalau itu—,

 

 

“ Lo tanya langsung aja ke Ify. hehehe” cengir Sivia, jujur ia tak berani bercerita lengkap. Menurutnya, lebih pantas jika Ify yang menceritakannya langsung.

 

“Baiklah” serah Brian menurut. Sivia memang seorang sahabat yang benar-benar sejati, yang tidak akan mudah membocorkan cerita pahit sahabatnya.

 

 

Bersambung . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s