ENLOVQER DEVIL – 20

ENLOVQER DEVIL – 20

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

         

          Ify merasa kepalannya terasa berat, ia berjalan sedikit sempoyongan keluar kamar. Air minumnya habis, ia lupa tidak memberitahu Bi Ina untuk mengisi ulang air  putih dikamarnya.

 

Lampu telah dimatikan, hanya gelap yang dapat Ify lihat. Ia terbangun ditengah malam seperti ini hanya karena haus. Sedikit menyebalkan.

 

 

BRAKK

 

 

“Astaghfirullah!!” jerit Ify terkejut. Ia melihat kakaknya keluar dari kamar dengan menggunakan baju serba hitam. Ify merasakan kepalanya terasa semakin pusing. Dalam hati menyumpahi sang kakak.

 

 

“Lo ngapain?” tanya Ando tak merasa berdosa.

 

 

“Lo bisa nggak sih bersuara!” kesal Ify melongos.

 

 

“Sorry”

 

 

“Lo mau kemana?” tanya Ify setelah merasa tenang. Ando menyalakan saklar lampu di dekatnya. Memberikan penerangan kepada sang adik, Ify tak suka dengan gelap.

 

 

“Gue ada dinas 5 harian. Lo jangan aneh-aneh selama 5 hari”

 

 

“Emang lo fikir gue bakal ngapain?” geurutu Ify mendengus.

 

 

“Jangan kabur ke prancis sendiri”

 
“Gue udah beli tiket” ujar Ify serius, Ando  menghembuskan nafas berat. Adiknya benar-benar keras kepala.

 

 

“Gue nggak ngizinkan” tajam Ando.

 

 

“Gue udah bilang papa”

 

 

“Bohong, papa nggak bahas sama sekali ditelfon tadi” sahut Ando dan berhasil membuat Ify menatapnya dongkol.

 

 

“Lo lebih aman disini” bujuk Ando, namun ucapan Ando tersebut semakin membuat Ify kesal.

 

 

“Aman? Gue kenapaa? Gue sakit? Ada yang ngincer nyawa gue? Gue kenapa ?? Ah—,”

 

 

“Lo nggak bakalan jawab pertanyaan gue yang ini kan? Nggak perlu dijawab!” sinis Ify, kedua matannya saling beradu dengan Ando. Amarahnya mulai naik,

 

 

“ 3 jam yang lalu papa nelfon, dia menyuruh Mr. Lay dan lainnya ke prancis buat ngawal dia ke Dubai besok, jadi besok pagi Rio yang akan anterkan lo ke sekolah ”

 

 

“Heh?” Ify menghela nafas berat, apa lagi ini??

 

 

“Gue nggak mau. Gue bisa naik taxi”

 

 

“Perintah! Jangan buat gue ngurung lo lagi”

 

 

“LO KENAPA SIH NDO!!! “ teriak Ify benar-benar frustasi, ia tak peduli seisi rumah akan bangun karena pertengkarannya dengan sang kakak.

 

 

Wajah Ando terlihat memerah, memendam amarahnya. Ia paling tak suka dilawan untuk alasan apapun selama keputusannya itu memang demi kebaikan adiknya.

 

 

“ Demi kebaikan lo, gue nggak mau lo kenapa-kenapa”

 

 

“Terserah lo, brengsek!”

 

 

Ify lepas kendali, ia benar-benar menghabiskan kesabaran Ando. Benar saja sang kakak langsung menarik kerah bajunya dengan sedikit kasar.

 

 

“Jaga ucapan lo didepan gue”

 

 

“Gue kakak lo!!!” tajamnya tak terkontrol. Ify menahan nafas, ia merinding dibuatnya. Di depannya seperti bukan Ando sang kakak, menakutkan dalam artian sangat menakutkan!!.

 

 

Ify tau jelas bagaimana sifat Ando yang terkadang disiplin dan kaku, tapi ia tak pernah menyangka Ando marah sampai seperti ini, memakai tangan.

 

 

“Kak, lo nakutin gue” bibir Ify bergetar, sampai tak sadar air matannya terjatuh entah sejak kapan.

 

 

Ando perlahan tersadarkan, ia segera melepaskan tangannyaa, menatap Ify menangis dalam diam.

 

 

“Fy—, Fy, sorry”

 

 

“Gu—, Gue nggak senagaja”

 

 

“Maafin gue lepas kontrol, Sorry—“

 

 

“Fy maafkan kakak”

 

Ando dengan cepat menarik sang adik, memeluknya dan menenangkannya. Ando sangat menyesali perbuatannya tersebut, Adiknya menangis karena ia sendiri. Betapa bodoh dirinya.

 

 

“Kakak mintaa maaf”

 

 

“Kak Ando mintaa maaf”

 

 

“Kakak benar-benar minta maaf’

 

 

Ify masih terisak dengan suara pelan. Ando dapat merasakan suhu tubu gadis itu memanas. Ia semakin mengeratkan pelukannya, membelai lembut rambut belakang Ify.

 

 

Meskipun Ify memiliki hati dingin dan suka memberontak, Ando tau jelas bahwa adiknya ini tetaplah gadis berumur 16 tahun yang manja, hati lemah yang dapat menangis kapan saja. Adiknya masih remaja. Emosinya naik-turun kapan pun.

 

 

*****

 

Ando menunggu sampai sang adik tertidur kembali, Ia jadi tidak tega untuk meninggalkan adiknya. Apa yang ia lakukan tadi? Apa dia sudah sangat gila? Jika papanya melihat kejadian tadi, 100% nyawannya pasti langsung hilang saat itu juga.

 

 

“Gue nggak akan ngelakuin itu lagi” lirih Ando pelan, mengecup puncak kepala Ify.

 

 

Ando beranjak dari kamar Ify, menutup pelan-pelan pintu kamar agar tidak menimbulkan suara. Ando meraih ponselnya, menghubungi seseorang.

 

 

“Keluar rumah sekarang, ada yang pingin gue bicarakan”

 

 

“Oke”

 

 

*****

 

Ando mendapati Rio yang sudah berdiri di depan pagar rumah. Ia keluar dari mobilnya yang baru saja ia keluarkan. Ia mendekati Rio, menyebrang jalan.

 

 

“Sorry, ganggu lo malam-malam, ify habis nangis” jelas Ando, memang sudah biasa  menceritakan semua hal kepada Rio, yang sangat ia percaya melebihi siapapun.

 

 

“Kenapa dia?” tanya Rio dengan ekspresi wajah tenang, tak ingin menunjukkan rasa penasarannya dan kekhawatirannya juga.

 

 

Ando mendecak kesal,

 

 

“Gue lepas kontrol, hampir main tangan ke dia”

 

 

“LO GILA!!”

 

 

Kini Rio tak bisa menyembunyikan lagi reaksinya, mendengar gadis yang sempat meraih hatinya diperlakukan kasar oleh pria lain, tentu saja membuatnya kesal.

 

 

“Sorry yo! Sorry, gue salah besar! ” balas Ando menyadari kesalahannya. Ando masih mengira bahwa Rio dan Ify berpacaran. Rio tak bercerita bahwa dirinnya putus. Bisa-bisa Ando akan memakinya sampai habis, sepertinya juga Ify tidak cerita ke sang kakak. Yah, buat apa juga cerita? Dirinnya sendiri seperti tidak diakui oleh Ify.

 

 

“ Terus? Lo ingin bicara apa?” tanya Rio, ia tahu bahwa bukan itu yang ingin Ando katakan kepadannya.

 

 

“Tubuh dia sedikit panas tadi, sepertinya dia sakit. Gue juga ngelihat dia akhir-akhir ini ada masalah. Lo bisa jagain dia selama 5 hari. Gue harus berangkat dinas”

 

 

Rio terlihat berfikir, apa yang harus ia jawab?

 

 

“Pengawalnya?”

 

 

“Mereka harus pergi ke prancis, karena papa gue” Rio menghela berat. Terdiam,  nampak berfikir sejenak. Ia menundukkan kepalannya kebawah, menerawang.

 

 

“Jadi—, lo nyuruh gue nganterin dia ke sekolah?” Rio mengangkat kepalannya menatap Ando kembali.

 

 

“Tidak itu aja, lo jagain dia. Gue takut penyakitnya kambuh. Besok lo paksa dia berobat”

 

 

“Dia tidak makan sedari tadi pagi”

 

 

Rio mengangguk-angguk ringan, kini dirinnya paham kenapa Ando sangat khawatir ke sang adik sampai menyuruhnya.

 

 

“Baiklah, gue akan lakukan”

 

 

“Thanks yo, sorry ngerepotin lagi. Gue hanya bisa percayakan Ify ke lo”

 

 

Rio mengangguk-anggukan lagi kepalannya, menyunggingkan senyum ringan.

 

 

“Ah—, ada yang ingin gue tanyakan dari kemarin”

 

 

“Lo sama Ify bertengkar?”

 

 

“Heh?” Ando mulai menatapnya curiga.

 

 

“Nggak ada apa-apa, gue juga nggak tau dari kemarin adik lo diam aja” bohong Rio, terpaksa.

 

 

“Ah—, syukurlah kalau gitu. Gue berangkat dulu, pesawat gue  1 jam lagi. Thanks banget”

 

 

“Oke, hati-hati sob”

 

 

“Hmm”

 

 

Ando bersalaman dengan Rio, kemudian berjalan kembali menuju mobil di depan rumah. Ando dengan cepat menjalankan mobilnya, meninggalkan Rio disana sendiri.

 

 

Sepeninggal Ando, Rio mendongak keatas. Lebih tepatnya ke arah jendela kamar Ify. Ia merindukannya. Mungkin.

 

 

*****

 

 

Pagi. Ify ragu untuk keluar rumah atau tidak, Ando baru saja menelfonnya dan mengatakan bahwa Rio telah menunggunya di depan rumah. Ify berfikir keras, ia tidak siap bertemu Rio. Jemarinya terus bergerak, tak pasti.

 

 

“Lo kenapa?” tanya Iqbal yang nonggol dibelakangnya.

 

 

“Lo nggak sekolah?” tanya Ify balik melihat sang adik masih dengan baju kaos oblong dan keadaan berantakan.

 

 

“Gue udah pinter”

 

 

“Lo minta gue tendang? Mandi sana!!”

 

 

“Aissh!!” desis Iqbal menatap kakaknya kesal.  “Nggak ada Ando lo gantinya! Menyebalkan!” lanjut Iqbal segera meninggalkan Ify,  menuruti perintah sang kakak.

 

 

Ify kembali cemas, ia mengintip di jendela depan rumahnya. Samar-samar ia dapat melihat mobil merah di depan rumahnya. Itu mobil Rio !!!.

 

 

“Bodoh amatlah!!”

 

 

Ify baru saja akan membuka pintu rumahnya, tapi ia urungkan ketika melihat illy yang sedang bercengkramah dengan sang kakak yang ada didalam mobil. Mereka nampak serius. Ify tak bisa mendengarnya. Ia menunggu saja sampai illy pergi dari sana.

 

****

 

Ify menutup gerbang rumah. Ia sudah menyiapkan mental, batin dan muka temboknya dihadapan Rio nanti. Ia berjalan ke arah mobil Rio, suara pintu terbuka otomatis. Maklum mobil mahal, semuannya serba otomatis, apalagi ia pernah dengar bahwa Rio membeli mobil ini memang didesainkan khusus sesuai dengan requestnya.

 

 

Ify sedikit melirik ke Rio ketika akan masuk kedalam, pria itu menatap ke depan, acuh kepadannya, Ify melengos pasrah. Ia segera duduk dan menuutp pintu mobil. Rio pun mulai menyalakan mesin, menginjak rem, dan menjalankan mobilnya.

 

 

“Seatbelt!” ucap Rio dingin, Ify mengangguk ringan. Dirinya memang selalu lupa akan satu benda ini.

 

 

“Biasanya ada yang makein” geurutunya pelan sambil memakai seatbelt.nya. Ucapannya tersebut cukup terdengar oleh Rio. Entahlah, Ify sadar atau tidak mengatakannya. Namun cukup berhasil membuat Rio menoleh sebentar ke arahnya, dan entah mengapa membuat Ify berteriak senang dalam hati.

 

 

“Ando maksud gue!” ralat Ify dengan cepat, ia juga punya harga diri tinggi. Ia tidak mudah menjatuhkan imagenya, nanti dirinnya terkesan ingin balikan dengan Rio.

 

 

Hening, tak ada bahan obrolan, tak ada perbincangan. Rio fokus kedepan, menyetir. Ify sendiri binggung harus berbuat apa. Ia sebenarnya tak suka di diamkan seperti ini. Tapi ia tau jelas bahwa Rio masih sangat marah dengannya.

 

 

DRTTDRTTT

 

 

          Suara ponsel Ify berbunyi, ia mengeluarkannya dari dalam tas. Melihat layar ponselnya, terdapat nomer yang tak ia kenal. Ify langsung mematikannya saja. Tak penting.

 

 

 

DRTTTDRTTT

 

 

Nomer tersebut menelfonya kembali, dengan cepat sekali lagi Ify mematikannya.

 

 

DRRRRTTTTTDRTTTT

 

 

Ify menghela nafas, menahan kesal. Ia pun memilih mengangkat sambungan tersebut.

 

 

“Hallo, Siapa?” tanyanya dengan nada ketus.  Tak peduli, Rio ada disampingnya.

 

 

“Brian”

 

 

          Ify terdiam, bagaimana bisa pria ini mendapatkan nomer ponselnya?

 

 

“Aisshh! Uks!” gerutu Ify kesal. Ia menuliskan nomer ponselnya di register daftar pasien yang memang wajib di-isi.

 

 

“Gue di dekat rumah lo tadi dan liat lo berangkat sama cowok”

 

 

“ Gue berniat untuk nganterin lo ke sekolah”

 

 

Ify melirik ke samping, pasti Rio yang dimaksud oleh Brian. Ify memilih diam saja, membiarkan pria disebrang sana terus nerocos sesukanya, daripada Ify diam saja di acuhkan oleh Rio. Setidaknya, ada untungnya Brian menelfonnya. Menghilangkan kecanggungan didalam sini.

 

 

“Nanti pulang gue anter? Gimana?”

 

 

“Lo mau nganterin gue pulang?” Ify sengaja mengulang pertanyaan Brian, mencoba mengetes bagaimana reaksi pria disampingnya. Sekali lagi ia melirik Rio.

 

 

Sial!! Pria itu tak beraksi apapun, tetap tenang menatap kedepan.

 

 

Ify mendengus kesal tanpa suara.

 

 

“Iya. Apa boleh?”

 

 

“Boleh. Gue juga ada perlu sama lo”

 

 

“Baiklah, gue jemput disekolah siang nanti, gue off hari ini”

 

 

          Ify menutup ponselnya, dan memasukannya kedalam tas. Fikirannya mengambang. Apa keputusannya tadi telah benar dengan menemui Brian?. Entahlah, ia sudah terlanjur mengatakannya.

 

*****

 

Ify melepaskan seatbelt-nya, mereka berdua telah sampai didepan sekolah. Rio tak bergeming sedikitpun, kedua tangannya masih bertumpu pada stir  mobil. Tidak menoleh ke arah Ify.

 

 

“Lo nggak usah jemput, gue dijemput temen gue”

 

 

“Oke”  jawab Rio tetap acuh tanpa menatap Ify.

 

 

Pria itu menyalakan mesin mobilnya, dan segera beranjak dari sana, meninggalkan Ify yang menahan emosi. Ify langsung berteriak kesal sepeninggal Rio.

 

 

“Kenapa gue harus marah?” Ify menyadarkan diri.

 

 

“Apa gue barusan marah gara-gara dia nggak peduli sama gue?”

 
“Apa gue baru saja mendeklarasikan bahwa gue telah menyukai dia?”

 

 

“Nggak!! Nggak mungkin!!”

 

 

“Mungkin karena gue nggak suka diacuhkan saja mangkannya gue kayak gitu.”

 

 

“Bener-bener.!! Gue nggak ada perasaan sama dia”

 

 

“Nggak ada!! Nggak ada!! “

 

 

*****

 

Ify masuk kedalam kelasnya, semua mata terarah menatapnya, membuat ia sedikit risih. Ify mencoba tak peduli dan berjalan lurus ke bangkunya.

 

 

“Ada yang ngasih lo bunga” ujar Sivia, mengambil bunga mawar putih yang ada diatas meja dan memberikannya ke Ify.

 

 

“Dari siapa?” tanya Ify heran, ia tak melihat ada pesan apapun yang ditinggalkan.

 

 

“Kayaknya Dokter Brian” sahut illy dibelakang Sivia. Ify mengernyitkan kening.

 

 

 

“Sepertinya enggak. Dia libur hari ini”

 

 

“Kok lo tau?” serempak Sivia dan illy antusias.

 

 

“Dia nelfon gue tadi diperjalanan” jelas Ify dengan malas.

 

 

“Terus siapa yang ngasih itu?”

 

 

“Ray mungkin” jawab Ify tambah asal.

 

 

“Bukan gue, “ jawab Ray yang baru saja masuk ke kelas. Ray berjalan menghampiri Ify.

 

 

“Gue nggak lagi berani ngasih lo bunga sejak tangan lo berdarah terkena duri, palingan cokelat putih”

 

 

“Nih” Ray menyodorkan sekotak cokelat putih ke Ify dan langsung diterima gadis itu, karena memang kesukaannya.

 

 

“Gue mana? Katannya lo juga suka sama gue!!!” teriak ily tak terima, Sivia dan Ify geleng-geleng melihat kelakukan childish sahabatnya satu itu.

 

 

“Tenang saja, buat princess illy juga ada satu kotak. Nih” Ray mengeluarkan satu kotak lagi cokelat putih dan memberikannya ke illy.

 

 

“Makasih Ray, gue sayang sama lo!! cinta banget sama lo!!. Tapi gue nggak mau jadi pacar lo!!
 

 

Ray mendesis kesal. Illy terlalu jujur kepadannya.

 

 

“Lo sebenarnya suka Ify atau illy? Kasihan mereka berdua lo permainkan”

 

 

 

“Yang bener, gue yang dipermainkan dan dicampakan sama mereka”

 

 
“Tuh ngerti!!” serempak illy dan Ify sangat puas menggoda ketua kelasnya itu. Ray geleng-geleng saja dan segera kembali ke bangkunya.

 

 

*****

 

Rio berjalan ke ruang makan, ia melihat sang mama sedang menikmati sarapannya. Entah sudah berapa hari ia tak bertemu mamanya yang seminggu ini sangat sibuk mengurusi hari jadi perusahannya. Rio mendekati mamanya dan mencium pipi kanan sang mama.

 

 

“Cepat sana makan” suruh sang mama, Rio menurut mengambil kursi di depan mamanya yang telah menyiapkan sepiring nasi goreng kesukaannya.

 

 

“Habis nganterin Ify ke sekolah?” tanya mamanya yang sudah hapal kegiatan Rio sebulan terakhir ini di pagi hari.

 

 

“Hmm”

 

 

“Gimana hubungan kalian?”

 

 

“Baik” jawab Rio singkat penuh kebohongan.

 

 

“Bawa dia ke pesta hari jadi perusahaan kamu” Rio menghentikan makannya.

 

 

“Perkenalkan dia ke semua tamu undangan. “ lanjut sang mama, nada suarannya terdengar sangat serius.

 

 

Rio menatap sang mama, yang terlihat mengeluarkan “sesuatu” dari tas yang ada disampingnya.  Rio memperhatikannya saja,

 

 

“Berikan ke dia ketika disana” Rio membuka matannya lebar, menatap sebuah kotak persegi berwarna merah maroon, Rio jelas sangat tahu apa isi di dalam kotak itu.

 

 

“Maa!!” rengek Rio tak menduga mamanya akan melakukan ini. Apakah mamanya begitu serius ingin Ify menjadi menantunya?

 

 

Nyonya Abahay mendesah pelan.

 

 

“Itu cincin yang kakek kamu berikan kepada nenek kamu, dan nenek kamu berikan ke mama. Sekarang mama akan memberikannya ke calon menantu mama” jelas Nonya Abahay menambah beban yang semakin berat di fikiran Rio.

 

 

Bagaimana bisa ia memberikan ini kepada Ify? hubungan mereka saja sudah berakhir.

 

 

“Mama harus segera terbang ke Pulau Aling, sampai ketemu disana 4 hari lagi”

 

 

Nyonya Abahay mencium puncak kepala Rio kemudian beranjak dari meja makan, meninggalkan sang anak yang terdiam menahan frustasi.

 

 

 

“Arghshsss!!!” erang Rio mencak-mencak tak jelas, ia menjambak rambutnya sendiri beberapa kali.

 

*****

 

Sepulang sekolah, Ify mendapati Brian telah bersender didepan mobil. Pria itu Tersenyum ke arahnya, Ify tak membalasnya dan terus saja berjalan. Lebih cepat lebih baik.

 

 

“Selamat si—“

 

 

“Ayo!!” Ify berjalan ke mobil Brian untuk segera masuk kesana. Brian tersenyum kecut, menuruti saja permintaan Ify.

 

 

Mereka berdua masuk kedalam mobil, dan melesat dari depan sekolah.

 

 

*****

         

Brian tak ada henti-hentinya mencoba mengajak Ify berbicara. Namun, Ify hanya membalasnya dingin. Tak ada mood untuk berbicara dengan pria disampingnya ini. Entahlah, apakah memang ia masih marah kepadannya? Ify sendiri tidak tau.

 

 

“Lo selalu aja sama kayak dulu!”

 

 

Brian tiba-tiba meminggirkan mobilnya, menghentikannya. Ify mengernyitkan kening binggung.

 

 

“Seatbelt lo, Nona Guanni”

 

 

Ify merasa pipinya sedikit memanas, entah kenapa ketika Brian memanggilnya dengan nama itu semua kenangan 3 tahun lalu berputar di otaknya. Yah, nama itu adalah nama kesukaan Brian ketika memanggil dirinnya.

 

 

Setelah memakaikan seatbelt untuknya, Brian kembali menjalankan mobilnya.

 

 

 

“Oh ya, Lo mau bicara apa sama gue?” tanya Brian ingat dengan ucapan Ify di telfon tadi pagi.

 

 

“Gue udah denger cerita Sivia yang makan siang dengan lo kemarin. Dia bilang lo penasaran dengan ucapan gue di UKS”

 

 

“Iya, gue penasaran”

 

 

“Gue hanya kesal aja kemarin, jadi gue bicara seceplosnya” jawab Ify dengan nada yang terlihat kebohongan disana. Brian mengernyitkan keningnya,

 

 

“Hanya itu?”

 

 

“Yah”

 

 

“Sepertinya tidak” Brian terlalu pintar untuk di bohongi. Ify kenal jelas bagaimana Brian, ternyata sifatnya masih sama seperti 3 tahun yang lalu. Cerdas! .

 

 

“Baiklah, kalau lo nggak mau jelasin. Gue akan tunggu sampai lo jelaskan ke gue”

 

 

Ify diam saja tak menjawabnya.

 

 

“Pria yang nganterin lo tadi siapa? Pacar lo?”

 

 

“Bukan” jawab Ify cepat. Terdengar helaan nafas legah dari sampingnya.

 

 

“Lo masih belum punya pacar setelah putus dari gue?”

 

 

“Belum” Ify menjawab sekenanya dan sejujurnya saja, ia terlalu malas berbohong kepada Brian karena pria itu akan mengetahui bahwa ia sedang berbohong.

 

 

Brian tersenyum, nampak sangat senang.

 

 

“Gue juga belum punya pacar, gue masih terus fikirin lo”

 

 

“Apa kita nggak bisa kembali seperti du—“

 

 

“Kak kita bisa menikmati perjalanan dengan tenang ? Gue lelah” Ify dengan cepat memotong ucapan Brian.

 

 

“Baiklah” Brian menyerah, menuruti saja. Ify yang sekarang tidak sama dengan Ify yang dulu dikenalnya. Gadis ini terlalu sulit untuk diraih kembali. Namun, ia semakin tertantang dan semakin jatuh cinta kepadannya.

 

 

*****

 

Brian membukakan pintu mobil untuk Ify, membiarkan gadis itu keluar dari sana. Brian  tak ada henti-hentinya tersenyum. Membuat Ify sedikit risih dan menganggap pria ini setengah tak waras.

 

 

Ify melihat ke rumah sebrang, didapatinya Rio sedang menerima paket, ia bercengkramah dengan kurir pengirim. Ify mengigit bibir dalamnya, pria itu apa tidak tau dirinnya sudah sampai dirumah dengan diantarkan laki-laki? Atau hanya pura-pura tidak tau?.

 

 

“Gue besok pagi boleh jemput lo? Sekalian gue berangkat ke sekolah”  tanya Brian hati-hati.

 

 

Rio menatapnya! Kedua mata mereka saling bertemu.

 

 

“Fy, gue boleh jemput lo besok?” tanya Brian mengulangi pembicarannya.

 

 

Ify menatap Rio lekat-lekat, seolah matannya berkata apa lo ngizinin? Apa lo rela gue di jemput oleh pria lain?

 

 

“Terima kasih pak, besok lagi bisa antarkan langsung ke kantor saja” Rio mengalihkan tatapannya, ia menjabat tangan kurir pengirim, kemudian segera masuk kedalam rumahnya, Tak mempedulikan Ify untuk kesekian kalinya.

 

 

Ify menundukkan kepala. Sekali lagi tubuhnya mulai bergetar. Dadanya terasa penuh dan sakit.

 

 

“Fy!”

 

 

“Terserah lo, terserah!” kesal Ify yang langsung masuk kedalam rumah. Meninggalkan Brian diluar yang kegirangan sendiri.

 

 

 

“GUE AKAN JEMPUT LO PAGI-PAGI NONA GUANNI” teriak Brian seperti orang gila. Tak peduli Ify akan mendengarnya atau tidak.

 

 

*****

Ify membanting pintu kamarnya dengan keras, ia langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Menutupi wajahnya dengan bantal. Dia menangis!.

 

 

Melihat Rio yang benar-benar sudah tak peduli dengannya, membuatnya seperti gadis tercampakkan dan rasanya sangat sakit. Ia tiba-tiba merindukan pria itu, merindukan bagaimana Rio menuruti perintahnya, Rio bersifat manis kepadannya dan merindukan semuanya!!.

 

 

“Apa gue sudah jatuh cinta sama dia?” Ify membuka bantalnya, ia menghapus air matannya yang turun tak terduga.

 

 

“Kenapa gue jadi cenggeng gini?”

 

 

“Kenapa gue nangis gara-gara om gila kayak gia!!”

 

 

“Gue nggak mungkin jatuh cinta sama dia!!”

 

 

“Nggak mungkin!!”

 

 

Ify menutup kembali wajahnya dengan bantal.

 

 

“Tapi gue nangis gara-gara dia!”

 

 

“Aisshh!!!!!”

 

 

“GUE BENCI LO!!!”

 

 

******

 

Ify terbangun, rasa sakit kepalannya muncul lagi. Apa karena ia belum makan dari kemarin?. Entahlah, ia sama sekali tak mengurusi tubuhnya akhir-akhir ini. Ia berusaha untuk bangun dengan sisa tenaga. Ify melihat dirinnya masih dengan seragam lengkap dan sepatu di kedua kakinya.

 

 

“Aisshhh—“ desis Ify kesal melihat dirinya sendiri yang kacau.

 

 

Ify pun segera berdiri, ia memilih untuk mandi saja. Siapa tau tubuhnya lebih segar setelah ini.

 

 

*****

 

 

Ify mengeringkan rambutnya di depan televisi. Ia melihat sang adik sedari tadi riwa-riwi kesana kemari tak ada jeda. Ify lama-lama kesal juga.

 

 

“Lo kenapa sih Bal?” tanya ify mematikan headryer di tangannya.

 

 

“Gue ada diklat, gue lupa naruh ID card gue” ujar Iqbal, kini mulai mencari di sekitar sang kakak.

 

 

“Ini dia!!” akhirnya ID cardnya ia temukan di belakang tubuh Ify.

 

 

Ify melengos.

 

 

“Gue nggak pulang nanti malam, menginap di sekolah. Lo nggak apa-apa sendiri dirumah?”

 

 

“Lo kira gue anak bayi”

 

 

“Kalau tiba-tiba lampunya mati, gimana?” tanya Iqbal mendadak cemas jika hal itu terjadi. Ia sangat tau jelas kakaknya tak suka gelap gulita.

 

 

“Kan ada Bi Ina, gue nggak terlalu takut juga dengan gelap. Buktinya gue berani tidur sendiri dengan mati lampu”

 

 

“Karena ada pengawal-pengawal lo yang jagain!” sahut Iqbal gemas kepada sang kakak. Ify nyengir kuda,

 

 

“Lo tidur aja deh di Kak illy sana, gue takut Bi Ina nggak denger lo manggil, tau sendiri kan kalau Bi Ina udah tidur selalu pakai earphone”

 

 

“Ogah!! Gue nggak apa-apa dirumah sendiri. Gue bukan anak kecil!!” bentak Ify kesal juga dengan sang adik yang terlalu khawatir dengannya.  Berlebihan!

 

 

“Iya iya, nyesel gue cemasin lo”

 

 

‘Udah sana berangkat!!”

 

 

“Iyaa!! Bye”

 

 

Ify melihat adiknya berangkat dengan seragam pramuka lengkap. Ia geleng-geleng sendiri. Memangnya malam ini bakalan mati lampu? Sepertinya tidak. Minggu kemarin sudah ada pemadaman serentak masa malam ini lagi. Tidak Mungkin.

 

 

*****

 

 

Rio merebahkan tubuhnya di kursi. Ia baru saja menghadiri conferensi pers mengenai Hari Jadi perusahannya yang diadakan lebih meriah dari tahun lalu, dan orang-orang diseluruh dunia nampaknya tertarik dan antusias dengan berita tentang perusahannya.

 

Rio melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 7 malam.  Ia merasakan ponselnya berdering di saku celanannya. Rio segera mengangkat sambungan panggilan dari sang adik, illy.

 

 

“Kenapa?” tanya Rio, sedikit heran karena tak biasanya sang adik menelfon.

 

 

“Kak gue tidur dirumah Sivia”

 

 

“Biasanya juga lo nggak bilang ke gue” sahut Rio dingin.

 

 

“Gue tau, Bukan itu tujuan  gue”

 

 

“Terus?”

 

 

“Lo ada dirumah sekarang?”

 

 

“Nggak”

 

 

“Syukurlah, gue tadi siang sebelum ke rumah Sivia dapat surat edaran dari pimpinan kompleks, kalau nanti malam jam 12  ada pemadaman serempak.”

 

 

“Lo lebih baik jangan pulang”

 

 

Rio terdiam sebentar.

 

 

“Pemadaman lagi?”

 

 

“Iya, gue juga nggak tau alasannya kenapa”

 

 

“Oke thanks”

 

 

“Bye”

 

 

Rio meletakkan ponselnya, merebahkan lagi tubuhnya di kursi. Tiba-tiba muncul sosok Ify di fikirannya. Gadis itu tak suka gelap.

 

 

Rio meraih ponselnya kembali, ia mencari nomor kontak Ify disana.

 

 

“Aisshh!! Ada Iqbal juga dirumah”

 

 

“Kenapa gue harus cemas!”

 

 

Rio mengurungkannya, ia meletakkan kembali ponselnya tersebut. Mencoba tak peduli.

 

 

*****

 

Ify menyalakan laptopnya, ia tak bisa tidur. Gara-gara tadi siang dirinnya terlelap sampai sore hari. Menyebalkan!!.

 

Ia membuka beberapa web-artikel yang menjadi headline news hari ini.

 

 

Dies Natalis Haling Corp, menghabiskan dana 11 Trilliun

 

 

CEO Haling Corp, akan memperkenalkan calon istrinya di Hari Jadi Haling Corp

 

 

          Ify mengklik berita di urutan kedua, penasaran.

 

 

          Haling Corp. Salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara, akan melangsungkan hari jadinya 4 hari lagi. Dikabarkan, mereka menyelenggarakannya selama dua hari ditempat yang berbeda. Hari pertama di gelar di stadium gymnastic Haling Corp dengan mengundang 10.000 anak yatim, duafa dan fakir miskin. Untuk hari terakhir mereka menyelenggarakan di Pulau Aling, sebuah pulau mempesona dan mewah milik keluarga Haling.  Dana yang dikeluarkan perusahaan untuk acara ini sebesar 11 Trilliun.

Baca : Dies Natalis Haling Corp, menghabiskan dana 11 Trilliun

           List tamu undangan pun telah bocor di publik, mereka mengundang banyak orang ternama mulai dari pengusaha-pengusaha kelas atas, politikus dan beberapa artis yang pernah menjadi model produk Haling Corp.

          Tak hanya itu saja, kabar yang menghebohkan publik lainnya, CEO Haling Corp. Mario Adipati Haling, mengatakan di conferensi pers jam 5 tadi, bahwa ia akan memperkenalkan calon istrinya dan melamarnya disana.

          Kira-kira siapa  gadis beruntung itu? Kita tunggu saja 4 hari lagi.

          Untuk para fans pengusaha muda tampan ini, siap-siap untuk patah hati. Karena ternyata Mario Adipati Haling telah memiliki dambaan hatinya. (Daily Business)

 

 

 

Ify mendecak kesal, dan segera menutup laptopnya. Tak sadar bahwa dirinya kini uringan-uringan sendiri.

 

 

“Calon istri??”

 

 

“Siapa? “

 

 

“Nggak mungkin banget gue! Dia ketemu gue aja ogah!”

 

 

“Gue juga nggak mau jadi calon istri dia!!”

 

“Tapi, Dia juga nggak ngajak gue ke acara perusahannya!!”

 

 

 

“Apa Si Allena-Allena itu? Cinta pertamannya? ”

 

 

“Dasar pria brengsek!!”

 

 

“Isshhh!!!”

 

 

Ify menggebrak-gebrak laptop didepannya secara brutal, Laptop yang tak berdosa. Ify kalut dan jengkel sendiri. Ia kemudian terdiam sebentar.

 

 

‘Apa gue barusan marah-marah?”

 

 

“Apa gue ce—, ce—, cemburu??” Ify merasakan bulu diseluruh tangannya berdiri, merinding!

 

 

“Argghss!! Nggak mungkin!!”

 

 

“gue nggak mungkin jatuh cinta sama dia!!”

 

 

“Nggak mungkin gue suka sama Rio!!”

 

 

“Nggak mungkin!!!”

 

 

 

          DEGGGGHHHH

 

 

          Lampu tiba-tiba padam, Ify mematung. Ia membeku di tempat. Tak dapat berkata apa-apa selain perasaan takut yang mulai menyerangnya. Nafas Ify mulai tak beraturanm ia tak dapat melihat apapun. Benar-benar gelap gulita.

 

 

Bersambung . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s