ENLOVQER DEVIL – 21

ENLOVQER DEVIL – 21

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

DEGGGGHHHH

 

 

          Lampu tiba-tiba padam, Ify mematung. Ia membeku di tempat. Tak dapat berkata apa-apa selain perasaan takut mulai menyerangnya. Ia sangat membenci situasi seperti ini. Ify menghembuskan nafas beberapa kali, menyuruh tubuhnya tenang.

 

 

Sekitarnya nampak gelap gulita, hanya warna hitam tak ada warna lain. Semuanya tak bisa ia lihat. Ify merasakan seperti buta sesaat tanpa pengelihatan.

 

 

Ify meraba-raba kedepan, mencari laptopnya. Ia ingin menyalakannya. Seengaknya akan ada sedikit cahaya untuknya. Tangan Ify memegang laptop, dan segera membukanya. Ia menyalakannya.

 

 

“Kok nggak nyala?” umpatnya semakin cemas, pasti gara-gara dirinnya yang sempat memukul laptopnya dengan brutal beberapa menit yang lalu. Ify mendecak kesal.

 

 

Ia berdiri dari meja belajarnya, pengelihatannya terlalu sulit karena tak dapat melihat. Kedua tangannya ia arahkan kedepan, meraba-raba apapun di depannya. Ia berusaha menuju kasurnya dan mencari ponselnya.

 

 

DUUUKKKK

 

 

“Aww—“ ringisnya tak tertahan, kaki kanannya tak sengaja mengenai ujung kasur. Panas dan perih merambat sampai pinggang. Ify membungkuk, memijat kaki kananya.

 

 

Ia mencoba berdiri kembali,

 

 

“Dimana sih ponsel gue!!” lirihnya hampir ingin menangis.

 

 

Ia naik keatas kasur, memainkan kedua tangannya menyusuri dari ujung kanan-kiri-bawah-atas. Semuanya ia coba raba. Tapi hasilnya, nihil!. Ify tak menemukan keberadaan ponselnya. Ia menghela nafas, lelah.

 

 

“Lo dimana sih ponsel!!”

 

 

Ify tak mau menyerah, ia mencoba mencarinya sekali lagi.

 

 

BRUKKK

 

 

“ Awww—“ gadis ini terjatuh dari atas kasur akibat tak berhati-hati.

 

 

Ify memilih diam saja di atas lantai. Pinggulnya sedikit sakit. Ia benar-benar tak bisa melihat apapun. Imajinasi liar mulai muncul di otaknya, membuatnya semakin takut. Ify memegangi bajunya sendiri, mengigit bibirnya keras.

 

 

“Bi Inaa!!”

 

 

“BI Inaa!!!”

 

 

“Bi Inaaa”

 

 

“BI INAAAA”

 

 

Ternyata benar seperti yang diperingatkan adiknya tadi sore. Bi Ina tak mendengarnya, wanita itu pasti sudah tertidur lelap dengan earphone ditelinganya. Ify terdiam cukup lama, berharap listrik cepat hidup kembali.

 

Ify mencoba mengingat-ingat, dimana ponselnya berada.

 

 

“Ah—, dibawah sana! Di depan tv” ucapnya baru sadar, ia tadi sempat memainkan ponselnya di bawah. Sepertinya ia lupa mengambilnya lagi.

 

 

Ify nampak berfikir, apa ia kebawah saja? Tapi pasti disana sangat gelap. Tapi, ia juga takut disini. Ia terjebak tak ada pilihan yang lebih baik. Semuanya menakutkan.

 

Ify menggeser duduknya, merapat ke belakang. Ia menekuk kedua lutut, memeluknya. Keringat dingin mulai bercucur  dipelipisnya. Hatinya berteriak ingin keluar dari sini.

 

*****

 

Entahlah, Rio tak tenang sedari tadi. Ia tak fokus dengan layar di depannya, sudah hampir 1 jam lebih ia belum juga  menyelsaikan interpretasi untuk data statistik yang sedang ia kerjakan. Ia melirik ke jam tangannya.

 

“Pukul 12.15” lirihnya, mencoba fokus kembali.

 

          Gagal, fikirannya tak konsen dan mengambang ke manapun. Rio melirik kembali ke jam tangannya, setelah itu melihat ke ponselnya. Tak ada tanda-tanda orang menelfon atau mengirim pesan.

 

 

“Apa gadis itu tidak apa-apa?”

 

 

Rio menghela nafas, sedikit kesal dengan dirinnya sendiri. Ia memegangi pelipisnya.

 

 

“Aisshhh!!!” desisnya mengerang. Rio meraih ponselnya mencoba menghubungi seseorang.

 

 

“Hallo kak?”

 

Rio sedikit tak jelas mendengar suara orang disebrang sana, terdengar sangat ramai dan suara musik yang berdentum keras.

 

 

“Lo dimana sekarang bal?” tanya Rio membalas Iqbal.

 

 

“Apa kak?? nggak denger!! Sorry gue lagi diklat ini disekolah, suara musiknya keras banget!!!”

 

 

Rio dapat mendengar penjelasan Iqbal dengan nada setengah berteriak, mendadak Rio terdiam sendiri.

 

 

“Kakak lo dimana? Dengan siapa?”

 

 

“Hah? Siapa? Kakak? Kak Ify?”

 

 

“Dia dirumah! Sendiri!!”

 

 

Hati Rio berdesir cepat,

 

 

“Oke Thanks”

 

 

Rio langsung berdiri dari kursinya, meraih kunci mobilnya beranjak dari kantor saat itu juga. Ia berjalan keluar dengan langkah tergesah. Ekspresinya kentara, terlihat sangat cemas dan tatapannya tajam. Kedua tangannya tak henti bergerak. Hanya ada satu nama yang sedang ia fikirkan saat ini. Ify!!

 

 

Rio sampai di parkiran, ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan segera melesat.

 

****

 

Rio mengotak-atik ponselnya, mencoba menghubungi Ify. Ia harus tau bagaimana keadaan gadis itu, ia mengambil alat handsfree di bawah dashbor dan segera memakainya.

 

Ia menunggu, namun tak ada jawaban dari panggilan telfonnya.

 

 

“Apa dia sudah tidur?” lirihnya menambah kecepatan mobil. Untung saja jalanan sangat lenggang hanya terdapat beberapa mobil.

 

 

Rio mencoba lagi untuk mengubungi Ify. Nada sambung mulai terdengar kembali,

 

 

“Nomer yang anda tuju sedang sibuk, silah—“

 

 

“Siaal!!”

 

Rio tak ingin menyerah sampai ia tahu bagaimana keadaan gadis itu, ia perlu mendengarkan suarannya. Hanya itu yang dapat membuatnya tenang saat ini. Ia terus menelfon  nomer Ify.

 

****

 

Ify mendongakkan kepalannya, ia mendengar suara ponselnya berbunyi. Ia dapat medengarnya dengan jelas. Ify semakin takut. Tapi, ia butuh sekali ponselnya. Siapa yang menelfonnya? Kakaknya? Adiknya? Sivia?. Ia ingin pergi dari sini!!.

 

 

“Mama, Papa, tolong Ify”

 

 

Ify mencoba berdiri, memberanikan diri, meyakinkan dirinnya sendiri bahwa tidak akan ada apa-apa. Ia perlahan melangkah, mengulurkan kedua tangannya, meraba-raba disekitar mencari pintu kamar. Ia memutuskan untuk turun kebawah,  menemukan ponselnya.

 

 

CKLEEKK

 

Ify menemukan knop pintu dan segera membukannya. Petang! Tak ada bedanya dengan kamarnya. Ify memakai instingnya, ia terus berajalan lurus berhati-hati dengan tangga yang akan ia turuni.

 

 

Ify dapat melihat ada cahaya dibawah sana, itu adalah ponselnya. Ia berharap ponsel itu tetap berdering dan menyala. Pencahayaan ponselnya sedikit membantu pengelihatannya. Ify mempercepat langkahnya, menuruni tangga.

 

 

“Aaaaarggs!!” kaki Ify tak tepat pada anak bawah selanjutnya, membuat dirinnya terpleset dan akhirnya terjatuh sampai ke bawah.

 

 

Ify merasakan perih di seluruh tubuhnya, apalagi kaki kanannya yang paling terasa sakit. Sepertinya terkilir. Ia menahannya saja, sebelum panggilan di ponselnya mati kembali. Ify mencoba berdiri sambil meringis kesakitan tak tertahan, berusaha untuk berjalan kembali.

 

 

BRUKKK

 

 

          Ify merubuhkan tubuhnya, menjatuhkannya diatas lantai ketika sampai di depan ponselnya berada. Ia meraih ponselnya, tanpa melihat siapa yang menelfon ia segera menerima panggilan tersebut.

 

 

“Tolong gue! “

 

 

****

 

Rio menghela nafas berat, ia melirik ke ponselnya tak ada tanda-tanda jawaban dari Ify. ini sudah hampir ke 25 kalinya ia menelfon gadis itu. Mungkin gadis itu sudah tidur. Rio mendesah berat, sepertinya dirinnya yang terlalu berlebihan. Rio mematikan sambungannya. Perlahan, kecepatan pada mobilnya sedikit berkurang.

 

*****

 

Brian berhenti di cafe depan kompleks perumahan Ify,  sebenarnya rumahnya tak seberapa jauh dari cafe ini berada. Mungkin sekitar 5 Km. Brian membayar pesanannya dengan kartunya, menyodorkan ke kasir.

 

 

“Menyebalkan!! Kenapa coba ada pemadaman lagi diperumahan!”

 

 

“Katanya perumahan elite, tapi tiap minggu ada pemadaman!”

 

Terdengar suara kekesalan dua gadis remaja di belakang Brian, mereka menunggu untuk mengantri. Brian mengernyitkan kening. Mungkinkah yang dimaksud perumahan dua gadis ini? Perumahan didepan sana? Perumahan tempat Ify tinggal?

 

 

“Maaf—, apa kalian tinggal di perumahan sana?” tanya Brian sesopan mungkin. Dua gadis itu langsung membelakak terkejut, mereka berdua langsung tersenyum dan memasang wajah paling manis yang mereka punya. Pesona Brian sangatlah kuat!

 

 

“Iya benar, disana baru saja ada pemadaman listrik. Mangkannya kita kesini. “ jawab salah satu dari mereka sama sekali tak menghilangkan senyumnya.

 

 

“Makasih”

 

 

Brian segera meraih pesanan minumannya yang baru saja selesai, dengan cepat ia berjalan ke parkiran menuju mobil. Tangannya mengotak-atik ponsel, menghubungi seseorang. Ify.

 

 

“Tolong gue!”

 

 

Langkah Brian terhenti didepan mobil, suara disebrang sana terdengar ketakutan.

 

 

“Lo dimana? Lo nggak apa-apa?”

 

 

“Tolong gue, Gue takut!! Gue takut!!”

 

 

“ Tunggu disana! Gue jemput lo!! “

 

 

“Gue takut banget!! Gelapp!!”

 

 

“Jangan nangis!! Gue nggak akan tutup telfonnya” Brian segera masuk kedalam mobil.

 

 

Brian meangktfkan loudspeaker di ponselnya, ia menaruh ponselnya di sampingnya dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Gadis itu terus menangis, membuatnya semakin cemas.

 

 

“Lo ingin cerita apa? Lo bisa cerita apapun ke gue!!”

 

 

“Lo jangan nangis! Gue bentar lagi sampai”

 

 

“Kak Brian” suara gadis itu melemah, namun isakannya masih terdengar jelas.

 

 

“Iya fy? Kenapa? Gue bentar lagi sampai. Beneran!!”

 

 

“Gu—, gu—, gue mintaa maaf”

 

 

“Buat?”

 

 

“Gue udah kasar sama kakak”

 

 

“Nggak apa-apa nona Guanni, gue nggak pernah marah. Lo lagi apa sekarang?” Brian mencoba untuk menenangkan gadis itu dengan mengajaknya mengobrol. Brian masih ingat, bahwa Ify sangat takut dengan  gelap. Ia pernah tidak disapa Ify selama 1 minggu hanya karena mengerjainya di gudang rumah.

 

 

“Nangis!” Brian tertawa renyah, ternyata Nona Guanni yang ia kenal masih sama seperti dulu. Ia mendengar rengekan manja Ify.

 

 

“Gue udah sampai!”

 

 

Brian mengambil ponselnya, membuka pintu mobilnya dan turun. Ia segera berjalan ke arah gerbang pintu rumah Ify yang menjulang cukup tinggi. Brian mendesis, gerbangnya di kunci.

 

 

“Fy, gerbang rumah lo di kunci, gimana gue bisa masuk?” tanya Brian yang masih menyambungkan telfonnya.

 

 

“Lo manjat kak!”

 

 

Kepala Brian langsung mendongak keatas, lebih tepatnya ke tembok yang harus ia panjat.

 

 

“Wait!!”

 

 

Brian menaruh ponselnya didalam saku celana, ia menaiki mobilnya sendiri dengan hati-hati sebagai tangga untuk menaiki tembok tersebut. Tak butuh waktu lama akhirnya ia sampai diatas dan segera melompat.

 

 

BUUKKK

 

 

Brian berlari ke pintu rumah Ify,  ia langsung mendobrak pintu tersebut, menendangnya dengan keras.

 

 

BRAAAKKKKKKK

 

 

 

“ Kak Brian—“

 

 

Brian mengambil ponselnya, menyalakan senter sebagai penerangan. Ia terus berjalan masuk sambil menggerakan cahaya senter di ponselnya ke sekitar ruangan, dan akhirnya ia menemukan gadis itu sedang duduk lemas didepan televisi.

 

 

“Guanni!!” pekiknya berlari cepat mendekati Ify.

 

 

Brian mendapati Ify dengan keadaan kacau, kedua matannya sembab akibat menangis, rambutnya tak beraturan bahkan beberapa kancing piamannya terbuka.

 

 

“Gue takut!!!!” Ify langsung berlari  dalam pelukan Brian yang ada didepannya, ia memeluknya sangat erat. Brian sempat terkejut, namun perlahan ia membalas pelukan Ify. Ia membelai lembut rambut Ify. Menenangkan.

 

 

“Gue udah ada disini. Lo tenang” bisiknya lembut.

 

 

“Bawa gue keluar! Gue nggak suka gelap!”

 

 

“Gue takut!!” rengek Ify menjadi. Brian menganggukan kepalannya beberpa kali.

 

 

“Ayo kita keluar. Dimana kunci gerbang rumah lo?”

 

 

“Di dekat dapur”

 
“Gue ambil dulu kuncinya” Brian mencoba melepaskan pelukan Ify,

 

 

Ify mencegahnya,

 

“Jangan tinggalin gue!!” mohon Ify masih terisak. Brian menatap Ify, tepat di kedua mata gadis itu. Dirasakannya kedua tangan Ify bergetar memegangi tubuhnya.

 

 

“Bentar saja Guanni, gue akan kembali”

 

 

“Nggak mau!!” Ify menggelengkan kepala, menolak keras. Brian menghela nafas.  Gadis ini benar-benar ketakutan.

 

 

Brian membantu Ify berdiri dengan susah payah.

 

 

“Awhh” ringis Ify, Brian menatap Ify yang terlihat kesakitan.

 

 

“Lo kenapa?” cemasnya, merasa ada yang tak beras.

 

 

“Gue jatuh dari tangga, kaki gue sakit banget” jawab Ify jujur. Brian semakin tak tega, Ia pun dengan cepat membopong tubuh Ify di kedua tangannya. Ify diam saja, membiarkan Brian melakukannya.

 

 

Ify membantu Brian dengan memberikan penerangan, mereka berdua mengarah ke dapur. Ify menunjukkan dimana kuncinya berada.

 

*****

 

Brian menurunkan Ify dari bopongannya, ia membuka gembok gerbang tersebut dengan kunci yang sebelumnya ia ambil. Akhirnya, gerbang itu dapat terbuka. Brian bersiap akan membopong Ify kembali, namun gadis itu menolaknya.

 

 

“Gue jalan aja” pinta Ify yang sudah cukup tenang meskipun beberapa kali masih terdengar senggukan sisa tangisnya.

 

 

“Baiklah, Hati-hati”

 

 

Brian membantu Ify berjalan, menaruh tangan kanan gadis itu pada lehernya, memberikan penahan.

 

Brian dan Ify berhenti, ketika melihat sorotan lampu mobil yang begitu terang mendekati mereka.  Mobil tersebut berhenti di hadapan mereka.

 

Itu mobil Rio. Batin Ify.

 

 

Yah, tak selang berapa lama ia melihat pria itu keluar dari mobilnya. Rio menatapnya.

 

 

DEGHHHH!!

 

          Mungkin inilah yang disebut dengan rencana tuhan!. Listrik diperumahan seketika itu menayala serempak. Penerangan jalan, menyorot terang. Kini dapat terlihat jelas bagaimana kondisi di depan rumah Ify dan rumah Rio.

 

 

*****

Rio mematung, menatap apa yang ada di depannya saat ini, tanpa sadar kedua tangannya terkepal, matannya menatap lekat ke Ify. Ia dapat melihat gadis itu sangat berantakkan, dan kedua mata yang menyipit. Gadis itu menangis!.

 

 

Rio akan mendekat, namun ia urungkan. Ify  menatpnya dengan sinis, tak suka. Seolah memberikan tatapan kebencian. Menolaknya untuk mendekat!

 

 

“Fy, ayo!!” ajak Brian, Ify mengangguk mengalihkan tatapannya dari Rio. Tak peduli dengan pria itu.

 

 

Mata Rio ter-alihkan ke arah pria yang saat ini sedang membantu Ify berjalan. Rio memperhatikanya dari atas sampai bawah. Rio mengingatnya, itu adalah  pria yang mengantarkan Ify pulang sekolah tadi siang. Bagaimana bisa dia berada disini? \

 

 

Apakah dia mantan Ify yang diceritakan oleh illy tadi pagi?

 

 

Mobil berwarna biru itu akhirnya beranjak dari hadapan Rio. Meninggalkan Rio yang masih termenung disana. Rio menghela nafas berat.

 

 

“AAAARGHHSS!!!! “ teriak Rio frustasi. Ia menendang ban mobilnya sendiri saking emosinya.

 

 

****

 

Selama perjalanan, Ify hanya menatap jendela, Brian membawanya ke rumah sakit terdekat. ia mengigit bibirnya agar tidak menangis lagi. Ia bukannya masih takut, hanya saja kedatangan Rio tadi membuatnya begitu sangat kesal!

 

 

Ia merasa benar-benar telah dicampakkan, apakah pria itu sama sekali tak peduli lagi dengannya? Apakah dia tau bahwa dirinnya ketakutan tadi dirumah sendirian? Kenapa ia tak berfikir untuk menolongnya sama sekali?. Apakah dirinnya sudah terlupakan? Itulah yang ada di benak Ify saat ini.

 

Gadis itu, masih tak mengecek ponselnya dan hanya bergelut dengan spekulasi indahnya.

 

 

          Aku membencinya! Sangat!

 

 

******

         

          Rio memilih untuk tetap disana, diam dengan tatapan kosong. Ia memilih menunggu sampai Ify kembali. Rio sangat menyesal kenapa tadi tak mengikuti mobil pria itu. Ia mulai cemas lagi. Rio duduk didepan mobilnya. Sabar!.

 

 

Benaknya terus berteriak. Kenapa bukan dirinnya yang menolong Ify!!!

 

****

Kaki kanan Ify selesai di periksa dan sekarang telah di balut dengan perban. Saat ini dirinnya sedang menunggu Brian menebus resep obat di apotek. Ify menunggu didalam mobil. Ia mendadak bosan dan mengeluarkan ponselnya yang sempat ia bawah dan dimasukkan Brian kedalam kantong bajunya.

 

Ify menyalakan ponselnya.

 

 

“ 30 panggilan?”

 

 

“ satu jam yang lalu?”

 

 

Ify mendadak tak percaya, Ia sekali lagi menajamkan matanya ke layar ponselnya. Melihat nama panggilan yang tertera disana dan jam berapa orang itu memanggilnya.

 

 

(call)  Pria Idaman.

 1 jam yang lalu”

 

 

 

Ify mengigit bibirnya, kedua tangannya sedikit gemetar. Pria itu ternyata mengkhawatirkannya, Sangat!!. Bahkan sebelum Brian menelfonnya dan datang menjemputnya. Rio hanya sedang tidak beruntung.

 

 

Tanpa fikir panjang Ify  segera menelfon balik  nomor tersebut.

 

 

“Lo dimana?”

 

 

Suara disebrang sana terdengar sangat cemas, Ify menahan nafas sebentar.

 

 

“Rumah sakit kompleks—”

 

 

“ Lo mau jemput gue disini?” lanjut Ify suarannya sedikit serak.

 

 

“Apa gue boleh melakukannya?”

 

 

Suara disebrang terdengar berat. Ify tak dapat menjabarkan bagaimana perasaannya saat ini. Dalam hati ia ingin berteriak, menjerit bahkan menangis. Hanya 1 kalimat seperti itu saja mampu membuat nafas Ify serasa sesak. Setiap sel di dalam tubuhnya bereaksi cepat.

 

 

“Ya! Ini perintah” jawab Ify dengan susah payah.

 

 

“Baiklah, gue akan kesana—,”

 

 

Menuruti tuan puteri”

 

 

*****

 

Brian terkejut melihat Ify yang telah berdiri disamping mobil, menyenderkan tubuhnya pada pintu mobil. Apa yang dilakukan gadis itu? Fikirnya. Brian mempercepat langkah kakinya.

 

 

“Lo kenapa turun?” tanya Brian nampak khawatir. Ia memberikan bungkusan obat kepada Ify.

 

 

“Gue dijemput sama teman kakak gue”

 

Bersamaan dengan itu, sebuah mobil sport merah datang, mengarah ke mereka berdua. Brian dan Ify menyipitkan matannya akibat pencahayaan lampu mobil menyerang kedua mata mereka. Silau!

 

 

TIIITTTT

 

 

          Rio memencet klakson mobilnya, tak berniat untuk keluar. Ia membiarkan saja Ify bersama dengan pria tersebut. Tak ingin mengganggu.

 

 

“Kenapa nggak gue aja yang anterin lo pulang?” tanya Brian nampak kecewa, ia kekuh menahan Ify.

 

 

“Sorry kak” lirih Ify pelan sedikit tak enak. Brian menghela nafas berat kemudian menganggukan kepalannya. Ia tak ingin memaksakan Ify, ia tak boleh membuat Ify membencinya lagi dan membuat gadis itu semakin tak nyaman dengannya.

 

 

“Baiklah!” ucapnya sambil memberikan senyum ke Ify, terpaksa. “ Ayo gue  bantu masuk kesana” lanjutnya mendekati Ify yang menurutinya, Brian membantu Ify berjalan ke mobil Rio. Memapah tubuhnya dan mengalungkan tangan kanan Ify ke lehernya.

 

 

Brian melebarkan pintu mobil tersebut yang telah terbuka, ia menatap Ify sebentar.

 

 

“Terima kasih banyak kak sudah nolongin Ify, maaf merepotkan” ujar Ify, suarannya terdengar masih tak bertenaga. Ify menurunkan tangannya dari leher Brian, sedikit menjauh. Ia mengangkat sudut bibirnya, memberikan senyum tulus.

 

 

Brian mengangguk ringan mencoba tersenyum, kedua matannya terlihat tak rela melepaskan Ify.

.

 

“Jangan lupa minum obat dan olesi lukanya setiap pagi dan mau tidur. “

 

 

“Besok jangan ke sekolah dulu” ucap Brian mengingatkan, ia begitu peduli dengan Ify.

 

 

“Iya kak”

 

 

“Hati-hati di jalan”

 

 

Brian mendekat satu langkah, kemudian mendaratkan bibirnya ke pipi kanan Ify, memberikan ciuman singkat. Ify mematung, terkejut.

 

 

“Selamat malam, Nona Guanni” Brian mengacak-acak puncak rambut Ify, setelah itu perlahan berjalan menjauh.

 

 

Ify menghela nafas panjang, ia menunggu sampai Brian hilang dari hadapannya.

 

 

Ify masuk kedalam mobil Rio pelan-pelan, kaki kanannya masih sangat sakit. Ia sempat melirik Rio yang memperhatikannya. Terbesit pertanyaan di otaknya, Apa Rio melihat Brian mencium pipinya? Bagaimana jika dia melihatnya? Mampus! Apa Rio akan marah kepadannya? Ah—, mungkinkah dia cemburu?. Aisshh!! Lo mikir apa sih, Fy!!

 

 

Ify menggelengkan kepalannya, membuang jauh-jauh fikiran gilannya itu. Entah kenapa, membayangkan pria disampingnya tersebut cemburu membuat jantungnya berdegup tak tentu. Ada sesuatu yang aneh di dalam sana.  Sangat aneh!

 

 

“Nih” Rio memberikannya selembar tissue. Ify menerimanya dengan bingung. Ia menoleh ke Rio, meminta penjelasan.

 

 

“Untuk?

 

 

“Pipi lo!!” jawabnya dingin.

 

 

Ify terdiam, tidak tau harus bereaksi bagaimana. Namun, ia dapat merasakan kedua pipinya memanas. Ia menunduk tak berani menatap Rio.

 

 

Ify mengigit lidahnya sendiri, menahan tawa. Ia juga berusaha mengontrol bibirnya yang ingin tersenyum. Apakah barusan Rio cemburu? Rio cemburu Brian menciumnya? Rio cemburu kepada Brian? Really?.

 

 

Rio cemburu??

 

 

“Thanks Brian!!” teriak Ify dalam hati.

 

 

Ify menuruti ucapan Rio, mengusap pipi kananya dengan tissue tersebut. Memberishkan bekas ciuman yang diberikan Brian. Ify terus menggosok-gosok pipi kanannya seperti anak kecil.

 

 

Rio tak beraksi apapun, ekspresinya begitu tenang, kedua matannya tak lepas memperhatikan gadis disampingnya.

 

 

“Apa begitu sangat senang?” tanya Rio sinis, Ify menatap Rio tak mengerti.

 

 

“Apanya?” tanyanya memasang wajah paling polos yang ia punya.

 

 

“Sudahlah!!” serah Rio tak menjelaskan maksud pertanyaanya, tangannya menarik seatbelt Ify dan memakaikannya. Setelah itu menjalankan mobilnya, beranjak dari sana.

 

*****

 

Setiba dirumah. Rio langsung membopong tubuh Ify, mengeluarkannya dari dalam mobil. Ia memilih membawa Ify ke rumahnya. Menurutnya, lebih aman. Ify sendiri tak menolak, mengiyakan saja kemauan Rio.

 

 

Ify mengalungkan kedua tangannya dileher Rio, menyenderkan kepalannya di dada bidang Rio. Rasanya sangat nyaman, Ify dapat mencium parfume Rio. Ia merindukan bau ini. Bau maskulin khas Mario.

 

 

Rio membaringkan Ify di atas kasurnya dengan hati-hati, takut kaki kanan gadis itu tersenggol. Rio memeriksa kaki kanan Ify yang diperban, menekannya pelan.

 

 

“Aww—, sakitt!!” ringis Ify merasakan cenat-cenut di sana.

 

 

“Beneran luka” Ify melirik Rio tajam. Apa maksud dari pernyataanya barusan? Dikirannya ia hanya pura-pura? Dasar pria dingin!

 

 

“Besok kita ke rumah sakit lagi, biar dilakukan pemeriksaan lanjut.” ucap Rio, dan dijawab Ify dengan anggukan singkat.

 

 

Rio menarik selimut sampai pada dada Ify, menaikkan suhu AC kamarnya agar gadis ini merasa lebih hangat. Rio meletakkan telapak tagannya di dahi Ify.

 

 

Panas!.

 

 

Ia menatap Ify yang ternyata juga sedang memperhatikannya.

 

 

“Apa ada yang lo inginkan?” tanya Rio, suarannya sedikit melembut tak sedingin tadi.

 

 

“Mm—, nggak ada” jawab Ify cepat, ia sedikit salah tingkah.

 

 

Rio mengangguk ringan, kemudian berjalan beranjak meninggalkan Ify tanpa sepatah katapun lagi. Dia benar-benar pria berhati dingin!

 

 

“Lo mau kemana?” tanya Ify menghentikkan Rio.

 

 

“Ke kamar sebelah” jawab Rio

 

 

“Ngapain?” Rio mengerjapkan matannya beberapa kali. Apakah pertanyaan Ify itu salah satu pertanyaan yang wajib untuk ia jawab?

 

 

“Kalau mati lampu lagi gimana? Gue nggak berani” lanjut Ify, karena Rio tak juga menjawab pertanyaannya.

 

 

Rio mendesah pelan, menatap Ify sebentar.

 

 

“Gue akan nyalakan Genset  di belakang rumah” Ify mendengus pelan, pria ini benar-benar tidak peka? Atau hanya ingin mengujinya. Ia melihat Rio yang telah melanjutkan langkahnya kembali menuju pintu kamar.

 

 

“Kalau Genset-nya tiba-tiba rusak? Terus listriknya beneran mati? Gimana?”

 

 

“Kalau matinya lama? Terus lo ketiduran nggak denger teriakan gue gimana??”

 

 

“Kalau gue nangis sendirian gimana?”

 

 

“Kalau gue ta—“

 

 

“Mau lo gimana?” tanya Rio,  mencoba bersabar. Mulut Ify bah kereta express yang tak bisa direm. Rio baru tau bahwa Ify punya weird-side yang seperti ini.

 

 

“lotidurdisini!” jawab Ify dengan nada super cepat tak ada jeda. Rio mengernyitkan kening, membentuk kerutan di tengah dahi-nya.

 

 

“Heh?” bingung Rio, tak menangkap ucapan Ify. Ia mengira bahasa  alien masuk ke indra pendengarannya.

 

 

Ify mendengus semakin kesal. Ia benar-benar sedang di uji malam ini!. Kesabarannya tepat di puncak ubun. Ia memberikan tatapan tajam ke Rio.

 

 

“LO TIDUR DISINI!!” teriak Ify kehabisan kesabaran, gemas juga dengan pria itu.

 

 

Rio menatap Ify, meresapi ucapannya. Apa ia tak salah dengar?

 

 

“Lo mau gue tidur disini?” Rio mengulangi permintaan Ify.

 

 

“Ya” jawab Ify cepat, singkat, jelas.

 

 

Rio mengangguk-anggukan kepala sesaat, menatap Ify kembali.

 

 

“Gue nggak mau tidur dilantai” ujar Rio terlihat sedikit menantang.

 

 

Pernyataannya barusan membuat Ify terdiam sedikit lama. Rio menungu rekasi jawaban Ify.

 

 

 

“Lo—Lo—“

 

 

“Lo bisa tidur disamping gue” Ify menjawabnya dengan malu-malu, ia dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tak berani melihat Rio.

 

 

“Benarkah?”

 

 

“Hm!”

 

 

“Kalau tiba-tiba gue nggak sadar apa-apain lo gimana?” Rio malah semakin gencar menggoda Ify.

 

 

“Emang lo mau apain gue?” Ify mendadak takut, ia langsung menaikkan selimutnya sampai lehernya. Ekspresi Rio sedikit mencurigakan.

 

 

“Mmm—, gue sedang memikirkannya”

 

 

“YAAA!!! DASAR OM MESUM!!! “ teriak Ify kesal. Rio ternyata tak pernah berubah!! Kenapa ia bisa menyukai pria seperti dia.

 

 

          Wait, apa barusan?

 

 

“Apa gue baru saja bilang kalau gue menyukai dia?”

 

 

“Seriously?”

 

 

“Oh God! Dunia sudah mendekati kiamat!!”

 

 

Ify medesis kesal dengan dirinnya sendiri. Ia sudah tak dapat lagi membohongi perasannya, ia baru saja mendeklarasikan perasaannya sendiri. Tak dapat ditolak, dipungkiri dan dibohongi. Dia telah menyukai seorang Mario Adipati Haling.

 

 

“Lo kenapa?” tanya Rio heran melihat Ify, gadis itu mendadak diam dan bertingkah aneh.

 

 

“Nggak apa-apa” jawab Ify tersadar.

 

 

“Sudahlah! Kalau nggak mau tidur disini juga nggak apa-apa. Gue nggak maksa! Gue bisa tidur disini! Kalau tiba-tiba lampu mati gue bisa telfon Brian!!” lanjutnya sedikit emosi.

 

 

“Brian?” Rio mengulang nama yang disebut oleh Ify.

 

 

“Pria yang nyium lo tadi?’

 

 

Ify mendadak terdiam seribu bahasa, ia seperti seorang gadis yang baru saja ketahuan selingkuh dari pacarnya. Pacar? Cihh—. Dia dan Rio sudah putus!! Tak ada hubungan apa-apa lagi. Kenapa dirinya harus takut? Toh, Rio bukan siapa-siapanya. Yah, mereka sudah selesai! Dia tak perlu takut.

 

 

“Iya, pria yang nyium pipi gue tadi!”

 

 

“Dia Mantan gue” perjelas Ify.

 

 

Rio mengangguk-anggukan kepalanya. Ify melihat ekspresi Rio yang benar-benar sangat tenang tanpa ekspresi. Ify menahan rasa kesalnya. Gregetan!!

 

 

“Telfon dia sekarang kalau lo berani” tantang Rio dengan senyum entahlah. Ify mendelikkan matannya, apa pria ini sedang mengujinya. Hahahahaha!

 

 

“Lo nantang gue?” batin Ify tak mau kalah.

 

 

          Seorang Ify ditantang?  Maka dengan senang hati ia akan melakukannya tanpa fikir panjang!

 

 

Ify mengambil ponsel disaku bajunya, mengotak atik-atik ponsel tersebut, mencari nama Brian dalam daftar kontaknya. Ify melirik ke Rio yang masih memperhatikannya di dekat ambang pintu sambil menyender di dinding. Kedua mata itu sama sekali tak lepas dari Ify.

 

 

“Gue telfon dia beneran!!” tajam Ify menunjukkan kekesalannya.

 

 

“Silahkan” sahut Rio dengan senang hati.

 

 

Ify sengaja menaktifkan load-speaker ponselnya.

 

 

“Hallo” suara disebrang sana mulai terdengar. Brian menjawab sambungannya. Ify menatap sinis ke Rio.

 

 

“Maaf kak ganggu”

 

 

“Iya Fy, kenapa? Lo udah sampai dirumah kan?? Jangan lupa minum obatnya”

 

 

“Waah! Dia perhatian banget” ujar Rio sedikit takjub namun masih menunjukkan tatapan tenangnya.

 

 

“Iya kak, sudah. Sekali lagi terima kasih banyak” balas Ify penuh dengan basa-basi.

 

 

“Nggak usah terima kasih. Gue senang bisa nyelametin lo. Gue nggak tega liat lo nangis kayak tadi, lo bener-bener ketakutan banget ya?”

 

 

Raut wajah Rio sedikit berubah, ketika mendengar pernyataan Brian barusan. Bayangan Ify menangis mendadak berputar di otaknya.

 

 

“Ah—, lupakan kak. Gue nggak mau mengingatnya lagi” Ify memincingkan matanya, melihat Rio yang tertunduk. Kenapa pria itu?

 

 

“Gue besok boleh jenguk lo dirumah?”

 

 

“Apa kak? Lo mau jenguk gue dirumah??” Ify menaikkan nada suarannya, membuat Rio mengangkat kepalannya dan memperhatikanya kembali.

 

 

Ify menatap Rio, menaikkan sedikit dagunya. Menyeringai sinis! Ia sangat kesal dengan Rio, pria itu sama sekali tak bereaksi apapun. Wajahnya sangat datar tanpa ekspresi. Aura dinginnya begitu kentara. Apa dia benar-benar tak cemburu dengan Brian? Menyebalkan!!!

 

 

“Mmm—, gimana ya kak?”

 

 

“Be—“

 

 

CKLIKKKK

 

 

“HUAAAAA!!!” teriak Ify refleks, ketika lampu di kamar tiba-tiba mati.

 

 

“Fy lo kenapa? Lo nggak apa-apa kan?”

 

 

CKLIKKKK

 

 

Lampu kamar kembali menyala, Ify melirik tajam ke arah Rio. Pria itu benar-benar brengsek. Dia sengaja mematikan saklar lampu yang ada dibelakangnya. Ify mendesis, menahan emosi.

 

 

“Fy, lo nggak apa-apa? Fy!! Ify!!”

 

“Nona Guanni!!”

 

 

“Gue nggak apa-apa kak. Tadi cuma kaget” jawab Ify dengan nafas tak beraturan.

 

 

Rio menyunggingkan senyumnya. Puas. Ia berjalan mendekati Ify yang menatapnya dengan tatapan membunuh.

 

 

“Matikan sambungannya” suruh Rio kepada Ify.

 

 

“Nggak mau” tolak Ify mentah-mentah.

 

 

“Pergi sana nggak usah ganggu!! Gue mau telfonan sama Brian sampai puas! Sampai pagi!” kesal Ify semakin menjadi. Rio kembali menyunggingkan senyumnya, gadis yang ia hadapi ini memang masih gadis remaja yang mudah sekali mengeluarkan emosinya.

 

 

“Fy lo lagi ngomong sama siapa?”

 

 

“ Gue bilang matikan” suruh Rio sekali lagi.

 

 

“Nggak mau!!” teriak Ify tetap menolak. Ia tak mau kalah dengan Rio.

 

 

“Ify?? Lo kenapa? Ify?”

 

 

 

          Rio merampas ponsel Ify dengan paksa, kemudian mematikan sambungan tersebut.

 

 

Titttt!!

 

 

Ify membelakakan matannya, tak percaya dengan yang dilakukan Rio barusan. Ify menatap Rio semakin kesal. Apa sebenarnya keinginan pria itu? Tadi dia menyuruhnya sekarang dia sendiri yang mematikannya! Menyebalkan!!

 

 

“Apa yang lo lakuin?” teriak Ify tak terima.

 

 

Rio tak menggubris Ify, ia memainkan ponsel Ify sebentar.

 

 

“Sini ponsel gue!! “ pinta Ify.

 

 

Rio pun akhirnya menyerahkan ponsel Ify. Senyumnya mengembang kembali.

 

 

“Lo hapus nomernya Brian?” kaget Ify menatap Rio skiptis. Ia tak menemukan lagi nomer Brian di kontaknya bahkan di daftar panggilanya nomer itu sudah tak ada. Rio menghapus semuannya tanpa jejak.

 

 

“Nggak”

 

 

“Kok namannya nggak ada lagi  di kontak ?” protes Ify.

 

 

“Mana gue tau”

 

 

“Yaaahhh—, kalau mati lampu gue nelfon siapa?” gerutu Ify nampak sedih dan cemas sendiri dengan nasibnya kedepan.

 

 

“Gue” jawab Rio tanpa dosa. Ify mendesis tajam.

 

 

“Lo menyebalkan!!”

 

 

Rio mengacak-acak puncak rambut Ify, membuat gadis itu semakin tambah kesal. Ia menepis tangan Rio agar menjauh darinya.

 

 

“Cepat tidur, kedua mata lo udah merah”

 

 

“Gue nggak ngantuk!!” ketus Ify.

 

 

Rio sekali lagi tersenyum. Entah kenapa ia tak bisa menahan bibirnya untuk terangkat ketika melihat Ify kesal kepadannya. Gadis itu sangat lucu dan menggemaskan. Mungkin pesonanya itu yang membuatnya jatuh hati kepada Ify? Mungkin saja.

 

 

Ify menatap Rio yang masih tersenyum ke memperhatikannya.

 

 

“Lo nggak cemburu sama Brian?” tanya Ify yang penasaran dan ingin memastikan.

 

 

Rio terdiam sejenak.

 

 

“Yang mana? Dia yang nelfon lo di pagi hari? Dia yang nganterin lo pulang? Atau dia yang nyium pipi kanan lo?”

 

 

“Semuanya!!” jawab Ify berusaha untuk biasa.  Ia mencoba bersikap dingin.

 

 

“Gue cemburu dengannya karena satu hal “

 

 

“A—, Apa?” tanya Ify sangat penasaran.

 

 

Dia yang nolongin lo tadi” 

 

 

Ify membutuhkan oksigen sekarang!! Bahkan lebih baik ditambah dengan udara segar. Ucapan Rio berhasil menusuk jantungnya dan membuat berdesir hebat. Ify tak bisa mengalihkan tatapannya dari kedua mata Rio yang saat ini menatap dirinya begitu lekat. Dia terlihat jujur dengan pernyataannya barusan.

 

 

“Ya—, yang lainnya? lo nggak cemburu?”

 

 

Rio memincingkan alis kananya, tak mengerti.

 

 

“Lo nggak cemburu Brian nyium pipi gue?” Ify memperjelas pertanyaannya.

 

 

“Gue bisa nyium bibir lo!” jawab Rio enteng tanpa dosa. Ify melongo tak percaya, dengan jawaban pria in. Dia memang tak waraas!!!

 

 

“Brian juga pernah nyium bibir gue” sahut Ify tak terima.

 

 

“Benarkah? Bukannya gue ciuman pertama lo?”

 

 

Ify mendesah berat. Dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia kalah telak!! Tak bisa melawan lagi. Rio memang brengsek!! Sangat!!

 

 

“Gue benci sama lo!!”

 

 

Ify menarik selimutnya, menutupi seluruh wajahnya. Ia sangat dan sangat kesal kepada Rio. Pria itu pintar sekali menaik-turunkan emosinnya. Bagaimana bisa dirinya jatuh cinta kepada pria seperti itu? Oh tuhan!!

 

 

Rio melangkah mendekat, tangannya perlahan menarik selimut Ify dengan paksa.

 

 

“Apaan sih!!” teriak Ify menunjukkan tak sukanya.

 

 

“Lo marah?”

 

 

“Nggak!”

 

 

“Lo marah karena gue nggak cemburu?”

 

 

“Nggak!”

 

 

“Terus?”

 

 

“Gue ngantuk!!” ketus Ify mencoba menarik kembali selimutnya, namun dengan cepat Rio menahannya.

 

 

“Apa lagi sih!!!”

 

 

“Gue cemburu”

 

 

Ify terdiam, meresapi pernyataan Rio yang tiba-tiba. Rio barusan mengatakan bahwa dia cemburu? Benarkah? Ify tak bisa menyembuntikan kebahagiaannya. Ia tersenyum malu-malu.

 

 

“Sama selimutnya”

 

 

PYAARRRR

 

 

          Bayangan kisah romantis di benak Ify hancur sudah! Kandas tak tersisa. Senyumnya perlahan menghilang berganti dengan tatapan menahan amarah. Ia sudah cukup sabar menghadapi Rio. Kali ini ia tidak akan membiarkan dirinnya dipermainkan kembali oleh pria mesum ini!! Ia tak akan terjebak lagi.  Dia sangat kesal!!!!! Sangat!! Rio sangat brengsek!!

 

“ Lo keluar sekarang!!” tajam Ify menunjukkan kemarahannya. Tak ada lagi Ify yang malu-malu kucing. Sosok Ify dingin dan menakutkan telah kembali.

 

 

Rio sedikit terkejut, kaget melihat tatapan membunuh yang dihujamkan Ify kepadannya.

 

 

“Lo nggak jadi nyuruh gue tidur disini?’

 

 

“NGGAK!!!”

 

 

“Gu—, gue nggak apa-apa tidur dilantai” kini giliran Rio yang gelagap sendiri.

 

 

“Keluar sekarang!!”

 

 

“Gue nggak mau” tolak Rio seenak jidat. Ify menghembuskan nafast beratnya. Kesabarannya sungguh sedang diuji disini.

 

 

Ify mendudukan posisinya,

 

 

“Mau lo apa sih sebenarnya? Tadi bilangnya nggak mau tidur disini, sekarang ingin tidur disini! Lo kira gue gadis apaan? Hah? Lo kira gue akan mohon-mohon sama lo? Gu—”

 

 

Cuppp

 

 

Rio tiba-tiba mencium keningnya begitu cepat dan singkat. Yang dilakukan Rio barusan berhasil membuat gadis didepannya terbungkam dan terdiam bah  patung. Ify tak bisa meneruskan ocehanya.

 

 

“Gue mandi sebentar, setelah itu gue akan tidur disini” ucap Rio memecah keheningan yang terjadi sesaat.

 

 

“Bukan dilantai, tapi disamping lo”  lanjutnya dengan sebuah senyuman yang terhias di wajahnya.

 

 

Nafas Ify rasanya mencekat, kerongkongannya mengecil. Knockdown!! Ia butuh tabung oksigen sekarang juga, detik ini!. Rio berhasil membuat tubuhnya menegang hebat.

 

 

Perlahan kepalannya tertunduk. Ia tak ingin Rio melihat pipinya yang dapat dipastikan layaknya kepiting rebus. Merah!. Ify mengigit bibirnya sendiri, menahan agar dirinnya tidak berteriak kegirangan.

 

 

Rio berjalan meninggalkanya sendiri di kamar. Ify langsung melepaskan teriakannya yang tertahan sedari tadi. Mimpi apa dirinnya semalam? Sumpah demi apapaun ia merasakan jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya mengalir cepat. Tubuhnya terasa panas-dingin. Apa dia sungguh telah jatuh cinta kepada Rio? Benarkah? Sepertinya memang benar!.

 

 

“Gue telah jatuh cinta sama dia”

 

 

Bersambung . . . .

2 thoughts on “ENLOVQER DEVIL – 21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s