ENLOVQER DEVIL – 22

ENLOVQER DEVIL – 22

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

          Perlahan kedua kelopak mata Ify bergerak, mengerjapkannya berusaha untuk membuka. Ia merasakan sebuah sentuhan lembut membelai wajahnya. Ify mengeliat pelan, mencoba memperjelas pengelihatannya.

 

 

“Lo kebangun? Sorry” lirih Rio, Ify mendapati pria itu yang entah sejak kapan telah berada disampingnya. Apakah pria ini menungguinya selama terlelap? Ify memang tertidur duluan akibat efek obat yang ia konsumsi beberapa jam yang lalu. Jadi, ia tak melihat Rio masuk kedalam kamar kembali.

 

 

“Jam berapa sekarang?” lirih Ify pelan, suaranya terdengar serak.

 

 

Rio mengulurkan tangan kanannya, memposisikannya menjadi bantal untuk kepala Ify lalu mendekatkan tubuh Ify dengan dirinnya. Ify pun menerimanya tanpa komentar, ia sangat menyukai bau parfume tubuh Rio. Seolah telah menjadi candu baginya.

 

 

“Masih jam 4 pagi”  jawab Rio. Ia memandangi wajah Ify lekat-lekat.

 

 

“Lo nggak tidur?”

 

 

“Gue belum ngantuk” Rio membelai puncak rambut Ify kemudian mencium kening gadis itu dengan lembut.

 

 

Tentu saja Ify langsung terdiam, mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan.  Namun, dirinnya berusaha menyembunyikannya. Ia fokus mengontrol ekspresinya agar tidak kentara bahwa ia sangat malu saat ini. Rio selalu bisa membuat hatinya bah tersengat lebah. Mengejutkan!.

 

 

“ Apa lo selalu seperti ini kepada semua gadis?” sinis Ify, entah kenapa dari semua pertanyaan yang tertimbun di otaknya yang keluar adalah pertanyaan konyol ini.

 

 

Rio mengernyitkan keningnya,

 

 

“Lo kira gue player?”

 

 

“Mungkin saja” jawab Ify enteng. Rio mendecak sinis tak terima.

 

 

“Cihh—, Satu aja gue nggak bisa dapetin, gimana mau nyari lagi!”

 

 

Keduannya sama-sama diam untuk beberapa detik. Rio dengan tatapannya yang fokus ke gadis disampingnya, dan Ify hanya menatap ke depan berusaha keras menyembunyikan suara letupan jantungnya yang terasa akan meledak.

 

 

“Sebaiknya lo tidur lagi” suruh Rio memecah keheningan.

 

 

“Hmm” dehem Ify menurut saja, ia tak ingin berada di situasi canggung seperti ini.

 

 

Ify perlahan menutup kedua matannya, mencoba untuk terlelap kembali walaupun terasa susah. Ia merasa Rio terus mengawasinya dan itu sedikit membuatnya tak nyaman. Memalukan!.

 

*****

 

Pintu kamar yang tak pernah dikunci oleh si-empu, terbuka lebar. Seorang gadis dengan kunciran dua di rambutnya terdiam diambang pintu. Menatap blank pemandangan yang ada di depanya saat ini. Mulutnya setengah terbuka.  What Is That?

 

 

“Kak” panggilnya.

 

 

Namun, tak ada sahutan sama sekali.

 

 

“Kak Rio!!” panggilnya kembali.

 

 

Ia menghela nafas panjang, gregetan!.

 

 

“KAK RIOOOOO!!!”

 

 

Teriaknya bah toa masjid yang harus segera diganti. Cempreng!!. Namun setidaknya teriakannya tersebut berhasil membangunkan dua orang yang sedang tertidur dengan nyaman diatas kasur.

 

 

“Apaan sih!! Berisik!!” kesal Rio merasa terganggu dengan teriakan gadis itu, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Illy.

 

Rio baru saja dapat tertidur 30 menit yang lalu.

 

 

“ Kalian berdua ngapain?” tanya illy dengan nada skiptis.

 

 

“Tidur!” jawab Rio dengan nada tak enak

 

 

“Lo tidur bareng sama cewek?”’ illy kembali menyerang. Rio membuka matannya sempurna, ia membalikkan tubuhnya menatap sang adik, menyebabkan illy akhirnya dapat melihat jelas siapa gadis yang berada disamping Rio.

 

 

“IFY!!” teriaknya kembali lebih tak santai.

 

 

“Waahh! Bukannya kalian putus?”

 

 

“Waahh!! Kalian berdua benar-benar menakjubkan!!”

 

 

“GUE ADUHIN KE MAMA!!!”

 

 

BRAAKKK

 

 

          Rio mendengus kesal. Adiknya selalu saja menyebabkan masalah dan masalah. Mrs. Troublemaker!. Ia hanya bisa menghembuskan nafas berat sambil memegangi kepalannya. Sebenarnya Rio sama sekali tak takut, toh memang ia tak melakukan apapun dengan Ify. Hanya saja illy selalu mengimprovisasikan cerita semakin melebar dan ngawur!.

 

 

“illy?” tanya Ify yang baru sepenuhnya sadar.

 

 

“Ya”.

 

 

“Aishh!! Sial! Gadis itu pasti akan menyebarkan gosip di sekolah!” kesal Ify, ia sudah dapat membayangkan bagaimana dirinnya akan menjadi sorotan teman-temannya akibat gosip yang dibuat illy.

 

 

“Birkan saja! Nggak usah diurusin” simpul Rio dan diangguki oleh Ify. Itu adalah urusan belakang, ia juga tak menganggap ini sebuah masalah yang besar.

 

 

Rio mendudukan tubuhnya, menarik tangannya dari kepala Ify. Rasanya kaku dan sedikit mati rasa. Ia menyenderkan badannya di palang kasur. Kedua matannya mulai men-scan Ify.

 

 

Rio mendengus dengan penampakkan tak sengaja dilihat oleh kedua matannya saat ini.

 

 

“Kancing baju lo kebuka”

 

 

“Cepat benahin!”  suruh Rio dingin.

 

Ify terkejut sesaat, kemudian pandangan matannya turun melihat ke bawah. Benar saja dua kancing bajunya terbuka sedikit dan terlihat bagian bawah lehernya ter-expose. Ia melirk Rio tajam. Curiga!

 

 

“Apa? Bukan gue pelakunya!!” tajam Rio tak terima mendapatkan tatapan tuduhan. Ify dengan cepat membenahkan dua kancing bajunya.

 

 

“Otak lo selalu aja mesum!” gerutu Ify kesal.

 

 

“Cihh—“ desis Rio tak ingin memperpanjang keributan. Ia membiarkan saja Ify bergeliut dengan spekulasi kotor tentang dirinnya.

 

 

Rio turun dari kasur, berjalan ke kamar mandi. Ia mengingat bahwa dirinnya harus  menghadiri rapat pagi ini. Ia terlihat sedikit tergesah-gesah. Ify menatap saja kepergian Rio dengan sedikit bingung.

 

 

Tak selang beberapa lama, Rio keluar dengan seluruh tubuh yang segar, rambutnya basah. Ify menahan nafasnya, melihat sosok Rio seperti ini benar-benar kelewatan pesonanya. Pria itu begitu mengagumkan.

 

 

“Lo mau kemana?” tanya Ify, ia berusaha mendudukan tubuhnya.

 

 

“Kantor” jawab Rio seadannya, dirinnya sibuk memilih pakaian kerja.

 

 

Ify mendengus kesal. Ingin berteriak marah tapi apa dayanya, ia tak memiliki hak disini. Rio begitu mencintai pekerjaannya. Buktinya pria itu memilih pekerjaan daripada dirinnya. Dan akhirnya hubungan mereka berdua berujung kandas ditengah jalan.

 

 

“Ap—, Ap—, Apa lo harus ke kantor?” tanya Ify lagi dengan nada sangat hati-hati tak ingin membuat Rio marah.

 

 

Rio menghentikkan tangannya yang sedang bergeliat memasukkan kancing kemeja bajunya. Kepalannya terangkat menatap Ify yang tertunduk di atas kasur sana. Rio menghela nafas pelan, kemudian ia membuka kembali kancing bajunya, melepaskan kemejanya dan menggantinya dengan kaos oblong.

 

 

“Gue buatkan bubur dulu sebentar” ucap Rio melangkahkan kaki menuju pintu kamar.

 

 

Ify mengangkat kepalannya melihat Rio yang telah berganti baju. Ify tak faham dengan pria itu.

 

 

“Lo nggak kerja?”

 

 

“Nggak ke kantor?” tanya Ify dengan ekspresi bingung.

 

 

“Bukannya ini yang lo inginkan?” Rio membalik pertanyaan.

 

 

“Gue? Kapan? Nggak!! Kalau mau kerja ya kerja aja! Gue santai” balas Ify mencoba biasa, berusaha menunjukkan ekspresi tak pedulinya.

 

 

“Cihh—,” desis Rio pelan. “ Gue males ganti kemeja lagi” ucapnya kembali dan melanjutkan langkahnya. Keluar dari kamar meninggalkan Ify yang sedikit terkejut.

 

 

Apakah Rio barusan memilih dirnnya daripada pekerjaannya? Rio melakukan itu? Merelakan pekerjannya begitu saja? Benarkah? Ah, tunggu!! Apakah dirinnya sekarang terlalu kepedean? Apa jangan-jangan dirinya sendiri yang merasakan perasaan seperti ini? Apa ia hanya bercinta sebelah tangan?

 

 

“Aissh!! Entahlah!!” gusar Ify sangat frustasi. Ia tak menyangkan bahwa jatuh cinta sangatlah runyam dan membingungkan.

 

 

Mungkin benar yang dikatakan oleh orang-orang dewasa, bahwa cinta seperti sebuah puzzle, dan pemainnya harus sabar mencari bagian-bagian untuk disatukan.

 

 

Pemainnya saat ini adalah dirinnya sendiri. Ify!.

 

 

****

 

Sore. Rio bersiap mengantarkan Ify ke rumah sakit untuk check-up kembali. Rio segera menjalankan mobilnya setelah membantu Ify masuk kedalam mobil. Mereka dua beranjak dari sana.

 

 

“Kaki lo masih sakit?” tanya Rio di sela kegiatan menyetirnya. Ify menjawab dengan anggukan, mulutnya masih penuh dengan brownise yang ia makan.

 

 

Rio tak bertanya kembali. Ia fokus menyetir. Ify sendiri terlalu asik dengan makannya. Senja sore hari menemani perjalanan mereka berdua.

 

*****

 

Rio duduk di ruang tunggu, menanti Ify menyelesaikan pemeriksaan. Ia mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. Besok adalah hari jadi Haling Corp dan sejak tadi pagi sang mama sudah bolak-balik menelfonnya.

 

 

“Lo udah sampai?” Rio menelfon seseorang.

 

 

“Sudah! Lo kapan datang? Dicari sama mama!” ucap orang disebrang yang tak lain adalah adik Rio. Illy.

 

 

“Malam ini gue berangkat kesana. Sampaikan ke mama”

 

 

“Oke”

 

 

Klik

 

 

          Rio mematikan sambungannya bersamaan dengan keluarnya Ify dari ruang pemeriksaaan. Rio berdiri dari kursinya berjalan mendekati Ify. Gadis itu duduk anteng di kursi roda.

 

 

“Udah selesai?”

 

 

“Ya” jawab Ify, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dirinnya begitu lelah.

 

 

“Ayo pulang” ajak Rio diangguki oleh Ify. Ia mendorong kursi roda Ify.

 

*****

 

Hari mulai gelap, poros Bumi terus berputar mengganti waktu. Cahaya lampu menyorot dimana-mana, memberikan euforia dunia malam. Rio menyetir mobilnya untuk kembali kerumah. Ia melirik kesamping, Ify terlelap. Dua sudut bibir Rio terangkat membentuk senyuman kecil.

 

 

Ia fokus kedepan kembali, banyak kendaraan berlalu lalang. Terlalu bahaya jika ia lengah.

 

*****

 

Rio sudah menyadarinya dari 15 menit lalu. Bahwa dirinnya dibuntuti. Ia menaikkan kecepatan mobilnya. Kedua matanya tetap fokus dan mencoba tenang. Ia melihat lampu hijau di depan akan habis. Rio berusaha mengerjarnya.

 

 

“Oke!” teriak Rio berhasil melewati traffic light sebelum warna hijau habis. Rio melirik ke Ify yang masih terlelap tenang. Gadis itu tak sadar bahwa sedari tadi dirinnya mengendari mobilnya dengan high speed. Rio memelankan kecepatannya.

 

 

BRAAAAKKKKKKK

 

 

          Sebuat truk besar dari arah berlawanan sengaja menabrakan diri ke mobil Rio. Membuat mobil Rio terseret ke belakang begitu jauh. Mobil sport warna merah tersebut mulai tak terkendali.

 

*****

 

Iqbal berjalan ke ruang tengah dengan sebotol milkshake ditangannya, ia sedikit bosan berada dirumah sendirian. Kakaknya keluar dengan pacarnya dan dia hanya menjaga rumah. Sungguh menyebalkan!.

 

Iqbal meraih remote televisi yang tak jauh dari dirinya lantas menekan tombol power, menyalakan.

 

 

Headline News 15 menit.

Permisa, sebuah truk pengangkut alat berat baru saja menabrak mobil sport merah dari lawan arah di lintas redmountain. Masih belum dapat dipastikan penyebab dari kecelakaan maut ini. Pengemudi truk pengangkut ditemukan tewas ditempat, sedangkan 2 korban yang berada di dalam mobil sport merah dalam keadaan kritis, langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.  Menurut polisi yang melakukan pemeriksaan ditempat, mobil sport merah berplat

 Z 24 H merupakan milik pengusaha muda Mario Adipati Haling. Inilah berita selengkapnya.

 

 

SROOOOTTTTT

 

 

          Iqbal langsung menyembur minuman yang baru saja akan masuk kedalam mulutnya, tenggorokannya terasa penuh. Ia mencoba meresapi baik-baik berita yang ditontonya ini. Apakah dirinya tak salah dengar? Tak salah melihat? Nafasnya tercekat.

 

 

“Itu benar mobil kak Rio” ujar Iqbal semakin panik,  melihat mobil merah yang sudah tak karuan bentuknya di berita tersebut.

 

 

“Mampus! Kak Ify“

 

Dengan cepat Iqbal berdiri dari kursi, mengambil ponselnya dan keluar dari rumah. Ia meminta supirnya untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit.

 

*****

 

Rumah Sakit Arwana langsung terpenuhi berbagai awak pers media. Berita tabrakan CEO Mario Adipati Haling menyebar begitu cepat. Nampaknya mereka tak ingin ketinggalan meliput Hot News ini. Mengingat, besok harusnya menjadi hari paling bahagia dari pemilik Haling Corp.

 

 

Iqbal turun dari mobil, ia memilih masuk dari pintu belakang setelah menelfon pihak rumah sakit bahwa dirinnya adalah wali dari salah satu korban. Iqbal tak hentinya mencoba menelfon Ando yang sedari tadi tak bisa ia hubungi. Fikiannya kacau, tak tenang. Ia sangat takut saat ini.

 

 

“Pak, jangan ceritakan ke siapa-siapa dulu masalah ini”

 

 

“Jangan sampai terdengar sampai Papa” perintah Iqbal kepada sang supir yang langsung mengangguk menurut.

 

 

Iqbal menyerah untuk menelfon kakaknya, ia mencoba menghubungi orang lain yang dapat membantunya.

 

 

“Kak, lo dimana?”

 

 

Gue diperjalanan ke rumah sakit bal” jawab orang disebrang sana dengan suara lebih panik dari Iqbal.  Ya, Iqbal menelfon sahabat Ify. Sivia.

 

“Lo tau kak Ify kecelakaan?” tanya Iqbal sedikit terkejut.

 

 

“Ify sempat sms gue kalau dia akan ke ruma sakit dengan kak Rio sore tadi.” Jelas Sivia.

 

 

 

“Gue tunggu didalam, lo masuk lewat belakang saja. Di depan banyak media”

 

 

“Oke”

 

 

Klik

 

 

          Iqbal mempercepat langkahnya menuju ruang operasi, ia mendapat informasi dari bagian resepsionis bahwa 2 korban kecelakaan beberapa menit yang lalu langsung di bawah kesana. Iqbal semakin tak tenang.

 

*****

 

Haling Corps. Suara telfon center perusahaan terus berdering. Karyawan-karyawan yang harusnya sudah pulang mengurungkan niatnya. Kabar kecelakaan direktur mereka langsung membuat situasi perusahaan kacau. Tak terkendali.

 

 

Kepala HRD pusat, yang pertama kali mengetahui berita ini segera melefon wakil direktur yang baru saja terbang ke Pulau Aling.  Tak disangka berita ini menyebar cepat bahkan media luar pun ikut meng-expose.nya. Populariatas Mario Adipati Haling memang sangatlah besar!.

 

 

 

Kepala bagian statistik berlari cepat menuju ruang dewan. Seluruh kepala divisi terlihat berkumpul disana. Mereka semua menggadakan rapat dadakan tanpa CEO maupun Wakil direktur. Tampak sekali keringat dingin dan kecemasan di seluruh wajah orang-orang penting ini.

 

 

“Saham Haling semakin menurun” ujarnya dengan nafas tergesa-gesa ketika memasuki ruang dewan.

 

 

“Apa belum dapat kabar bagaimana kondisi President?” tanya salah satu orang.

 

 

“Beliau masih di dalam ruang operasi, Tuan Ann masih menunggu disana dan terus akan memberikan kabar selanjutnya”

 

 

“Aghsss!!! Kenapa bisa terjadi musibah seperti ini!”

 

 

*****

 

Illy memegangi tubuh mamanya yang melemas, berita tersebut telah terdengar sampai pulau Aling. Tentu saja, membuat keadaan di pulau tersebut lebih sangat kacau. Dibantu oleh beberapa pelayan, illy mendudukan sang mama yang mulai menangis, terisak.

 

 

“Bagaimana keadaannya?” tanya nyonya Abahay, tangannya memegangi pelipisnya. Tangisnya tak bisa teredam.

 

 

“Tuan Ann masih belum ngasih kabar lagi, Ma” jawab illy dengan suara bergetar. Ia takut sekali mamanya memuncak.

 

 

“Siapkan pesawat sekarang, kita kembali!”

 

 

“Tapi nyonya, bagaimana dengan pesta hari jadi perusahaan besok?” tanya asisten pribadi Nyonya Abahay.

 

 

Kepala Nyonya Abahay terangkat, menatap tajam sang asisten.

 

 

“APAKAH PENTING PESTA ITU SEKARANG??”

 

 

“APAKAH PANTAS MERAYAKAN PESTA SEDANGKAN ANAK SAYA MELAWAN MAUT DI RUMAH SAKIT? HA?”

 

 

“CEPAT SIAPKAN PESAWAT SEKARANG JUGA!!!”

 

 

Emosi Nyonya Abahay keluar semua, membuat semua orang disana ketakutan tak terkecuali illy yang hanya memilih diam saja. Ia takut salah bicara.

 

 

“Ba—, Ba—, Baik Nyonya”

 

 

“Maafkan saya”

 

 

****

 

Ando masuk kedalam mobil, ia telah menyelesaikan kerja dinasnya. Beberapa hari ini sangat melelahkan. Ia membuka dashbor mobil, mengambil ponselnya yang memang ia tinggalkan disana. Selama bertugas memang dirinnya tak diperbolehkan membawa ponsel.

 

 

Ando menyalakan ponselnya.

 

 

“ 25 Panggilan. Iqbal”

 

 

“40 panggilan. Sivia”

 

 

Ando merasakan atmosphere yang tak enak mulai merubung disekitarnya, tiba-tiba tubuhnya sedikit bergetar dan cemas. Ando segera melakukan panggilan balik.

 

 


“Hallo Vi, ada apa?” Ando memilih menelfon Sivia.

 

 

“LO DARI TADI KEMANA SIH? DITELFON NGGAK BISA!!”

 

 

Ando mendadak terdiam, terkejut berat. Benarkah yang dirinnya telfon adalah Sivia. Ando melihat ke layar ponselnya, benar itu nomer Sivia, suara disebrang yang ia dengar juga suara Sivia. Tapi, ini untuk pertama kalinnya ia mendengar Sivia berteriak kepadannya dengan penuh amarah. Pasti telah terjadi sesuatu yang sangat besar!!

 

 

“Ada apa?” tanya Ando dengan suara dingin. Ia tak ingin basa-basi.

 

 

“Ke rumah sakit Arwana sekarang! Ify kecelakaan dengan kak Rio”

 

 

 

DEGHHHH

 

 

          Seketika itu ponsel ditangan Ando terlepas, Pria itu langsung menyalakan mesin mobilnya, menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Fikirannya hanya tertuju kepada keadaan sang adik. Tak ada yang lain. Hanya Ify!

 

 

Bersambung

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s