ENLOVQER DEVIL – 23

ENLOVQER DEVIL – 23

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

*****

 

BRAAAKKKKK

 

Mata Ify seketika itu terbuka dalam hitungan kurang dari ½ detik. Ia membelakakan matannya melihat apa yang ada dihadapannya saat ini. Sebuah truk besar mendorong mobil yang ia tumpangi saat ini dengan begitu cepat.  Ia tak bisa mengeluarkan suara apapun, tak bisa berteriak atau bergerak. Darah segar perlahan menetes dari atas kepalannya turun ke pelipisnya.

 

Perlahan Ify menoleh ke samping, nafasnya tercekat dan tubuhnya langsung melemas. Pria disampingnya sudah tak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir tanpa henti di seluruh wajahnya. Tubuh Ify bergetar hebat.

 

 

“Yo—“ lirihnya, perlahan meraih tangan Rio yang tak bertenaga.

 

 

Ify kembali menatap ke depan, pasrah!. Mobil yang ia tumpangi terputar tak kendali. Suara decitan ban mobil terdengar begitu keras. Sampai akhirnya tubuh Ify terhempas keluar dari mobil. Ify tergeletak tak berdaya diatas aspal jalan.

 

Samar-samar Ify masih dapat mendengar suara jeritan, kerumunan orang mulai menghampirinya. ia mengerjapkan matannya beberapa kali. Tubuhnya mati rasa, nafasnya tak beraturan. Bayangan wajah sang mama tiba-tiba datang begitu saja. Ify tersenyum tanpa sadar.

 

“Ma—, Mama”

 

Ify telah tak sadarkan diri.

 

*****

 

Ando tiba dirumah sakit, ekspresi wajahnya tak tenang. Dari kejauhan ia melihat Iqbal dan Sivia berdiri di depan ruang operasi. Mereka berdua  bergerak terus bah orang hilang tanpa tujuan. Di kursi tunggu juga ia melihat beberapa pengawal Rio yang sebagian dari mereka familiar dimata Ando. Salah satunya Mr. Ann.

 

“Bagaimana operasinya?” tanya Ando. Sivia dan Iqbal sedikit kaget dengan kedatangan Ando.

 

“Sudah 4 jam lebih, operasinya belum juga selesai” jawab Iqbal dengan suara berat. Ando menahan nafas.

 

“Bagaimana bisa mereka kecelakaan? Apa yang terjadi?”

 

“Kami juga belum tau kak. Polisi masih menyelidiki kecelakaannya” kini Sivia ikut memberikan suara.

 

DRTTDRTTTT

 

Suara ponsel Iqbal berdering, terdapat sebuah panggilan.  ia melihat ke layar ponselnya dan begitu terkejut ketika mengetahui sebuah nama tertera disana. Tangan Iqbal bergetar tatapanya ketakutan ke arah sang kakak. Ando mengernyitkan kening.

 

“Siapa?” tanya Ando mendekat ke Iqbal.

 

“Pa—, Pa—, Papa” jawab Iqbal ketakutan.

 

“Tenang, jawab saja” Ando memegang pundak Iqbal, menyuruhnya untuk tidak panik.

 

“Tap—,”

 

“Kalau papa nyari Ify bilang saja sedang ada vacation camp di sekolahnya”

 

Iqbal mengangguk menurut, ia mengangkat sambungan tersebut, mendekatkan ponsel ke telinga kananya.

 

“Hallo pa” jawab Iqbal, suara berat di sebrang sama mulai terdengar.

 

“Kakak kamu mana? Ditelfon sedari tadi tidak bisa!”
“Kakak? Kak Ify?”

 

“Bukan Ify tapi Ando! Apa dia bersamamu?” nafas Iqbal melegah. Hampir saja jantungnya akan copot dari tempatnya.

 

“Iqbal berikan ke kak Ando, sebentar pa”

 

Iqbal menyerahkan ponselnya ke  sang kakak. Ando menarik nafas sejenak, membuangnya pelan-pelan. Ia menerima ponsel Iqbal.

 

“Iya pa, ada apa?”

 

“Besok papa berangkat ke Indonesia, mungkin tiba disana malam hari. Papa hanya berangkat sendiri, siapkan semuanya disana”

 

“Papa ke indonesia?” setengah nyawa Ando berasa akan melayang. Bagaimana semuannya bisa terjadi di waktu tak tepat seperti ini.

 

Iqbal mendengarnya langsung melemas, tubuhnya terduduk. Sivia yang tak mengerti dengan kedua pria ini hanya bisa terdiam. Bingung.

 

“Iya, papa hanya ingin memberitahumu itu. Adik perempuanmu mana? Papa ingin dengar suarannya. Dia tidak pernah menelfon papa sama sekali”

 

“Ify sedang ada vacation camp di sekolahnya Pa, tidak diperbolehkan bawah ponsel”

 

“Bagaimana bisa tidak diperbolehkan bawah ponsel? Jika terjadi sesuatu dengan adikmu bagaimana?”

 

Ando terdiam lama, tak bisa menjawab. Batinnya ingin sekali berteriak. Sudah terjadi apa-apa  pa saat ini!

 

“Ando  akan siapkan semuanya besok, papa hati-hati selama perjalanan”

 

“Baiklah, papa tutup”

 

Klik

 

Ando menghela nafas berat. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Bagaimana jika papanya mengetahui sang adik sedang mempertaruhkan nyawa didalam ruang operasi. Kedua tangan Ando terkepal, menahan amarah.

 

“ARGHHSSSS!!!!”  ponsel Iqbal menjadi sasaran tak berdosa. Ando membanting keras ponsel tersebut hingga pecah tak beraturan diatas lantai. Iqbal tak mepedulikannya, membiarkan saja.

 

Semuanya terasa tiba-tiba, tidak ada yang tahu memang bagaimana takdir seseorang kedepan. Tuhan telah merencanakannya begitu rapi tanpa memberikan persiapan dahulu bagi manusia.

Ando, Sivia, Iqbal dan Mr. Ann hanya bisa berdo’a berharap dua orang tersebut dapat terselamatkan.

 

SREEETTT

 

Suara pintu ruang operasi terbuka, dua perawat keluar dengan tergesah-gesah. Terlihat dari wajah mereka sangat panik. Iqbal, Ando, Sivia dan Mr. Ann langsung berdiri, binggung bercampur takut menggeliuti fikiran mereka semua. Apa yang telah terjadi?

 

“Dimana keluarga pasien nona Ify?” seorang dokter wanita keluar tak selang berapa lama, ia  mendekati Ando, Iqbal, Sivia dan Mr. Ann.

 

“Saya dok, kakaknya” jawab Ando mencoba tenang.

 

“Kami butuh darah O-Bombay segera, darah tersebut sangat langkah. Kami tidak memiliki stok darah tipe tersebut saat ini. Tubuh Ify tidak bisa menerima darah apapun terkecuali tipe darah yang sama dengannya”

 

“Kami sudah mencoba menguubungi pihak PMI, mereka hanya mempunyai 3 kantong, kami membutuhkan 1 kantong lagi”

 

“Dari keluarga apa ada yang memiliki golongan darah sama?” Ando menoleh ke Iqbal, mereka saling bertatap dengan eskpresi wajah entahlah.

 

“A—, ada dok. Papa kami memiliki darah yang sama dengan Ify” jawab Ando sekuat mungkin.

 

“Dimana papa kalian? Beliau bisa kesini sekarang juga?”

 

“I—, iya dok, kami akan menghubunginya” jawab Ando setengah tak yakin.

 

“Tolong secepatnya” perintah sang Dokter, kemudian meninggalkan Ando, kembali masuk kedalam ruang operasi.

 

Ando terduduk lemas, tak tau harus berbuat apa sekarang. Ia dihadapkan pada keadaan yang sangat sulit. Jika dapat di-ibaratkan, dirinnya saat ini dalam situasi :  Dia bergerak sedikit akan mati, Dia diam pun tetap mati.

 

“ Telfon papa sekarang” ucap Ando, wajahnya sangat serius. Kedua mata elangnya semakin menajam. Iqbal menatap sang kakak ragu.

 

“Se—rius?”

 

“Nyawa Ify lebih penting, gue akan terima semua resikonya”

 

Iqbal hanya anak kecil disini, dia mengangguk menurut. Meskipun dirinnya sangat takut. Ia berjalan meraih tas Ando yang tak jauh dari tempatnya. Mencari ponsel Ando didalam sana. Setelah menemukannya, ia langsung memberikan kepada sang kakak.

 

Ando menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya sekali helaan. Ia menekan tombol panggil, mendekatkan ponsel ke telingannya. Ia harus menghadapinya! Tidak ada pilihan lain.

 

“Hallo tuan Ando, maaf sekarang tuan besar sedang didalam ruang rapat”

 

“Berikan ke Mr.Bov sekarang juga. Bilang sangat penting”

 

“Baiklah tuan”

 

Ando dapat mendengar samar-samar suara papanya. Sampai akhirnya terdengar jelas suara berat tersebut.

 

“Ada apa?”

 

“Bisa ke Indonesia saat ini juga?”

 

“Ada apa dengan adikmu?” suara itu semakin terdengar berat dan penuh penekanan. Sepertinya sang papa sudah menangkap arah dari pembicaraannya.

 

Iqbal memegangi pundak kakaknya yang terus bergetar. Kedua mata Ando memerah, menahan sesuatu didalamnya. Ando menatap Iqbal sesaat.

 

“Bilang saja” lirih Iqbal memberi dorongan kepada sang kakak.

 

“Dia kecelakaan, membutuhkan darah”

 

Tak ada jawaban, hanya hening dan desahan nafas berat yang terdengar. Ando semakin tertekan. Takut.

 

“Kirimkan alamat rumah sakitnya”

 

KLIK

 

Sambungan langsung dimatikan begitu saja. Ponsel ditangan Ando terlepas dan terjatuh diatas lantai. Dari suara terakhir yang ia dengar dapat dipastikan Mr.Bov menahan amarah besar.

 

Bayangan Ando tiba-tiba kembali ke beberapa tahun yang lalu, di umur adik perempuannya yang masih 13 tahun. Saat itu, Ando mengajak Ify bermain disebuah gudang penyimpanan belakang rumah. Ando tidak tau bahwa gudang tersebut tak boleh dimasuki dan sangat gelap. Ia mengerjai adiknya sampai menangis tak ada henti dengan kedua kaki terluka sedikit parah.

 

Papanya marah sangat besar, Ando dihukum kurungan selama 3 hari di gudang gelap itu tanpa diberi makan, hanya dibekali 1 botol air mineral dan sekotak susu cokelat. Sejak saat itu, Ando tak berani lagi bermain-main dengan keselamat sang adik. Ia sudah bersumpah didepan papanya akan menjaga adik perempuannya tersebut. Ando tahu jelas kenapa papanya sangat menyayangi adik perempuannya daripada dirinnya dan Iqbal. Karena papanya tak ingin kembali kehilangan perempuan yang ia cintai.

Ando adalah saksi nyata bagaimana terpuruknya sang papa ketika mamanya meninggal. Ia melihat papanya begitu menderita dan hampir mengakhiri hidupnya jika saja saat itu Ify kecil tidak menangis berlutut mencegah sang papa.

 

“Dia akan datang beberapa jam lagi” lirih Ando dengan suara lemah kepada Iqbal.

 

Sivia dan Mr. Ann tidak tau sama sekali drama apa yang sedang dilakoni oleh dua pria dihadapan mereka. Wajah mereka seperti orang yang akan menghadapi kematian. Seolah malaikat maut akan menjemput nyawa mereka. Sivia sendiri tak berani  bertanya walaupun rasa penasarannya sangat tinggi.

 

Dari kejauhan terdengar suara Nyonya Abahay yang sangat panik, beliau datang dengan dikawal beberapa orang ber-jas hitam dan juga illy disampingnya yang terus menemaninya. Bersamaan dengan itu juga, pintu ruang operasi terbuka kembali. Membuat Ando, Sivia, Iqbal dan Mr. Ann mengalihkan tatapan mereka.

 

Rio keluar dari sana dengan alat medis yang masih terpasang lengkap. Pria itu terbaring diatas kasur dorong. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan balutan perban. Ia masih tak sadarkan diri.

 

“RIOOOOO” teriak Nyonya Abahay  ingin mendekat namun langsung dicegah oleh salah satu perawat.

 

“Kami akan membawanya ke kamar rawat, kondisinya masih belum stabil. 2 jam lagi keluarga baru diperbolehkan menjenguk”

 

“Ap—, Ap—, Apa dia tidak apa-apa? Bagaimana kondisi kakak saya?” illy memberikan suarannya, ia juga takut terjadi sesuatu kepada kakaknya.

 

“ Tenang saja, pasien sudah melewati masa kritis.”

 

Terlihat kelegaan langsung menghiasai wajah Nyonya Abahay dan illy. Mereka akhirnya dapat menghirup napas dengan lenggang. Nyonya Abahay tak berhenti berdo’a selama perjalanan, mendoakan keadaan sang anak. Tuhan mendengarnya.

 

Ando terdiam saja dengan kepala tertunduk, namun dalam hati ikut senang juga. Ia bersyukur sahabatnya selamat. Meskipun sepenuhnya ia belum legah, karena sang adik masih ada didalam sana.

 

Nyonya Abahay menatap Ando, perlahan berjalan mendekati pria tersebut.

 

“Apa Ify masih didalam?” tanya Nyonya Abahay sangat hati-hati. Ando mengangguk pelan.

 

“Dia pasti selamat! Pasti itu. Tante akan ikut menunggu disini. Menemani kamu dan adikmu” Nyonya Abahay menepuk punggung Ando pelan-pelan. Memberikan sedikit energinya, mentransfer ketenangan.

 

Ando semakin tertunduk, ia menahan getaran tubuhnya yang kembali muncul. Jika saja, mama-nya ada disampingnya saat ini pasti sangat membantu dirinnya untuk tidak ketakutan seperti sekarang. Ia sangat takut adiknya tak selamat, ia takut sekali.

 

“An—, Ando beli minum sebentar tante” ucap Ando sopan kepada Nyonya Abahay. Ia berjalan meninggalkan semua orang yang ada di depan ruang operasi.

 

Sivia melihat punggung Ando yang semakin menjauh. Ia kenal sekali bagaimana Ando, pria itu pasti begitu terpuruk dan ketakutan saat ini. Ando begitu mencintai Ify dan menyayangi Ify melebihi nyawannya sendiri.

 

Sivia baru saja akan melangkahkan kakinya menyusul Ando, tapi seorang gadis telah berlari duluan mengejar Ando. Sivia mengurungkan niatnyanya membiarkan gadis itu yang menemani Ando. Illy

 

“Tidak apa-apa Sivia. Tidak apa-apa”

 

“Begitu lebih baik”

 

****

 

Illy menemukan Ando terduduk disalah satu bangku taman belakang rumah sakit. Pria itu tertunduk dengan kaleng minuman ditangannya.  Illy berjalan hati-hati mendekat.

 

“Kalau nggak kuat nangis aja kak”

 

Ando tersentak dengan suara dan kedatangan seseorang yang tiba-tiba. Ia menoleh kesamping, mendapati illy duduk tak jauh darinya. Ando menghela pelan, menyesap kembali minuman kalengnya.

 

“Lo minum?” kaget illy mendapati kaleng beer  yang berada ditangan Ando.

 

“Tidak, hanya jika dalam keadaan tertekan” jawab Ando seadanya dan meminumnya kembali. Illy pun hanya mengangguk-angguk ringan.

 

“Lo pasti sangat sayang kepada Ify. Gue bisa lihat dari bagaimana lo memperlakukannya. “ Ando memilih diam saja, mendengarkan ocehan gadis disampingnya. Setidaknya sedikit membantu mengurangi kecemasannya.

 

“Gue kenal Ify belum terlalu lama,  tapi gue ngerasa kalau gue udah sahabatan sama dia sangaaaattt lama. Dia gadis yang sangat kuat, tangguh dan pantang menyerah”

 

“Jadi, gue yakin dia pasti selamat. Pasti itu kak!!”

 

Ando tersenyum ringan.

 

“Tentu saja dia akan selamat. Dia tidak akan pernah mau mati dengan cara konyol seperti ini” sahut Ando menghabiskan tetesan terakhir di kaleng minumnya lalu melemparkannya ke tempat sampah dengan tepat sasaran!.

 

“Lah bener banget itu! Dia pasti gengsi kalau mati dengan cara nggak elite seperti ini. Bukan style Ify banget” illy mencoba keras untuk menghibur Ando, dan usahannya sedikit berhasil. Pria itu tertawa pelan.

 

“Ify sangat beruntung punya sahabat seperti lo dan Sivia” Ando mengacak-acak rambut illy. Perlakuannya tersebut berhasil membuat kedua pipi illy memerah, blushing. Baru pertama kali, Ando memperlakukannya sangat manis seperti ini. Ashaaa!!

 

“ Ayo kita kembali, semuanya pasti sudah menunggu” Ando berdiri dari kursi yang di dudukinya, illy pun menurut.

 

Mereka berdua berjalan ber-iringan kembali ke ruang operasi.

****

Suara mesin pesawat dinyalakan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas nampak begitu beribawah dan gagah. Beberapa orang berseragam menyambutnya dengan sangat sopan dan hormat.

 

“Thank you so much” pria itu menjabat tangan salah satu captain dari orang-orang berseragam tersebut.

 

“You’re welcome. Take care.”

 

Pria tersebut mengangguk dan segera kembali berjalan menaiki tangga pesawat yang sudah menantinya. Setelah mendengar kabar dari sang anak, pria ini segera menyuruh asisten pribadinya untuk menghubungi pangkalan angkatan udara, menyiapkan pesawat yang dapat membawanya sampai ke Indonesia dalam waktu kurang dari 2 jam. Dengan kekuasan tinggi yang ia miliki, ia bisa melakukan segalanya. Mr. Bov

 

*****

Ruang operasi masih belum terbuka kembali, Ify masih berada didalam. Sudah hampir 6,5 jam lamannya gadis itu ditangani oleh para spesialis medis. Tak ada yang tau bagaimana nasibnya, hanya para dokter dan tuhan yang mengetahui.

 

Waktu telah menunjukkan dini hari, pukul 02.00 a.m. Semuanya nampak lelah, namun masih berusaha terjaga. Ando menyuruh Sivia pulang namun gadis itu menolak keras. Memilih tetap di rumah sakit. Ando pun tak bisa memaksa. Sedangkan Iqbal terlihat ketiduran dengan menyenderkan kepala pada tembok dibelakangnya. Ando membiarkannya saja. Menatap si bungsu iba.

 

“Ma, Kak Rio sudah boleh dijenguk” ucap illy yang baru saja bertanya kepada perawat yang berada diruang rawat Rio. Nyonya Abahay segera berdiri. Beliau menatap Ando sebentar.

 

“Tante lihat bagaimana kondisi Rio dulu. Ada Iqbal dan Sivia disini.” ucap Ando sopan.

 

“Tante akan kembali kesini lagi” balas Nyonya Abahay sedikit tak tega meninggalkan Ando.

 

“Iya tante” Ando mencoba tersenyum. Nyonya Abahay pun beranjak dari sana bersama dengan para pengawalnya dan juga illy tentunya.

 

Ando menghela nafas berat, ia melirik ke jam tangannya. Jarum merah disana terus berputar, memberikan kecemasan lebih kepada Ando. Ia semakin takut.

****

 

Ando mengalihkan tatapannya sebentar, dan saat itu juga ia melihat seorang pria paruh baya dengan setelan jas-hitam sangat rapi dengan dikawal 8 orang dibelakangnya. Ando mendadak berdiri. Ia tahu jelas siapa pria itu. Ya, itu adalah Mr.Bov.

 

“Papa datang” Ando menyenggol tubuh Iqbal yang langsung terbangun dan panik.

 

Iqbal mengontrol kesadarannya, ia segera membenarkan posisinya dengan benar. Berdiri disamping Ando. Menyiapkan mentalnya. Begitu juga dengan Ando, meskipun dirinnya begitu keras berusaha untuk tidak takut, berusaha tenang dan bersikap biasa, namun masih begitu kentara di wajahnya. Bahwa dirinnya saat ini ketakutan.

 

“Bagaimana keadaan dia?”

 

Suara berat khas itu kini terdengar begitu dekat. Mr.Bov telah berdiri didepan Ando dan Iqbal. Para pengawal dibelakang Mr. Bov menunduk serempak sopan kepada Ando dan Iqbal.

 

Sivia terdiam di pojok, menatap bingung situasi di depannya. Untuk pertama kalinya lah dirinnya mengetahui sosok ayah dari Ify. Sivia hampir menahan nafasnya untuk sekian lama, sosok tersebut begitu ber-kharisma dan penuh wibawah. Kedua matannya begitu tajam, dan menakutkan. Kini Sivia mengerti darimana asal sifat Ify.

 

“Ify masih didalam, belum ada kabar tentang kondisinya” Ando berusaha sekuat tenaga menjawab. Ia tak berani menatap tepat pada kedua mata papanya.

 

PLAAAAKKK

 

            Suara tamparan yang sangat keras terdengar  begitu nyaring ditelinga.  Sivia membelakakan matannya tak percaya melihat kejadian barusan. Pria berwibawah itu melayangkan tamparan di wajah Ando. Pasti sakit sekali! Batinnya.

 

Iqbal sendiri tak terkejut dengan kejadian ini, ia hanya memilih diam saja menunggu dirinnya yang mendapat giliran.

 

“Sudah saya katakan berapa kali, jaga dia baik-baik!”

 

“Bahkan korbankan nyawamu jika perlu!” Ando berusaha menegakkan postur kepalannya, mencoba kuat. Ini bukan yang pertama kali, pria ini menamparnya.

 

“Maafkan Ando”

 

SREEEKKK

 

Suara pintu ruang operasi terbuka kembali. Semua orang menoleh, melihat kearah pintu tersebut. Seorang perawat keluar dari sana. Ia berjalan mendekat ke Ando.

 

“Apa pendonor sudah datang? Kami membutuhkannya sekarang juga!” ujar perawat tersebut nampak tergesah-gesah.

 

“Saya papanya, ambil darah saya”

 

“Baiklah, Silahkan ikut masuk” Mr. Bov mengangguk dan mengikuti perawat tersebut dari belakang.

 

Ando terselamatkan kali ini. Ia langsung terduduk lemas. Papanya benar-benar sangat menakutkan. Tatapannya sangat mengintimidasinya. Kepala Ando terasa berat dan pusing. Ia memegangi pelipisnya dan memijatnya pelan.

 

“Dia benar-benar menyeramkan!”

 

Bersambung . . . .

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s