ENLOVQER DEVIL – 24

ENLOVQER DEVIL – 24

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

*****

 

Pintu ruang operasi terbuka begitu lebar, para spesialis medis keluar dari sana. Akhirnya operasi yang dijalani oleh Ify telah selesai, gadis itu berhasil melewati masa kritisnya. Nyawanya terselamatkan.  Kelegaan dan rasa suka cita menyelimuti Ando, Iqbal, Sivia. Mereka belum di izinkan untuk menjenguk Ify terlebih dahulu.

 

Mr. Bov keluar paling akhir bersama dengan kepala spesialis yang memimpin operasi Ify. Mr.Bov mengucapkan banyak terima kasih kepada dokter tersebut karena telah menyelamatkan nyawa sang anak. Beliau nampak begitu legah meskipun tidak kentara pada ekspresi wajahnya yang tetap dingin, datar dan penuh kharisma.

 

“Keluarga pasien di perkenankan menjenguk besok di pagi hari” ujar Dokter tersebut kemudian pamit kepada Mr.Bov, meninggalkannya.

 

Mr. Bov menghela nafas berat, melepaskan semua kecemasannya. Ia berjalan mendekati Mr. Lay.

 

“ Besok pagi urus semua kepindahan Ify. Kita bawa dia ke Asklepios “  ucap Mr. Bov kepada Mr. Lay. Mr. Bov memberikan perintah agar Ify dipindahkan ke rumah sakit terbaik yang ada di jerman. Ucapan Mr.Bov membuat Ando dan Iqbal mematung, tak bisa berkata apa-apa. Apakah ini menandakan bahawa Ify akan selamanya di pindahkan? Tidak akan kembali lagi?.

 

“Baiklah tuan”  jawab Mr. Lay menurut.

 

“Kamu pulanglah bal, sudah malam. Biar Mr. Lay yang menjaga kakakmu disini” ujar Mr. Bov kepada anak bungsunya. Iqbal mengangguk-angguk saja, tak berani menatap mata sang papa.

 

Mr. Bov kemudian melangkahkan kakinya kembali untuk beranjak dari sana dengan tatapan fokus kedepan, berjalan tanpa menatap sedikit pun ke arah Ando seolah tak menganggap anak sulungnya tersebut berada disana. Ando menahan nafas, mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

 

“Maafkan Ando pa” hanya itu yang bisa Ando utarakan, ia tak ingin membuat Papa.nya semakin marah kepadannya. Pernyataan Ando tersebut berhasil membuat Mr. Bov menghentikkan langkahnya tanpa berbalik.

 

Terjadi keheningan beberapa saat,

 

“ Apa kamu akan terus mengecewakanku seperti ini?”suara dingin dan tajam tersebut bah menyohok setiap tulang di tubuh Ando. Ia meneguk salivanya, membasahi kerongkongannya yang mengering.

 

“Jangan pernah menemui adikmu lagi”

 

“Kembali ke seatlle malam ini juga.  Daftarkan dirimu di pasukan khusus.”

 

Setelah menyelesaikan perintah kejamnya, Mr.Bov kembali berjalan meninggalkan dua anak putranya yang mematung disana. Segala ucapan Mr.Bov adalah perintah yang wajib dijalankan, tanpa ada penolakan. Ya, dia benar-benar bah seorang raja yang penuh dengan ke-otoriteran.

 

Ando terduduk lemas, papa.nya begitu murka kepadannya sampai memerintahkan hal yang menurutnya diluar nalar. Ini adalah hukuman yang paling berat yang harus ia hadapi. Ia seolah telah dibuang seperti anak yang tak dianggap. Papa.nya begitu keras mendidiknya.  Tapi bukankah ini sudah kelewat batas?

 

“Kak—“ Iqbal mendekati Ando.

 

“Lo pulang kerumah, seperti yang diperintahkan papa” ujar Ando kepada Iqbal. Kepalanya tetap tertunduk.

 

“Tapi kak, gi—“

 

“Gue suruh pulang ya pulang! Sekarang!” tajam Ando dengan suara yang sedikit serak, Iqbal melihat bahu pria itu bergetar, Iqbal bingung harus berbuat apa. Ia tidak tega melihat kakaknya yang menanggung semua hukuman yang bahkan bukan kesalahannya.

 

“Iq—, Iqbal pulang dulu kak” pamitnya menuruti ucapan Ando, ia perlahan beranjak menjauh. Meninggalkan kakaknya dan juga Sivia.

 

Hari yang sangat berat!.

 

*****

Sivia memainkan jemarinya dalam diam. Ia adalah saksi dari semua kejadian menegangkan beberapa menit yang lalu. Kini, di depan ruang operasi hanya tinggal dirinya dan Ando. Sivia melihat Ando yang duduk diam tak bergerak dengan kepala tertunduk. Pria itu hanya melihat kebawah lantai. Tak melakukan apapun.

 

“Apa lo beneran akan berangkat ke seattle?” Sivia mengambil duduk disebalah Ando, ia mencoba mengajak Ando berbicara.

 

Tak ada jawaban dari pria di sebelahnya. Sivia menghela nafas pelan.

 

“Apa lo beneran tidak akan menemui adikmu lagi?”

 

“Pasti Ify sangat sedih”

 

Sivia menolehkan wajahnya ke arah Ando, menatap pri itu membuatnya sedikit iba. Pasti sangat berat beban yang di tanggung Ando saat ini. Fikirannya juga sangat kacau. Ia tak dapat melihat lagi Ando yang lembut, tenang dan mempesona. Yang ada disampingnya adalah Ando yang ketakutan, dipenuhi beban dan penyesalan.

 

Sivia perlahan meraih tangan Ando, memegangnya sangat erat sampai akhirnya pria itu membuat gerakan. Ando menolehkan kepalannya, melihat ke arah Sivia. Kedua matanya memerah, menahan bendungan air mata yang sebentar lagi akan runtuh.

 

“Bukan kakak yang salah, jadi kakak nggak perlu takut”

 

“Kalau kakak benar dan berani pertahankan. Apa kakak akan menjadi lemah seperti ini?”

 

“Apa kakak sungguh akan melepaskan Ify begitu saja? Tidak menemuinya lagi selamanya?”

 

“Apakah kakak sungguh akan pergi? Melepaskan semuannya tanpa berjuang?”

 

“Kakak akan menyerah begitu saja?”

 

“Ify pasti sangat marah dan membenci kakak jika tau kakaknya seperti pecundang, yang sama sekali tak mempertahankannya”

 

Kepala Ando semakin terangkat, ucapan Sivia sangat mengena. Ia harusnya tidak lemah seperti ini. Ia seharusnya tidak kalah dengan papanya. Bukankah sudah lebih dari cukup selama ini Mr.Bov  memberikan siksaan kejam kepadannya? Kenapa ia harus takut dengan sesuatu yang bukan kesalahannya? Ya, benar apa yang dikatakan Sivia. Ia harus mempertahankan adiknya. Harus!.

 

“Gue harus melakukan sesuatu. Lo tunggu disini!!” ucap Ando terlihat buru-buru. Ia meraih ponselnya yang terjatuh dibawah kursi, kemudian dengan cepat berlari meninggalkan Sivia sendirian disana.

 

Sivia mengembangkan senyumnya,  berdo’a untuk Ando.

“Good luck Kak!”

 

*****

 

Ando menaiki tangga darurat untuk menuju rooftop rumah sakit. Ia harus menemui papanya.  Ia yakin bahwa papanya berada diatas menunggu helikopter menjemputnya di helipad rumah sakit. Ando terus berlari dari lantai 4 menuju lantai 15. Nafasnya tak beraturan, dan keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya. Ia terus saja berlari tanpa henti.

 

Ando membuka pintu rooftop, ia mendengar suara mesin helikopter begitu nyaring, ia melihat Mr. Bov dan para pengawalnya mulai bersiap untuk menaiki helikopter tersebut. Ando tak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya. Ia semakin berlari kencang seperti orang gila.

 
“Tunggu!!” teriak Ando memgangi pintu helikopter yang akan di tutup oleh asisten pribadi Mr. Bov.

 

Mr. Bov menolehkan kepalannya, melihat Ando dengan tatapan dingin. Ando membuang segala ketakutannya. Ia mencoba melawan tatapan tajam tersebut.

 

“Berikan saya satu kesempatan lagi” pinta Ando berharap papanya akan luluh.

 

“Tutup pintunya!!” Mr. Bov menatap ke depan kembali, ia begitu acuh dan tak peduli dengan permintaan Ando.

 

Ando memegangi kuat-kuat pintu tersebut, agar tak di tutup. Ia tak mau menyerah.

 

“Pa! Biarkan  Ify disini, Ando janji akan menjaga Ify, Ando akan merawat Ify dengan baik sampai dia sembuh. Ando tidak akan membiarkan hal ini terjadi kembali.”

 

“Ando tidak akan biarkan dia menangis, Ando akan membuatnya bahagia”

 

“Ando sungguh berjanji tidak akan membahayakan nyawa Ify lagi . Ando tidak akan bermain-main dengan nyawannya, Ando bersumpah!”

 

Terndengar tawa sinis yang keluar dari bibir Mr. Bov. Suara tersebut sangat menakutkan dan dapat membuat merinding siapapun. Termasuk Ando, yang mencoba tetap bertahan dengan keberaniannya.

 

“Apa yang kau taruhkan dengan janjimu itu?”

 

“Nyawa!” jawab Ando dengan penuh keyakinan. Ia menghembuskan nafas berat. Kedua matannya semakin menajam.

 

“Habisi nyawa saya jika saya melanggar dari salah satu sumpah tersebut”

 

Mr. Bov tertawa kembali, ia menoleh melihat ke Ando. Tatapanya membunuh.

 

“Saya benar-benar akan menghabisi nyawamu dengan tangan saya sendiri jika kau melanggarnya!”

 

Ando mengembangkan senyumnya. Ia mengangguk-angguk dengan cepat.

 

“Terima kasih Pa, Terima kasih! Terima kasih banyak”

 

“Ando akan menepati sumpah Ando, ando akan menepatinya!”

 

“Cepat tutup pintunya!” perintah Mr. Bov kembali.

 

Ando melepaskan kedua tangannya dari pintu helikopter tersebut, berjalan mundur menjauh. Beban di seluruh tubuhnya seolah lenyap begitu saja. Ia tak menyangka bahwa dirinnya begitu berani melawan Mr. Bov seperti ini. Ya, ini untuk pertama kalinya ia melakukannya. Sungguh gila!.

 

Ando melihat helikopter tersebut lepas landas dan terbang semakin keatas. Akhirnya Ando dapat bernafas dengan bebas, menghirup oksigen di sekitar sepuasnya.

 

“Thanks Mr. Bov”

 

*****

Ando kembali ke ruang tunggu operasi, ia menyusul Sivia yang masih tetap menunggunya disana. Ando berjalan sedikit cepat untuk menghampiri gadis itu.

 

“Makasih banyak Vi” Ando tiba-tiba langsung memeluk Sivia sangat erat, membuat gadis itu mematung tak bisa berkata-kata.

 

“Lo benar-benar penyelamat gue. Thanks banget”

 

“Gue nggak tau lagi kalau tadi nggak ada lo disini. Gue pasti sudah berangkat ke seatlle malam ini. Lo penyelamat gue Vi.”

 

Sivia semakin mematung ketika mendapati illy yang berdiri tak jauh dari dirinnya dan Ando, gadis itu entah datang dari mana, sejak kapan dan illy sekarang telah berdiri tak bergerak ditengah lorong. Sivia perlahan melepaskan pelukan Ando.

 

“Sa—, sa—, sama-sama kak” jawab Sivia mencoba tersenyum. Ia berjalan mundur sedikit menjauh dari Ando.

 

Ando menatap Sivia heran, ia mengernyitkan keningnya. Tak mengerti.

 

“Apa gue di tolak lagi?” tanya Ando dengan suaara miris. Sivia tertunduk.

 

“Sivia harus pulang, besok masuk pagi ke sekolah” Sivia mengalihkan pembicaraan. Ia meraih tas.nya yang ada diatas kursi.

 

“Gue anterin” Ando meraih tangan Sivia.

 

Sivia melirik ke ujung lorong kembali, ia masih dapat melihat jelas illy memperhatikannya. Tatapan gadis itu terlihat kosong dan entahlah tak bisa ia deskripsikan selebihnya.

 

“Ng—, nggak usah kak” tolak Sivia, perlahan menepis tangan Ando dari pergelangannya.

 

Ando mendesah berat.

 

“Lo beneran nolak gue lagi?”’

 

“Apa lo sungguh nggak pernah sedikit pun punya rasa ke gue?”

 

“ Apa lo pernah  menganggap gue sebagai seorang cowok? Bukan kakak dari sahabat lo!”

 

Sivia bingung harus menjawab apa. Ando sepertinya serius dengan ucapannya. Ia mulai cemas, jemarinya bergerak tak pasti memainkan bawah bajunya. Sivia harus mengalihkan arah pembicaraan ini.

 

 

“Illy!! Ngapain disana?” Sivia melambaikan tangannya ke arah illy, ia benar-benar ingin terlepas dari Ando saat ini.

 

Ando mendesah frustasi. Gadis ini benar-benar membuatnya gila!. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.  Ando membiarkan saja Sivia berjalan menjauh, meninggalkannya. Sivia berjalan mendekati illy.

 

“Cih—, 142 kali!”

 

****

 

Illy terlihat mencoba tersenyum, memaksakannya. Ia mendekati Sivia yang juga berjalan ke arahnya.

 

“Gue dari kantin rumah sakit. Beliin ice-americano pengawal-pengawal yang jaga kak Rio” jelas illy dengan menunjukkan satu bungkus kotak ice-americano didalamnya. Sivia mengangguk-angguk.

 

“Gue mau pulang dulu, besok harus sekolah. Lo dan Ify bakal gue izinkan. Tenang aja” ucap Sivia dengan senyum canggungnya.

 

“Makasih banyak Sivia! Lo emang the best!”

 

“Oh ya—,”  illy mengantungkan ucapannya, Sivia mengangkat kedua alisnya, menunggu lanjutan dari ucapan illy.

 

“Lo sama kak Ando tadi ngapain?” tanya illy yang memang begitu penasaran dan dirinnya bukan typikal yang suka menyimpan perasaan. Ia lebih baik blak-blak.an seperti ini.

 

Sivia terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia mencari jawaban yang tepat di otaknya.

 

“Dia hanya senang adiknya selamat, mangkannya sampai nggak sadar meluk gue” jawab Sivia yang sepenuhnya tak bohong. Illy mengangguk-angguk dengan perasaan tak yakin. Ia merasa bahwa Sivia menyembunyikan sesuatu.

 

“Mmm—, lo ada hubungan apa sama  Kak Ando?”

 

“Heh? maksudnya?” Sivia berlagak tak mengerti.

 

“Lo—, Lo suka sama kak Ando?” Sivia menatap illy lekat-lekat.

 

“Nggak lah! Gue udah anggap kak Ando kayak abang gue sendiri!” Sivia menoyor kepala illy dengan senyum merekah di wajahnya. Senyum palsu!

 

Illy langsung ikut tertawa lebar, hatinya melegah mendengar penjelasan Sivia barusan.

 

“Syukurlah, gue kira lo suka sama Kak Ando, lo tau sendiri kan kalau gue suka sama dia”

 

“Iya gue tau kok. “ balas Sivia mencoba tersenyum kembali. Sivia melihat jam tangannya.

 

“Udah mau pagi, gue balik pulang dulu ya. Siap-siap sekolah” pamit Sivia kepada illy.

 

“Oke. Hati-hati ya”

 

“Iya, bye”

 

Sivia berjalan meninggalkan illy, menghembuskan nafas berat yang ia tahan sedari tadi. Entah kenapa ia merasa hatinya terasa aneh seperti ada yang menusuk ketika illy mengatakan pengakuannya. Apakah dirinnya cemburu? Tidak mungkin! Ia hanya menganggap Ando sebagai kakak. Tidak lebih.

****

Ini sudah hari ke-4 Rio dan Ify berada di- Rumah Sakit Arwana dengan keadaan tak sadarkan diri. Mereka berdua masih belum terbangun. Keluarga Rio maupun keluarga Ify bersabar menunggui dua orang tersebut. Mereka terus berdo’a untuk kesembuhan dan kesadaran Rio dan Ify.

 

Illy menggantikan mamanya untuk menjaga sang kakak. Nyonya Abahay pamit pulang sebentar untuk memasakan beberapa makanan yang disiapkannya untuk illy, Ando dan Iqbal.

 

Illy berjalan menuju kamar rawat sang kakak, ia baru saja pulang dari sekolah.

 

“Selamat so—“

 

Illy mematung diambang pintu. Matannya terkejap beberapa kali dengan pemandangan di depannya saat ini. Ia melihat kakaknya sudah terbangun, tersadar dan saat ini dokter sedang memeriksanya. Illy berusaha menahan air matannya yang ingin keluar, Ia begitu bahagia sekali!.

 

“KAK RIOOO!!!” teriaknya kelewat senang. Illy segera berlari mendekati sang kakak.

 

Rio menoleh pelan ke arah sumber teriakan, wajahnya terlihat masih pucat dengan energi yang lemah. Rio berusaha untuk tersenyum.

 

“Akhirnya lo bangun juga!! Sumpah gue khawatir banget! Ahhh!! Gue terharu mau nangis rasannyaaaa” illy semakin berkicau ria membuat dokter dan perawat yang ada disana tertawa renyah.

 

“Kondisinya sudah membaik dan stabil, tinggal pemulihan bekas luka ditubuhnya saja” jelas dokter yang menangani Rio. Illy mengangguk-angguk antusias.

 

“Terima kasih banyak dokter! Terima kasih!” jawab illy dengan senyum yang tak bisa hilang dari bibirnya.

 

“Kalau ada apa-apa, bisa langsung panggil perawat jaga, kami mohon pamit” Dokter dan perawat tersebut undur diri dari kamar rawat Rio, berjalan keluar.

 

Illy lebih mendekat, memastikan bahwa pengelihatannya memang benar bukanlah ilusi, mimpi ataupun imajinasi semata. Ia benar-benar harus memastikan bahwa kakaknya sudah bangun.

 

“Lo beneran udah sadar!!” simpulnya semakin senang. Illy memeluk kakaknya dengan erat.

 

“Sejak kapan lo udah sadar?” tanya illy sangat penasaran sambil melepaskan pelukannya.

 

“Baru saja” jawab Rio dengan suara pelan sekali.

 

“Lo pasti udah kangen berat sama gue? Ya kan? Ya kan?”

 

“Tidak juga” illy mendesis, ternyata sang kaka tetap saja. Kejam!!

 

“Lo harusnya berterima kasih sama gue, Aissh—,”

 

“Pengorbanan gue sangat besar! Besar banget!! gue rela begadang nggak tidur hanya buat jagain lo. Kurang berbakti apa gue jadi adek!!” bibir Rio setengah terangkat, adiknya sama sekali tak berubah.

 

“Ah—, Gue harus telfon mama!! “ illy dengan cepat mencari ponselnya didalam tas, dan menelfon mamanya.

 

Rio hanya menatap saja kegiatan heboh adiknya, ia merasakan tubuhnya berat dan kesakitan masih menjalar di beberapa bagian tubuhnya. Namun, bukan itu yang ia fikirkan. Disaat dirinnya terbangun, wajah Ify lah yang langsung muncul dihadapannya, Ify lah yang langsung ter-ingat di otaknya. Bagaimana gadis itu? Apakah dia selamat? Apakah dia tidak apa-aapa? Rio mencemaskannya. Sangat!

 

“ill” panggil Rio sekuat tenaga. illy menoleh ke kakaknya, ia cukup mendengar namanya terpanggil.

 

“Ada apa kak? Lo butuh apa? Haus? Air? Makan? Lapar? Atau apa? Kasih tau gue, pasti gue kabulkan!! “

 

Rio menggeleng,

 

“Ify—“

 

Rio terdiam sebentar,

 

“Ba—, bagaimana dia?” lanjut Rio dengan hati-hati. Ia memperhatikan ekspresi bahagia adiknya yang perlahan sedikit memudar. Illy terlihat sedikit bingung.

 

“Dia masih belum sadar kak, kondisinya sangat parah kemarin” jelas illy dengan jujur. Ia tak suka berbohong di situasi seperti ini. Toh, kakaknya sudah dewasa dan pada akhirnya juga akan tau.

 

Rio menghela nafasnya, tertunduk.

 

“Pasti dia sangat kesakitan” lirih Rio merasa sangat bersalah. Ya, dirinnya masih ingat jelas bagaimana kecelakaan itu terjadi. Semuanya terekam sempurna di otaknya.

 

“Tapi tenang aja kak, Ify sebentar lagi pasti sadar! Buktinya kak Rio udah bangun. Kakak nggak usah khawatir. Illy pastikan deh, Ify sebentar lagi juga bangun!!”

 

“Pasti itu!!” illy kembali menghibur kakaknya.

 

“Amin” hanya satu kata itu yang bisa Rio ucap, ia benar-benar berharap bahwa gadis itu tidak apa-apa dan cepat bangun. Ia sama sekali tak  bisa tenang, hatinya terpenuhi rasa kecemasan bahkan ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu kepada Ify.

 

****

 

Ando membantu Bi Ina yang sedang mengganti baju Ify. Gadis itu masih tertidur tenang, wajah putihnya terlihat memucat, bibirnya kering. Namun sama sekali tak menghilangkan kecantikannya. Ando menyisir rambut Ify pelan-pelan dan penuh kasih sayang.

 

“Bi ina jadi inget sama nyonya, tuan” ucap Bi Ina membuka suara. Ando menatap Bi Ina, menghentikkan aktivitasnya.

 

“Non Ify begitu mirip sama nyonya, sangat cantik” Ando tersenyum, mengangguk menyutuji ucapan  Bi Ina. Mungkin alasan ini juga yang membuat Papa.nya sangat mencintai Ify, karena adiknya begitu mirip dengan mamanya. Mungkin bukan hanya papanya saja, dirinya juga seperti itu.

 

“Udah gitu kebaikannya juga nggak kalah dari nyonya. Meskipun sikap non Ify dingin seperti Tuan besar, tapi hatinya sangat lembut” Bi Ina merapikan baju kotor yang sebelumnya di pakai oleh Ify, membersikan air kompresan yang digunakan untuk membasuh tubuh Ify.

 

“Bi Ina jadi kangen sama non Ify.”

 

“Kita doakan saja Ify cepat sadar Bi” ujar Ando memberikan semangat dan harapan. Bi Ina tersenyum sambil mengangguk, kemudian meninggalkan Ando yang masih berkutik dengan rambut Ify.

 

Ando merapikan rambut Ify dengan telaten, kemudian menyemprotkan parfume kesukaan Ify ke seluruh tubuh. Ando tersenyum ringan.

 

“Lo kapan bangun? Apa lo nggak kasihan sama kakak lo cemas setiap hari?”

 

“Maafkan kakak Fy” Ando membelai lembut rambut Ify. Menatap adiknya lekat-lekat.

 

“Maaf nggak bisa jaga lo dengan baik, maafkan kakak malah menitipkan lo ke orang lain, kakak emang nggak becus, Maafkan kak Ando”

 

“Cepat bangun, kak Ando janji akan berubah. Kak Ando akan berusaha menuruti semua keinginan lo, merawat lo lebih baik, menjaga lo lebih baik dan menyayangi lo lebih dan lebih baik lagi”

 

“Gue janji”

 

“Lo cepat bangun ya, Dafychi!”

 

Ando mendaratkan ciuman sweet nya ke kening sang adik. Mentransferkan segala energinya kepada Ify, berharap dengan itu adiknya akan terbangun setelah ini. Ya, ia sangat beraharap.

Bersambung . .

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “ENLOVQER DEVIL – 24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s