ENLOVQER DEVIL – 25

ENLOVQER DEVIL – 25

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

*****

 

Ando mendengar kabar dari illy bahwa Rio telah sadar, maka disinilah dirinnya saat ini. Kamar rawat Rio.

Ia berdiri dihadapan kawannya yang masih berbaring lemah, tak berdaya. Ando menatap Rio dari ujung bawah sampai atas. Sedikit mengenaskan.

 

“ Gu—, Gue minta maaf” lirih Rio berusaha memberanikan diri menatap Ando.

 

“Untuk?” sahut Ando dengan nada entang, tanpa beban.

 

“Adik lo” jawab Rio, Ando dapat melihat tatapan bersalah di kedua mata pria itu. Ando tertawa pelan, menyeringgai.

 

“Iqbal sudah cerita kenapa Ify bisa bersama lo malam itu, dan penyebab  kecelakaan masih belum diketahui, tidak ada yang dapat bertanggung jawab karena supir truk yang nabrak mobil lo tewas ditempat” wajah Rio terlihat terkejut mendengar penjelasan Ando.

 

“Tidak ada yang bertanggung jawab? Maksud lo? Kasusnya ditutup?”

 

“Tidak juga, polisi masih berusaha menyelidiki lebih lanjut, apakah memang murni kecelakaan? Bunuh diri? Atau ada dalang dibelakang kecelakaan ini”

 

Rio mendesah pelan,

 

“Pasti mereka mengincar nyawa gue, dan buruknya adik lo selalu ikut terkena”

 

“Mereka?” tanya Ando dengan nada menggantung, ia mengernyitkan keningnya tak paham.

 

“Ya, mereka.” jawab Rio semakin membuat Ando binggung tak mengerti, Rio tersenyum ringan.

 

“Lupakan, gue akan cari siapa pelakunya sendiri” Ando mengangguk-angguk saja. Ia tau bagaimana sifat Rio, pria itu sangat pintar menyembunyikan apapun. Namun, ia yakin suatu hari Rio akan bercerita kepadanya diwaktu yan tepat.

 

Terjadi keheningan beberapa saat. Ando terlarut dengan fikirannya.

 

“Gue boleh minta satu permintaan sama lo?”

 

“Untuk terakhir kalinya” Rio mendapati tatapan Ando yang sangat serius, kedua matannya begitu tajam menatapnya. Ia seperti merasakan bahwa permintaan Ando sangat tidak ia harapkan.

 

“Apa?”

 

“Lo bisa kabulkan?”

 

“Apa?”

 

“Lo bilang iya dulu” paksa Ando, Rio mendecak sinis. Ando selalu saja tak pernah mau mengalah dengannya.

 

“Katakan dulu!” kekuh Rio tak mau kalah, Ando tersenyum tipis, namun bukan sebuah senyum bersahabat.

 

“Lepaskan adik gue”

 

Kini giliran Rio yang menunjukkan senyum tak bersahabat itu, ia sudah dapat menebak arah pembicaraan Ando. Ia tau bahwa Ando akan meminta hal ini. Ia merasakannya.

 

Rio menatap Ando. Memincingkan sudut bibirnya, tak suka.

 

“Gue nggak mau!”  tolak Rio mentah-mentah. Jawaban Rio berhasil membuat amarah Ando mulai naik. Tangan kanan pria itu terkepal.

 

“Kita sudah bersahabat sangat lama, dan gue bisa merusak persahabatan kita demi Ify”

 

“Gue juga!” tajam Rio. Ando kehabisan kesabaran,

 

BUUUKKK

 

            Rio menahan kesakitannya,  merasakan rahangnya memanas, dan nyeri. Ando menghantamkan satu tinjauan di pipi kanannya. Darah segar keluar dari mulutnya, tenaga Ando benar-benar kuat.

 

“Nih” Ando memberikan beberapa tissue  kepada Rio dan diterimannya. Rio segera mengusap darah yang ada di bibirnya.

 

“Gue masih sakit bego!” decak Rio mencoba sabar. Ando tertawa pelan.

 

“Jauhi Ify, gue minta baik-baik kali ini” suara Ando tak sedingin tadi, melembut.

 

“Gue dapetinnya sangat susah, kenapa gue harus melepaskannya?”

 

“Yo!!!” teriak Ando dibuat kesal kembali.

 

“Banyak yang ngincar nyawa lo dan gue nggak mau adik gue ikut jadi korbannya lagi!. Gue takut dia kenapa-kenapa.”

 

“Papa gue hampir bunuh gue semalam gara-gara kejadian ini. Dia hampir akan bawa Ify  ke Prancis. Dan jika itu terjadi, jangan harap lo bisa bertemu dengan dia!” Rio terdiam, meresapi penjelasan Ando. Ia tentu saja sadar bahwa dirinnya selalu membahayakan nyawa Ify.

 

“Gue akan melepaskannya, dengan satu syarat!” Rio menatap Ando, tatapannya serius bercampur memohon. Ando menunggu saja lanjutan dari ucapan Rio, mendengarkannya baik-baik.

 

*****

 

Ando berjalan kembali ke kamar rawat Ify, ia mendesah berat mengatur ruang pernapasannya. Pernyataan Rio terus berputar di otaknya. Ia menyetujui permintaan itu, tidak ada pilihan lain. Ando tiba didepan kamar rawat Ify, ia memegang handle pintu, dan membukanya perlahan.

 

“I—, Ify” Ando terkejut mendapati gadis itu telah ter-sadar. Ify sedang terduduk dengan tatapan mengarah ke luar jendela. Ando dengan cepat menghampiri sang adik.

 

“Lo udah sadar? Lo nggak apa-apa?” Ando meraih tangan Ify, membuat gadis itu perlahan menoleh, menengok ke arah Ando.

 

“Ka—, kamu siapa?”

 

Ando mendesah berat, ia tau hal ini akan terjadi. Adiknya akan berubah sikap dengan perilaku yang lain. Tatapannya begitu tenang dan sendu. Ando sudah beberapa kali melihat otherside-Ify yang seperti ini. Jadi dirinnya tak perlu terkejut. Ia hanya berharap gadis ini akan kembali ke sikapnya semula. Secepatnya!

 

“Gue Ando, kakak lo” jawab Ando dengan senyum yang ia paksakan. Ify terlihat bingung.

 

“Kakak? Kenapa aku tidak ingat punya kakak?”

 

“Lo habis kecelakaan, pasti sekarang masih shock. Tenang aja lo nggak apa-apa, sekarang istirahat dulu. Gue seneng banget lo udah sadar!” Ando memberikan pelukan singkat kepada Ify, kemudian mencium lembut puncak kepala gadis itu.

 

Ando melepaskan pelukannya, menatap Ify kembali yang hanya terdiam.

 

“Dimana Rio?”

 

“Heh?” Ando cukup terkejut dengan pertanyaan Ify barusan. Gadis ini menanyakan Rio? Bagaimana bisa?

 

“Lo kenal Rio? Lo ingat Rio?” Ify mengangguk pelan beberapa kali.

 

“Ba—, Ba—, Bagaimana bisa? Lo kenal dengan dia?”

 

“Entahlah, aku hanya ingat nama itu saja”

 

“Ah—, aku kecelakaan dengan dia malam itu” lanjut Ify seolah mengingat. Ando dibuat takjub untuk kesekian kalinya. Ini untuk pertama kali, sang adik mengingat seseorang ketika dia terbangun setelah pingsan dan mendadak tak ingat apapun.

 

“Lo ingat kejadian kecelakaan itu?” Ando memperhatikan raut wajah Ify nampak berfikir.

 

“Se—, Sedikit”

 

“Lo tau nama lo siapa? Lo ingat nama lo siapa?”

 

Ify terdiam, mematung. Menatap Ando dengan mulut setengah terbuka. Ekspresinya blank.

 

“Ti—, tidak” Ify menggeleng pelan, terlihat bingung.

 

Ando mendesah berat, bagaimana hal ini bisa terjadi? Apalagi yang menimpa sang adik. Tuhan, sembuhkanlah dia!.  Ando mencoba untuk tersenyum, tak ingin membuat sang adik lebih bingung dan tertekan.

 

“Nama lo Ify, Dafychi Guanni Freedy. Itu nama lo. Lo nggak usah khawatir semuanya baik-baik saja, lo jangan takut”

 

“Jadi, lo kembali istirahat sekarang, biar keadaan lo membaik” Ify menggeleng, menolak.

 

“Aku ingin bertemu Rio” ucapnya pelan memohon kepada Ando.

 

“Rio nggak apa-apa Fy, dia sudah sadar dan sehat. Jadi lo nggak perlu cemas.”

 

“Aku ingin bertemu dia” Ify memelas, kedua matannya sedikit berkaca-kaca membuat Ando semakin tak tega.

 

“Dengerin kakak, Fy “ Ando memegang kedua bahu Ify, menatap sang adik dengan tatapan yang lembut.

 

“Lo harus kembali pulih dulu biar bisa bertemu Rio. Jika tubuh lo udah kuat, bisa berjalan. Kakak izinkan lo bertemu Rio” Ify menunduk, raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.

 

Ando menghembuskan nafasnya pelan, ia merasakan bahu Ify bergetar. Ya, gadis ini menangis dalam diam, dan itu membuatnya sangat frustasi. Ando paling tidak bisa jika Ify sudah menangis seperti ini.

 

“Kakak antarkan ke Rio sekarang. Tapi dengan satu syarat’” Ify mengangkat kepalannya cepat, menatap Ando dengan secerca harapan.

 

“Setelah bertemu Rio, lo harus istirahat sampai sehat dan nurut sama kakak” Ify mengangguk kembali seperti anak kecil. Ando tersenyum, melihat Adiknya terlihat bahagia membuatnya juga ikut bahagia.

 

Ando keluar dahulu menemui dokter yang menangani Ify, meminta izin untuk mengeluarkannya dari kamar rawat. Setelah berdebat cukup lama, Ando akhirnya mendapatkan izin. Dengan dibantu oleh perawat, Ando membopong Ify dan mendudukannya di kursi roda.  Tubuh Ify masih begitu lemah. Ando mulai sedikit khawatir.

 

****

 

Ando mengetuk kamar Rio pelan, terdengar sahutan “Masuk” dari dalam. Ando pun membuka sedikit pintu kamar Rio. Ia melihat Pria itu sedang duduk menyender, sambil membaca buku. Rio mengernyitkan kening, binggung.

 

“Ngapain lo kesini lagi?” tanya Rio setengah bercanda. Namun, nadanya terdengar dingin.  Ando mendecak sinis.

 

“Ada yang ingin bertemu sama lo” Rio mengangkat sebelah alisnya,

 

“Siapa?”

 

“Lo pasti sangat terkejut sekaligus bahagia!” tajam Ando, kemudian melebarkan pintu kamar sehingga kini Rio dapat melihat jelas seorang gadis duduk tenang diatas kursi roda.

 

Rio dibuat terdiam, mematung bisu.  Kedua matannya terbuka lebar, kedatangan gadis itu sangat tak ia duga. Ia mengira bahwa gadis itu masih belum sadar. Apakah dirinnya sungguh tidak salah lihat? Rio mencoba memperjelas pandangannya. Benar, itu Ify!

 

Rio mengembangkan senyumnya tanpa sadar.

 

Ando kembali mendorong kursi roda Ify, sampai mereka masuk kedalam. Ando memberhentikkan Ify tepat disamping Rio.

 

Dia kambuh” Ando memberikan aba-aba kepada Rio melalui ucapan mulutnya namun tanpa suara, Rio berhasil menangkapnya.

 

“Kok bisa ingat gue?” tanya Rio balik, menggunakan metode komunikasi yang sama seperti yang dilakukan Ando barusan. Ando hanya mengangkat kedua bahunya, tidak tau.

 

Rio menghela nafas pelan, tak ingin memfikirkannya lebih lanjut.

 

“Lo ngapain masih disini?” tanya Rio sadis kepada Ando yang berdiri di belakang Ify. Ando menoleh ke kanan-kiri seperti orang bego. Apakah pertanyaan itu ditujukan kepadannya?

 

“Lo ngusir gue?”

 

“Ya!” jawab Rio skiptis. Ando mendecak sinis, sahabatnya itu benar-benar tak tau diri.

 

“Gue nggak mau!. Gue ingin nunguin adik gue!” tolak Ando tak mau kalah. Kini giliran Rio yang menatapnya sinis.

 

“Kak Ando bisa keluar?” Ify mengeluarkan suarannya yang sangat lembut, Ia menatap Ando dengan tatapan memohon bah anak kecil. Berbeda dengan sosok Ify yang brutal.

 

Rio menatap Ando penuh kemenangan, menunjukkan senyum remehnya kepada Ando.

 

 

“Assh—“ desis Ando sedikit kesal. Ia menatap Ify sejenak.

 

“Ingat janji kamu tadi, setelah ini istirahat dan nurut sama kakak” Ify menganggukan kepalannya.

 

“Titip adik gue” pesan Ando, ia mengarahkan kedua matannya ke Rio.

 

“Iya”

 

“Jangan lama-lama!”

 

“Gue nggak janji”

 

“YAAA!!” teriak Ando semakin kesal. Rio tertawa pelan.

 

“Gue akan telfon lo kalau dia ingin kembali”

 

“Hm” dehem Ando, Ia mengecup puncak kepala Ify sebentar setelah itu berjalan keluar, meninggalkan Rio dan Ify berdua di kamar tersebut.

 

*****

 

Tak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu. Ify tertunduk, dengan jemari yang terus bergerak tak pasti, memainkannya. Sedangkan Rio terus saja memperhatikan Ify lekat-lekat.

 

“Gimana keaadan lo?” Rio memecah keheningan pertama kali.

 

“Ba—, baik” jawab Ify canggung, ia masih tak berani menatap Rio.

 

“Cih—, lo sebenarnya ingin bertemu sama gue atau tidak?”

 

“Kenapa lo nggak berani natap gue?” Rio mencoba menggoda Ify. Melihat Ify pemalu seperti ini cukup lucu.

 

“A—, Aku berani” Ify perlahan mengangkat kepalannya, kedua bola matannya bergerak-gerak kemana-mana.

 

Rio tersenyum.

 

“Lo ingat gue?” tanya Rio yang memang cukup penasaran dengan hal ini. Ify mengangguk pelan.

 

“Kok bisa?”

 

“Nggak tau” jawab Ify jujur dengan kepolosannya.

 

“Lo ingat apa hubungan kita berdua?” Rio memperhatikan Ify, gadis itu terdiam dengan tatapan bingung.

 

“Apa hubungan kita?” Ify balik bertanya,  membuat Rio dapat bersimpul bahwa gadis ini tak ingat apapun kecuali namanya.

 

“Menurut lo apa?” Rio mengetes gadis ini sekali lagi. Ify terdiam kembali, nampak berfikir.

 

“Aku tidak ingat apapun” lirih Ify lemah. Ia tetunduk dengan ekspresi sedih.

 

“Akan kuberikan clue, kamu tebak”

 

Ify mendongakkan kepalanya, menanti kelanjutan ucapan Rio.

 

“Kita pernah liburan berdua” Ify mulai mendengarkannya baik-baik.

 

“Kita pernah ciuman lebih dari 1 kali” mata Ify setengah terbuka.

 

“Kita pernah tidur seranjang” kedua mata Ify semakin membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

 

“Ap—, Apa kita suami-istri?”

 

“Gue nggak bilang kalau kita pernah melakukan hubungan suami-istri”

 

Ify menautkan kedua alisnya, membentuk kerutan ditengah dahinya. Ia semakin bingung.

 

“Tapi kita tidur seranjang” balasnya dengan wajah yang paling polos. Rio dibuat tersenyum kembali mendengar intonasi suara Ify yang sangat lucu.

 

“Hanya tidur tidak lebih”

 

“Tunangan?” Ify mencoba menebak kembali.

 

“Bukan”

 

“Pacar?”

 

“Kita baru aja putus”

 

“Kalau begitu—, mantan”

 

“That’s right” Ify terlihat kecewa dengan jawaban Rio.

 

“Kenapa kita putus? Apa aku memutuskan kamu?” Rio menahan agar tidak tersenyum kembali. Nada suara Ify seperti anak kecil, sangat menggemaskan.

 

“Gue yang mutusin”

 

“Kenapa?” kedua mata Ify mulai berkaca-kaca, ia terlihat sangat kecewa.

 

“Lo yang minta”

 

“Aku?”

 

“Ya”

 

Ify tertunduk, ia mencoba mengingat-ingat. Tapi dirinya sama sekali tak mendapatkan apapun. Ia benar-benar tak dapat mengingat satu hal pun terkecuali nama Rio dan kejadian kecelakaan itu.

 

“Apa lo sedih putus dari gue?”

 

“Entahlah, hanya saja hati aku sakit mendengarnya. “

 

Inilah yang Rio suka dengan sosok lain Ify yang seperti ini. Gadis itu akan selalu jujur tanpa memfikirkan gengsinya. Ia akan blak-blakan mengungkapkan perasaannya. Sayangnya, Rio tak tau apakah sisi Ify asli memiliki perasaan yang sama dengan sisi lainnya.

 

“Gue akan telfon Ando, biar jemput lo” ujar Rio meraih ponselnya dibawah bantal.

 

Ify menatap Rio kecewa.

 

“Jangan” cegah Ify memohon.

 

“Why?”

 

“Aku masih ingin disini. “

 

“Lo harus istirahat Fy” balas Rio, namun gadis itu menggeleng. Menolak.

 

“Kalau aku kembali, aku nggak bisa kesini lagi. Kak Ando menyuruhku istirahat”

 

“A—, aku nggak bisa bertemu kamu” tangan Rio mengacak-acak puncak rambut Ify, membuat pipi Ify langsung bersemu merah.

 

“Gue yang akan samperin lo, gue yang akan datang ke kamar lo”

 

“Benarkah?” Ify langsung tersenyum, terlihat senang. Rio mengangguk meyakinkan.

 

“Iya”

 

“Janji?”

 

“Janji”

 

“Baiklah” Ify tak dapat menghilangkan senyumnya. Ia sangat bahagia.

 

Rio pun menelfon Ando untuk menjemput Ify. Walaupun ia masih ingin bersama dengan gadis ini, tapi ia tak bisa memaksakan. Wajah Ify terlihat sangat pucat. Ia takut gadis ini akan pingsan lagi dan tambah sakit.

*****

 

Ando telah menjemput Ify kembali, ia membopong sang adik dan membaringkannya ke atas kasur, memasang infuse Ify pada tempatnya dan merapikan selimut Ify. Ando menatap sang adik  yang sedari tadi terus tersenyum, tak henti.

 

“Apa yang buat lo sangat senang?”

 

Ify menatap Ando, tak berani menjawab.

 

“ Rio?”

 

Ify mengangguk sedikit ragu. Wajahnya memerah, malu. Ando tertawa pelan.

 

“Apa lo begitu menyukainya?”

 

“Entahlah, aku hanya senang kalau dekat dengannya”

 

“Waah—, adik gue udah dewasa sekarang” Ando membelai lembut rambut Ify.

 

“Sekarang istirahat ya. Seperti janji lo tadi”

 

Ify mengangguk, menuruti ucapan Ando. Perlahan ia mencoba untuk memejamkan matannya. Melepaskan rasa sakit yang masih terasa di sekujur tubuhnya. Ia ingin bermimpi indah dalam lelapnya.

 

Bersambung . . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “ENLOVQER DEVIL – 25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s