ENLOVQER DEVIL – 26

ENLOVQER DEVIL – 26

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

 

******

 

Oke geys , sebelum baca cerita “EL” part selanjutnya, baca infoku dulu siapa tau penting hehe.

Kemarin aku baru dapat balasan dari penerbitku, dan akhirnya alhamdulillah Stok DELOV-1 dan DELOV-2 masih ada.

– Delov-1 cuma tersisa 30 stok dengan harga Rp. 40.000

– Delov-2 cuma tersisa 150 stok dengan harga Rp. 40.000

Harga Belum termasuk ongkir.

Jadi, kedua novel diberikan diskon hampir 10%, Mumpung masih ada yuk beli daripada nanti nyari-nyari soalnya kayaknya nggak ada cetakan lagi.

Bagi yang ingin pesan langsung aja sms ke adminnya  >> 081946779081  (sms only pasti dibalas)

Dengan Format Pemesanan :

-Nama :

– No. Hp :

– Alamat Selengkap-lengkapnya :

-Pesan Buku :

Nanti admin akan langsung balas dan memberitahukan berapa jumlah semuanya beserta ongkir dan nomer rekeningnya.

Tenang aja bagi yang belum punya uang, kami memberikan kelonggaran waktu membayar sampai 2 minggu. Jadi kalian bisa menabung dulu guys selama 2 minggu itu. Yang penting pesan dulu dan bagi yang pesan DELOV-1 ( NO CANCELED ), Kenapa? soalnya kasihan kalau ada yang ingin pesan tapi ternyata 30 stok udah di pesan dan kamu yang udah dapat stok itu tiba-tiba batalin. Kan kasihan yang nggak dapat stok-nya. Jadi ini benar-benar bagi yang berniat memesan saja segera sms adminnya dan pesan . Stoknya terbatas dan sedikit soalnya. Yuk buruan pesan. Terima kasih dan selamat membaca😀

 

*******

“Gue akan melepaskannya, dengan satu syarat!”

 

Rio menatap Ando, tatapannya serius bercampur memohon. Ando menunggu saja lanjutan dari ucapan Rio, mendengarkannya baik-baik.

 

“Setelah dia sehat berikan gue waktu 24 jam bersamanya”

 

Ando menautkan kedua alisnya,

 

“Hanya itu?”

 

“Ya, just that”

 

“Baiklah.”

 

Ando menganggukan kepalanya. Menyetuji syarat yang diajukan oleh Rio. Meskipun dirinya tidak tau apa yang akan pria itu lakukan dengan adiknya selama 24 jam. Setidaknya, Ando akan mendapatkan keinginanya.

 

****

 

Seperti janjinya kemarin, Rio berkunjung ke kamar rawat Ify hampir setiap hari. Kondisi Rio sudah  membaik. Bahkan ia telah dapat berjalan dengan normal dan besok diperbolehkan untuk pulang.

 

5 hari ini Ify masih belum kembali ke sifat aslinya, ia masih seperti kemarin. Gadis lugu.

 

“Apa lo sudah makan?” tanya Rio merapikan selimut Ify yang sedikit berantakan.

 

“Sudah” jawab Ify sambil menganggukkan kepalannya. Bibirnya tak berhenti tersenyum.

 

“Besok gue udah keluar dari rumah sakit”

 

“Jadi—, lo juga harus segera sembuh”

 

“Benarkah? Apakah kamu akan menjengukku setiap hari?”

 

Rio terdiam sesaat,

 

“Gue harus menyelesaikan pekerjaan gue yang banyak tertinggal. Maaf, gue nggak bisa setiap hari datang” senyum yang menghiasi wajah Ify perlahan memudar, berganti dengan kesenduan.

 

Rio tersenyum, mengacak-acak pelan rambut Ify.

 

“Kalau lo udah sehat, keluar dari rumah sakit. Gue akan ajak lo liburan selama 1 hari”

 

“Benarkah?” sahut Ify kembali antusias.

 

“Iya”

 

“Liburan kemana?” tanya Ify tak sabar dan penasaran.

 

“Mmm—, Lo sembuh dulu. Baru gue akan kasih tau”  Ify nampak tak puas dengan jawaban Rio, ia mengangguk lemas, menuruti saja ucapan Rio.

 

CKLEEKKK

 

Pintu kamar rawat Ify tiba-tiba saja dibuka oleh seseorang. Ia nampak tergesah-gesah dan mendekati Rio.

 

“Kenapa lo?” tanya Rio heran melihat orang tersebut tak lain adalah Ando.

 

“Sivia akan datang kesini, dia nggak boleh tau tentang Ify. Lo bawa Ify keluar sekarang” bisik Ando ke Rio.

 

“Bawa kemana?” Rio bertanya balik ikut bingung.

 

“Ke kamar lo deh”

 

“Ada mama gue disana”

 

“Aissh!. Bagaimana ini?”

 

“Rooftop, bawa dia ke rooftop sekaang juga!” Ando menyenggol bahu Rio untuk cepat bergegas. Rio mendesah berat, pria disampingnya ini selalu saja merepotkannya.

 

Ando berjalan mengambil kursi roda yang ada di pojok.

 

“Kenapa ?” tanya Ify yang tak mengerti dengan kakaknya dan Rio.

 

“Ayo kita ke rooftop cari udara segar” ajak Rio dan pastinya langsung disetujui oleh Ify.

 

Ando membantu Ify berdiri, dan duduk di-kursi roda. Kondisi Ify sendiri sudah dapat dikatakan semakin membaik. Namun, masih belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

 

Setelah itu, Rio mendorong kursi roda Ify, beranjak dari sana seperti yang diperintahkan oleh Ando.

****

Semuanya berjalan seperti yang direncanakan, Sivia datang diwaktu yang tepat. Setelah Rio dan Ify pergi dari kamar rawat. Ando duduk diatas sofa berpura-pura tidak tau tentang kedatangan Sivia.

 

“Ify mana?” tanya Sivia yang muncul dari balik pintu. Sivia menatap kasur Ify yang kosong.

 

“Dia lagi diajak jalan-jalan sama Rio”

 

“Emang sudah boleh? Dia sudah sembuh?” beberapa hari yang lalu Ando terus melarang Sivia untuk datang menjenguk Ify. Namun, kali ini Sivia sangat memaksa ingin datang. Tak mempedulikan larangan Ando.

 

“Kondisinya membaik”

 

Sivia menganggukan kepalannya, ia mendadak diam sejenak. Berfikir apakah dirinnya masuk atau keluar kembali. Karena dikamar ini hanya ada Ando, dan jika ia masuk maka mereka akan berdua disini. Sivia tidak ingin terjebak dalam kecanggungan.

 

“Lo tunggu aja di dalam” suruh Ando, sivia yang hendak keluar mengurungkan niatnya. Ia tak bisa menolak Ando kali ini, pria itu akan merasa aneh dan curiga dengan dirinnya karena akan sangat kentara bahwa ia menjauhi Ando.

 

“Lo udah makan?” tanya Ando memindahkan bantal disampingnya, memberikan ruang duduk untuk Sivia.

 

“Sudah tadi di kantin sekolah” jawab Sivia mencoba biasa. Ia mengambil duduk disebalah Ando. Sedikit memberikan space.

 

“Lo nggak kerja?” Ando mencoba untuk membuat percakapan ringan.

 

“Kerja, tapi ambil shift malam”

 

“Malam? Jam berapa?”

 

“Jam 8”

 

“Pulangnya?”

 

“Mm…. Jam 12”

 

“Ha? Jam 12? “ suara Ando langsung meninggi, Sivia merutuki kejujuranya. Ando pasti akan mulai mengomelinya setelah ini.

 

“Keluar dari kerjaan lo itu, cari yang lain” pertintah Ando, wajahnya terlihat sangat serius. Sivia mendengus pelan.

 

“Nggak mau, udah nyaman disana” tolak Sivia, ia sama sekali tak berani menatap Ando balik.

 

“Yaudah, pilih keluar dari sana atau gue tungguin sampai kerja lo selesai”

 

Sivia mendecak pelan, pria disebalahnya ini memang baik tapi terkadang sedikit menyebalkan. Sivia tau bahwa Ando menyukainya, dan Ando selalu khawatir dengannya. Tapi, ia tidak suka terlalu dikhawatirkan dan merasa cukup dewasa saat ini.

 

“Gue akan keluar dari kerjaan itu!” ucap Sivia dengan pillihannya kini giliran Ando yang mendengus pelan. Ia mendekat ke Sivia.

 

“Lo sebenarnya beneran nggak suka sama gue? Atau benci sama gue?”

 

Pertanyaan itu lagi! Sivia mematung, berfikir keras. Apa ia kabur lagi saja?. Ia ingin sekali mengalihkan pertanyaan Ando. Tapi bagaiman carannya?. Ia tersudutkan.

 

“Gue ke kamar mandi bentar kak” Sivia berniat akan berdiri, namun dengan cepat Ando memegang pergelangan tangannya. Mencegahnya.

 

“Sedikit pun nggak ada perasaan ke gue?”

 

“Gu—, gue udah kebelet banget” mohon Sivia sedikit meninggikan suarannya. Ia mencoba melepaskan tangan Ando. Kedua mata pria itu semakin menajam membuat Sivia sedikit takut.

 

“Jawab pertanyaan gue dulu!”

 

Sivia menghela nafas berat, mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ando. Sivia memberanikan diri menatap balik tatapan itu.

 

“Iya!. Nggak ada sama sekali” jawab Sivia menyembunyikan kekakuannya.

 

“Lo bohong kan?” Ando terus berusaha, bukan jawaban itu yang ia inginkan.

 

“Nggak, gue jawab jujur. Gue hanya anggap kakak sebagai abang gue, nggak lebih!” jawaban Sivia berhasil membuat Ando tertunduk. Perlahan pergelangan Sivia terlepaskan. Terdengar tawa miris dari bibir Ando, membuat Sivia sedikit bersalah.

 

“Ah—, jadi benar ucapan Ify” lirih Ando sangat pelan namun cukup terdengar di telinga Sivia.

 

“Hanya gue selama ini yang mempunyai perasaan itu, dan untuk 143 kalinya gue ditolak”

 

Ando berdiri dari duduknya, ia  berjalan meninggalkan Sivia. Ando keluar dari kamar itu tanpa kata apapun lagi.  Sivia menatap punggung Ando yang semakin menjauh.

 

BRAAKK

 

            Pintu kamar rawat tertutup. Sivia akhirnya sendiri. Tubuhnya melemas, terjatuh duduk diatas sofa. Ia menahan agar bahunya tak begetar, kedua matannya mulai memanas. Dadanya terasa penuh, ia merasakan ada yang aneh di dalam sana.

 

“Aisshh!!!”

 

*****

Rio menduduk-kan Ify di salah satu ayunan yang ada di rooftop rumah sakit. Tak ada orang disana kecuali mereka berdua. Rio pun ikut duduk di samping Ify. Mereka menikmati udara dingin di siang hari. Langit sedikit mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.

 

“Aku ngantuk” lirih Ify, perlahan kepalannya ia sandarkan ke bahu Rio.

 

Rio melirik ke Ify sebentar, membiarkan saja gadis itu melakukan sesukanya. Ify mendekatkan tubuhnya ke dirinnya.

 

“Nanti bangunkan aku kalau ingin kembali ke kamar”

 

“Iya”

 

Ify pun mulai terpejam, entah kenapa ia merasa kedua matannya sangat berat. Ia terlelap dengan cepat. Udara hari ini sangat mendukung untuk tidur. Ify merasakan tangan kananya nya digenggam erat, menyatukan jemari-jemari mungilnya. Ify tersenyum.

 

“Aku sangat senang hari ini”

 

*****

Rio mengarahkan pandanganya ke jam tangan tangan yang ia pakai. Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, suara gemuruh awan terdengar bersamaan dengan rintikan air yang jatuh dari atas langit. Gerimis.

Rio menatap ke gadis disampingya, terlelap pulas. Rio sedikit tak tega membangunkannya.

 

“Fy”

 

“Ify” panggil Rio pelan. Ia menggerakan bahunya.

 

Perlahan gadis disebalahnya merespon, mengerjapkan kedua matannya beberapa kali, mengangkat kepalanya dari bahu Rio. Ia terbangun.

 

“Ayo kita masuk” ajak Rio, suaranya melembut.

 

“Gu—, Gue kok bisa disini”

 

Rio terdiam, memperhatikan Ify lekat-lekat. Tatapan gadis itu sudah berbeda bahkan carannya berbicara pun tak seperti Ify beberapa jam yang lalu bersamanya. Rio mengangkat kedua sudut bibirnya. Tersenyum.

 

“Lo udah sadar?” tanya Rio

 

Ify menoleh balik ke Rio, ia terlihat terkejut dengan kedua mata yang terbuka lebar. Bola matannya bergerak-gerak, menandakan dirinnya kebingungan.

 

“Lo ngapain disini?”

 

“Terus gue dimana?”

 

Ify menurunkan tatapanya, ia menemukan jemarinya digenggam erat oleh Rio. Semakin membuatnya tak mengerti,  ia mencoba mengingat-ingat namun percuma. Tak ada satupun yang ia ingat.

 

“Lo dirumah sakit.” Jawab Rio. Ia melepaskan genggaman tangannya.

 

“Kok bisa?”

 

“Kecelakaan”

 

Ify berfikir sejenak, samar-samar insiden kecelakaan yang menimpanya tergambar di otaknya. Ia mengangguk-anggukan kepalannya. Tapi, bagaimana dirinnya bisa diatas rooftop bersama Rio? Ia tak dapat mengingatnya. Ify memegangi kepalanya.

 

“Kepala gue pusing” rintihnya, Rio dengan cepat memegangi tubuh Ify.

 

“Kita masuk ke dalam” ajak Rio dan langsung di-iyakan oleh Ify.

 

Dengan cepat Rio membantu Ify berjalan ke kursi rodanya, kemudian mereka berdua beranjak dari sana. Ya, Ify sudah kembali ke dirinya semula. Ia telah tersadar.

****

 

Ando berpapasan dengan Rio-Ify ketika akan pergi ke kantin rumah sakit. Ia mendekati kedua orang tersebut.

 

“Dia sudah kembali” ucap Rio pelan kepada Ando yang langsung dapat menangkap maksud Rio. Ando tersenyum legah.

 

“Kak, kepala gue pusing” aduh Ify ketika melihat sang kakak. Ando pun segera mendekati adiknya.

 

“Lo istirahat aja, gue akan panggilkan dokter”

 

“Yo, bawa dia masuk” lanjut Ando memberikan perintah kepada Rio.

 

Ando pun meninggalkan Rio, melanjutkan kembali langkahnya. Ia pergi untuk menemui dokter yang merawat Ify. Ia sangat bersyukur akhirnya sang adik bisa kembali lagi. Ia sangat takut dari kemarin karena Ify tetap bertingkah aneh.

 

****

Rio mendapati Sivia di dalam kamar rawat Ify. Gadis itu masih ada disana, Sivia pun segera membantu Rio untuk menidurkan Ify di kasurnya. Rio merasa ini adalah pertemuan pertamannya dengan Sivia, ia hanya pernah melihat gadis itu dari foto. Ando yang menunjukannya. Rio sangat tau bahwa Ando menyukai gadis berparas manis ini.

 

“Titip jaga Ify, Ando sebentar lagi akan kembali” ucap Rio memberikan pesan kepada Sivia

 

“Iya kak” sahut Sivia sopan,

 

Kemudian Rio beranjak dari kamar rawat Ify, meningglkan dua gadis itu.

 

Sivia mendekat ke Ify yang sedang memejamkan matannya. Tangan Ify memegangi kepalannya. Sivia memberikan pijatan pada telapak tangan Ify.

 

“Lo udah baikan?”

 

“Nggak tau, gue pusing banget”

 

“Lo buat tidur aja sekarang”

 

“Hm”

 

Sivia mengangkat selimut Ify sampai pada bawah leher, merapikan rambut Ify yang sedikit berantakan. Sifat ke-ibuan Sivia terlihat saat ini. Ia merawat Ify bah anaknya sendiri. Sangat telaten.

Tak selang berapa lama, Ando masuk kedalam kamar rawat bersama dengan seorang dokter laki-laki. Sivia memundurkan langkahnya, menjauhi Ify. Ia membiarkan dokter tersebut memeriksa kondisi Ify.

 

Sivia melirik ke Ando sebentar, pria itu sama sekali tak menatapnya. Dia mengacuhkannya. Sivia hanya bisa menghela nafas berat dan tersenyum kecut. Ini adalah kesalahannya sendiri. Ando pasti marah kepadannya. Apa ia minta maaf saja?. Entahlah.

 

“Dia hanya kelelahan. Biarkan dia istirahat” ucap dokter tersebut seusai memeriksa Ify. Ando tersenyum legah,

 

“Iya dok, terima kasih banyak”

 

“Saya pamit dulu, nanti kalau ada apa-apa langsung saja panggil saya kembali”

 

“Iya dok”

 

Dokter tersebut pun pamit dan beranjak dari sana. Keheningan langsung terjadi di dalam kamar ini. Hanya suara air-conditioner yang dapat terdengar.

 

Sivia terlihat bingung, tubuhnya kaku untuk bergerak. Ia tidak berani melakukan apapun. Sedangkan Ando sama sekali tak mengajaknya bicara, pria itu sibuk membersihkan bekas-bekas tissue dan kaleng minuman di atas meja. Seolah menganggap dirinnya tak ada disana.

 

“K—, Ka—, Kak” panggil Sivia pelan, suaranya sedikit gemetar.

 

“Apa?” sahut Ando dingin, pria itu tetap fokus dengan aktivitasnya.

 

“Sivia pulang dulu, habis ini kerja.” pamit Sivia, meraih tas sekolahnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

 

Ando menghentikkan pekerjaan-nya, ia berdiri tegap menatap Sivia.

 

“ Cari pekerjaan yang nggak buat gue khawatir lagi sama lo”

 

“Gue mencoba untuk nerima keputusan lo”

 

Ando terdiam, memfikirkan kata-kata selanjutnya.

 

“Gue akan coba melupakan perasaan gue terhadap lo”

 

Rasa aneh itu kembali muncul, Sivia mengigit bibir bagian dalam, mengepalkan kedua tanganya kuat-kuat menahan agar tidak bergetar. Kenapa dengan dirinnya? Bukankah ini yang ia inginkan? Ando melepaskannya dan tak mengejarnya kembali?. Harusnya dirinya senang.

 

“Sivia minta maaf” hanya itu yang dapat ia ucapkan, Sivia segera mengambil langkah untuk pergi. Ia dengan cepat keluar dari kamar rawat Ify meninggalkan Ando yang masih terus menatapnya.

 

Sivia setengah berlari menjauh dari sana, ia tak sadar bahwa air matannya telah terjatuh. Entah sejak kapan, kenapa dirinnya menangis? Apa yang salah dengan ucapan Ando!. Seharusnya ia bahagia!! Ada apa dengan dirinya! Lo bodoh Sivia! Sangat bodoh! Lo jangan menangis!.

 

“Ya tuhan gue kenapa sih!!”

 

Sivia berhenti di depan rumah sakit, ia membersihkan bekas air matannya, menguatkan dirinya untuk tidak menangis lagi. Ia menghembuskan nafasnya beberapa kali, mendongakkan kepalanya keatas. Menatap langit-langit atap.

 

“Vi lo kenapa?” suara tersebut mengagetkan Sivia, ia menoleh ke belakang dan mendapati illy berdiri disana dengan wajah bingung.

 

“Lo habis nangis?” tanya illy dengan ekspresi semakin khawatir. Sivia gelagap sendiri mencari alasan.

 

“Gue hanya kelilipan barusan. Mata gue terus ber-air” jawab Sivia dan berpura-pura menggosok-gosok mata kananya. Ia melirik ke illy sebentar, gadis itu sepertinya mulai percaya.

 

“Nih pakai tissue” illy memberikan sehelai tissue kepadanya, Sivia dengan cepat menerimannya.

 

“Apa perlu gue belikan obat mata?”

 

“Nggak usah ly, gue habis ini mau langsung kerja. Takut telat”

 

“Oh gitu” illy mengangguk-anggukan kepalannya. Ia merasa ada yang sedikit aneh dengan tingkah Sivia.

 

“Lo beneran nggak apa-apa?”

 

“Nggak apa-apa illy, gue duluan ya. Bye” Sivia langsung kabur begitu saja dari hadapan illy.

 

“Gadis aneh” decak illy tak paham, ia mengangkat kedua bahunya dengan raut wajah masih bingung. Setelah melihat jejak Sivia yang tak terlihat lagi, illy kembali masuk ke dalam rumah sakit.

 

****

 

Ando memjijat pelipisnya, ia merasa kepalanya terasa berat. Fikirannya kembali teringat dengan jawaban Sivia beberapa jam yang lalu. Tentu saja membuatnya marah dan sakit hati. Ia tidak tau apakah Sivia telah memberikan jawaban yang jujur kepadanya atau tidak. Namun, dari ekspresi yang tergambar pada wajah gadis itu, sangatlah meyakinkan.

 

“Aissh!” desis Ando sangat frustasi. Ia menyukai Sivia sudah sangat lama dan hasilnya hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Mengenaskan!

 

CKLEEEKK

 

            Suara pintu kamar rawat Ify terbuka, Ando menatap ke arah pintu tersebut, ia mendapati illy muncul dari balik pintu dengan cengiran khasnya.

 

“Masuk il” suruh Ando dan dituruti oleh gadis itu yang perlahan melangkah lebih masuk.

 

“Ini dari mama kak” illy memberikan dua kotak bekal makanan. Meletakannya diatas meja. Sejak dirinnya dirumah sakit menjaga Ify, illy sering mengirimkan makanan untuk-nya. Untung saja waktu illy berkunjung tepat ketika Ify tertidur. Seperti sekarang.

 

“Lo sendiri sudah makan?” tanya Ando, tanganya membuka satu bekal dihadapannya.

 

“Belum kak” jawab illy berbohong. Beberapa menit yang lalu ia telah menghabiskan satu kotak pizza yang dibawakan oleh mamanya.

 

“Yaudah makan aja sama gue”

 

Dewi fortuna berada di pihak illy. Gadis itu tidak menolak kesempatan emas tersebut, tak peduli dengan perutnya yang sudah kenyang. Ia segera mengambil duduk disamping Ando.

 

“Kak suapin, sendoknya cuma satu” rengek illy manja, ia menatap Ando memohon.

 

“Iya” Ando menuruti saja, toh dirinnya sendiri sudah menganggap illy seperti adiknya.

 

Illy tak bisa menyembunyikan rasa bahagiannya, ini untuk pertama kalinya Ando menyuapinya. Ia merasa seperti melayang diatas awan. Seorang pria tampan sedang memperlakukan dirinya bah ratu. Sangat romantis.

 

“Kak gue boleh tanya?” illy mengeluarkan suarannya kembali di sela makan.

 

 

“Apa?” sahut Ando setelah memasukan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Ando menolehkan wajahnya, menatap illy.

 

“Lo udah punya pacar?”

 

illy mulai sedikit was-was, menunggu.

 

“Belum” jawab Ando jujur tanpa beban. Illy bersorak dalam hati. Ini adalah jawaban yang ia mau.

 

“Kenapa? Lo nggak pingin nyari pacar?”

 

“Lo cakep, mapan, semuanya lo punya” illy nampaknya semakin penasaran.

 

Ando terdiam sejenak, berfikir.

 

“Nggak ada yang mau sama gue. Mungkin” Ando setengah asal menjawab.

 

“Kata siapa?” illy nyolot tak terima

 

“Gue barusan” sahut Ando lebih santai.

 

“Ada kok yang mau sama lo” illy memberikan keyakinan. Ando tertawa pelan,

 

“Masak? Siapa? Nggak ada yang mau sama gue”

 

“Ada! Gue! Gue mau sama lo!”

 

Ando membelakakan kedua matannya, terkejut dengan pengakuan illy barusan. Begitu pun dengan illy, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat merutuki jawabannya yang keceplosan.

 

Ando kembali tertawa, kemudian mengacak-acak puncak rambut illy.

 

“Habiskan makanan lo. Gue belikan minum sebentar”

 

Ando tak merespon ucapan illy, ia tak ingin membuat kecangungan antar mereka berdua. Ando berdiri dari kursinya dan beranjak keluar. Ia lebih memilih menjauhi percakapan tersebut.

 

“Aduh!! Illy lo bego banget sihh!!”

 

“Mulut lo beneran nggak ada rem-nya! “

 

Illy memukul-mukul mulutnya sendiri. Menyesali perbuatannya barusan. Ia takut Ando akan jadi il-feel dan menjauhi dirinya. Tapi, setidaknya ia sudah jujur dengan perasaannya. Illy merasa Ando juga menyukainya. Buktinya perlakuan Ando ke dia selama ini begitu baik dan lembut. Bukankah begitu?

 

“Kak Ando pasti juga suka sama gue!”

 

“Gue yakin itu!!”

 

“Pasti!!”

 

Bersambung . . . .

 

 

 

 

One thought on “ENLOVQER DEVIL – 26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s