ENLOVQER DEVIL – 27

ENLOVQER DEVIL – 27

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

Rio kembali ke-aktivitasnya semula. Se-keluarnya dari rumah sakit, dirinnya tak pulang kerumah melainkan langsung ke kantor. Mamanya marah besar, mencegahnya namun dirinya tetap kekuh. Akhirnya, Nyonya Abahay hanya bisa pasrah.

 

Kembalinya Rio bekerja membuat karyawannya senang, bersykur namun juga takut. Aura sosok Rio yang dingin, tegas dan kejam akan mengawasi mereka semua. Setidaknya, dengan kembalinya Rio perusahaan dapat kembali ber-operasi dengan normal.

 

Rio menggaruk-garuk belakang tengkuk-nya yang sebenarnya tak gatal, ia membuka pintu kerjanya dan langsund di-suguhi tumpukan laporan dan proposal setinggi 15 cm, ya… kira-kira setinggi itu. Ia harus memeriksanya. Sambutan yang cukup mengesankan.

 

“Pak, nanti malam Tuan Patric meminta bertemu dengan bapak, beliau ingin membahas kontrak pegawai outsourcing yang bapak minta beberapa bulan yang lalu. ” Agni, sekretaris Rio memberitahukan schedulle Rio dengan hati-hati.

 

“Kamu atur saja jam dan tempatnya, saya akan menemuinya”

 

“Baik Pak” Agni segera undur diri, menutup ruang kerja Rio. Meninggalkan boss nya disana sendiri.

 

Rio mendesah pelan, ia berjalan mendekati meja kerjanya. Memilah-milah laporan sekilas, kedua matanya langsung lelah.

 

“Bisa nggak tidur hari ini”

 

****

            Ando membuka pintu kamar rawat Ify, ia mendapati adiknya sedang asik duduk di atas brankar-nya dengan kedua tangan memainkan PSP-3600 yang dibawakan Iqbal tadi siang. Ando menaruh amplop hasil lab Ify di atas nakas yang tak jauh dari jendela.

 

“Kapan gue boleh pulang?” tanya Ify tanpa mengalihkan keseruannya.

 

“Lusa” jawab Ando, berjalan mendekati Ify.

 

“Sekarang nggak boleh?”

 

“Lo harus benar-benar sembuh total”

 

“Gue udah sembuh”

 

Ando menghela pelan, Ify selalu keras kepala. Ia tak ingin beradu argument dengan sang adik. Toh, Ify sendiri tidak akan berani kabur dari rumah sakit.

 

“Aish! Sial” decak Ify kesal karena game over, ia melemparkan benda cukup-panjang itu ke sembarang tempat lalu menatap kakaknya yang duduk diatas sofa, terdiam.

 

“Sivia kenapa nggak kesini?” tanya Ify yang memang tak melihat Sivia lagi. Tidak mungkin gadis itu membiarkannya sendiri dirumah sakit.

 

Tak ada jawaban dari Ando, pria itu berkutik pada ponselnya.

 

“Kak!” teriak Ify kesal karena tak dihiraukan.

 

“Nggak tau” jawab Ando dengan nada malas, Ify mengernyitkan kening. Apa ia tak salah dengar? Kenapa dengan sang kakak? Biasanya mendengar nama “Sivia” membuat Ando langsung semangat dan senyum-senyum sendiri.

 

“Lo ditolak lagi sama Sivia?” tebak Ify.

 

“Waaa—, udah berapa berarti? 142? 143? 145? Atau 200? “

 

Ando melirik skiptis  ke adiknya, Ify normal memanglah sangat menyebalkan!. Ia mencoba bersabar, memasukkan ponselnya kembali ke kantong celananya.

 

“143 kali, puas!! “

 

“HUAKAKAKAKA”

 

Ify langsung terbahak lepas, ia tak bisa menyembunyikan tawanya. Kakaknya benar-benar malang. Bagaimana bisa Sivia menolak Ando sampai sebanyak itu. Amazing.

 

“Tapi gue pastikan itu yang terakhir kali gue ditolak” suara Ando terdengar serius, seketika tawa Ify terhenti.

 

“Maksud lo? Sivia nerima lo? Suka sama lo?”

 

Ando menggeleng lemas,

 

“Gue menyerah. Gue nggak akan ngejar dia lagi”

 

Apakah Ify tidak salah dengar lagi? Apa yang kakanya baru saja katakan? Give up? Setelah sekian lama akhirnya menyerah sekarang? Ini bukan seperti sang kakak. Apa telah terjadi sesuatu antara Ando dan Sivia?

 

“Udah nggak usah dibahas. Lo cepat minum obat di tabung label kuning. Habis itu istirahat” suruh Ando sambil berjalan mendekati Ify, memberikan segelas air putih.

 

Ando tak mempedulikan tatapan Ify yang curiga dan bingung ke arahnya.  Bukan di waktu sekarang ia bercerita. Yang terpenting adalah kesehatan Ify dan kesembuhan Ify. Itu yang harus Ando prioritaskan.

****

Sivia dan illy hampir budrek setiap hari diganggu oleh Brian karena terus menanyakan keberadaan Ify. Brian memang tak tau insiden yang menimpa Ify. Ando menyuruh untuk merahasiakan, Jadi illy dan Sivia menyimpannya baik-baik. Jika ditanya dimana Ify, mereka serempak akan menjawab “Ify sedang liburan keluarga” end.

 

“Kalian bohong kan? Sebenarnya dimana Ify?” Brian kali ini langsung mendatangi kelas Sivia dan illy, menyebabkan kehebohan di sekitar kelas. Banyak school-zen yang penasaran, berhamburan menonton.

 

Sivia mendecak kesal. Kelasnya jadi rame dipenuhi dengan siswi-siswi tukang kepo. Ia tak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.

 

“Ify pulang ke prancis kak, Papanya kemarin datang ke Indonesia jemput dia” Sivia tak sepenuhnya berbohon. Mungkin 50:50. Atau 70:30.

 

“Kenapa dia tiba-tiba ke prancis?”

 

“Kenapa nggak lo tanyakan ke Ify saat dia datang aja. Kita cukup sibuk sebagai sisiwi. Banyak tugas!” kini giliran illy yang sewot. Ucapan illy langsung diangguki Sivia.

 

“Kapan dia pulang?”

 

“3 hari lagi mungkin”

 

“Baiklah kalau begitu. Thanks” Brian memberikan senyum perpisahan, kemudian beranjak dari kelas Sivia dan illy.

 

Mereka berdua akhirnya dapat bernafas legah, perlahan kerumunan disekitarnya mulai buyar, menyisahkan bisikan-bisikan praduga yang tak perlu mereka berdua hiraukan. Tidak penting!.

 

“Cakep sih, tapi menjengkelkan!” gerutu illy masih kebawah kesal. Sivia menyodorkan botol minumannya, membantu illy mendinginkan kepala dan emosinya.

 

“Thank you sivia”

 

“Yah” Sivia konsen kembali pada buku latihan soal di depannya. Karena semalam dia pulang sangat malam, ia tak sempat mengerjakan tugas Fisika yang mestinya dikumpulkan sepulang sekolah nanti.

 

Sivia bisa saja mencontoh punya illy yang sudah selesai, tapi Sivia tidak mau. Ia bukan gadis pemalas dan tidak berusaha dahulu. Sivia sedikit takut posisi peringkatnya akan tergesar oleh illy. Gadis disampingnya ini, meskipun kelakuannya-diluar nalar tapi ke pintarannya juga diluar nalar. Sivia sampai geleng-geleng sendiri ketika dihadapkan dengan dua sahabatnya. Bagaimana bisa Ify dan illy sepintar itu? Tanpa mendengarkan guru menjelaskan saja mereka berdua dapat paham dengan cepat, materi yang diajarkan. Meskipun terkadang illy masih suka bertanya kepada Ify tapi setidaknya kemampuan illy masih diatas Sivia.

 

Sivia mulai takut beasiswanya akan lenyap. Ia tak boleh bermalas-malasan sekarang.

 

*****

 

The day After Tomorrow. Ify memriksa ponselnya, tidak ada notifikasi apapun yang diterimannya. Setelah mengantarkanya kembali ke kamar dari rooftop kemarin ia sama sekali tak melihat Rio lagi. Ify jadi bingung sebenarnya hubungannya dengan Rio ini disebut apa? Sampai mana? Jadian nggak, balikan nggak, dekat mungkin iya, tapi Ify masih belum yakin apakah Rio juga benar-benar menyukainya dan mencintai dirinnya. Ya, seperti dirinya yang tak menolak lagi kebenaran perasaanya.

Ini adalah hari kepulangan Ify dari rumah sakit, ia sedikit berharap Rio datang. Tidak salah kan?

 

“Aish! Menyebalkan!!” kesal Ify, ia melemparkan ponselnya.

 

“Apa gue message aja?”

 

“Atau gue telfon?” Ify mempertimbangkan, meraih ponselnya kembali.

 

“Argss! No! Harga diri!!”

 

Dengan cepat Ify membuang kembali ponselnya, menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memukul tangannya sendiri, melarang untuk berbuat aggresive, Bukan style Ify jika seperti itu. Ia selau menjaga image-nya dengan rapi dan baik. Ia tak mau terkesan murahan.

 

“Lo dari tadi kayak orang gila tau nggak kak? Heran gue lihat lo kayak bianglala kurang oli!” omel Iqbal yang sedari tadi memperhatikan kakaknya.

 

Ify langsung terdiam, ia melupakan keberadaan sang adik yang entah sejak kapan telah berada di kamar rawatnya.

 

“Lo mau nelfon siapa? Sini gue telfonkan, Siapa? Kak Rio?”

 

“Apaan sih! Nggak! Siapa juga yang mau telfon Rio” Ify mendadak kesal lagi, entahlah mungkin ia marah kepada dirinya sendiri karena sifatnya yang memalukan barusan.

 

Pintu kamar terbuka, Ando datang dengan tagihan rumah sakit yang baru saja ia bayar. Ando menatap kedua adiknya.

 

“Udah siap?”

 

“Apanya?” serempak Ify dan iqbal bersamaan, tak paham.

 

“Pulang”

 

“Gue sih udah dari seminggu lalu siap” jawab Ify asal, Ando hanya geleng-geleng.

 

“Semua barang-barang sudah dibawah Mr. Lay pulang tadi.” Lapor Iqbal dan kembali asik dengan PSP-3600 miliknya.

 

Ando berjalan menghampiri adik perempuannya.

 

“Lo boleh keluar hari ini tapi masih tetap harus control. Jaga kondisi lo dengan baik, jangan sampai sakit lagi”

 

“Hmm” Ify mengangguk, tak tau juga harus bereaksi bagaimana. Tatapan Ando sangat serius.

 

“Ayo kita pulang”

 

Iqbal berdiri dari kursi, keluar duluan meninggalkan dua kakaknya. Ify dibantu oleh Ando duduk di kursi roda. Sebenarnya ia bisa saja berjalan, tapi ia sedang sangat malas. Setidaknya ada keuntungannya jika ia sakit begini, bagai seorang ratu yang selalu dituruti apapun kemauannya.

 

“Lo mau makan apa sebelum pulang?” tuh kan, apa katanya? Tanpa diminta semua keinginanya pasti akan ditanyakan.

 

“Pizza, large pizza double cheese” Ando manggut-manggut, memang itu adalah makanan kesukaan sang adik.

 

Mereka berdua beranjak dari sana, Ify sangat legah akhirnya dirinya dapat menghirup udara segar kota metropolitan ini. Meskipun polusi dimana-mana yang ia dapatkan, setidaknya ia merasa bebas. Sangat bebas.

 

*****

Sivia ikut nebeng illy ke rumah Ify, mereka berdua memang telah merencanakan untuk berkunjung ke rumah Ify, menengok gadis itu yang baru saja keluar dari rumah sakit. Ditangannya, Sivia membawa sebungkus pizza kesukaan sahabatnya.

 

“Lo nggak kerja?” tanya illy, tangannya membuka pintu kamar Ify. mereka berdua telah masuk kerumah Ify.

 

“Udah keluar” jawab Sivia, wajahnya sedikit kesal mengingat perintah Ando kepadanya beberapa hari yang lalu.

 

“Kenapa?”

 

“Entahlah, gue ingin cari kerja lain saja” jawab Sivia berbohong, padahla dirinya telah bekerja disana hampir 1 tahun. Ia jadi ingat kejadian malam pengunduran dirinya, managernya tak mengizinkannya dan tetap kekuh mempertahankannya. Tapi mau bagaimana lagi Sivia sudah berjanji.

 

“Sepertinya mereka sudah datang, ayo turun” ajak illy, samar-samar mendengar suara Iqbal beradu dengan Ify.

 

Sivia mengikuti illy dari belakang, turun dari tangga menuju ruang tengah. Ia menyiapkan mental dan hatinya untuk bertemu Ando. Sudah beberapa hari ini memang Ando menjauh darinya, biasanya setiap hari pria itu akan mengirimnya pesan sekedar menanyakan apakah dia sudah makan? Apa yang dia lakukan? Namun, tidak ada lagi pesan seperti itu.

 

“ Hallo !!” teriak illy mengejutkan. Namun, Ify, Ando dan Iqbal sama sekali tak terkejut.

 

Mata Ando tak sengaja bertemu dengan Sivia. Detik berikutnya, ia langsung memalingkannya mengarahkan ke arah lain.

 

“Lo nggak kerja? Kok bisa disini?” tanya Ify sedikit kaget dengan kedatangan Sivia, ia sangat hafal jadwal kerja sahabatnya.

 

“Udah keluar” jawab Sivia tenang.

 

“Kok bisa? Dipecat?”

 

“Nggak, pingin aja. Gue mau cari kerjaan lain”

 

Sivia mengarahkan kedua matanya ke Ando, pria itu sama sekali tak melihatnya. Sivia tersenyum masam. Pada akhirnya apakah ini yang disebut penyesalan? Entahlah.

 

“Gue belikan pizza buat lo” Sivia menyodorkan sekotak pizza, langsung diterima oleh Ify.

 

“Gue juga barusan beli, yaudah kita pesta pizza”

 

“Gue ambilkan minum dulu” Ando ngeluyur ke dapur, meninggalkan 3 gadis remaja yang mulai heboh sendiri.

 

Ify, Sivia dan illy duduk di sofa ruang tengah. Mereka  mulai berbincang dari A-Z, seperti biasa illy-lah yang paling banyak bicara. Ify dan Sivia hanya sebagai pendengar dan fokus memakan pizza mereka.

 

“Ambilkan gue piring kecil” pinta Ify kepada Sivia,

 

Sivia berjalan ke dapur, ia mencari-cari keberadaan piring kecil di salah satu bucket. Ia lama tidak kerumah Ify jadi lupa dengan tatanan piring di dapur rumah ini. Sivia menjinjitkan kakinya, ia menemukan piring itu sedikit berada didalam.

 

“Eh—“ kaget Sivia mematung, sebuah tangan dari belakangnya meraih piring tersebut. Sivia merasakan tubuh orang itu dekat sekali dengannya.

 

“Nih” Sivia membalikan badannya, mendapati Ando menyodorkan piring yang ingin ia ambil. Sivia menerimanya dengan cepat.

 

“Makasih kak”

 

Ando tak membalas, langsung pergi begitu saja. Sivia tersenyum kecut, menahan gejolak penuh di dadanya, Ia berjalan kembali ke ruang tengah.

 

Sivia mengambil duduk disamping Iqbal, karena hanya tempat duduk itu yang tersisa. Ando mengambil kursinya dan melihat pria itu bersebelahan dengan illy. Lo nggak cemburu Via, sama sekali!. Ya, Nggak!

 

“Kak lo nanti malam bisa anterin gue?” illy merengek ke Ando.

 

“Kemana?” Ando menoleh ke illy, memberikan satu potong pizza lagi ke gadis itu.

 

“Mama nyuruh ambil beberapa baju di butik Queena, gue males kesana sendiri”

 

“Hmm, gue anterin”

 

Bukan hanya illy yang dibuat terkejut, mendadak hening. Ify dan Iqbal menatap kakanya dengan tatapan seriously??. Tak bisanya Ando menuruti permintaan seseorang gadis, apalagi ini permintaanya mengantarkan ke butik. Bukan sebuah permintaan yang penting.

 

“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Ando ke sekitar, ia sedikit risih mendapat tatapan seperti itu.

 

“Iya! Otak lo yang salah” sahut Ify sambil geleng-geleng tak mengerti dengan kakaknya.

 

“Jam berapa?” tanya Ando ke illy, tak mempedulikan adiknya.

 

“Jam 7.an”

 

“Oke”

 

“Sekalian nanti kita makan malam diluar nggak apa-apa kak?” illy merajuk kembali, mencoba peruntungan lagi.

 

“Oke. Terserah lo aja”

 

Ify langsung mengambil air putih di depannya, pizza yang baru saja masuk kedalam mulutnya, menyenggrak tak mau turun. Ando benar-benar tak waras.

 

“ Waah—, dia keracunan infuse rumah sakit kayaknya. Takut gue” Iqbal bergidik, beranjak dari sana. Ia sudah cukup kenyang, memilih ke kamarnya. Ando mengangkat bahunya, acuh.

 

Sivia sebisa mungkin ikut tersenyum, ia mencoba menjadi penonton yang baik. Walaupun, perasaan aneh itu kembali datang. Ia sangat kenal bagaimana Ando. Pria itu kaku dan tidak mudah diajak keluar jika hanya untuk hal-hal yang tidak penting. Namun, kali ini dengan mudahnya Ando mengiyakan permintaan illy. Apakah Ando hanya ingin membuatnya panas? Aish! Apaan sih sivia! Lo terlalu kepedean.

 

Sivia menghela nafas panjang, ia merasa tidak nyaman disini.

 

“Fy, gue harus balik sekarang” pamit Sivia, ia mengenakan tasnya kembali.

 

“Kenapa? Kok buru-buru?” sahut Ify dengan mulut comot karena saos. Ando dengan sabar membersihkan mulut sang adik.

 

“Gue ada interview kerja, gue ngelamar kerja ditempat lain” bohong Sivia,

 

“Oh… Biar dianterin sama Kak Ando”

 

“Mana mau dia” sahut Ando dengan nada tak enak. Mata dan tangannya fokus membersihkan kotoran-kecil ulah adiknya yang nggak karuan makan pizza.

 

“Lo berdua kenapa sih? Bertengkar?” tanya Ify to the point. Merasa aneh dengan sikap Ando dan Sivia yang tak biasannya.  Tak ada yang menjawab, Ify mendengus pelan.

 

“Kak lo anterin Sivia sekarang, dan lo—“ Ify mengarahkan jari telunjuknya ke Sivia.

 

“Nggak usah nolak” tajam Ify,

 

Sivia mengangguk pasrah, ia tak berani menolak jika Ify menatapnya seperti itu, menakutkan. Sivia pun membuntutui Ando yang sudah keluar tanpa sekata apapun.

 

“Hati-hati Vi” teriak illy dari dalam, ia sudah terlanjur kegirangan karena Ando menuruti permintaanya, jadi tak perlu ada yang di-cemburukan melihat Sivia dan Ando. Toh, Sivia juga sudah bilang bahwa ia tak menyukai Ando.

 

“Seneng banget wajah lo!” sindir Ify.

 

“Banget dong! Aaaargss!! Bahagiannya gue” teriak illy tak karuan. Ify hanya dapat geleng-geleng saja.

 

****

Didalam perjalanan. Tak ada yang membuka percakapan. Ando fokus menyetir dan Sivia menatap luar jendela, tatapanya kosong. Ini untuk pertama kalinya ia merasa canggung dan tak nyaman berdua dengan Ando di mobil. Biasanya pria itu akan menanyai dirinya dengan beribu pertanyaan, dan menghiburnya dengan  jokes yang garing.

 

Sivia menyunggingkan senyumnya tanpa sadar, mengingat kejadian-kejadian itu sedikit ia rindukan.

 

“Kak, turunkan sivia di pertigaan lampu merah depan saja” pinta Sivia, ia tak bisa lama-lama disini. Sangat tak nyaman, sungguh.

 

Ando mengangguk,

 

“Oke”

 

Sivia menghela pelan, Ando benar-benar berubah. Tak peduli lagi, biasnya Ando akan tetap kekuh mengantarkannya, tak mempedulikan permintaan Sivia. Namun, kali ini dengan mudahnya Ando mengiyakannya.

 

Ando menyalakan sein mobil, mengambil jalur kiri. Kemudian memberhentikan mobilnya. Sivia bersiap melepaskan seatbelt.

 

“Ma—, makasih banyak kak” Sivia mencoba setenang mungkin. Ia membuka pintu mobil Ando.

 

“Eh—“

 

Kaget Sivia, sebuah tangan menahannya. Sivia membalikkan tubuhnya, ia mendapati Ando menatapnya begitu tajam. Membuatnya takut sekaligus bingung. Sivia tak berani menatap lama, ia menurunkan pandanganya.

 

“Lo beneran nggak merasa bersalah?” Sivia diam saja, tak berniat menjawab.

 

“Ah—, baiklah! Sepertinya harapan gue terlalu besar” tangan Ando mengendor sampai akhirnya terlepas.

 

Sivia dengan cepat keluar dari mobil Ando, tak ingin membuat pria itu semakin sakit hati dengannya. Ini sudah keputusan bulat Sivia. Setelah keluar, mobil Ando langsung melesat begitu cepat.

 

Sivia mengatur nafasnya, aliran darahnya begitu cepat. Sekali lagi, perasaan aneh datang kembali. Entahlah, Sivia masih tak memahami perasaan apa itu.

 

*****

 

          Malam hari. Ify sendiri dirumah, Ando masih belum pulang karena mengantarkan illy dan Iqbal baru saja pamit ke mall kompleks untuk membeli perlatan game terbaru. Ify merasa bosan, yang ia lihat sedari tadi hanya pria-pria berpakaian jas hitam. Ify jadi penasaran apakah pengawal-pengawalnya ini tidak pernah ganti baju? Atau mungkin saja mereka punya baju yang sama selusin? Ya, mungkin saja.

 

Ify berjalan ke teras rumah, mencari udara segar. Ia tak sengaja melihat mobil Rio terparkir di depan rumah. Bibir Ify terangkat, pria itu ada dirumah.

 

“Aku ke rumah depan sebentar” izin Ify kepada salah satu pengawalnya.  Ia buru-buru berjalan keluar rumah.

 

Ify mendapati gerbang rumah yang tak dikunci, sepertinya pria itu baru saja pulang. Ify pun dengan cepat masuk kedalam rumah Rio.

 

Ify tak mendapati siapapun di dalam, sepi dan hening. Ify semakin melangkah masuk, sampai akhirnya kakinya terhenti. Ia mendapati sosok Rio turun dari tangga sambil membawa handuk kecil, mengeringkan rambut. Pria itu baru saja selesai mandi.

 

Rio terkejut dengan kehadiran Ify, namun hanya sesaat.

 

“Lo ngapain?” tanyanya datar. Rio berjalan ke arah dapur.

 

“Gu—, Gu—, Gue mau ambil buku yang dipinjem sama illy” jawab Ify dengan cepat, alasan yang sangat classic. Tapi sepertinya berhasil.

 

“Ahh”

 

Hanya itu? What is that? Pria itu hanya merespon dengan satu kata yang tak ada maknanya sama sekali. Dasar pria dingin angkuh!! Menyebalkan!. Sangat!

 

Ify menjadi tak berhasyrat lagi disini, ia berniat kembali saja kerumahnya. Ify membalikkan badannya, berjalan keluar.

 

“Lo nggak jadi ke kamar illy?”

 

“Nggak!” jawab Ify jutek, ia terus berjalan tak berbalik.

 

Rio tersenyum ringan, ia tentu saja tahu bahwa gadis itu berbohong dengan alasan ke kamar illy.

 

“Lo udah makan?”

 

Langkah Ify langsung terhenti, kekesalannya melayang pergi begitu saja. Ia menahan senyum di bibirnya. Ify mengambil nafas dalam, menghembuskannya. Mengatur ekspresinya sesaat, kemudian membalikkan badan.

 

“Belum” jawabnya, memberanikan diri menatap Rio.

 

“Lo bisa masak?” Ify menggeleng pelan.

 

“Duduk, gue buatkan bubur kacang hijau”

 

Ify berteriak dalam hati, tak mau melewatkan kesempatan berharga ini. Ia segera duduk di kursi dekat pantry dapur. Melihat Rio yang mulai menyalakan kompor, merebus air. Pria itu memasak bubur kacang hijau instan.

 

“ Lo baru pulang kerja?” tanya Ify membuka obrolan.

 

“Bisa dibilang iya bisa juga tidak” Rio mengambil mangkok di lemari bawah.

 

“Maksudnya?”

 

“Gue habis ini balik lagi ke kantor”

 

Ify membulatkan matanya, ia mencari-cari jam dinding. Mendapati dua jarum berada di angka 10 dan 3. Hampir setengah 11, pria ini benar-benar gila kerja. Ify melengos, tak paham dengan Rio.

 

Ponsel Rio bergetar tak jauh dari tempat Ify duduk, ia melirik ke layar tersebut. Mendapati nama Allena yang menelfonnya. Dahi Ify mengkerut, apakah Rio dekat dengan gadis itu lagi?.

 

Rio meraih ponselnya membuat Ify mengalihkan tatapanya, pura-pura tak peduli. Rio mengangkat sambungan telfonya, matannya tak lepas memperhatikan Ify.

 

“Kenapa Al?”

 

“Sekarang?”

 

“Oke gue kesana”

 

Rio menutup sambungannya, memasukan ponselnya di celana pendek yang ia pakai. Bubur yang ia buat telah matang, ia segera menaruh di mangkok dan menyodorkannya dihadapan Ify.

 

“ Lo makan aja disini, gue harus berangkat sekarang”  Rio nampak buru-buru.

 

Ify tak bisa berkata apa-apa, hanya dapat menatap Rio yang berjalan menaiki tangga menuju kamar. Ify mendadak kesal, ia mengerucutkan bibirnya.

 

Allena?  Gadis yang ditemuinya di vietnam, cinta pertama Rio! Ya, Ify masih ingat jelas. Ia cemburu! Ya sangat!!! Ify mengaduk-aduk bubur didepannya tak nafsu. Selera makannya sudah kandas, hilang!.

 

“Makanan lo udah habis?’ tanya Rio. Pria itu kembali dengan kemeja biru  dan celana jeans. bukan baju yang pantas untuk berangkat kerja ataupun meeting. Ify mengernyitkan kening, semakin cemas.

 

“Kenapa?” tanya Rio bingung dengan tatapan Ify kepadanya. Ia berdiri dihadapan Ify mendapati mangkok Ify masih penuh tak terjamah.

 

“Lo belum makan?”

 

“Nggak nafsu!” jujur Ify, ia sengaja berlagak dingin. Ify berdiri dari kursinya.

 

“Makan dulu” cegah Rio,

 

“Gue tungguin” lanjutnya sambil menarik Ify untuk duduk kembali. Entah kenapa Ify tak dapat menolak, ia menuruti ucapan Rio walaupun hatinya masih kesal.

 

Rio mengambil satu kursi lagi, duduk disebelah Ify.

 

“Lo mau ke kantor?” tanya Ify hati-hati, ia benar-benar penasaran.

 

“Nggak, Gue ada janji lain mendadak” jawab Rio sambil menggulung lengan kemejanya.

 

“Sa—, sama siapa?”

 

Rio terdiam, medongakkan kepalanya untuk menatap Ify. ia menatap gadis itu lekat,

 

“Allena, lo pernah ketemu sama dia di vietnam dulu” jawaban Rio kali ini sangat santai tanpa beban dan kembali menggulung lengan satunya. Ify mendegus pelan, semakin kesal. Apakah semua pria selalu sama? Susah sekali pekanya!! Apalagi pria di depannya ini? Waah!! Benar-benar hati besi dibalut sama semen lalu di poles dengan lem! Paket lengkap! Sangat kokoh tak tertandingi!.

 

PRAANGG

 

Ify sengaja membanting sendok diatas mangkok, membuat suara dengkingan cukup keras. Rio sedikit terkejut, menatap Ify kembali .

“Gue udah kenyang, mau pulang!” Ify kembali berdiri, padahal dirinya hanya memakan 3 sendok saja.

 

“Lo marah?”

 

“Untuk?!!”

 

“Ya….. Wajah lo kayak orang marah”

 

Ify kehabisan kesabaran! Tak paham dengan pria di depannya. Ingin rasanya ia berteriak didepan muka Rio “GUE UDAH MARAH BEGO! BUKAN KAYAK LAGI!!”

 

“Gue mau pulang”

 

“Yaudah” Rio mengangguk tenang, tanpa mencegah Ify.

 

Bagaimana tidak tambah kesal coba? Padahal Ify berharapnya pria itu akan mencegahnya, terus menjelaskan bahwa ia tidak ada apa-apa dengan Allena, atau setidaknya memberi klarifikasi pada Ify. Namun, semuanya hanya khayalan Ify sendiri. Ia seharusnya tak membayangkan hal itu. Sikap Rio yang berbanding terbalik, lebih membuatnya sakit hati!.

 

Ify berjalan menjauhi Rio, ia menyumpahi Rio dalam hati.

 

DRTTDRTT

 

 

          Ify menghentikkan langkahnya, ponselnya berdering terus. Dengan hati masih penuh amarah, ia mengambil ponselnya dengan malas di saku celana. Ify mengernyitkan kening, melihat siapa yang menelfonya. Perlahan ia membalikkan tubuhnya.

 

“Angkat” suruh Rio dan semakin membuat Ify tak paham. Ya, pria itu yang menelfonnya.

 

Ify pun menekan tombol hijau, mendekatkan ponsel ke telinganya.

 

“Gue ada janji dengan teman-teman alumni, nggak cuma sama Allena aja”

 

Ify tau ini sangat ke kanak-kanakan, dan memalukan. Tapi ia tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dengan penjelasan Rio. Ini yang dia mau. Ify menganguk sambil tersenyum menatap Rio.

 

Sambungan dimatikan, perlahan Rio mendekatinya. Ify tak dapat mengartikan tatapan Rio, entahlah. Yang ia rasakan, tatapanya begitu memabukkan. Ify meneguk salivanya, membasahi kerongkongan yang terasa kering. Rio telah berada didepanya, sangat dekat.

 

“Apa yang harus gue lakukan?”

 

Ify bingung, apa maksud pertanyaan Rio?. Apakh telah terjadi sesuatu kepadannya. Tatapan Rio yang dingin mulai meredup. Ify merasakan bahwa pria itu tengah dihadapi dilema. Sepertinya.

“Lo—, Lo ken—“

 

Ify terbungkam, kedua tangan Rio mencengkram lenganya erat dan mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling bertemu. Ify tidak bisa berfikir jernih, ia terlalu terkejut dengan yang Rio lakukan. Ia dapat merasakan bibir Rio yang hangat bergerak lembut, Ify melihat Rio memejamkan matanya dan semakin intens dengan ciumannya.

 

Ify memejamkan matanya, memberikan akses pada Rio untuk lebih memperdalam ciumannya, kedua tangan rio bergerak berpindah melingkar pada pinggang Ify dan tangan Ify pun ia lilitkan pada leher Rio. Ify  berusaha keras mengatur nafasnya yang hampir habis, Rio seperti orang yang semakin kalut. Seolah, ini adalah sebuah ciuman terakhir. Mungkinkah?.

 

Ify tak peduli jika ia sekarang terlihat layaknya gadis murahan, ia hanya bertaruh pada perasaanya dan mengikuti kata hatinya. Walaupun dirinnya sendiri tak tau apa status hubungannya dengan Rio?. Apakah Rio memiliki rasa yang sama seperti dirinya?. Entahlah, Ify tak tau jawabannya.

 

“Ahs—“ Ify mencari udara sebanyak-banyaknya.

 

Rio menjauhkan jaraknya, melepaskan bibir mereka yang sebelumnya saling bertautan. Rio menatap Ify yang tak berani melihatnya, Ify mengalihkan pandangannya ke arah lain, tanganya perlahan turun dari leher Rio.

 

“Ap—, Apa kita akan seperti ini terus?” tanya Ify kaku, kedua tangan Rio tetap nangkring di pingganya.  Ify merasakan desiran hebat didalam tubuhnya. Panas dan dingin bercampur satu.

 

Rio tak menjawabnya, Ify perlahan melirik ke depan mencoba melihat Rio. Pria itu masih memperhatikanya sangat lekat!. Ify akan mengalihkan tatapanya kembali, namun Rio mencegahnya. Tangan kanan Rio menyentuh pipinya.

 

Ify mengepalkan kedua tangannya, mulai cemas. Bola matanya bergerak tak pasti,

 

“Besok sore lo ada waktu?” tanya Rio, suaranya memelan.

 

“Be—, besok sore? Kenapa?” Ify membodohi kelakuannya, akson dan dendritnya pasti sedang bermasalah. Bahkan, untuk berbicara saja terasa sulit.

 

“Gue akan jemput lo”

 

“Kemana?”

 

“Tempat yang hanya ada gue dan lo”

 

Sedikit menjijikan, namun jujur Ify begitu senang mendengarnya. Ia berusaha untuk tidak tersenyum, mengontrol ekspresinya dengan baik.

 

“Dimana? Apakah te—“

 

Belum juga Ify menyelesaikan kalimatnya, sekali lagi Rio langsung menyerangnya. Rio menciumnya kembali, Ify memejamkan matanya, menerima perlakuan Rio. Ia berhasil di buat gila oleh sosok Mario Adipati Haling. Pria dingin nan angkuh, namun mampu membuat hatinya naik turun tak karuan. Dia benar-benar sudah gila!.

 

Bersambung . . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s