ENLOVQER DEVIL – 28

ENLOVQER DEVIL – 28

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

Ify nampak telah siap, ia memakai kaos lengan pendek berwarna pastel di padukan rok selutut merah maron, rambutnya ia gulung ke atas. Dia sengaja dandan layaknya seorang gadis hari ini. Ify segera berjalan keluar setelah mendapatkan pesan dari Rio. Senyumnya sama sekali tak hilang dari paras cantiknya.

 

Ify melihat mobil Rio dan si-empunya yang sudah berada didalam. Ify tak ingin berlama-lama, ia masuk kedalam mobil Rio.

 

Ya, Rio mengajaknya berlibur sore ini, ia sendiri tidak tau kemana yang terpenting Rio bersamanya. Mereka akan kencan berdua!

 

“Seatbelt!” ucap Rio mengingatkan, ia menyalakan mesin mobilnya.

 

“Sengaja, nunggu lo yang makein” sahut Ify menyunggingkan senyum lebar. Rio geleng-geleng sesaat, kemudian menuruti saja permintaan Ify.

 

Mobil Rio dijalankan,  menjauh dari depan rumahnya. Rio mengendarai dengan kecepatan sedang, menikmati langit senja yang begitu indah. Reddish!. Bangunan-bangunan menjulang tinggi terlihat seperti ingin mengejar dan perlahan menghilang semakin jauh tak tergapai.

 

****

 

Ify fokus ke depan kembali setelah asik bermain dengan ponselnya, kedua matanya melihat marka jalan, panah mengarah ke summitland. Ify menoleh ke Rio, keningnya berkerut.

 

“Kita ke puncak?” tanyanya dan dijawab dengan satu anggukan oleh Rio.

 

Ify tak bertanya kembali, meskipun otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Ia memilih diam saja, toh nanti ia akan menemukan jawabannya jika sudah sampai disana. Sekali lagi yang terpenting adalah  ia bersama dengan Rio. Hanya itu saja membuatnya bahagia tak terkira.

 

****

 

Ify tak tau harus ber-ekspresi bagaimana, melihat pemandangan didepanya saat ini. Ya, mereka sudah sampai di sebuah Villa. Namun, bukan tempatnya yang menjadi permasalahan. Tapi orang-orang disana, segerombolan makhluk cucu adam yang sedang asik bernyanyi melingkari bonfire. Mungkin sekitar ada 4 pria dan 2 wanita. Ify tak mengenalnya.

 

“Hei yo!! Cepat kesini!” seorang wanita menyadari kehadiran Rio dan Ify, kedua mata Ify menyipit, memperjelas pandangannya.

 


“Allena?”
pekik Ify sangat pelan.

 

Gadis itu berjalan menghampiri dirinya dan Rio, senyumnya mengembang.

 

“Ayo masuk, gue kira lo nggak datang” Allena berdiri di depan Rio dan main nyosor pipi Rio. Ify mendengus menahan kesal. Pipinya yang putih, mungkin telah berganti warna merah padam.

 

“All!” Rio menjauhkan tubuhnya dari Allena, kedua matanya memberikan tanda, mengedikannya ke samping.

 

“Ups—, sorry” Allena menatap Ify, memaksakan senyum.

 

“Masuk gih” suruh Allena setelah itu berjalan kembali ke gerombolannya.

 

Ify menatap Rio, meminta penjelasan. Ia tak mengira bahwa Rio akan membawannya ke Villa berisikan teman-temannya. Ify mengira bahwa mereka hanya akan liburan berdua.

 

“Sebenarnya gue juga ingin liburan berdua, tapi semalam anak-anak minta ikut sekalian reoni bersama” Rio mencoba memberi penjelasan. Ify menghela berat, ya mau bagaimana lagi? Nggak mungkin juga ia minta pulang saat ini.

 

“Ayo masuk” ajak Rio, berjalan duluan kedalam. Ify semakin kesal, kepalanya memanas dan tanpa sadar tanganya terkepal kuat.

 

Ify mendekati Rio, pria itu telah duduk disalah satu kursi. Banyak pasang mata menyorot dirinya, penasaran dengan kehadiran Ify. Sedangkan Ify sendiri merasa sedikit risih mendapat tatapan aneh seperti itu. Tatapan om-om dan tante yang mengerikan. Ya, menurut Ify mereka semua seumuran dengan Rio. Dandanan, style, speak terlihat old-fashioned. Bukan teenager-soul banget!.

 

“Siapa yo? waah—, lo kesini bawa cewek cantik banget!” goda Andre, teman sebangku Rio dahulu di sekolah.

 

“Kenalin Ify.” ucap Rio singkat tanpa embel-embel. Ify memaksakan senyumnya. Ia tak nyaman disini.

 

Ify menggerakkan telapak kakinya, bersenandung pelan mencoba asik dengan duniannya, membiarkan Rio yang mulai asik bercengkeramah dan bergosip ria bersama teman-temannya, mereka sedang mengenang masa lalu.  Ify tak pernah melihat Rio tertawa selepas itu, ia fikir Rio hanya pria dingin dengan kehidupan yang monoton. Ia melihat sisi-lain dari Rio saat ini.

 

“Hahaha, gue jadi ingat gimana dulu Rio ngejar-ngejar Allena.” Suara Andre terdengar lagi. Untuk percakapan yang satu ini, telinga Ify menajam tak ingin ketinggalan juga.

 

“Lo kenapa sih Al, dulu nggak nerima Rio?” Andre semakin kompor, tidak sadar ucapannya itu telah membuat satu orang diantara mereka panas!.

 

“Bodoh banget sih lo Al, coba dulu lo terima Rio pasti lo udah jadi nyonya haling sekarang hahaha” seorang gadis yang duduk disamping Allena menimpali.

 

Allena terlihat senyum-senyum malu.

 

“Apaan sih guys, masa lalu itu nggak perlu diungkit lagi”

 

Ify menatap Allena setengah jijik, tingkahnya seperti  perawan baru pubertas. Ify merasakan dadanya dipenuhi bara api mengepul. Panas sekali. Ia melirik ke Rio yang malah tertawa.

 

“Gue juga penasaran, kenapa lo dulu nggak mau nerima gue, All?”

 

What the hell!! Pertanyaan apa yang baru saja di lontarkan pria disampingnya ini? Mulut Ify setengah terbuka, Rio tidak peka atau hanya pura-pura tak peka? Apakah ia tak berpikir bagaimana perasaannya sekarang?. Ify menahan nafas sesaat, mengikuti saja akhir pembicaraan ini nanti sampai mana.

 

“Gue sebenarnya ingin nerima lo, tapi keduluan lo pindah ke Amerika” jawab Allena dengan wajah semakin memerah.

 

“Woooh, kayak drama aja kisah kalian. Hahaha”

 

“Yaudah kalau gitu kenapa kalian sekarang nggak pacaran aja? Ah bukan, langsung aja nikah”

 

“Satunya model cantik pewaris utama Dirnata Corp, satunya miliader muda pemilik Haling Corp. Kalau di ibaratkan, kalian ini seperti jeruk peras dengan es batu di siang hari. Perpaduan yang segar dan pas!!”

 

Ify benar-benar ingin menjambak semua mulut teman-teman Rio. Apa tidak ada perbincangan yang lain? Ify mencoba tak peduli, tapi kedua telinganya masih normal. Jadi, mau tak mau ia dapat mendengarnya. Ify menunduk, mood-nya sangat jelek. Ia memainkan ujung roknya. Waktu semakin larut, ia ingin pulang saja.

 

Angin malam berhembus, nyaris memadamkan beberapa bara api-unggun. Ify menggosok-gosokan tangannya, tatapanya terus ia arahkan ke tanah. Dingin.

 

“Kita masuk aja yuk, kayaknya mau hujan nih” ajak Allena diangguki yang lainnya.

 

Rio melepaskan jaket yang dipakai, mengenakannya ke tubuh Ify, tak ada respon dari gadis itu. Ya, Ify masih tertunduk tak berkutik. Rio mengernyitkan keningnya,

 

“Lo kenapa? Ayo masuk” Rio berdiri dari kursi yang di dudukinya.

 

“Gue mau pulang” ucap Ify datar dan tenang. Suaranya terdengar dingin.

 

“Sekarang? Gue nggak enak sama te—“

 

“Gue ke toilet dulu” potong Ify cepat, segera ngeluyur dari hadapan Rio.

 

Rio menatap kepergian Ify, tatapanya kosong. Ia menghelakan nafas berat kemudian masuk kedalam menghampiri teman-temannya.

*****

Ify keluar dari toilet, ia berdiam disana hampir 20 menit dan Rio sama sekali tak menjemput atau mencarinya, membuat kekesalanya semakin memuncak. Ify mendengar suara ricuh dan teriakan tak jelas dari ruang tengah. Mereka sedang asik menonton film horror sambil makan pizza. Makanan itu kesukaan Ify, tapi melihatnya sekarang sama sekali tak menggoda napsunya. Untuk pertama kalinya, Ify merasa sangat benci dengan Pizza.!.

 

Pandangan Ify teredar, ia mencari sosok Rio tak ada disana.  Ify berjalan pelan-pelan sampai akhirnya tiba di teras halaman Villa. Ia menemukan Rio dan tidak sendirian. Pria itu sedang bersama dengan Allena. Berdua saja!

 

Cukup!Ify kehabisan kesabaran!

 

Ify berjalan mendekat ke Rio, memasang wajah sedatar mungkin dan sedingin mungkin. Jalan kaki ke rumah dijabanin sama Ify saat ini jika perlu, daripada tetap di tempat bah neraka. Panas terus hawa-nya!.

 

“Gue pulang dulu” Ify melemparkan jaket Rio tepat dihadapan pria itu. Alih-alih mengajak Rio untuk pulang, Ify lebih memilih untuk pergi dan pulang sendiri saja. Toh, Rio tetap akan menolak untuk beranjak dari sana. Menurutnya.

 

Ify membalikkan badannya cepat, berjalan keluar dari Villa.

 

Rio dan Allena nampak terkejut dengan kehadiran Ify yang tanpa suara. Rio menatap Ify yang terus menjauh.

 

“Gue tinggal dulu Al” pamit Rio, ia segera mengejar Ify.

 

Rio menyamakan posisi langkahnya, tangannya memegang lengan Ify. Menahan, ia berhasil membuat Ify menghentikkan langkahnya.

 

“Lo mau kemana?:”

 

“Pulang” jawab Ify acuh, tak berniat membalikan badannya.

 

“Naik apa? Nyari taxi disini nggak ada”

 

“Dua kaki gue masih normal”

 

Terdengar desahan berat dari mulut Rio.

 

“Lo kenapa sih?” nada suara Rio sedikit meninggi, Ify mendecak kesal. Seharusnya disini dirinya yang marah.

 

“Gue mau pulang!” Ify ikut meninggikan intonasinya.

 

“Gue anterin, tapi sebentar. Gue masih nggak enak buat ninggalin teman-teman gi—“

 

“Gue bisa pulang sendiri!!” Ify dengan kasar menepis tangan Rio, ia memberikan tatapan tajamnya.

 

Rio nampak sedikit terkejut dengan perlakuan Ify.

 

“Lo jangan kayak anak kecil, ki—:

 

“Gue emang masih anak SMA. Lo baru sadar?” potong Ify dengan cepat, ia tak mau kalah dengan Rio. Emosinya sudah sampai di ujung dan ia akan meluapkannya semua saat ini.

 

“Kalau lo nggak mau dekat dengan anak kecil. Lo nggak usah ngejar gue!!”

 

“Lo nikah aja sana sama Allena!!”

 

“ Kalian cocok berdua! Sangat cocok !! Seperti jus peras dan es batu di siang hari”

 

Rio tertawa pelan, namun terdengar meremehkan.

 

“Lo cemburu sama Allena?”

 

“Apa perlu gue jawab?” sinis Ify, menantang.

 

“Tunggu disini, gue ambil mobil. Gue anterin pulang”

 

“Nggak perlu repot-repot, kasihan lo nanti capek nganterin anak kecil. Gue bisa pulang sendiri. Siapa tau gue bisa jadi dewasa selama di jalan”

 

“FY!!” Rio ikut emosi, wajahnya memerah.

 

Ify menahan agar tidak takut, ia mencoba membangun benteng yang lebih kuat. Kedua matanya beradu tajam dengan Rio. Mereka berdua saling mengintimidasi.

 

“Lo tunggu disini!!”

 

            Rio langsung membalikkan badannya, meninggalkannya. Ify menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahan. Rio sangat menakutkan. Ify memukul-mukul dadanya yang sedikit sakit, ia memilih menuruti saja perintah Rio.

 

*****

Tak ada yang mereka berdua lakukan selain diam. Keadaan didalam mobil sedikit angker dan terasa panas. Rio fokus lurus ke depan, menyetir sedangkan Ify memperhatikan jalanan dari jendela. Mereka sama-sama diam.

*****

 

23:45 malam.  Mobil Rio akhirnya sampai di depan rumah Ify. Mereka tetap terdiam tak ada yang beranjak. Hanya deruan nafas masing-masing yang dapat terdengar. Ify menatap ke roknya, ia sebenarnya ingin membuka suara. Tapi sedikit takut. Apalagi Rio sama sekali tak mengajaknya bicara sedari tadi.

 

Klikk

 

Ify sedikit kaget, Rio melepaskan seatbelt yang dipakainya. Ia meneguk ludahnya, sedikit memundurkan tubuhnya.

 

“Masuk, lo istirahat ” suara Rio terdengar dingin tanpa intonasi.

 

Ify menghembuskan nafas beberapa kali, mengumpulkan segala keberanian.

 

“Gue boleh tanya sama lo?”

 

“Hmm” Rio hanya menyahuti dengan deheman singkat. Pria itu mengeluarkan ponsel dari celananya, dan menatap layar ponselnya saja.

 

“Hubungan kita sebenarnya apa sih?”

 

Ify tak peduli lagi dengan harga dirinya daripada mati penasaran! Ia benar-benar sudah jadi gadis gila karena Rio. Ify bukanlah gadis yang aggresive, hanya saja ia tak mau digantung tak jelas begini. Dirinya bukan price-tag yang ada di supermarket. Dia butuh kepastian.

 

Rio memasukkan ponselnya kembali, menolehkan wajahnya ke Ify.

 

“Maksudnya?”

 

Ify kembali mendesah berat! Sangat frustasi! Rio sungguh menghabiskan harga dirinya, kesabarannya!. Bagaimana bisa ada spesies macam pria ini di muka bumi ini?. Ia menatap Rio lekat-lekat.

 

“Ki—, kita nggak pacaran tapi seperti orang pacaran, gu—, gue ngerasa kayak digantung. Perlakuan lo buat gue bingung.  Lo nganggap gue apa?”

 

Rio tiba-tiba tertawa pelan,

 

“Lo sepertinya salah paham”

 

“Heh?” bingung Ify tak mengerti.

 

“Selama beberapa bulan yang lalu kita pacaran, gue ingin tau perasaan gue ke lo kayak gimana, setelah kita putus juga gue masih penasaran apa gue suka sama lo? Atau tidak?”

 

“Dan sekarang gue sudah dapat jawabannya. Ternyata—“

 

Kedua tangan Ify tergenggam erat, dekapan jantungnya berdetak cepat. Ia seperti sedang menunggu pengumuman pemenang Miss Universe. Menengangkan!

 

“Gue hanya nganggap lo sebagai adik, seperti illy”

 

Glup

 

Ify merasa baru saja tubuhnya tersiram air dingin dengan suhu -15 derajat kemudian di setrumkan ke sutet belakang kompleks perumahan dan seluruh pakaiannya dilucuti. Memalukan,  Rasanya ingin mati saja!

 

Mulut Ify setengah terbuka, bibirnya mendadak keluh. Menatap Rio tak percaya. Pria itu tetap dengan ekspresi datar dan dinginnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.

 

“Ha—, Hanya adik?” tanya Ify setelah dapat mengembalikkan sedikit kesadarannya.

 

“Ya, hanya adik. Apa  lo berharap lebih?”

 

Ify mendadak tertawa sendiri, sengaja ia ledakan. Tawanya terdengar miris. Ify menahan kedua matanya yang mulai memanas, dadanya semakin penuh bah terisi pisau belati tajam. Sakit! Perih! Emosi!

 

“Lalu maksud lo kemarin nyium gue apa?” Ify masih tak bisa terima, ia butuh penjelasan yang sejelasnya!. Ia tak mau dipermalukan seperti ini.

 

Rio mengangkat ujung bibirnya, dia tersenyum lagi. Ify takut dengan senyum itu!

 

“Gue hanya nyium lo bukan nidurin lo !”

 

Ada rasa panas dan tajam menyerang telinga Ify, semua bulu tanganya sekejap berdiri. cairan-cairan bening yang ditahannya sedari tadi mulai menghalangi pandang, sampai akhirnya jatuh dengan sendirinya membentuk aliran sungai kecil di kedua pipi pucat itu. Ify tak bisa mencegahnya, membiarkannya saja.

 

“Apa semua gadis SMA mengira kalau seorang pria menciumnya berarti dia memiliki perasaan dengan gadis itu?”

 

Cukup! Ify tak ingin mendengarnya lagi! Rio jelas melihat dirinnya telah menjatuhkan air mata, tapi pria itu tetap melanjutkannya. Rasa sakit menjalar ke hati dan meremas jantungnya dengan kuat, Sesak rasanya!. Ya…. dada Ify juga terasa penuh ingin meledak. Pria di sampingnya lebih dari brengsek! Ify membencinya! Sangat!.

 

Ify membuang muka, menghirup napas sesaat, mengigit bibirnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan isakan. Kedua tangannya mencengkram erat tas diatas pahanya. Ify sangat marah! Ingin mengeluarkannya, meluapkannya. Ia ingin sekali menampar Rio tapi ia menahan keras!.

 

“Terima kasih banyak, Kak!”

 

Ify membuka pintu mobil Rio seusai menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ia segera keluar dari mobil Rio tak ingin menatap lagi wajah pria itu. Ify berjalan masuk kedalam melewati gerbang rumahnya, kakinya terasa lemas. Ia kini membiarkan saja air matannya semakin jatuh tak tertahan, menangis sederas dan sepuas mungkin. Ia tak peduli para pengawal di depan teras rumah melihatnya dengan binggung, Ify tetap berjalan masuk kedalam.

 

“Fy!”

 

“Lo kenapa?”

 

Ando yang sedang menonton Tv di ruang tengah kaget bukan main melihat adiknya menangis tanpa suara, ia langsung lompat dari sofa berlari mendekati Ify. Tubuh Ando sedikit bergetar melihat kedua mata adiknya memerah dipenuhi dengan air mata berjatuhan.

 

“Lo kenapa?”

 

“Kenapa lo nangis?”

 

Ify tak menjawab, tatapanya tajam menahan isakannya agar tidak memecah. Ando memeriksa tubuh Ify, apa ada yang lecet, apa gadis ini baru saja terjatuh? Tetapi tidak ada bekas apapun di tubuh Ify. Ando kembali menatap Ify.

 

“Siapa yang buat lo nangis kayak gini? “

 

“Hah? SIAPA??” emosi Ando mulai terpancing, ia mencegkram kedua bahu Ify erat, mendesak Ify untuk berbicara. Ando tidak dapat membiarkan begitu saja orang yang telah melukai adiknya sampai menangis seperti ini.

 

“Lepasin!!” bentak Ify menepis tangan Ando dari bahunya. Ify membersihkan bekas air matannya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia mengontrol agar tidak menangis kembali.

 

“Jawab gue!! Siapa yang buat lo nangis kayak gini??”

 

“Nggak ada” jawab ify  yang akan melanjutkan langkahnya kembali, ia ingin cepat sampai di kamarnya.

 

“SIAPAA??” Ando berteriak sangat keras sampai membuat telinga Ify berdengung. Ify mendengus kesal.

 

“Lo beneran ingin tahu siapa?” sinis Ify, memberikan tatapan lebih tajam kepada kakaknya.

 

“Ya! Siapa?”

 

“Sahabat lo, brengsek!!”

 

Ify puas sekali mengatakannya, ia tak peduli kedua mata kakaknya yang terbuka sempurna mendengar jawabannya. Ia tak peduli kakaknya akan marah dengan jawabanya yang sangat tak sopan. Ia hanya perlu pelampiasan. Ify segera melangkah kembali, menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Ando yang mematung dibawah.

 

Bersambung . . . .

One thought on “ENLOVQER DEVIL – 28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s