ENLOVQER DEVIL – 29

ENLOVQER DEVIL – 29

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

******

         

            ****

 Sebelumnya aku interupt bentar ya, bagi yang mau pesan ebook Blooglass series-1  ( Rp. 25.000) yuk langsung pesan di admin sms ke >> 081946779081 , sebelum yang series-2 akan di segera di liris dalam waktu dekat ini. Jangan lupa belii terima kasih banyaakk :* . Dan silahkan dilanjutkan membacaaaa …..

 

*****

 

“Terima kasih banyak, Kak!”

 

Suara dan kalimat itu terus terngiang jelas di memori kepala Rio. Ia sadar ucapannya telah diluar batas, sangat kasar apalagi ditujukkan kepada seorang gadis SMA yang tak bersalah. Kedua tangannya mencegkram erat setir mobil, menatap punggung Ify yang semakin menghilang dari kedua matanya.

 

“Dia menangis”

 

Bayangan wajah Ify semakin menghantuinya, bagaimana gadis itu tiba-tiba menjatuhkan air matanya didepanya. Sejujurnya itu membuat hatinya hancur tak tega. Untuk pertama kali ia membuat seorang gadis menangis. Dia tak lebih dari seorang pengecut! Rio tersenyum miris.

 

Daaakkk!!

Daaakk!!!

Daaakkk!!

Daaakk!!!

 

Rio memukul stir mobilnya berulang-ulang, melampiaskan kebodohanya sendiri!. Jika saja ia memiliki keberanian lebih, jika saja ia tidak terikat janji dengan Ando mungkin ia sudah memeluk gadis kecil itu sedari tadi. Dia juga tak akan mengacuhkan Ify ketika di villa. Ya… ia melakukan semua-nya dengan sengaja!.

 

Jika ada seorang pria yang melihat gadis menangis, ia tidak akan tega dan berusaha menangkan gadis itu bagaimanapun caranya. Sebaliknya, jika pria itu hanya membiarkan dan acuh kepada gadisnya. Ia bukanlah pria melainkan banci yang sedang menyamar menjadi seorang pria!.

 

Rio menghempaskan tubuhnya, menyandarkan kepala ke kursi mobil. Nafasnya tersenggal, kedua matannya ia pejamkan menenangkan fikirannya sejenak. Kenapa terasa berat!!

 

“Gue nggak bisa seperti ini!!”

 

“Nggak!!”

 

Rio membuka kedua matanya, tingkahnya terburu-buru. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

 

“Ke taman kompleks sekarang juga!”

 

Beep

 

Rio mematikan sambungannya, meletakkan ponselnya disembarang tempat. Ia segera menajalankan mobilnya kembali, melesat dengan cepat.

 

Rio menelfon Ando, kakak dari gadis yang hati dan batinnya telah ia lukai beberapa menit yang lalu!.

 

*****

 

Ando keluar dari mobilnya, ia telah sampai di taman kompleks seperti yang disuruh oleh Rio. Setelah mendapati adiknya menangis seperti itu, Rio tiba-tiba menelfonnya. Sangat tepat waktu sekali, Ando juga butuh menemui pria itu.

Keadaan taman sangat sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Hanya penerangan lampu remang-remang dan lampu sorot jalan yang mencahayai. Ando menemukan Rio tengah duduk dengan kepala tertunduk di salah satu kursi dekat komedi putar. Ando mempercepat langkahnya, mendekat.

 

BUUKKKK

 

Tanpa basa-basi, Ando langsung menghantam wajah Rio dengan pukulan keras, ia merasakan panas di kepalan tanganya. Ando menahannya. Sedangkan, Rio yang tak tau arah lawan, tak menyiapkan diri hanya bisa tersungkur bebas di tanah, pria itu terdengar meringis memegangi pipinya yang sudah dipastikan memar. Rio mengangkat kepalanya., menatap Ando yang terlihat kalut dengannya.

 

Rio menyentuh bibirnya, darah segar keluar dari sana. Ia meludahkannya,

 

“Kenapa adik gue bisa sampai nangis??!!” geram Ando, kedua mata elangnya semakin berkobar.

 

Ando bersiap melayangkan hantaman keduanya, akan tetapi dengan sigap Rio menahannya.

 

BUKKKK

 

            Rio membalas, memukul wajah Ando. Rio tak peduli Ando akan semakin marah kepadannya. Ia sendiri juga butuh pelampiasan saat ini.

 

“Cihh!! Lo yang nyuruh gue jauhin dia!!” sentak Rio tak kalah tajam. Ia melihat Ando tersungkur memegangi pipinya.

 

Ando tersenyum sinis,

 

“Gue nyuruh lo jauhin dia! Bukan buat dia nangis bodoh!!”

 

Daaak!!!

BUUKKKK!!

 

Ando menendang engkel belakang lutut Rio lalu sekali lagi melayangkan pukulannya di perut Rio dan sesekali di wajah Rio. Pria itu meringis kesakitan.

 

BRAAAKKK

 

“SAKIT GOBLOK!!” teriak Rio berhasil menendang kasar perut Ando dengan kaki kirinya. Ando tersungkur.

 

Mereka berdua mengatur nafas, keringat dingin bercucuran di tubuh. Hanya beberapa kali bertarung saja membuat mereka kehabisan energi. Rio meludah kembali, darah di mulutnya bertambah banyak.

 

“Lo bawa sapu tangan nggak?” ringis Rio tak peduli dengan Ando yang juga sedang sibuk memegangi perutnya akibat ia tendang.

 

“Aissh!” desis Ando kesal, ia melemparkan sapu tangan dari belakang celananya. Rio menangkapnya dengan cepat.

 

Mereka sama-sama diam, hanya terdengar suara ringisan dari bibir mereka. Keduanya terduduk lepas diatas paving taman. Angin malam, membuat tubuh Ando dan Rio meringkuk. Wajah mereka pun terasa perih dan panas.

 

“Gue bisa laporin lo ke polisi!” cerca Rio membuka suara kembali.

 

Ando tertawa sinis, melayangkan tatapan remeh.

 

“Lo barusan udah laporin ke polisi!” timpal Ando dan berhasil membuat Rio ikut tertawa. Ia hampir lupa bahwa Ando adalah seorang polisi.

 

Sekali lagi mereka terdiam kembali.

 

“Dia masih nangis?” tanya Rio sedikit hati-hati, bayangan wajah Ify beberapa menit yang lalu kembali di otaknya. Ia mendesah pelan,

 

“Menurut lo?” sahut Ando sengit.

 

“Lo apain adik gue sampai dia nangis kayak gitu?” lanjut Ando meminta penjelasan.

 

“Entahlah, gue nggak mau ngingat lagi!”

 

Rio mencoba bangun, berdiri. Ia berjalan mendekati Ando, mengulurkan tangan kananya. Ando pun menerimanya. Rio membantu Ando berdiri. Inilah baru yang disebut sahabat sejati!. Pertemanan tanpa blushit!.

 

“Kita duduk disana” ajak Rio, berjalan duluan menghampiri kursi panjang yang ia duduki tadi. Ando mengikuti di belakangnya, lalu mengambil duduk disamping Rio.

 

Rio menghelakan nafas berat, kedua matanya menatap ke bawah. Ia telah menyiapkan kalimat ini sebelum Ando datang. Ia sungguh akan memberitahukan kepada Ando saat ini juga.

 

“Gue tarik ucapan gue!” ucap Rio, nada suaranya dingin penuh keseriusan.

 

Ando menggerakan kepalanya 90 derajat, menghadap ke Rio. Ia mengernyitkan keningnya,

 

“Yang mana?”

 

“Jauhin adik lo!” jawab Rio dengan cepat, tak perlu berfikir dua kali lagi.

 

“Lo udah janji, seorang pria nggak akan mengingkari ucapanya. Kecuali dia banci!”

 

“Lebih bancian mana dengan membuat seorang gadis tak bersalah menangis?”

 

Ando langsung dibuat diam oleh Rio. Tak ada yang salah dengan pernyataanya dan tak ada yang salah juga dengan pernyataan Rio. Mereka sama-sama benar, hanya saja harus dilihat kondisi yang lebih penting dari dua pernyataan itu.

 

“Gue bukan aktor drama-sinetron yang akan melakukan permintaan konyol seperti yang lo suruh! Ini  dunia nyata bro! Pliss!”

 

“Lo nyuruh gue jauhin Ify hanya karena lo takut gue akan bahayain dia? Memang masuk akal!”

 

“Tapi gue juga janji akan lindungin dia sama halnya lo lindungin Ify. Bukankah dua orang yang melindungi lebih baik daripada satu orang?”

 

Ando sedikit takjub, seorang mario yang terkenal dingin dan banyak diam baru saja mengeluarkan rentetan alpabeth.  Ando sangat kenal bagaimana Rio, pria itu tidak akan banyak omong jika bukan suatu hal yang penting, mendesak atau pun keperluan perusahaan.

 

Ando tersenyum sinis,

 

“Musuh lo terlalu banyak” timpal Ando, masih tak dapat menerima alasan Rio.

 

“Gue habisin semuanya setelah ini! Lo puas??”

 

“Lo juga polisi, lo bisa bantu gue! Kenapa lo jadi pengecut seperti ini?”

 

“Gue trauma adik gue koma seperti kemarin!!!” tajam Ando, mengingat kembali kemarahan papanya. Menakutkan.

 

“Lo kayaknya perlu cari pacar atau jodoh !! Biar lo ngerasain gimana rasanya jatuh cinta”

 

Ando menguap sekilas, dalil konyol Rio tengah keluar di malam hari. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

 

“Intinya lo kasih izin apa nggak?” tanya Rio tak ingin basa-basi lagi. Ando berpikir keras, menatap Rio lekat-lekat. Ia dalam keadaan dilema saat ini. Rio adalah sahabatnya sejak lama, tentu saja ia percaya dengan Rio. Tapi ia juga takut dengan keselamatan sang adik. Di sisi lainnya lagi, Ia tak tega melihat Ify menangis seperti tadi. Adiknya pasti sangat terluka.

 

Ando mendesah berat, frutasi. Sahabat atau adiknya, bukan!Ralat! antara sahabat, keselamatan adiknya atau perasaan adiknya? Ia harus memilih dua diantara tiga itu. Semuanya sama-sama penting baginya.

 

“ Gu—, gue kasih lo kesempatan satu kali lagi. Lo ha—“

 

“Good choice!!”

 

Plaakk

 

“Gue belum selesai bego!!” geram Ando kehabisan kesabaran menghadapi Rio. Ia menabok kepala Rio dan membuat pria itu langsung terdiam.

 

“Lo harus beneran jaga adik gue, lindungi dia. Kita berdua melakukannya sama-sama. Jika dalam 3-6 bulan tidak terjadi apa-apa dengan Ify, gue akan restuin lo dengan dia”

 

Rio mengangguk-angguk, secerca harapan akhirnya datang kepadanya. Ia  menyunggingkan senyumnya. Sangat senang.

 

“Lo emang sahabat terbaik gue” Rio menepuk punggung Ando beberapa kali, berterima kasih.

 

Ando menghela nafasnya, mengeluarkan suara erangan pelan.

 

“Lo segitu sukanya sama adik gue?”

 

“Hmm” dehem Rio membenarkan, tak ada yang perlu ia tutupi lagi. Memang benar itu adanya, ia menyukai Ify dan telah jatuh cinta kepadanya.

 

“Apa yang buat lo cinta ke adik gue?” tanya Ando kembali, ia nampak penasaran.

 

Rio terdiam, berpikir mencari jawaban yang paling tepat!

 

“Cinta nggak butuh alasan, bro”

 

Ando langsung kehabisan kata-kata, mulutnya setengah terbuka dengan kedua mata menatap Rio, ekspresi tak percaya. Jawaban Rio sungguh tak terduga. Sangat menjijikan!.

 

BUUUKKK

 

“SAKITTT BRENGSEK!!” teriak Rio sangat sangat keras, ia tak peduli tetangga sebelah atau satpam kompleks terganggu. Pukulan Ando di wajahnya kali ini 2 kali lipat lebih sakit daripada sebelumnya.

 

“Aisshhh!!” ringis Rio tertahan, memegangi bibirnya yang mengeluarkan darah kembali. Nyeri tak terkira.

 

Ando berdiri, tersenyum puas melihat Rio seperti itu.

 

“Buat jawaban lo yang menjijikan!!”  tukas Ando dengan tampang sama sekali tak bersalah.

 

“Gue tinggal keluar. Lo samperin dia di kamarnya. Kalau masalah udah kelar lo telpon gue”

 

“Gue akan balik kerumah”

 

“Iya. Minggat yang jauh sana!!” usir Rio terlihat kesal.

 

“Jangan buat adik gue nangis lagi!!” ancam Ando tajam, telunjuknya ia arahkan ke wajah Rio.

 

“Sampai hitungan ke tiga lo nggak enyah, lo yang gue buat nangis!!” ancam Rio sungguhan.

 

“Sat—“

 

Ando langsung kabur dengan kecepatan 2-kali speed cahaya. Ia menghilang tanpa suara hanya meninggalkan jejak bekas pukulan diwajah tampan Rio yang kini sudah lebam, bonyok, berdarah dan sangat nyeri!.

 

“Sialan!” pekik Rio memegangi rahangnya, kaku. Ia mencoba menggerakannya.

 

*****

Rio menarik napas beberapa kali, menghembuskanya sekali helaan. Ia memegang handle pintu kamar di hadapannya, menggerakan kebawah pelan. Tidak dikunci!. Ya, gadis ini memang hampir tak pernah mengunci kamarnya. Ia takut gelap dan takut tiba-tiba lampu padam. Gadis itu tak lain adalah Ify.

 

Rio membukanya pelan-pelan, tanpa menimbulkan suara. Sampai akhirnya pintu terbuka setengah, Rio mendapati Ify sedang duduk di ujung kasur, kepalanya di benamkan pada tekukan kedua lututnya. Samar-samar Rio mendengar suara isakan Ify. Ia merasa semakin bersalah.

 

Braak

 

Rio menutup pintu kamar Ify, menimbulkan sedikit suara. Sontak, gadis itu mendongakkan kepalanya. Mata Rio dan Ify saling bertatap sampai akhirnya Ify dahulu yang membuang muka. Kilatan di bola matanya menunjukkan amarah hebat!.

 

Rio akan menerima semua resiko ucapan kasarnya yang telah ia lontarkan kepada Ify tadi. Gadis itu sudah pasti sangat marah besar kepadannya. Sangat kentara!

 

Rio berjalan mendekati Ify, langkahnya hati-hati. Ify masih diam tak mengeluarkan kata apapun.

 

“Lo mau gue minta maaf? Berlutut? Bersujud? atau gimana?”

 

Rio berdiri tepat disamping Ify. Ia melihat gadis itu menangis dalam diam. Dipandangnya kedua mata Ify membengkak, warna putih di sekitarnya memerah padam.  Kedua tangan Ify terkepal.

 

Rio bingung harus berbuat apa, ini untuk pertama kalinya ia dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ia tak pernah pandai dalam hal menangani perempuan. Apalagi membujuk perempuan. Bukan keahlian Rio sama sekali.

 

“Gue akan tunggu disini sampai lo nggak nangis lagi”

 

Rio bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia menatap Ify tanpa henti. Sedangkan, Ify terlihat risih diawasi seperti itu. Ia menundukkan kepalanya, tak ingin melihat wajah Rio. Ia sudah membencinya!.

 

Ify memilih diam saja, membiarkan Rio berdiri disana semaunya. Ify tak peduli!

 

Rio sendiri bertekad menunggu Ify sampai mau bicara dengannya. Ya….. mereka berdua memilih seperti itu. Hening, hanya ada suara detakan jarum merah jam dinding yang terdengar terus bergerak, berputar ke kanan.

 

*****

 

Ify menghela nafas panjang, menghapus bekas air matanya. Ia nampak lelah menangis lebih dari 3 jam. Pria di depannya pun tak bergerak atau pun beranjak sedikit pun. Mungkin sudah hampir 1,5 jam Rio berdiri disampingnya, menungguinya seperti orang bodoh.

 

Ify memberanikan diri menatap Rio.

 

“Mau lo apa?” Ify memecah keheningan, ia membuka suara pertama kali.

 

Rio terlihat sangat senang, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Ia senang Ify menanggapinya, sedikit peluang terbuka untuknya.

 

“Gue nggak minta lo buat maafin gue, ha—“

 

“Gue nggak bakal maafin lo!” tegas Ify dengan nada tak enak di dengar. Rio membiarkannya saja, ia tetap tersenyum.

 

“Gue hanya ingin jelasin yang sebenarnya”

 

“Oke, cepat jelasin!” Ify bukan gadis labil seperti scene sineteron-sineteron alay era saat ini, yang akan berteriak-teriak “Gue nggak butuh penjelasan lo!” atau pun
“Lo pergi dari sini! Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi”
. Ify bukan type melankolis,  sangat menjijikan baginya jika ia bertindak seperti itu. Ia adalah Democratic-girl!!

 

“Ando nyuruh gue jauhin lo, dia sangat takut lo ikut terancam bahaya jika disamping gue dan gue juga nggak mau itu terjadi. Mangkanya gue turutin ucapan Ando.”

 

“Lalu kenapa lo masih disini? Lo harusnya jauhin gue!!” pekik Ify tajam.

 

“Gue nggak mau, nggak bisa”

 

“Kenapa? Lo masih belum puas dengan ucapan brengsek lo tadi? Hah?”

 

“Gue terpaksa bilang kasar seperti di mobil tadi, itu bukan jawaban sebenarnya” Rio tetap terus mencoba, menjawab dengan jujur, menjelaskan penuh kesabaran.

 

Ify tertawa pelan, sebuah tawa miris bercampur sinis. Ia seperti sedang dipermainkan.

 

“Bukan jawaban sebenarnya? Tapi kenapa gue ngerasa itu benar-benar jawaban dari singkronasi hati dan pikiran lo!!”

 

“Fy—“ Rio ingin meraih tangan Ify, namun dengan cepat ditepis kasar.

 

“Jangan sentuh gue! Gue nggak mau salah paham lagi”

 

“Gue termasuk gadis SMA yang mengira kalau seorang pria memegang tangannya berarti dia memiliki perasaan dengan gadis itu” sindir Ify memuaskan kemarahannya. Ia mengasah lidahnya agar semakin tajam.

 

Rio memilih diam saja, membiarkan gadis itu terus mengeluarkan emosi, kemarahan, unek-uneknya. Ia membiarkan Ify menyumpahinya. Rio sadar, ia yang salah disini. Jadi, Ify memiliki hak penuh mencelanya. Kulit putih wajah Ify tak terlihat lagi, berganti dengan merah padam. Rambut dan keadaan gadis ini sangat berantakan sekali. Pakaiannya belum diganti, sama dengan baju yang dipakainya sore tadi. Benar-benar bukan seperti Ify.

 

“Lo keluar dari kamar gue!”

 

“Se—ka—rang—ju—ga!!”

 

Ify memerintah dengan penekanan disetiap kata yang dilontarkan-nya. Tatapanya semakin penuh kebencian seolah Rio adalah musuh yang harus ia musnahkan sekarang juga.

 

Rio mempertahankan senyumnya, menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya.

 

“Baiklah, gue akan keluar” Rio tak ingin membuat emosi gadis ini semakin memuncak, ia takut semakin menyakiti Ify.

 

Rio menaruh se-rangkai bunga mawar putih yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Ia meletakkanya di depan Ify. Kemudian, beranjak dari sana.

 

BUKKK

 

Rio menghentikkan langkahnya, punggung-nya terasa dilempar dengan sesuatu. Ia membalikkan badannya, menatap Ify yang sedang memancarkan kobaran api tak bisa dipadamkan di kedua matanya. Pandangan Rio terarah ke bawah lantai, tepat dihadapannya rangkaian bunga mawar putih tersebut hancur tak berdosa. Ify telah melemparkannya.

 

“Gue benci banget sama lo!!”

 

“Lo jangan pernah nyentuh gue sedikit pun!”

 

“Lo jangan pernah muncul lagi dihadapan gue!”

 

“Lo jangan pernah menginjakkan kaki lo dirumah gue lagi!!”

 

“Lo jangan pernah nemuin gue lagi!”

 

Air mata Ify jatuh kembali tanpa diminta, kedua bahunya bergetar hebat. Rio memang pria dingin, angkuh dan tidak berperasaan. Bagaimana bisa pria itu menyerah begitu saja untuk meminta maaf kepadannya? Apa sungguh Ify tak memiliki arti apapun? Sepertinya benar dengan ucapan-ucapan kasarnya tadi. Ify merasa sedang dipermainkan!!

 

“Baiklah, akan gue lakukan” ucap Rio mencoba untuk tenang. Ia tau Ify sedang kalut, jadi ia menahan agar dirinnya tak ikut terpancing.

 

“Gue akan nuturin semua kemauan lo. Gue nggak akan nemuin lo lagi, gue nggak akan muncul dihadapan lo lagi bahkan gue akan pindah rumah kalau itu bisa buat lo legah dan senang”

 

“Gue akan melakukannya”

 

“Lo istirahat sekarang, jangan pernah nangis lagi atau lo akan menyesal”

 

“Gue bukan pria yang pantas untuk dapat air mata lo!!”

 

“Maafin gue”

 

Rio membalikkan badannya, melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda. Rio keluar dari kamar Ify, meninggalkan gadis itu yang semakin terisak dan menangis hebat. Ify tidak tau kenapa ia bisa seperti ini, kenapa ia harus menangis seperti orang bodoh hanya karena pria!. Menjijikan!!.  Hatinya masih terlalu lemah. Ia hanyalah seorang gadis remaja berumur 16 tahun.

 

Ify geram dan kesal setengah mati! Rio benar-benar brengsek! Dia adalah pria berhati dingin dan tak tau diri yang pernah ia kenal!.

 

“LO BENERAN BRENGSEK!!”

 

Ify membiarkan tangisannya semakin memecah, ia membaringkan tubuhnya, menutupi seluruh badannya dengan selimut, memilih untuk menangis didalam. Dadanya terasa semakin sesak, ia tak pernah merasakan sesakit ini menyukai seseorang. Kenapa ia bisa suka dengan Rio sampai segininya. Bodoh sekali dirinya! Harga dirinya sebagai seorang gadis sudah terinjak, ia tak punya muka lagi.

 

“Gue benci sama lo, Rio!!!!”

 

*****

Rio’s House. Rio berjalan memasuki kamarnya dengan kedua tangan membawa baskom air es dari dapur. Ia ingin mengompres wajahnya yang lebam akibat bertarung dengan Ando beberapa jam yang lalu. Rio mendesah berat.

 

 

“Aissh! Hari yang rumit!!”

 

 

Rio melemparkan waslap dan baskom ke-sembarang tempat. Merengangkan otot di seluruh tubuhnya yang sedari tadi menegang. Bayangan Ify menangis kembali menghantui. Ia harus apa? Gadis itu masih sangat emosi. Apapun yang ia katakan dan lakukan akan tetap salah dan tak termaafkan. Ia hanya ingin menunggu waktu yang tepat sampai Ify tenang. Entah kapan itu.

 

Rio memijat kedua pelipisnya, kepalanya terasa sangat berat sekali. Ia memejamkan kedua matannya.

 

 

DAAAAAKKK

DAAAAAKKK

TAAAAAAKK

DAAAAAK

 

 

Rio terpelonjat dari kasur, kaget bukan main. Pintu kamarnya di gebrak-gebrak begitu keras. Ia mengernyitkan kening bingung, Siapa yang datang ke kamarnya seperti itu?. Rio berpikir sebentar, mulai menduga-duga.

 

Mamanya? Tidak mungkin, sang mama siang tadi terbang ke Fillipina. Adiknya? illy? Tidak mungkin juga, gadis itu izin tidur dirumah Sivia lagi. Jangan-jangan Ando? Mungkin saja!! Pria itu pasti akan marah-marah kembali karena adiknya semakin menangis.

 

Rio mendesah berat, menyiapkan mental dan wajahnya yang akan dibuat babak belur lagi oleh Ando.

 

Ia berjalan gontai ke pintu kamar, terlalu lelah untuk berhadapan dengan Ando lagi.

 

 

DAAAAAKKK

DAAAAAKKK

TAAAAAAKK

 

 

 

Rio mendesis kesal, apakah sahabatnya itu sudah tak sabar menghabisinya?. Rio dengan malas menggerakan handle pintu, dan membukanya.

 

 

“IFY??!!!”

 

 

Bersambung . . . .

 

 

 

 

2 thoughts on “ENLOVQER DEVIL – 29

  1. Kak luluk ebook itu apa yaa… ?
    Sama kaya novel delov bukan ?
    Kalo beda aku mau dong kak…
    Kebetulan aku juga lagi order delove 1 & 2
    Klo beda kan bisa di kirim sekalian yaa…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s