ENLOVQER DEVIL – 30

ENLOVQER DEVIL – 30

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

 

“IFY??!!”

 

 

Rio membulatkan kedua matanya sempurna, kedatangan gadis ini diluar dari dugaanya. Ia sungguh sangat terkejut, dibuat kaget dengan penampakan kondisi Ify yang semakin berantakan. Mulai dari rambut, pakaian bahkan wajahnya benar-benar hancur parah. Rio mengerutkan wajahnya, tak tega menatap Ify seperti ini.

 

Kedua mata sembab itu masih menyorot tajam, memerah disekitarnya, rahang Ify menegas menunjukkan bahwa gadis ini sangat marah. Bekas air mata pun terlihat di pipi pucatnya. Bahu Ify bergetar, menahan agar tidak menangis.

 

Rio bingung harus bereaksi bagaimana. Addam Apple-nya bergerak beberpaa kali naik turun di lehernya,

 

 

“Lo—, Lo—, Lo” Rio kehabisan kata-kata, ia tak tau kalimat apa yang pantas untuk diucapkan kepada gadis di hadapannya.

 

 

Ify berjalan maju, satu langkah. Rio terbungkam.

 

 

“Lo tadi nanya-kan? Apa gue berharap lebih ke lo? Apa gue berharap lebih dari seorang adik?”

 

 

“YA GUE BERHARAP!!”

 

 

“Gue berharap biar bisa jadi pacar lo lagi!! Gue berharap lo juga suka sama gue seperti gue suka sama lo!! Gue berharap lo jatuh cinta sama gue! Gue berharap itu!!!”

 

 

“GUE SANGAT BERHARAP!!”

 

 

Ify berteriak kalut, meluapkan semua isi hati, amarahnya yang ingin meledak. Ify merasakan matanya kembali memanas, membuat bendungan penuh di pelupuknya. Ify tak bisa menahannya, jika saja benteng bendungan itu pecah. Ify akan membiarkannya saja. Harga dirinya telanjur terinjak-injak, ia akan semakin menginjaknya sendiri!!

 

 

“Fy, Kita ma—“

 

 

“GUE BENCI KENAPA CUMA GUE YANG NGERASAIN SAKIT HATI”

 

 

“GUE BENCI KENAPA GUE SUKA SAMA LO!!!”

 

 

“LO PRIA PALING BRENGSEK YANG PERNAH GUE TEMUI!!”

 

 

“GUE BENCI SAMA LO!!”

 

 

“GUE BENCI SAMA LO!!”

 

 

Ify menangis dengan isakan keluar dari mulutnya, dadanya terasa semakin sesak, teremas-remas keras. Sakit! Sangat sakit!. Tubuhnya bergetar hebat. Ia benar-benar mengeluarkan segala keberaniannya untuk datang langsung menemui Rio. Ia tidak bisa memendam perasaan dan amarahnya lebih lama.

 

Ify mengusap air matanya, mengatur napas dan mengontrol dirinya sendiri. Ia tertunduk, menahan malu yang begitu besar. Pria didepannya taka da respon apapun, Ify semakin diacuhkan. Harga dirinya sudah hancur tak tersisa!.

 

Ify merasa semua sudah cukup. Ia lebih baik pulang saja kerumah daripada menanggung malu yang semakin banyak. Ify membalikkan badannya, akan beranjak dari hadapan Rio. Tak ada lagi yang ingin ia ucapkan. Semuanya sudah ia utarakan kepada pria itu. Ia ingin kembali kerumah sekarang!.

 

 

“Lo mau kemana?”

 

 

Rio mencegahnya, meraih pergelangan tangan kanan-nya. Ify berhenti tak melanjutkan langkahnya.

 

 

“Lepasin gue!!” ucap Ify mencoba menepis tangan Rio, suaranya terdengar serak akibat menangis terus-terusan. Rio tak membiarkan Ify dengan mudah melepaskan tangannya. Ia tak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya.

 

 

“Lo tadi juga nanyakan? Apa hubungan kita berdua?”

 

 

Rio mendekat, berjalan maju. Dua langkah,

 

 

“Lo ingin apa? Sepasang kekasih? Suami-istri? Gue bisa kabulkan sekarang juga! Apapun yang lo minta!” suara Rio terdengar dingin, ia semakin mengeratkan cengkramannya.

 

 

Ify tertawa miris, ia menegakkan kepalanya, menatap Rio untuk beberapa detik.

 

 

“Lo kira gue sehina itu? Gue bukan pengemis!“

 

 

“Lepasin tangan gue sekarang juga!!” perintah Ify mengintimidasi Rio.  Kedua mata mereka berdua saling beradu. Kobaran api besar bah menyalut disana.

 

 

“Gue nggak mau” tolak Rio mentah-mentah.

 

 

Darah Ify terasa naik keatas semua, Rio menghabiskan kesabarannya.

 

 

“Gue bilang le—“

 

 

Ify membeku untuk beberapa saat, Rio tiba-tiba menarik tubuhnya dan langsung mencium bibirnya. Ify merasakan bibir lawannya mencoba menerobos, mencari cela. Ify tersadar cepat!!. Dengan kekuatan penuh, ia mendorong dada Rio, menjauhkan tubuhnya.

 

 

PLAAAAKK

 

 

             Ify menampar Rio, tanganya ia layangkan dengan kekuatan penuh. pria itu sudah terlewat batas. kedua tangan Ify bergetar, ia mengigit bibirnya menahan diri untuk tidak rapuh, tidak menangis lagi. Ia takut air matanya akan jatuh kembali dengan sia-sia. Sudah cukup air matanya ia turunkan begitu banyak malam ini. Sudah lebih dari cukup!!.

 

 

Rio terlihat sedikit terkejut, menatap Ify dengan tatapan sendu, tak menyangka.

 

 

“Kenapa lo nggak sekalian aja tidurin gue saat ini?”

 

 

“Apa perlu gue telanjang saat ini juga dihadapan lo?”

 

 

“Apa masih kurang harga diri gue lo injak-injak?”

 

 

“Apa lo masih belum puas Tuan Mario Adipati Haling?” suara Ify memelan, tenaganya hampir habis. Perlahan Ify tertunduk, mencoba melepaskan kembali tangan kananya yang masih dicengkram oleh Rio. Pria itu masih tak mau melepaskannya, menahannya lebih kuat.

 

 

Ify mendesah berat beberapa kali. Ia mengangkat kepalanya, menatap Rio namun bukan  tatapan setajam dan semenakutkan sebelumnya. Sebuah tatapan tersirat akan kesedihan dan kesakitannya yang dirasa detik ini.

 

 

“Lo anggap gue ini apa? Mainan Barbie ? yang bisa lo cium kapanpun semau lo?”

 

 

“Gue bisa salah paham!”

 

 

Rio terdiam dengan sorot mata sama seperti tadi, ia lebih lekatkan pengelihatannya ke Ify, mendengarkan saja semua ocehannya. Ify terlihat lelah, bibirnya memucat.

 

 

“Lo beneran brengsek tau nggak yo!!”

 

 

“Sangat brengsek!!”

 

 

Kalimat mematikan itu berhasil membuat genggaman Rio mengendor dan akhirnya terlepas dari tangan Ify. Rio mengarahkan kepalanya ke bawah, bibirnya tersungging miris. Ia tertawa pelan, menertawakan dirinnya sendiri. Dan detik berikutnya……….

 

 

BRUKKK

 

 

          Rio menjatuhkan tubuhnya, berlutut dihadapan Ify.

 

 

“Apa seperti ini cukup?”

 

 

Ify mendadak diam, meresapi apa yang baru saja dilakukan pria dihadapannya. Tak mengerti.

 

 

“Apa yang lo lakukan?” sinis Ify dingin,

 

 

“Berlutut meminta maaf” jawab Rio dengan cepat, kepala pria itu tertunduk kebawah.

 

 

Ify membuang muka, menahan senyum getir. Kedua tanganya mulai gemetar kembali, ia menggengganya erat. Bukan ini yang ia inginkan, kenapa Rio harus sampai melakukan hal seperti ini? Tentu saja ia terkejut dan sedikit tak percaya.

 

Seorang pria angkuh dan sangat dingin tak berperasaan baru saja menjatuhkan tubuhnya sendiri dihadapan seorang gadis berumur 16 tahun. Mengesankan!

 

 

“Lo ngerasa harga diri lo sudah jatuh dan terinjak-injak karena gue kan?” Rio membuka suaranya kembali,

 

 

“Gue akan lakukan hal yang sama, jatuhin harga diri gue di depan lo”

 

 

Ify tak merespon, diam memandang ke arah lain. Ia takut air matanya akan jatuh lagi jika melihat Rio seperti itu.

 

 

“Apa gue perlu sujud dikaki lo, sekarang?”

 

 

Ify mengigit bibirnya, memejamkan matanya menahan tubuhnya yang tak berhenti bergetar. Ify mengatur napasnya, menghembuskan-mengeluarkan selama beberapa kali. Otaknya butuh asupan oksigen dan udara segar di paru-parunya. Kepalanya terasa berat. Rio seharusnya tak sampai melakukan hal seperti itu. Ia tak butuh!

 

 

“Berdiri!!” ucap Ify dengan susah payah mengeluarkan kalimat itu.

 

 

“Jawab!! Apa gue perlu sujud di kaki lo??!” Rio mengindahkan perintah Ify, suaranya parau bercampur dingin.

 

 

Ify menahan kesal setengah mati, apa sebenarnya keinginan pria ini? Ify tak menahan amarahnya yang akan mencuat kembali.

 

 

“Berdiri sekarang!!!!” tajam Ify. Ia menengok memutar kepalanya, menatap kebawah. Pria itu masih berlutut tak beranjak disana.

 

 

Perintah Ify sekali lagi tak dihiraukan oleh Rio, ia tetap di posisinya tak bergerak sedikit pun dan membuat Ify semakin kesal kepdannya. Ify sama sekali tak pernah dapat membaca jalan fikiran Rio yang selalu berhasil mengejutkanya. Pria ini benar-benar sangat mengagumkan!! Cihh—.

 

 

“Gue minta maaf” lirih Rio, suaranya melembut tak sedingin tadi.

 

 

“Gue bilang berdiri, brengsek!!” pekik Ify kehabisan kesabaran.

 

 

“Gue minta maaf”

 

 

Tangan Ify tertahan,  ingin sekalanya ia melayangkan pukulan ke arah kepala Rio, agar pria itu sadar dan segera berdiri.

 

 

“Lo nggak berdiri gue akan tampar lo sekali lagi!” ancam Ify sungguhan.

 

 

“Gue sungguh min—“

 

 

PLAAAAAKKK

 

 

          Rio meringis, Ify tidak main-main dengan ucapannya barusan. Ia menampar Rio dengan sangat keras sekali. Rio tak dapat membayangkan lagi bagaimana nasib wajah dan bibirnya yang telah menjadi korban dua tangan brutal. Rio tertawa ringan, getir dan miris.

 

 

“Gue udah bilang kan kalau gue nggak akan maafin lo? Jadi nggak perlu susah-susah minta maaf”

 

 

“Daripada sia-sia!!”

 

 

“Sebaiknya lo berdiri sekarang juga!!”

 

 

Rio menuruti ucapan Ify kali ini, ia membangunkan tubuhnya, berdiri. Tangannya menyentuh bibirnya yang kembali berdarah. Ia merasa ada yang sobek di sudut sana. Rio menahan, menekannya agar darah itu tak keluar terus.

 

Ify menatap Rio yang terlihat kesakitan, matanya membulat terkejut. Ia baru menyadari bahwa wajah pria ini penuh lebam dan kebiru-biruan. Apa karena tamparannya? Apa dirinya melayangkan tamparan yang sangat keras sekali? Tidak mungkin!. Efek tamparannya terlau berlebihan jika sampai seperti itu. Pasti telah terjadi sesuatu sebelumnya dengan Rio. Pikirnya.

 

 

“Ke—, Kenapa wajah lo?” Ify sedikit merutuki pertanyaan bodohnya, kenapa tiba-tiba ia jadi melunak.

 

 

“Ando habis ngajar gue habis-habisan”  jawab Rio jujur, tak ingin menyembunyikan.

 

 

Ify memperlihatkan ekspresi tak percayanya. Matanya membulat kembali, sedikit shock dengan jawaban Rio barusan. Ia tak menyangka bahwa Ando sampai semarah itu dan menghabisi wajah Rio. Ify mulai sedikit kasihan. Pertama: pria itu telah dihajar oleh Ando, kedua: pria itu sampai berlutut di hadapannya. Apa ia sudah keterlaluan? Aissh!!!.

 

Ify mengigit bibirnya, binggung. Di sisilain ia masih sangat kesal dan sakit hati dengan Rio, di sisi lainnya ia tak tega melihat wajah Rio yang mengenaskan. Bibirnya berdarah, di sekitar pipi dan bawah matanya lebam kebiru-biruan.

 

 

“Nggak usah pasang wajah kasihan” Rio tertawa ringan, lucu melihat ekspresi Ify yang mengkerut melihatnya tak tega.

 

 

“Bersihkan dulu bibir lo, darahnya terus keluar” ucap Ify tak mempedulikan pernyataan Rio sebelumnya, Fikiran Ify telah didominasi oleh hatinya sendiri.

 

 

Rio terkejut bukan main, gadis ini kenapa tiba-tiba melunak seperti ini? Apa dia sudah tidak marah lagi dengannya? Apa Ify tidak benci lagi dengannya? Apa Ify sudah memaafkannya?

 

 

“Lo—, Lo nggak marah lagi sama gue?” tanya Rio hati-hati.

 

 

“Gue ambilkan kompresan es batu dulu”

 

 

Ify tak berniat menjawab, ia langsung membalikkan badannya berjalan menjauhi Rio tanpa suara. Ify berjalan ke arah dapur untuk mengambil es batu di kulkas.

 

Rio tersenyum ringan, ia mengikuti Ify dari belakang.

 

Ify mengeluarkan baskom di salah satu lemari kecil, kemudian menaruh beberapa es batu diatasnya. Ify mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu benda untuk membungkus es batu tersebut. Ia mendesah pelan, tak menemukan apapun.

 

 

“Lo ad—“

 

 

Ify mematung, terdiam. Ia merasakan hangat dibelakang punggungnya. Rio memeluknya dari belakang, kedua tangan pria itu melingkar di pinggangnya. Ify mengigit bibir bawahnya, mengontrol detakan jantungnya yang mulai diluar kendali lagi. Rio selalu saja bisa memainkan perasaannya!!! Sangat lihai!!.

 

Ify dapat merasakan hembusan nafas Rio di belakang lehernya,

 

 

“Gue beneran nggak bermaksud dengan ucapan gue di mobil”

 

 

“Gue hanya ingin menepati janji ke Ando”

 

 

“Tapi gue nggak bisa”

 

 

“Gue beneran……”

 

 

Rio semakin mengeratkan pelukannya, merengkuh tubuh kecil Ify lebih dekat.

 

 

“Gue beneran jatuh cinta sama lo bahkan sebelum lo jatuh cinta ke gue”

 

“Lepasin, kak” pinta Ify baik-baik. Ini untuk kedua kalinya ia memanggil Rio dengan sebutan “kakak”. Sedikit aneh di bibir Ify, tapi ia tak tau harus berkata apa lagi. Pikirannya terbelah, kacau. Jantungnya semakin berdetak cepat, aliran darahnya mengalir bah air terjun ber-arus kencang.

 

 

“Gue sayang sama lo!”

 

 

Kalimat yang sangat dinanti oleh Ify akhirnya keluar dari bibir Rio tanpa di duga. Ify membeku ditempat. Bingung harus bereaksi bagaimana, ia tak menyangka Rio akan mengatakan ini. Pernyataannya terdengar sungguh-sungguh.

 

 

Ify semakin mengigit bibirnya menahan sudut bibirnya yang ingin terangkat. Ify tidak munafik bahwa hatinya berdesir hebat, seperti diserang oleh beribu serbuk sakura. Terasa hangat, lembut dan menyejukkan.

 

 

Ify menghela nafasnya beberapa kali, mengontrol dirinnya sendiri.

 

 

“Lepasin kak!” pinta Ify sekali lagi, kali ini Rio menuruti. Kedua tanganya ia lepaskan dari tubuh Ify.

 

 

Ify berputar, membalikkan badannya ke arah Rio. Ia menatap pria itu yang juga sedang menatapnya. Untuk waktu beberapa detik terasa sangat canggung.

 

 

“Lo ada waslap?” tanya Ify memecah keheningan. Rio mengangguk.

 

 

“Di kamar gue”

 

 

Ify tak menyahuti, ia melewati Rio dan berjalan melangkah ke kamar Rio. Senyum di bibir Ify sedikit mengembang. Sangat sedikit sampai tidak dapat dikatakan bahwa itu sebuah senyuman.

 

 

Rio mendesis pelan, mendapatkan Ify memang sangatlah susah! Butuh banyak pengorbanan. Rio kembali mengikuti Ify.

 

 

Rio menatap Ify yang sedang sibuk membungkus es batu kedalam waslap, gadis itu melakukanya dengan telaten. Rio menyunggingkan senyumnya, ia mendekati Ify mengambil duduk tak jauh dari gadis itu.

 

 

“Tekan di luka lebam lo” Ify menyodorkan kompresan buatannya.

 

 

Rio menerimanya, melakukan apa yang di perintahkan oleh Ify. Ia menahan kompresan itu di pipinya. Rasa dingin, sejuk merasuk di permukaan kulit wajahnya. Rio menghela legah.

 

 

“Lo mau kemana?” tanya Rio ketika Ify akan berdiri dari tempat duduknya.

 

 

“Ambil kotak p3k, bibir lo masih berdarah”

 

 

Rio mengangguk ringan, membiarkan saja Ify meninggalkannya.

 

 

Tak lama kemudian, Ify kembali lagi ke kamar membawa kotak P3K dengan perlatan lengkap di dalamnya. Ify tak sungkan mendekat ke Rio, duduk dihadpaan pria itu. Ify mencoba tenang, tak peduli dengan tatapan Rio yang sedari tadi fokus kepadannya.

 

Ify mengeluarkan cairan Nacl, membasahinya dengan kasa kecil. Kemuduian ia mulai membersihkan luka Rio agar steril. Ify melakukannya pelan-pelan, terdengar suara ringisan pelan dari bibir Rio.

 

Ify sama sekali tak berani menatap mata Rio. Ia fokus saja untuk merawat luka bibir Rio.

 

 

“Aww—, pelan-pelan” pinta Rio. Ify mengangguk saja.

 

 

Setelah melihat darah di bibir Rio tak keluar lagi, Ify mengambil betadine, ia meneteskan pada kassa kecil beberapa kali, dan membubuhkannya pada luka Rio. Ify melakukannya dengan sedikit cepat agar Rio tak terus meronta kesakitan.

 

 

“Besok mungkin udah kering” ucap Ify setelah melakukan pertolongan kecilnya, ia memasukkan kembali semua perlatan ke dalam kotak. Ia membereskan dengan cepat.

 

 

Ify berdiri dari tempatnya, mengangkat kotak P3K dengan tangan kanannya.

 

 

“Lo mau kemana?” tanya Rio lagi, tatapanya menunjukkan ketidak-relaan jika Ify pergi.

 

 

“Taruh aja kotak P3Knya disini, nanti gue yang akan naruh ditempatnya kembali” lanjut Rio sebelum dijawab oleh lawan bicarannya. Ify mengangguk, menaruh kembali kotak P3K tersebut.

 

 

Terjadi keheningan beberapa saat, Ify berdiri mematung dan Rio terdiam menatap Ify sangat lekat.

 

 

“Gu—, Gue mau pulang” ujar Ify memecah keheningan, ia merasa sangat aneh dan canggung sekali dengan situasi saat ini.

 

 

“Apa lo nggak bisa tidur disini malam ini?” pinta Rio, suaranya sedikit momohon.

 

 

Ify tertunduk, tak tau harus menjawab apa. Ia masih sedikit trauma, takut Rio mempermainkannya lagi. Takut semua ucapan Rio hanya kebohongan semata. Ia tak ingin merasakan rasa sakit, kebencian seperti beberapa jam yang lalu yang membuatnya sangat menderita. Jujur, di dalam hatinya masih terbesit kekesalan dan amarah kepada Rio. Ia belum memaafkan sepenuhnya.

 

 

“Besok gue sekolah, kak Ando juga pasti nyariin gue” jawab Ify mencari alibi. Ia mencari alasan yang sangat masuk akal dan dapat diterima oleh Rio.  Ify berharap Rio tidak akan memaksannya lagi.

 

 

Rio mendesah pelan, ia menaruh waslap ditanganya disembrang tempat kemudian berdiri dan berjalan mendekati Ify.

 

Rio langsung menarik tubuh Ify dalam dekapannya, memeluknya sangat erat. Ify hanya diam saja, tak menolak maupun membalas pelukan Rio. Ia cukup terkejut.

 

 

“Gue tau lo masih marah sama gue”

 

 

“Gue akan buktiin ke lo, kalau gue beneran serius sama lo”

 

 

“Gue nggak akan buat lo nangis seperti tadi lagi. Gue janji.”

 

“Kasih gue satu kesempatan lagi untuk menebus semuanya”

 

 

Rio melepaskan pelukannya, menatap wajah Ify lekat-lekat. Gadis itu tertunduk tak berani membalas kedua matanya. Rio tersenyum ringan, melihat wajah Ify seperti ini sangatlah menggemaskan. Gadis itu sedikit salah tingkah, pipinya memerah.

 

 

Rio mengacak-acak puncak rambut Ify, kemudian mendaratkan bibirnya disana. Memberikan sebuah ciuman yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.

 

 

Perlahan Rio melepaskan jarak mereka. Sekali lagi menatap Ify.

 

 

“Udah malam, lo balik ke rumah sekarang. Istirahat yang cukup”

 

 

“Gue akan anterin lo besok ke sekolah”

 

 

Ify hanya mengangguk seperti robot, wajahnya terlihat menegang dan malu setengah mati. Tak berani sama sekali menatap Rio.

 

 

“Gue pulang dulu, kak” pamit Ify dan berhasil membuat Rio tertawa renyah. Sedikit aneh ditelingannya jika gadis ini memanggilnya dengan “kakak”. Tapi entah kenapa ia sangat suka dengan panggilan itu.

 

 

“Gue anterin sampai depan rumah”

 

 

“Nggak usah! Gue bisa pulang sendiri”

 

 

Ify menolaknya dan dengan cepat menjauh beberapa langkah dari Rio membuat pria dihadapannya mendadak bingung, heran.

 

 

“Selamat malam kak”

 

 

Ify langsung ngeluyur dengan kepala terus tertunduk. Ia berjalan dengan speed diatas rata-rata seperti pelari jalan cepat. Rio geleng-geleng melihat tingkat aneh gadis itu. Padahal baru saja beberapa jam yang lalu mereka berdua bertengkar hebat. Namun, saat ini kondisi sudah cukup membaik. Rio sangat bersyukur, dan tak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Ia berjanji dalam hatinya bahwa dirinya akan serius menebus kesalahannya kepada Ify, ia akan menjaga Ify dan serius memulai hubungannya dengan Ify.

 

 

“Dia memang gadis luar biasa”

 

 

****

Bersambung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s