ENLOVQER DEVIL – 31

ENLOVQER DEVIL – 31

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

Pagi. Ify menurni tangga, tanganya masih sibuk menguncir rambutnya ke belakang. Hari ini adalah hari pertama ia kembali ke sekolah setelah izin selama hampir satu minggu lebih. Ify menurunkan rok.nya sedikit kebawah.

 

“Eh—“ gumam Ify pelan, sedikit kaget ketika menjajahkan kakinya di ruang makan.

 

Ify melihat Rio sudah bertenger disana, sibuk sarapan dan berbincang dengan Ando. Mereka nampak sedang asik, tak menyadari kehadiran pihak lain dibelakang mereka. Ify menghela pelan, mengatur detakan jantungnya yang mulai tak terkendali. Entahlah, menatap wajah pria yang disukainya saja membuatnya salah tingkah sendiri. Ify memang sudah gila!

 

Sreett

 

Ify menghentikan perbincangan kedua pria dewasa itu ketika dirinya menyeret salah satu kursi disamping Ando, dan mendudukinya. Ando dan Rio menoleh sebentar ke Ify.

 

“Thanks sarapannya, gue manasin mobil dulu. Ada yang perlu gue ambil juga di kamar” Rio meneguk tetesan terakhir susu cokelat hangatnya. Ia berdiri, memundurkan kursi yang didukinya dan langsung beranjak dari sana tanpa menatap Ify sedikit pun. Seolah tak mengangap kehadiran Ify.

 

Ify mendengus, sangat kesal!. Pria itu tak pernah berubah, tetap dingin ngalahin freezer-kulkas!.

 

“Kenapa lo?” tanya Ando, mengernyitkan kening menatap aneh adiknya yang cemberut di pagi hari.

 

“Nggak ada!” sentak Ify, nadanya dingin dan jutek. Ify mengoles selai diatas roti.nya ogah-ogahan.

 

Ando bergidik ngeri, setiap hari kelakuan sang adik semakin tak beres.

 

“Lo diantar Rio?” tanya Ando basa-basi, ia sebenarnya sudah tahu jawabannya. Rio tadi pagi yang memberitahukannya ketika datang untuk ikut sarapan.

 

“Nggak tau” jawab Ify cuek, toh memang dirinnya tidak tahu apakah pria itu akan mengantarnya atau tidak, mengingat sikap acuhnya beberapa menit lalu. Ify sangat kesal!.

 

“Kalian masih bertengkar?” tanya Ando sedikit penasaran.

 

Ify mencomot rotinya,  mengunyahnya pelan-pelan.

 

“Gue izinin lo pacaran sama Rio, tapi lo juga harus pintar jaga diri. Rio orangnya sangat sibuk, banyak yang ngincar. Jadi lo harus hati-hati dan selalu sabar” Ando memberikan dalil bijak-nya di pagi hari. Ify manggut-manggut, mengiyakan.

 

“Cepat habiskan sarapan lo, Rio kayaknya udah nungguh di depan”

 

“Gue siap-siap mau keluar, ada urusan sampai nanti malam”

 

Ando berdiri dari kursinya, ia mencium puncak kepala Ify sebentar kemudian beranjak meninggalkan sang adik yang masih fokus sarapan.

 

*****

Ify keluar dari gerbang rumahnya, mobil Lamborghini Aventador hitam bertenger mewah di depan rumah Rio. Ify mengernyitkan kening, sedikit bingung. Otaknya dipenuhi beberapa pertanyaan. Rio baru beli mobil? Mobilnya baru?

 

Tiiitt

 

            Suara klakson mobil menyadarkan Ify, sumber tersebut berasal dari mobil didepannya. Sepertinya memang benar itu mobil Rio. Ify mengerjapkan matanya beberapa kali, masih tak ingin beranjak. Ia ragu.

 

“Lo mau sampai kapan disana?”  Rio membuka kaca jendelanya, kepalanya nongol sedikit.

 

“Ayo berangkat” ajak Rio.

 

Ify mengangguk pelan, kemudian melangkahkan kakinya. Berjalan mendekati mobil Rio.

 

Kleekk

 

Pintu mobil Rio terbuka sendiri mengarah keatas, Ify sedikit terkejut dan memundurkan kakinya beberapa langkah. Ify mencoba tetap bersikap biasa, masuk kedalam mobil mahal nan mewah tersebut.

Bau parfume masculine khas Rio menyambut indra penciuman Ify. Jujur, ia dibuat cukup terkesan dengan desain dan bentuk di dalam mobil Rio. Benar-benar menunjukkan bahwa pria disampingnya adalah orang kaya raya.

 

“Eh—“ kaget Ify mendapati Rio mendekatkan tubuh ke arahnya dan memakaikan seatbelt-nya. Kedua pipi Ify merona, padahal ini bukan pertama kali Rio melakukanya tapi entah kenapa jantungnya selalu berdetak cepat, tak menentu.

 

Tanpa banyak aksi dan kata lagi, Rio segera menjalankan mobilnya. Berangkat~

*****

 

Mereka sama-sama diam, keadaan sedikit aneh dan canggung. Mungkin efek kejadian semalam yang masih tersisa. Baik Ify dan Rio tak ada yang ingin memecah keheningan terlebih dahulu. Keduanya menatap lurus kedepan dengan pikiran liar masing-masing.

 

Baby one more time

Baby one more time ~~

 

Nada dering ponsel Ify berbunyi, ia lupa mematikan vibrasi ponselnya. Ify merogoh tasnya, dan mengambil ponselnya yang masih berbunyi. Ify mengernyitkan kening, sebuah nomor tak ia kenal menelpon. Ia berpikir sebentar, mengangkatnya atau tidak?

 

Angkat saja, daripada diam tak nyaman!.

 

“Hallo” Ify mengangkat sambunganya, mendekatkan ponsel ke telinga kananya.

 

“Fy, lo hari ini berangkat sekolah? Gue ada di depan rumah lo”

 

Ify diam bingung, suaranya familiar tapi siapa? Ify berpikir keras.

 

“Siapa?” Ify tak menemukan jawaban apapun, menyerah.

 

“Hah?Lo nggak simpan nomor gue? Atau  Lo hapus nomor gue?”

 

“Ini Brian”

 

Ify ber-o ria didalam hati dengan mulut setengah terbuka. Ia menengok kepalanya, ke arah Rio. Pria itu tak bergeming, tetap fokus menyetir menatap ke depan. Ify jadi teringat kejadian beberapa minggu yang lalu. Sepertinya Rio memang men-delete nomor Brian dari kontak ponselnya.

 

“Gue sekolah kok. Ini udah berangkat” jawab Ify tenang.

 

“Yaa. Gue telat kayaknyanya, yaudah sampai ketemu di sekolah.”

 

Beepp

 

Sambungan dimatikan oleh pihak sebrang, Ify mengangkat kedua bahunya tak paham maksud dari Brian menelpon-nya. Ia tak mau memikirkannya lebih lanjut, tak guna juga. Ify memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.

 

“Siapa?” tanya Rio bersuara, ia terlihat cukup penasaran.

 

“Eh?” kaget Ify menatap Rio.

 

“Siapa yang nelfon tadi?” Rio memperjelas, menunggu jawaban Ify.

 

“Brian” jawab Ify enteng, ia berkata jujur dan tak perlu ada yang disembunyikan.

 

Rio manggut-manggut, tak ada ekspresi di wajahnya. Datar dan sangat dingin. Ify mendecak pelan, bagaimana bisa ada pria dengan sifat dan bentuk muka seperti itu?. Monoton!.

 

Ify semakin kesal diacuhkan seperti ini, meskipun kepribadiannya juga dingin dan tak peduli sekitar tapi hanya diam-diaman seperti ini dengan pria yang disukainya apa enak? Sangat tidak nyaman. Ify mencoba berpikir keras.

 

“Mobil lo baru?” tanya Ify cukup tak penting sebenarnya, daripada tak menemukan bahan pembicaraan lain.

 

“Hmm” deham Rio singkat, tak memberikan feedback. Ify mendengus sangat pelan, menjengkelkan!!.

 

Ify melipatkan kedua tangannya di depan dada, memanyunkan bibirnya. Kedua matanya menyorotkan amarah disana. Pagi ini Rio telah membuat mood-nya hancur! Ia jadi semakin ragu dengan ucapan Rio semalam? Apa jangan-jangan ia dipermainkan lagi. Ify ingin teriak rasanya!!.

 

Ify melirik ke Rio sebentar, sebuah ide  konyol terlintas di otaknya.

 

“Belikan gue mobil kayak gini!!”

 

Ucapan Ify barusan berhasil membuat kepala Rio terputar 90 derajat dengan cepat, Rio menatap Ify dengan tatapan entahlah. Namun detik berikutnya ia fokus ke depan kembali, menyetir.

 

“Mobil lo kemarin masih nganggur” balas Rio mengingatkan, Ify mengigit bibirnya, merasa tersudutkan. Ify mendesah pelan. Berpikir keras, ia tak boleh kalah. Ia ingin membuat Rio kesal kepadanya! Ia berencana balas dendam saat ini.

 

“2 minggu lagi ulang tahun gue ke 17 tahun, gue mau kado mobil ini!” titah Ify tak mau dibantah. Nadanya memaksa.

 

Terdengar suara helaan napas dari mulut Rio.

 

“Padahal gue udah nyiapkan kado lain, tapi kayaknya lo pingin banget mobil ini”

 

Ify mendadak diam, apa yang barusan Rio katakan? Dia tidak salah dengar kan?. Ify menoleh cepat ke arah Rio.

 

“Apa kadonya?” tanyanya tak sabar. Rio terkekeh pelan.

 

“Lo mau kado yang udah gue siapkan atau mobil ini?”  Rio mulai ber-negosiasi.

 

“Dua-duanya” jawab Ify tanpa dosa, tak peduli dengan reaksi pria disampingnya.

 

Rio mendecak, geleng-geleng tak percaya dengan jawaban Ify yang begitu enteng tanpa beban.

 

“Sejak kapan lo jadi maruk kayak gini, sayang”

 

Ify mematung, tak bisa berkata apapun. Tubuhnya seperti baru saja tersetrum aliran listrik dengan watt berdaya kuat.  Ia mendudukan kepalanya, tanganya terkepal dan beberapa kali meneguk salivanya. Kerongkongannya mengering.

Ify merasakan kedua pipinya memanas, jantungnya mulai berdetak kembali tak terkendali. Untuk pertama kalinya Rio memanggilnya “sayang”. Sebenarnya sangat menjijikan tapi entah kenapa ia merasa desiran hebat dan aneh menyerangnya ketika Rio yang mengatakannya.  Pria angkuh, acuh, tak berperasaan dan dinginnya bukan main seperti Rio dapat mengatakan hal seperti ini. Sungguh keajaiban tuhan yang maha besar!.

 

Detik berikutnya Ify tersadar, ia nampak berpikir. Apa ini menandakan bahwa dirinya dan Rio sudah pacaran kembali? Tapi Rio tidak memintanya untuk menjadi kekasihnya. Ify jadi semakin bingung dengan status hubungannya dengan Rio!!. Pria itu tak pernah memperjelas dan selalu berlaku seenak jidatnya.  Seperti barusan!.

 

Ify bernapas legah, akhirnya ia telah sampai didepan gerbang sekolahnya. Banyak pasang mata menatap takjub kearah mobil Rio. Mereka semua berhenti sejenak hanya untuk menatap dan men-scan mobil yang ditumpanginya. Ify jadi ragu untuk keluar, pasti dirinya akan menjadi sorotan. Ia sangat tak suka.

 

“Nggak keluar?” tanya Rio terkesan mengusir. Ify memberikan tatapan skiptis.

 

“Lo ngusir gue?” kesal Ify kehabisan kesabaran.

 

“Bukan gitu, ini udah mau jam 7 nanti telat” jelas Rio meralat ucapannya. Ify mendesah pelan, melepaskan seatbelt kursinya.

 

“Besok jangan bawa mobil ini lagi! Gue nggak suka jadi tontonan” ucap Ify dengan wajah un-mood. Ify memakai tas punggunya dan merapikan roknya.

 

Rio menatap lekat-lekat gadis disampingnya yang sedang cemberut kesal. Sangat menggemaskan.

 

“Nanti gue jemput atau gimana?” tanya Rio sambil mengeluarkan dompetnya dari dahsbor kecil dekat stir mobil.

 

“Terserah” jawab Ify asal, ia bersiap membuka pintu mobil Rio.

 

“Nih” Rio menyodorkan beberapa lembar kertas persegi panjang, berwarna merah dengan gambar bapak soekarno-hatta. Ify menatap Rio bingung.

 

“Buat?”

 

“Uang jajan” jawab Rio tenang.

 

Ify mendesis sini,

 

“Gue bukan istri lo! Gue punya uang sendiri” tolak Ify mentah-mentah. Ia bukanlah gadis matrealis, dirinya cukup mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

 

“Nitip buat illy” lanjut Rio menampakkan ekspresi paling datar, polos dan tak berdosanya.

 

Tangan Ify sudah terkepal kuat, ingin sekali ia layangkan ke kepala Rio dan mengajarnya habis-habisan. Ify menyahut kertas yang disebut uang dalam satu sentakkan, amarahnya berkoar.

 

“Nggak usah jemput gue!!”

 

Ify segera turun, keluar dari mobil Rio dengan cepat. Ia tak peduli pasang mata teman-temannya menatapnya terkejut, ia macak bodoh dan melangkah masuk ke dalam sekolahnya. Mengenyahkan diri dari hadapan pria menjengkelkan itu!!. Rio brengsek!!

 

            Rio tertawa pelan, melihat wajah Ify yang sangat kesal kepadanya sedikit membuatnya bersalah. Sebenarnya uang itu memang ingin ia berikan kepada Ify. Namun, karena gadis itu dengan cepat menolaknya dan tidak mungkin juga ia memasukkan kembali uang tersebut kedalam dompet, munculah kalimat bodoh tadi.

Sekali lagi Rio dibuat kagum dengan Ify, menurutnya dia berbeda dengan gadis-gadis lainnya. Meskipun umurnya belum menginjak 17 tahun tapi sifatnya sangat dewasa walau terkadang childish dan manjanya keluar tiba-tiba dan tak terduga. Rio memaklumi karena Ify tetaplah gadis remaja kecil yang sedang tahap pertumbuhan.

Ify telah hilang dari padangannya, Rio segera menjalankan mobinya kembali, beranjak dari sana.

****

Ify masuk kedalam kelas, semua temannya nampak terkejut. Ify tak peduli dan terus berjalan saja. Ia mendekati Sivia yang sedang asik mengobrol dengan illy. Dua sahabatnya sudah datang duluan.

 

“Nih” Ify melemparkan uang titipan Rio dengan seenaknya dihadapan illy.

 

Sivia dan illy kaget dengan kedatangan Ify tiba-tiba, mereka tak mengira gadis ini akan masuk sekolah hari ini.

 

“Ini apa?” tanya illy bingung, memunguti lembaran-lembaran merah itu yang bertebaran diatas mejanya.

 

“Uang” jawab Ify singkat, menaruh tasnya diatas meja.

 

“Anak kucing baru lahir juga tau ini uang, maksud gue kenapa lo ngasih gue uang? Lo kira gue korban kurang mampu?” sewot illy menyodorkan kembali uang tersebut ke Ify.

 

“Kakak lo nitip ke gue” jelas Ify mencoba sabar.

 

Illy terdiam, dahinya mengkerut menandakan kebingungan besar.

 

“Kakak gue? Rio?”

 

“Emang kakak lo ada berapa?” kini Sivia ikut menyahuti.

 

“Satu sih, tapi ngapain dia ngasih gue uang lagi?”

 

Tak ada yang bisa menjawab, baik Sivia dan Ify hanya diam tak paham.

 

“Tadi pagi dia udah transfer ke atm gue. Lumayan banyak” illy semakin menjelaskan, Ify mengangkat bahunya tak peduli dan tak ingin tau.

 

“Kita anggap ini rezeki anak-anak sholelah” simpul Sivia menengai.

 

“Gimana kalau sepulang sekolah kita nonton bareng? Kita bertiga jarang banget hang-out bersama. Setuju?” illy mengeluarkan ide-nya berharap dua sahabatnya berkata “iya”

 

“Oke setuju” ujar Sivia bersemangat. Mereka berdua menatap Ify penuh harap.

 

“Oke”  sahut Ify mengiyakan.

 

Sivia dan illy berteriak senang, mereka ber-highfive ria, jarang-jarang Ify mau ikut bermain bersama. Kesempatan yang sangat langkah dan perlu diabadikan nantinya.

 

“Fy, Ada dokter Brian nyari lo di depan” ujar Ray yang baru saja masuk kedalam kelas.

 

Ify nampak bingung,

 

“Temuin aja gih” paksa Sivia dan illy bersamaan. Mereka berdua tak mau lagi jadi korban narasumber dari Dokter Brian.

 

Ify menganguk, ia berdiri dari kursinya dan berjalan keluar.

 

“Kena setan apa tuh anak? Semua omongan kita diturutin?” heran illy sangat takjub.

 

“Waahh, dia sarapannya pasti sianida dicampur oli bekas” timpal Sivia menyetujui ucapan illy.

 

****

Brian mengajak Ify berbicara berdua di perpustakaan sekolah. Awalnya Ify tak mau namun pria itu tetap maksanya dan karena Ify tak mau semakin ribet ia menuruti permintaan Brian.

 

“To to the point aja. Ada apa?”

 

“Lo kemarin-kemarin kemana? Nggak sekolah?” tanya Brian memulai pembicaraan.

 

“Liburan” jawab Ify asal dan Brian terlihat percaya. Pria itu tersenyum.

 

“Nanti malam gue ajak dinner mau? Ad—“

 

“Nggak mau” tolak Ify cepat. Brian menatap Ify memohon diberi satu kesempatan.

 

“Ada yang ingin gue sampaikan” pinta Brian. Ify mendesah pelan,

 

“Kenapa nggak sekarang aja?”

 

“Please, sekali ini aja kabulkan permintaan gue. Hari ini ulang tahun gue”

 

Ify berpikir sebentar, ia menurunkan tatapanya.

 

“Lo smskan aja tempat dan waktunya, gue nanti kesana. Nggak perlu jemput”

 

“Oke” Brian mengiyakan, ia tersenyum penuh kemenangan. Ia tak peduli jika tak bisa menjemput Ify yang penting gadis dihadannya menyetujui ajakkan makan malamnya.

 

Ify berdiri dari kursinya,

 

“Gue masuk kelas dulu kak” pamit Ify dan segera beranjak meninggalkan Brian disana yang masih terus tersenyum tanpa henti.

****

 

Ify, Sivia dan illy keluar dari mall, selesai menonton film Train to busan  di CGV-blitz. Tangan mereka masing-masing membawa segelas lemon-squash yang sempat dibeli di salah satu franchise food-court. Mereka berjalan ke parkiran, menuju mobil illy.

 

“Kemana lagi kita?” tanya illy kepada dua penumpang lainnya.

 

“Gue pulang, jam 7 ada janji sama Kak Brian” ucap Ify yang langsung menarik perhatian illy dan Sivia.

 

“Kok tumben lo mau?” tanya Sivia tak percaya.

 

“Dia lagi ulang tahun hari ini, nggak enak gue nolak” jelas Ify sekenannya.

 

“Waah ati-ati lo diajak balikan” illy mulai kompor tak jelas.

 

“Cihh—, jelas gue tolak lah!” sunggut Ify penuh keyakinan. Illy tertawa lepas.

 

“Gue lupa, lo kan udah kecantol sama kakak gue” ucap illy berniat bercanda, namun pernyataan illy barusan berhasil membuat Ify terdiam, terbungkam dan salah tingkah.

 

Sivia melihat gerak-gerik Ify yang aneh, gadis itu tak membalas perkataan illy seperti biasanya.

 

“Fy, lo beneran suka sama kak Rio?” Sivia semakin meperjelas pertanyaannya.

 

Illy membulatkan matanya sempurna, melongo tak percaya.

 

“Lo suka sama kakak gue? Sungguhan? Hell!!” illy mendadak heboh sendiri.

 

“Apaan sih!! Berisik!!” Ify memakai seatbelt, mencoba menghindar.

 

“Waahh! Lo nggak ngebantah pertanyaan gue dan Sivia. Lo beneran udah gilaa!!”

 

“Kalian berdua udah balikan? Udah jadian lagi?” Sivia semakin gencar menyerang Ify.

 

“Kayaknya mereka berdua udah beneran pacaran! Sumpah gue shock banget!! Gila lo Fy, beneran gilaa!!” illy menggeleng-geleng kepalanya beberapa kali bah orang bodoh.

 

Ify diam saja, tak berniat membuka suara. Ia juga bingung harus menjawab bagaimana, ia saja tidak tau status hubungannya dengan Rio ini disebut apa. Pacar nggak dekat iya! Pacar nggak manggilnya sayang! Pacar nggak tapi meluk seenaknya!. Kan bangke di kasih topping brengsek! Great Combination!

*****

           

Ify sampai di restoran Wilshyer, sebuah restoran mewah yang berada di lantai paling atas sebuah hotel bintang 5 tepatnya terletak di pusat kota. Ify melangkah masuk kedalam, sambutan hangat pelayan diterimanya pertama kali. Mata Ify langsung dimanjakan dengan desain interior yang sangat homey dan terkesan romantis. Pemandangan lampu-lampu gedung dan jalan raya diluar jendela terlihat sangat cantik. Atmosphere disekitar terasa hangat, tanpa sadar Ify mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum.

 

“Bisa saya bantu kak? Sudah reserved sebelumnya at—“

 

“Atas nama Brian” potong Ify cepat tak ingin basa-basi. Pelayang tersebut mengangguk, melihat buku persegi panjang bewarna gold di tangannya.

 

“Silahkan ikuti saya kak”

 

Ify menganguk, berjalan di belakang pelayan tersebut. Ia terus mengedarkan matanya ke sekitar. Benar-benar restoran yang sangat nyaman dan berkelas. Jujur, ini untuk pertama kali Ify datang ke restoran ini.

 

Ify mendapati Brian duduk disalah satu meja paling ujung dekat jendela, pria itu mengenakan kemeja berwarna biru mudah dengan lengan dilipat sampai bawah siku, rambutnya ditata sangat klimis dan rapi. Ify tidak munafik bahwa Brian memiliki good-looking yang menawan. Ify mencoba bersikap biasa.

 

“Sorry lama” ucap Ify kepada Brian, pria itu menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Ify duduk.

 

Mereka berdua membuka menu makanan yang didominasi italian-food. Terdapat 7 lembar didalam sana, dengan desain yang menawan seperti sebuah majalah. 3 lembar berisikan main-courses, 2 lembar dessert dan 2 lembar bevarage.

 

“Bresaola dan Matcha milk pearl” ucap Ify kepada seorang pelayan yang siap untuk mencatat pesanan pelangganya.

 

“Samain aja” sahut Brian tak ingin repot.

 

“Saya ulangi lagi ya kak pesanannya, Bresaola dan Matcha milk pearl 2. Apa ada tambahan lagi?”

 

‘Tidak ada” jawab Brian sambil tersenyum sopan.

 

“Baiklah kak. Pesanan ditunggu 15 menit.” Pelayan tersebut beranjak, meninggalkan Ify dan Brian.

 

Restoran malam ini tidak cukup ramai. Hanya ada beberapa pasangan  yang menikmati makan malam romantis mereka. Ify mengeluarkan ponselnya, mulai merasa tidak nyaman. Ia tak mengerti kenapa Brian mengajaknya ke tempat seperti ini.

 

“Lusa gue balik ke Toronto Canada, Kakek gue memaksa agar gue stay disana nemenin beliau. Gue nggak tau kapan lagi bisa balik kesini.”

 

“Jadi, sebelum semuanya terlambat gue ingin pamitan dan minta maaf ke lo. Mungkin gue pernah ada salah sama lo dulu, karena gue pergi dan nggak ada kabar lama. Terus tiba-tiba datang dan ganggu hidup lo”

 

“Gue sadar gue kayaknya egois, dan sepertinya juga gue nggak mungkin lagi buat dapetin hati lo”

 

“Gue sering lihat lo diantar-jemput seorang cocok. Kayaknya dia kekasih lo”

 

Ify diam, menengarkan saja segala kalimat yang dilontarkan oleh Brian, dari bau-bau arah pembicaraannya Ify mencium suatu yang melegahkan. Brian tersenyum ke arahnya, perlahan tangannya meraih kedua tangan Ify yang sedari tadi di atas meja. Ify sedikit panik dan kaget.

 

“Sebentar aja” mohon Brian dan membuat Ify tidak jadi menarik kedua tangannya dari genggaman Brian.

 

Suara beberapa pelayanan yang nampak buru-buru ke depan menganggu konsentrasi Brian maupun Ify. Mereka berdua menengok ke arah pintu restoran yang cukup terlihat jelas dari tempat mereka berdua duduk.

 

Beberapa pria berjas hitam memasuki restoran, mereka terlihat seperti orang yang sangat penting. Mungkin ada sekitar 4 pria. Ify menyipitkan matanya, memperjelas pengelihatannya.

 

Mata Ify membulat, dengan mulut setengah terbuka ketika 4 pria tersebut berjalan melewatinya dan salah satu diantara mereka berhasil beradu-mata denganya, pria itu menatap Ify dengan ekspresi tak terbaca sangat datar dan entahlah. Ify tak bisa medeskripsikan lebih jelas.

 

Ify menahan napasnya, 4 pria itu duduk di meja tak jauh dari dirinnya dan pria yang beradu-mata dengannya tadi masih terus memandanginya, namun kini arah kedua matannya bukan pada wajah Ify, pria itu menatap ke kedua tangan Ify yang sedang digenggam erat oleh Brian.

 

“Mampus gue!”

 

Bersambung . . . .

 

 

 

 

 

One thought on “ENLOVQER DEVIL – 31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s