ENLOVQER DEVIL – 32

ENLOVQER DEVIL – 32

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

 

“Mampus gue!”

 

Hanya 1 kalimat yang ada di benak Ify saat ini, ia segera mendudukan kepalanya tak berani lagi menatap Pria disebrang sana yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Mario Adipati Haling. Ify mendengus, kenapa Rio bisa disini, benar-benar wrong-timing.

 

“Fy lo kenapa? Lo sakit?” tanya Brian cemas, ia bingung melihat tingkah Ify.

 

“Gue ke toilet bentar ya kak” pamit Ify, melepaskan gengaman Brian dari kedua tangannya.

 

Ify berdiri dari tempat duduknya, bergegas dari sana berjalan menuju toilet.

*****

Ify melihat pantulannya sendiri di kaca toilet yang berukuran kurang lebih 1mx60cm, mengambil napas dalam-dalam. Ia terdiam sejenak, berpikir.

 

“Kenapa gue harus takut?” Ify mulai berbicara kepada dirinya sendiri.

 

“Apa dia pacar gue? Bukan kan? Dia aja sampai sekarang nggak ngasih kepastian status”

 

“Bodo amat! Gue bukan milik siapa-siapa, gue masih single! Freelife !”

 

“Cih—,” Ify menyalakan kran didepannya, membasuh kedua tangannya setelah itu mematikannya.

 

Ify mengambil beberapa tissue mengeringkan tangannya agar lebih cepat daripada menggunakan hand-dryer. Sesaat, Ify menatap kembali pantulan dirinya. Menarik napas sebanyak-banyaknya dan menghelakannya.

 

“Tenang, Lo nggak perlu takut Fy”

 

“Relax Dafychi”

 

Ify membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu toilet untuk keluar. Ia memegang handle pintu dan membukanya…..

 

“Astaghfirullah—“ kaget Ify, terpelonjat. Kedua matanya mendapati sosok pria berdiri tegak, bersandar pada tembok dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana. Pria itu Rio.

 

            Rio mendongakkan kepalannya, mengangkat sudut bibirnya.  Ify baru saja akan menutup pintu toilet kembali namun kaki kanan Rio dengan cepat menghalanginya. Ify mendesis pelan, ia seperti seorang gadis yang tertangkap basah selingkuh oleh pacarnya.

 

“Keluar” suruh Rio, suaranya datar dan tetap dingin like-usuallly.

 

Ify mendengus pelan, tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Ia menduduk, berjalan keluar seperti yang diperintahkan Rio. Kini mereka berdua saling berhadapan.

 

“Ngapain lo disini?” tanyanya, membuat Ify kebingunan beberapa saat.

 

“Dia mantan lo kan?” Ify merasa terus diserang oleh Rio. Kedua tangannya bergerak tak pasti mulai cemas.

 

“I—, iya dia Brian. Mmm…”

 

“Dia ngajak gue makan malam karena hari ini ulang tahun dia, gue nggak tega nolaknya. Mangkanya gue iyain permintaan dia. Lo—, lo jangan salah paham” jelas Ify, nadanya sedikit kaku, takut. Ia masih tak berani mengangkat kepalanya.

 

“Salah paham? Maksudnya?”

 

Ify mendadak diam, sedikit malu sendiri karena dirinya sepertinya terlau percaya diri. Ia lupa bahwa saat ini dirinya sedang berhadapan dengan seorang Mario, si kulkas berjalan. Detik berikutnya, ia mengangkat kepalanya menatap Rio dengan menantang, tak mau dipermalukan seperti ini. Gengsi dong!

 

“Lo nggak cemburu lihat gue sama Brian?” tanya Ify melipat-gandakan rasa percaya dirinya.

 

“Nggak” jawab Rio santai tatapanya masih sama flat!

 

PYAARR

 

            Harga dirinya semakin tak bernilai, sekali lagi Rio membuatnya sangat malu dan layaknya gadis bodoh!. Rio memang pria paling brengsek dan tak berperasaan yang pernah ia kenal. Ify mengigit bibirnya, menahan emosi yang langsung naik ke puncak ubun-ubun.

 

“Terus ngapain lo didepan toilet cewek? Nyegah gue segala?”

 

“Gue nggak nyegah lo,  gue mau ke toilet” jawab Rio tak berdosa, ia mengarahkan dagunya ke toilet pria yang memang bersebalahan dengan toilet wanita.

 

Ify mengepalkan kedua tangannya, bagaimana bisa ada orang se-brengsek model Rio. Ify menghembuskan napasnya pelan, mengontrol kobaran api yang semakin membara diseluruh tubuhnya. Panas sekali rasanya!!.

 

“Yaudah gue mau makan malam romantis dulu sama Brian. Nggak usah ganggu!” teriak Ify emosi.

 

Rio terkekeh pelan, gadis didepannya sangatlah childish. ia sendiri tak menyangka bagaimana bisa dirinnya suka dengan gadis seperti ini.  Rio megenggam lengan Ify, mencegahnya beranjak.

 

“Nanti pulang sama gue. Gue tungguin sampai dinner romantis lo selesai”

 

Ify menepis kasar tangan Rio.

 

“Nggak usah! Gue bisa pulang sendiri” tolak Ify dengan nada sewot. Ia masih sedikit kesal dengan Rio.

 

Rio tersenyum, lalu mendekat ke Ify dan mengacak-acak puncak rambut Ify.

 

“Gue akan tungguin” ucap Rio tak peduli dengan amarah Ify, kemudian berjalan beranjak dari hadapan Ify.

 

Ify menganga tak percaya, melihat Rio yang telah hilang dihadapannya, masuk kedalam toilet pria. Ify mendecak pelan, tak habis pikir dengan kelakuan Rio.

 

“Selalu aja seenaknya sendiri. Dia siapa gue? Pacar gue aja nggak!”

 

“Dikira gue hanger cucian yang bisa digantung seenaknya”

 

“Cihh—, gue juga bisa pulang sendiri. Emang gue anak kecil!”

 

“Gue denger!!”

 

Ify langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya, mendesis tanpa suara. Ia merutuki kelakuannya dan ucapannya barusan. Dengan cepat Ify ngacir dari sana, tak ingin berpapasan dengan Rio lagi. Ify berjalan kembali ke mejanya.

****

 

Ify sama sekali tak konsen, kedua tangannya memgang sendok-garpu tanpa menyentuh makanan dihadapannya. Ia masih sedikit kesal dengan kejadian di toilet beberapa menit yang lalu. Ify melirik ke arah Rio, pria itu tak menatapnya. Bahkan seolah tak peduli. Rio terlihat asik makan dan berbincang dengan teman-temannya. Mungkin.

 

Ify mendengus, semakin kesal.

 

“Fy lo kenapa?” tanya Brian, aneh melihat Ify.

 

Kepala Ify terangkat, menatap Brian. Sebuah ide konyol terlintas begitu saja di otaknya. Ify tersenyum licik.

 

“Lihat aja lo yo!!”

 

Ify menunjukkan senyumnya ke Brian, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kemudian mulai menyantap makanan di hadapannya.

 

“Habisin makanan lo”

 

“Iya kak” balas Ify dengan nada melembut. Ify melirik Rio lagi, pria itu tetap tak melihatnya. Ify tersenyum picik,

 

Ify mendadak berhenti makan,  melepaskan sendok-garpu dikedua tangannya. Tangan Ify perlahan bergerak…..

 

PRAAANGG

 

            Ify menjatuhkan gelas kaca berisikan air putih didekatnya, sengaja!. Semua mata berhasil mengarah kepadanya tak terkecuali Rio dan teman-temannya.

 

“Kak kepala gue pusing banget” Ify memulai acting, ia memegangi kepalanya dan menunjukkan raut kesakitan.

 

Brian menatap Ify mulai cemas.

 
“Lo kenapa Fy? Apanya yang sakit?” Brian masuk kedalam perangkap Ify, percaya dengan kebohongan gadis itu. Brian dengan cepat mendekati Ify.

 

“Kepala gue pusing banget, tiba-tiba lemas” lirih Ify dibuat tak bertenaga. Ify merubuhkan tubuhnya dan dengan cepat ditangkap oleh Brian.

 

Pria itu memeriksa suhu tubuh Ify, tidak ada tanda-tanda panas. Brian lebih mengeratkan pegangannya.

 

“Ayo kita pulang.” ajak Brian, membantu Ify berdiri.

 

BRUKK

 

            Ify terjatuh kembali,

 

“Gu—, gue lemes banget. Nggak bisa jalan” ringis Ify, mencengkram tangan Brian kuat-kuat.

 

Brian semakin cemas.

 

“Gue bopong tubuh lo. Kita pulang sekarang”  Ify menahan tangan Brian.

 

“Gue udah nggak kuat!! lemes banget pingin baringan bentar”

 

“Kalau gitu kita kerumah sakit”

 

“Nggak mau, gue benci rumah sakit” rengek Ify mengeratkan genggamannya. Ia mengigit bibirnya, berlagak sangat kesakitan.

 

Brian lebih bingung lalu ia menatap ke sekitar. Semua mata mengarah kepadannya saat ini. Tiba-tiba seorang pelayan perempuan mendatanginya.

 

“Ada apa pak? Bisa kami bantu?”

 

“Disini ada tempat buat istirahat nggak?” tanya Brian dengan cepat.

 

“Bapak bisa memesan kamar hotel di lantai bawah.” Usul pelayan tersebut dengan suara yang cukup keras dan memungkinkan meja terdekat dapat mendengarnya.

 

Brian menganggukan kepalanya, baru terpikir sekarang. Ia melupakan bahwa dirinya dan Ify sedang makan malam di rooftop hotel.

 

“Makasih ya mbak”

 

“Iya pak, apa perlu kami bantu?”

 

“Oh tidak perlu, tidak usah” tolak Brian. Ia menatap Ify kembali.

 

“Fy, gue pesan satu kamar biar lo bisa istirahat disana untuk sementara nggak apa-apa? Sampai lo baikan kita baru pulang?”

 

She got it. Ify mengangguk lemas, menyetujui permintaan Brian. Setelah mendapat izin dengan cepat Brian mengangkat tubuh Ify, membopongnya. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan restoran. Semua mata masih menyorot ke mereka berdua.

 

****

 

 

PRAAANGG

 

Semua orang di meja Rio menghentikan aktivitas makan mereka, bersamaan menengok ke sumber suara. Rio mengernyitkan kening melihat Ify memegangi kepalanya dengan ekspresi wajah kesakitan. Ia sedikit mulai cemas. Apakah gadis itu beneran sakit? Padahal tadi dia tidak apa-apa.

 

“Gadis itu kenapa?”

 

“Sepertinya sakit. Dia kayaknya mau pingsan gitu”  suara teman-teman Rio mulai berkicau. Rio tidak peduli. Ia tetap memperhatikan Brian yang berjalan mendekati Ify.

 

BUKKK

 

            Kedua mata Rio terbuka lebar, sedikit terkejut.  Ia masih memperhatikan saja, tak bereaksi sedikit pun. Sampai terdengar….

 

“Bapak bisa memesan kamar hotel di lantai bawah.”

 

“Waahh—, mereka mau check-in?”

 

“Dia sakit atau gimana sampai pesan kamar segala?”

 

“Untung banyak tuh cowok, si cewek cantik banget. Gue juga mau”

 

Obrolan teman-teman Rio berhasil membuat kedua tangan Rio terkepal tanpa sadar, Ia mencengkram sendok dan garpunya sangat erat. Kedua mata elangnya mulai nampak, melihat Brian membopong Ify dan menjauh dari restoran.

 

“Berani taruhan, mereka didalam bakalan me—“

 

Tinngg

 

            Suara sendok-garpu ditangan Rio dijatuhkan begitu saja, bergesekan dengan piring dibawahnya. Rio mengambil beberapa tissue menyeka bekas makanan di mulutnya. Ia merogoh celananya, mengambil dompet dan membukanya.

 

“Lo bayar nanti, gue pergi dulu” Rio menaruh beberapa lembar uang warna merah diatas meja.

 

Teman-temannya menatap Rio bingung, pria itu berdiri dari kursinya hendak beranjak.

 

“Lo mau kemana? Gue belum jelasin tentang bisnis plan yang mau gu—“

 

“Lo bisa kirim proposalnya ke email gue. Nanti gue periksa. Gue ada keperluan mendadak. Sorry guys..”

 

Rio tak menghiraukan teman-temannya lagi, ia segera melangkah cepat, berjalan meninggalkan teman-temanya yang masih meneriakinya. Rio menatap lurus kedepan, sangat dingin.

 

****

Rio masuk kedalam lift kembali setelah dari lantai 1 menanyakan keberadaan ( Seorang pria membopong seorang gadis) pada resepsionis hotel. Dengan menyogok beberapa lembar uang kepada para resepsionis tersebut Rio akhirnya mendapatkan nomor kamarnya. Rio sebenarnya tidak suka cara kotor seperti itu, menyuap bukanlah style-nya tapi demi kebaikan! Dia terpaksa melakukannya.

 

Tinggg

 

Lift berhenti di lantai 15, Rio keluar dari sana dan kembali berjalan.

 

Rio menghentikan langkahnya di depan kamar nomor 1512, mengambil napasnya sebentar mencoba mendinginkan kepalanya.

 

TOOKKTOOKK

 

Rio mengetuk pintu kamar pelan, menungu dibuka.

 

Kleekk

 

            Pintu kamar terbuka setengah, keluarlah pria berpostur tinggi berwajah oriental dan kulit putih yang bernamakan Brian. Pria itu menatap Rio dengan tatapan bingung, kedua matanya yang sedikit sipit menjadi lebih sipit saat ini.

 

“Ada yang bisa dibantu mas? Ada kep—“

 

“Dimana gadis itu?” tanya Rio tak ingin basa-basi. Ia menunjukkan wibawa yang kuat. Brian mengernyitkan kening, tak paham.

 

“Ga—, Gadis siapa maksud anda? Dis—“

 

“Ify. Dia didalam?’

 

Brian sontak mengangguk, suara Rio yang ber-aura membuat nyalinya sedikit goyah. Rio mendesah pelan.

 

“Anda silahkan pulang, aku akan mengantar Ify pulang”

 

“Heh?” kaget Brian, terkejut. Ia sama sekali tak kenal dengan Rio.

 

“Maaf ya mas, anda ini siapa ya? Kok ti—“

 

“Aku pacarnya.” Jawab Rio dingin. Brian mendadak membeku, otaknya mulai berputar berpikir segala prasangka dan spekulasi.

 

“Pacarnya? Bagaimana saya bisa yakin kalau anda pac—“

 

Rio mendorong tubuh Brian sedikit kasar, ia langsung nyelonong masuk kedalam mencari keberadaan Ify. Tak peduli Brian yang sudah beteriak emosi. Rio mengedarkan pandangannya, masuk lebih dalam. Sampai akhirnya ia menemukan seorang gadis yang berbaring diatas kasur sambil memainkan ponsel.

 

“Bangun!” perintah Rio

 

Ify menatap Rio, terkejut bukan main. Refleks tubuhnya langsung terduduk. Ia memasukan ponselnya kembali. Ify meneguk ludahnya, sedikit merinding melihat tatapan Rio yang entahlah. Lebih dari menakutkan, menurutnya. Nyali Ify mulai menciut. Ia mengigit bibir dalamnya berusaha tidak gerogi.

 

“Lo kayak gadis murahan tau nggak!!”

 

Ify membuka mulutnya, tak percaya dengan kalimat yang dilontarkan Rio barusan. Sangat kasar!. Nyali Ify yang semula menciut dan rasa takunya mendadak hilang berganti dengan kekesalan, kemarahan dan ketidak-terimaan. Rio keterlaluan!.

 

“Jaga ucapan lo!” balas Ify tak kalah sengit. Tatapan mereka beradu.

 

“Fy. Sorry! Sorry, pria ini nyelonong masuk dan di—“

 

“Harus kayak gini lo ingin lihat gue cemburu?”

 

Ify terbungkam, tak bisa membalas. Ia ingin rasanya meluapkan amarahnya saat ini tapi tidak bisa. Pertanyaan Rio barusan tidak sepenuhnya salah. Ify mendesah, mencoba berpikir keras. Ia tak menyangka bahwa Rio akan marah seperti ini.

 

Ify mengangkat kepalanya kembali, mengarahkan tatapanya ke Brian yang terlihat sangat bingung dan tak paham dengan situasi di hadapannya. Ify sedikit bersalah menjadikan Brian umpan.

 

“Kak, lo pulang aja. Gue nanti bisa pulang sendiri”

 

“Tap—, tapi fy pria in—“

 

“Gue kenal sama dia. Nggak apa-apa tinggalin gue”

 

“Tap—“

 

“Maaf gue udah ngerepotin lo. Kalau udah sampai rumah gue akan telpon lo” ucapan Ify membuat Brian sedikit melunak. Pria itu mengangguk, dan menatap Ify sedikit tak ikhlas.

 

“Yaudah, gue pulang kalau gitu. Hati-hati”

 

“Iya kak”

 

“Jangan lupa telpon”

 

“Iya” Ify mengangguk, menunjukkan senyum tipis.

 

Brian pun pergi beranjak dari kamar itu, meninggalkan dua makhluk pemakan segalanya yang sedang perang percikan api satu sama lain.

 

Hening, tak ada yang bicara kembali. Rio masih menatap Ify lebih tajam dari sebelumnya dan Ify hanya bisa tertunduk, tak tau harus berbuat apa. Ia tersudutkan!. Aura panas dari kedua mata Rio sangat terasa di seluruh organ-tubuhnya.

 

“Maaf” Ify tak dapat memfikirkan kata lain selain itu. Ia mengakui bahwa dirinnya sangat salah disini. Jika pria didepannya ini Ando, maka sudah dipastikan kakaknya juga akan sangat marah besar kepadannya.

 

“Eh—“ kaget Ify, Rio tiba-tiba membalutkan jas hitamnya di tubuhnya.

 

“Berdiri” suruh Rio masih dengan nada dingin, Ify menurutinya dan segera beranjak dari kasur. Ia berdiri dihadapan Rio.

 

Tak ada yang diucapkan oleh pria itu, kedua tangan Rio sibuk mengancingkan jas hitamnya yang dikenakan di tubuh Ify. Jantung Ify berdegup kembali, ia mengarahkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan kegugupannya. Tubuh Rio sangat dekat sekali.

 

“Jangan ulangi lagi”

 

“Hmm” dehem Ify pelan, ia mengangguk-angguk seperti anak kecil.

 

Rio menatap Ify sesaat, menyunggingkan bibirnya tipis kemudian tangan kananya mengacak-acak puncak rambut Ify, sedikit gemas. Segala amarahnya hilang begitu saja. Ia hanya tak ingin memperpanjang masalah ini, ia juga sudah berjanji tak akan membuat Ify menangis lagi. Jujur, ia sedikit  menyesal dengan kalimat kasarnya barusan.

 

“Gue udah sangat cemburu, Puas?”

 

“Hmm”

 

Ify tak bisa menyembunyikan senyumnya, jemarinya ia mainkan untuk menghilangkan desiran hebat di sekujur tubuhnya. Selain brengsek, Rio juga pandai memainkan hatinya bah Roller-Coaster. Yah, menegangkan namun menyenangkan.

 

“Ayo pulang” Rio merengkuh pinggang Ify, mengajak beranjak.

 

“Yo” Ify mendadak berhenti, ia menatap Rio yang juga ikut berhenti dan menunggu kelanjutan kalimatnya.

 

“Gue masih laper” rengek Ify sedikit malu.

 

Rio terkekeh pelan,

 

“Yaudah ayo kita makan”

 

“Gue nggak mau makan disini” tolak Ify sebelum mereka melangkah kembali. Rio mengernyitkan kening,

 

“Terus?”

 

“Pizza! Gue mau pizza”

 

Rio mendesah pelan, kemudian mengangguk pasrah memenuhi permintaan gadisnya tersebut. Mereka berdua berjalan ber-iringan melangkah keluar dari hotel. Jujur, Ify sangat senang sekali malam ini, akhirnya ia bisa membuat Rio cemburu walaupun menakutkan dan dengan cara yang nggak-elite. Ify berjanji dalam hati tidak akan mengulangi rencana konyol-menjijikannya seperti ini lagi. Tidak akan! Sangat memalukan.

 

****

 

Mobil Rio berhenti di sebuah restoran Pizza terkenal. Ify dan Ify bersamaan keluar dari mobil. Sejenak, mata Ify tertarik dengan toko kecil bertuliskan “Flower-Paths” yang berada tepat disamping restoran. Ify melihat seorang gadis kecil sedang sibuk merangkai bunga membantu ibu-nya. Kedua sudut Ify terangkat membentuk senyum tipis.

 

“Lo mau bunga?” tanya Rio yang entah sejak kapan telah berada disamping Ify.

 

Ify terpelonjat, menatap Rio kemudian kedua matanya menurun pada tangan kiri Rio yang telah bertenger di pinggangnya. Ify menahan napasnya, jantungnya berdegup cepat kembali. Gugup.

 

“Hmm” Ify tersenyum senang,

 

Rio melepaskan tangannya dari pinggang Ify, merogoh sakunya untuk mengambil dompet. Ify memperhatikan dalam diam aktivitas Rio. Pria itu mengeluarkan dua lembar kertas berwarna merah, menyodorkan kearahnya.

 

“Nih beli” ucapnya,

 

Tatapan Ify berubah menajam, tak percaya dengan yang barusan Rio lakukan. Sekali lagi perlu Ify tekankan, selain brengsek sifat jelek Rio yang lainnya adalah sama sekali nggak romantis!! Menyebalkan!!. Ify mendengus,

 

“Gue bisa beli sendiri!!”

 

Ify hendak beranjak, namun tangannya langsung dicegah oleh Rio.

 

“Gue bercanda. Ayo gue belikan” Rio mendekati Ify, merangkul pinggang Ify kembali.

 

Ify menghembuskan napasnya, menghilangkan sisa kekesalannya. Mereka berdua berjalan kembali, menghampiri toko bunga tersebut.

 

Terlihat banyak bunga yang masih segar, warna-warna yang cantik memanjakan mata Ify. Ia tidak terlalu suka bunga namun juga tidak membencinya. Akan tetapi, ketika melihat gadis kecil dihadapannya yang nampak asik merangkai, membuat hatinya damai, tenang dan ingin terus tersenyum.

 

“Tolong buatkan satu rangkaian buket besar”  ucap Rio kepada pemilik toko.

 

“Ingin bunga apa?” tanya pria paruh baya yang sibuk merangkai bunga mawar.

 

“Saya ingin bunga yang dirangkai anak ini” jawab Ify dengan cepat. Gadis kecil itu menatap Ify, tersenyum.

 

“Ini namanya bunga Gerbera, bunga ini biasannya diberikan saat pria melamar gadisnya. Kakak mau ngelamar pacarnya?”

            Ify dan Rio sama–sama dibuat terkejut, tak menyangka dengan ucapan polos gadis kecil itu. Rio tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban.

“Baiklah, akan aku rangkaikan yang sangat cantik”

            Pipi Ify memanas, blushing. Ia merasakan tangan Rio semakin erat di pinggangnya. Rio melamarnya? Sebuah kebohongan besar! Tapi entah kenapa ketika Rio mengangguk hatinya berteriak sangat senang. Walaupun dirinya tak tau apa Rio sungguh-sungguh atau tidak.

            Ify memperhatikan saja gadis kecil itu mulai merangkai dengan lihai dan telaten, menyatukan gerbera warna kuning, orange, merah muda dan merah menjadi paduan yang menarik dan cantik. Rangkaian tersebut diikat dengan selotip bening  agar tidak terpisah, kemudian dibungkus melingkar memakai kertas wrapping-folower berwarna orange dan putih. Sentuhan terakhir gadis kecil itu mengikat kembali dengan pita besar berwarna orange.

“Ini kak” gadis kecil itu menyerahkannya ke Rio bukan Ify, padahal Ify sudah bersiap menerimannya dengan menyodorkan tangannya.

            Rio terlihat bingung,

“Ini kasihkan sendiri ke pacarnya”

            Mendadak canggung, Rio dan Ify terdiam tak saling tatap. Namun sedetik kemudian, Rio menerimanya tak lupa sebuah senyum tulus ia arahkan ke gadis kecil itu yang juga membalas senyumannya.

“Ini pak uangnya makasih banyak” Rio membayar buket bunga tersebut.

            Mereka berdua beranjak dari sana, rangkaian buket bunga itu masih berada ditangan Rio tak diberikan kepada Ify. Mereka berjalan dalam diam dengan fikiran masing-masing. Ify merasakan desiran aneh menyerangnya lebih kuat. Dalam benaknya sangat penasaran, bagaimana caraRio akan memberikan bunga itu kepadanya.

 

“Cih, paling juga langsung dilempar ke gue.”

 

“Untung-untungan deh disodorkan gitu aja”

 

Bersambung . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s