ENLOVQER DEVIL – 33

ENLOVQER DEVIL – 33

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

 

Mereka berdua berjalan menuju restoran Pizza yang tak cukup ramai, mengingat sudah hampir pukul 23.00 p.m. Tepat di depan pintu restoran, Rio tiba-tiba menghentikan langkahnya, mau tak mau Ify juga ikut berhenti. Ify menoleh ke arah Rio,

 

“Kenapa?” tanya Ify, mendapati Rio yang diam saja. Wajah pria itu menegang, seperti banyak pikiran. Ify mengernyitkan kening,

 

“Ayo masuk” ajak Ify menyadarkan Rio.

 

“Tunggu!!” cegah Rio, menarik pinggang Ify dalam rengkuhannya kembali.

 

Ify semakin dibuat bingung. Rio terlihat sangat aneh, raut ekspresinya tak tenang dan tak santai layaknya Rio. Ia menatap Rio lama,

 

“Lo—, lo—“

 

“Apan sih?” Ify mulai tak sabar, perutnya terus meronta, sangat lapar dan ingin di-isi saat ini juga. Kalau sudah berurusan dengan Pizza Ify tak ingin menundanya!.

 

Rio menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan. Kedua matanya menatap Ify lekat-lekat.

 

“Lo mau jadi pacar gue?”

 

Rio menyodorkan rangkaian buket bunga yang ada ditangan kananya, Ify mendadak terdiam, mematung sekaligus tambah bingung. Mulutnya setengah terbuka, ia mengerjapkan matannya beberapa kali. Sekali lagi dirinya mencoba meresapi dan mengingat-ingat pertanyaan Rio barusan bukan lebih tepatnya pengakuan!.

 

“Lo nembak gue?” tanya Ify tersadarkan, ia menatap Rio tak percaya.

 

“I—,iya” jawab Rio gugup.

 

“Di depan restoran pizza? Ah bukan didepan pintu restoran Pizza?”

 

“Hehehehe”

 

Ify mendengus pelan. Sumpah demi apapun dia mendapatkan 2 pelajaran hari ini. Catat baik-baik!!. Yang pertama: Jangan pernah bikin Rio marah, karena sekali dia marah sangat menakutkan sekali!. Yang Kedua: Sekali ada orang yang nggak romantis seperti Rio jangan harap berubah untuk jadi romantis. Tidak akan pernah!! Jangan mengharapkan!!.

Rio menatap Ify canggung sekaligus gugup. Ify masih tak menerima buket bunga yang ia berikan, gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan you know lah!.

 

“Udah ayo masuk! Gue laper!!” ucap Ify tak menemukan jawaban lain, ia meraih buket bunga dari Rio sedikit kasar, setelah itu pergi duluan masuk kedalam restoran.

 

Rio menatap kepergian Ify dengan bingung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian memilih mengejar Ify, masuk kedalam.

 

Rio duduk di hadapan Ify, gadis itu menatap menu makanan dengan serius.

 

“Lo belum jawab” ucap Rio, menarik satu buku menu lainnya.

 

“Kak, pesan Super Supreme, Cheeseburger Pizza, Deluxe Cheese dan Tuna melt semuanya double cheese dan large ya”

 

Rio melongo,

 

“Banyak banget pesanya? Habis?”

 

Paakk

 

Ify menutup buku menu dengan keras, mengangkat kepalanya dan menatap Rio dingin.

 

“Gue laper banget!!” tajamnya dan dengan cepat diangguki Rio.

 

“Kakaknya pesan apa?” tanya pelayan tersebut ke Rio.

 

“Minum aja mbak, lemon squash 1 sama milkshake choco 1” ucap Rio, ia tak yain bahwa gadis didepannya akan menghabiskan semua pizza tersebut.

 

“Baiklah, ditunggu 20 menit ya kak”

 

Pelayan tersebut beranjak, meninggalkan Ify dan Rio.

 

Rio menatap Ify yang sama sekali tak menatapnya, gadis itu sibuk dengan ponselnya sendiri. Rio jadi semakin tak paham. Apa dia telah melakukan kesalahan? Bukankah seorang gadis akan senang jika ada seorang cowok menyatakan cinta kepadanya dan meminta jadi pacarnya dengan membawa sebuket bunga besar?. Apa itu semua hanya terjadi di film-film romantis saja?. Entahlah.

 

“Lo marah sama gue?” tanya Rio ke inti pertanyaan.

 

“Nggak” jawab Ify singkat, masih fokus ke layar ponsel.

 

“Lo belum jawab pertanyaan gue” ucap Rio mengingatkan,

 

Ify memasukkan ponselnya, mendongakkan kepalannya dan menatap Rio.

 

“Yang mana ya?” tanya Ify dengan sengaja, wajahnya dibuat seolah-olah tak ingat.

 

Rio mendadak diam, gadis di depannya benar-benar lupa atau sengaja?.  Rio mulai sedikit panik, merasakan bibirnya kaku.

 

“ It—, It—, Itu tadi,  gue nembak lo. Lo nerima gue nggak?”

 

“Ah itu. Yang didepan pintu restoran!!’ Ify sengaja memberikan penekanan sejelas mungkin, biar Rio peka namun sekali lagi itu hanya impian dan harapan belaka, Rio malah mengangguk-anggukan kepalanya bah  orang bodoh!.

 

“Kasih gue waktu 1 bulan, ah kurang deh kayaknya!!  2 atau 3 bulan. Gue akan jawab”

 

“Hah? Lama banget!!” ptotes Rio, terkejut sekaligus tak mengerti.

 

“Lo mau ngelakuin satu hal nggak buat gue?” pinta Ify mengalihkan pembicaraan.

 

“Apa?”

 

“Lo ke toko bunga sebelah tadi, belikan gue bunga kayak gini lagi”

 

“Untuk?” Rio semakin tak paham dengan permintaan Ify. Kenapa jadi muter-muter kayak gini sih!.

 

“Udah lakuin aja kek! Banyak protes dari tadi!!” Ify mulai emosi dan sewot sendiri. Rio sedikit takut, Ify seperti ibu-ibu yang dilanda PMS. Rio memilih mengiyakan dan segera berdiri.

 

“Gue beliin, bentar”

 

Ia berjalan meninggalkan Ify.

 

Ify mendecak keras, mengacak-acak rambutnya frustasi. Baru pertama kali ini dia mendapatkan pengalaman konyol seperti ini. Mana ada orang mengatakan cinta di depan pintu restoran seperti itu?. Dia sebenarnya tidak minta sesuatu yang sangat romantis seperti di tembak disebuah private restoran atau di tembak di sebuah taman bunga dan lain-lainnya yang wah-wah itu. Setidaknya, tidak didepan pintu restoran juga!! Kan goblok!!.

 

****

Rio berhenti di depan toko bunga yang tadi ia datangi dengan Ify. Untung saja toko masih buka batinnya, Rio mendekati gadis kecil yang masih asik merangkai bunga.

 

“Bisa buatkan kakak kayak bunga tadi?” pinta Rio kepada gadis kecil itu.

 

“Loh kakak? Udah dikasihkan bunganya?” gadis kecil itu menatap Rio setengah terkejut sekaligus sangat senang.

 

“Sudah, tapi dia minta lagi”

 

“Kenapa?” kening gadis kecil itu mengkerut, menampakkan kebingungan. Sebenarnya sama halnya dengan Rio, ia juga tak mengerti kenapa Ify meminta lagi sebuket bunga yang sama.

 

“Kakak juga nggak tau, buatkan 1 sekarang ya”

 

“Baiklah, tunggu sebentar ya. “ Rio mengangguk tak lupa dengan senyum menawan yang ia tebarkan.
Rio berpikir sejenak, meresapi baik-baik apa sebenarnya kesalahannya? Pasti terjadi sesuatu dengan Ify dan menyebabkan gadis itu marah dan kehilangan mood mendadak. Padahal saat di toko bunga tadi Ify masih begitu senang dan terus tersenyum.

 

Rio merogoh sakunya, mengambil ponsel dan mencari satu nama di kontak. Ia menelpon seseorang…..

 

“Hallo”

 

Suara serak dari sebrang terdengar sedikit kesal, Rio tak peduli dan meneruskan saja sambunganya.

 

“il gue mau tanya?”  Rio menyahuti. Yah, dirinnya menelpon adiknya sendiri. Illy.

 

“Apaan kak? Gue ngantuk nih!! Lo nggak liat jam apa!” gadis itu semakin kesal dan marah-marah, Rio mengangkat tangan kirinya, melihat jam tangannya. Pukul 23.45. Pantas saja, sudah malam ternyata.

 

“It—, itu. Du—, dulu pacar lo nembak lo kayak gimana?”

 

“Heh? Apaan? Ngomong yang jelas!!”

 

Rio mendesah berat, mencoba sabar!

 

“Dulu mantan pacar lo, nembak lo kayak gimana?” Rio memperjelas,

 

“Emang kenapa?”

 

“Jawab aja!!”

 

“Mmm…. Mantan yang mana dulu nih?”

 

Rio mendesis tajam, adik-nya sungguh menyebalkan!!.

 

“Yang mana aja!!” sengit Rio, ingin sekali ia tutup sekarang sambungannya. Namun, ia undurkan niat tersebut. Ia butuh jawaban illy saat ini juga. Darurat!

 

“Kalau mantan gue terakhir si Brian sih, nembak gue di cafe dekat rumah. Dia bawa bunga sekaligus nyanyi di cafe itu. Terus dia nembak gue ala pose ngelamar gitu. Romantis banget deh pokoknya. Kenapa sih?”

 

Rio terdiam, berpikir, haruskah menceritakan kepada sang adik? Sepertinya harus!. Ia sadar bahwa dirinya sangat tak ahli bahkan big-zero tentang hal ini.

 
“Gue barusan nembak teman lo, te—“

 

Teman gue yang mana?” potong illy, mungkin efek mengantuk jadinya otak gadis itu sedikit geser.

 

“IFY!!” teriak Rio kehabisan kesabaran.

 


“Ah—, Ify. terus? terus?”

 

Rio menarik napas panjang dan menghembuskannya, menyiapkan mentalnya kembali untuk bercerita.

 

“Gue nembak dia barusan tapi dia marah”

 

“Emang lo nembak dimana dan kayak gimana?”

 

“Di depan pintu restoran pizza. Gue kasih dia bunga”

 

“HUAKAKAKAKAKAKKAKA”

 

Rio langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, illy tertawa begitu keras, gendang telinganya hampir saja ingin pecah. Rio mendesis sinis, sedikit menyesal melakukan sambungan telpon dengan sang adik. Rio mendekatkan kembali ponselnya.

 

“Kak dengerin gue baik-baik!!”

 

“Apa?” sahut Rio tak berniat lagi.

 

“Lo bego? Goblok? Atau tolol sih?”

 

“Nggak ada pilihan lainnya?” sinis Rio tak terima dikatain seperti itu. Terdengar suara tawa illy kembali,

 

“Jelaslah kak Ify ngamuk sama lo, marah sama lo!! Mana ada cowok nembak di depan pintu restoran? Pliss!! Nggak romantis banget!! Lo jadi orang jangan kaku-kaku kek! Flexible dikit!”

 

Rio mendengarkan saja kicauan sang adik, ia jadi semakin bingung.

 

“Terus gue harus kayak gimana?”

 

“Gimana maksudnya?”

 

“Gue harus nembak kayak gimana? Gue nggak tau!” jujur Rio, ia sudah sangat frustasi dan kepalanya hampir meledak gara-gara kejadian ini.

 

“Ponsel lo apa? Smartphone kan?”

 

“Iya”

 

“Bisa buat lihat youtube?”

 

“Bisa. Kenapa?”

 

“Yaudah sana searching di youtube!! di mbah google!!. Lo smart dikit kek,  punya smartphone tapi otak sama sekali nggak smart! iisshh!!”

 

Rio mendadak ingin membanting ponselnya, untung saja adiknya tidak ada didepannya saat ini. Jika saja ada, ia pastikan sudah melempari adiknya dengan dua sepatunya tanpa ampun. Daritadi ucapan illy tak ada yang bagus!.

 

“Gue tutup!! Ngantuk!! Good luck! Bye!”

 

Rio menatap ponselnya pasrah, sambungannya telah dimatikan oleh sang adik. Ia terdiam lagi. Jadi intinya itu apa? Inti dari ucapan illy tadi apa?

 

“Youtube?”

 

Rio menatap ponselnya kembali, membuka aplikasi youtube disana. Dengan cepat Rio mengetikkan di  jelajah “ Cara menembak cewek yang romantis dan berkesan”. Tak sampai menunggu lama, berbagai video ditampilkan disana, Rio pun membukanya satu persatu yang menarik hatinya.

 

Ia melihat video tersebut dengan serius. Ekspresinya datar dan terkadang bergidik jijik melihat aksi di video itu yang menurutnya berlebihan. Setelah puas, Rio memasukkan ponselnya kembali ke sakunya.

 

“Ah—, gue tambah bingung” ucap Rio mencak-mencak tak jelas. Ia menggaruk-garuk kepalanya, sangat frustasi.

 

Bersamaan dengan itu, rangkaian buket bunga yang ia pesan telah selesai. Rio membayarnya dan segera beranjak dari sana untuk kembali ke restoran menghampiri Ify.

 

*****

 

Ify menatap Rio yang berjalan ke arah dirinnya. Pria itu telah kembali, Ify mengernyitkan kening, Rio tak membawa apapun ditangannya.

 

“Mana bunganya?” tanya Ify.

 

“Bunganya habis” jawab Rio sengaja berbohong, ia segera duduk. Matanya melihat ke Pizza-Pizza didepannya yang sangat banyak. Ia meneguk ludahnya. Siapa yang akan menghabiskan Pizza sebanyak ini? Gila!!.

 

“Terus kok lo lama banget?”

 

“illy tadi nelpon, mangkannya gue angkat dulu” jelas Rio setengah bohong setengah tidak. Ify mendengus, melanjutkan makannya. Ia tak lagi napsu untuk berbicara dengan Rio, makan ati terus yang ada !! Menyebalkan!!.

 

Rio sendiri memilih diam, tak ingin menganggu Ify. Ia mulai membantu Ify makan. Meskipun 100% ia sangat yakin semua Pizza ini tidak akan habis!.

 

****

Mereka berdua selesai makan dan segera kembali ke mobil. Tangan kanan Rio membawa 2 kotak Pizza, seperti dugaanya semula. Pizza tersebut tersisa sangat banyak, dan sangat mubadzir bila tak dihabiskan. Rio bisa saja membiarkannya disana, tapi daripda dibuang sia-sia ia memilih untuk memberikannya kepada satpam kompleks. Lebih barokah!.

 

Mereka berdua masuk kedalam mobil, dan segera beranjak dari sana menuju kerumah.

****

 

Ify masih diam, tak berbicara. Ia mendiamkan Rio. Tatapanya sedari tadi hanya fokus ke luar jendela, beberapa kali Rio mengajaknya bicara hanya dijawab dengan singkat dan dingin.

 

Rio mengacak-acak puncak kepala Ify , namun ditepis kasar langsung oleh Ify.

 

“Lo kenapa sih? Marah?” tanya Rio mencoba sabar.

 

“Nggak!!”

 

“ Kok lo jutek banget?”

 

“Perasaan lo aja kali”

 

“Ya… mungkin”

 

Ify tak membalas apapun, terjadi keheningan kembali didalam mobil. Rio pun memilih fokus menyetir saja, menatap lurus ke jalanan depan. Ia membiarkan Ify dengan dunianya sendiri.

****

Mereka berdua telah sampai. Mobil Rio berhenti di depan rumah Ify sedikit menjauh dari gerbang rumah. Rio terdiam, nampak berpikir sedangkan gadis disampingnya sibuk melepaskan seatblet yang dipakai. Sampai akhirnya bunyi pintu mobil terbuka. Ify keluar dari mobil Rio begitu saja tanpa pamit atau mengucapkan apapun lagi.

 

Rio mendesah berat,

 

Rio mengambil buket rangkaian bunga Gerbera yang ia sembunyikan di belakang kursi, setelah itu dengan cepat ia melangkah keluar dari mobil menyusul Ify. langkahnya setengah berlari.

 

“Ada yang ingin gue omongin”  Rio meraih lengan kanan Ify, mencegahnya. Gadis itu membalikkan badanya menatap Rio.

 

“Apa?” tanya Ify masih dengan nada sedingin tadi bahkan bisa dibilang lebih dingin.

 

Rio menghela napas panjang, menatap kebawah beberapa detik kemudian mendongak, menatap kedua mata Ify lekat-lekat. Rio merasakan keringat dingin pada tangan kirinya yang di sembunyikan di belakang, memegang erat buket bunga gerbera. Rio tidak pernah se-nervous ini sebelumnya,

 

Ify mencoba sabar menunggu,

 

“Gu—, gue tau lo marah sama gue kar—“

 

“Gue nggak marah sama lo” potong Ify dengan cepat.

 

Rio menyunggingkan senyum,

 

“Gue nggak pernah nembak cewek secara langsung sebelumnya, jadi gue nggak tau caranya mangkannya tadi gue langsung nyatain perasaan gue di depan pintu restoran ” Rio mulai menjelaskan kepada Ify yang saat ini menatapnya sedikit ragu.

 

“Bukannya lo udah pernah nembak Allen?” tanya Ify teringat akan hal itu.

 

“Gue nggak pernah nyatain perasaan ke Allen secara langsung, gue hanya ngasih surat ke dia, dulu” jelas Rio dengan jujur.

 

Ify mengangguk-angguk mengerti. Rio mengambil napas dalam, menghembuskannya. Ia mengontrol kembali dirinya sendiri, menyiapkan mentalnya untuk mengatakan perasaannya.

 

“Gue suka sama lo”

 

“I know” sahut Ify, keningnya berkerut masih tak paham arah tujuan ucapan Rio. Jelas ia tau akan hal itu, Rio pernah mengatakanya.

 

“Gu—, gue jatuh cinta sama lo, Jadi gue mau lo jadi pacar gue….”

 

Rio mengeluarkan senjata-ampuhnya dari belakang punggung, ia menyodorkan sebuket bunga gerbera yang disembunyikannya ke Ify, gadis itu mendadak diam dan menampakkan bingung,

 

“Bukannya habis bunganya?”

 

“Lo mau jadi pacar gue?” Rio mengucapkan kalimat pengakuannya, tak mempedulikan pertanyaan Ify. Dirinya ingin cepat-cepat menyelesaikan ini, ia merasa sangat gugup. Untuk pertama kali dalam hidupnya menyatakan perasaan kepada seorang gadis secara langsung, saling bertatap dan berhadapan.

 

Ify terdiam lama, kedua matanya tak beralih dari Rio. Sedetik kemudian, Ify tersenyum, terkekeh pelan sendiri. Jujur, ia sedikit menyesali perbuatan kekanak-kanakannya tadi. Menjijikan. Kenapa juga ia harus marah dengan masalah sepele seperti itu? Setidaknya dengan penjelasan Rio barusan amarahnya menghilang, ia mengerti situasi yang dihadapi Rio. Pria itu tak punya pengalaman, bakat dan keahlian dalam hal wanita! Titik!

 

“Kalau gue nolak gimana?” alih-alih langsung menerima, Ify memilih untuk mengerjai Rio, menguji pria itu dan penasaran dengan reaksi yang akan Rio berikan.

 

Pertanyaan Ify berhasil membuat raut wajah Rio sedikit menegang, namun itu semua tak bertahan lama. Rio berhasil merubah ekspresinya menjadi tenang kembali.

 

“Gue nggak suka ditolak!” jawaban khas Rio banget!, pria itu berhasil mengontrol dirinya sendiri dengan baik. Inilah salah satu daya tarik Rio yang Ify suka, Rio pandai menyembunyikan kepanikannya, selalu bersikap tenang dan berhati dingin! Mesikpun terkadang menyebalkan. Rasa percaya dirinnya begitu tinggi.

 

“Gue jawab besok gimana?” tawar Ify

 

“Harus sekarang!” paksa Rio seenaknya, Ify mendengus sinis.

 

“Gue hitung sampai 3”

 

Ify mendadak panik, ia butuh merancang kalimat jawaban. Tapi otaknya seakan terbelah kemana-mana tak bisa diajak berpikir.

 

“Satu” Rio mulai menghitung,

 

“Dua”

 

Kedua bola mata Ify bergerak tak pasti, ia kebingungan bukan main. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus ia jawab? Ify menatap Rio kembali. Pria itu memperhatikanya lekat-lekat, tatapan tenang sekaligus dingin benar-benar menawan. Ify jadi sedikit tak fokus.

 

“Ti—“

 

Cupp

 

            Ify memundurkan langkahnya setelah mencium pipi kanan Rio. Yah, itulah jawaban yang ia berikan. Entah kenapa hanya hal itu yang terlintas di otaknya dan membuat dirinya reflex melakukanya begitu saja. Ify menunduk malu, jantungnya berdetak cepat kembali, desiran aneh menyerang tubuhnya. Ify menahan napas, tak berani menatap Rio yang entah bagaimana ekspresi pria itu saat ini.

 

“Jadi lo nerima gue?” tanya Rio dengan suara lirih,

 

Damn it! Entah kenapa suara Rio yang seperti itu terdengar sangat sexy di kedua telinga Ify membuat jantungnya berdegup 2 kali lebih cepat dari biasannya, ingin meledak!!. Ify melihat kaki Rio melangkah maju, mendekat ke dirinnya.

 

“I—, iya” jawab Ify dengan suara pelan,

 

“Gue nggak denger!”

 

Ify mendengus kesal, Rio selalu saja mengerjainya.

 

“Iya gue nerima lo. iissh!!” desis Ify menunjukan kekesalannya. Terdengar tawa dari bibir Rio. Pria itu melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Ify kemudian berpindah di puncak kepala Ify, mengacak-acaknya lembut.

 

“Buka telapak tangan lo!!” suruh Rio. Ify mendongakkan kepalanya,

 

“Untuk?” tanya Ify bingung dengan satu alis terangkat.

 

“Buka aja!!” Ify memilih menurut, toh hanya membuka telapak tangan!. Ia menyodorkan tangan kannya kedepan, membuka telapaknya lebar-lebar.

 

Rio tiba-tiba menaruh sesuatu diatasnya dengan cepat. Ify memperjelas pandangannya, benda apa yang saat ini berada di atas telapaknya. Sebuah kalung putih dengan gantungan berbentuk bulat kecil, berkelip begitu cantik dan elegan. Bibir Ify tersenyum, ia menyukainya.

 

“Lo suka?” tanya Rio yang sebenarnya sudah tau jawabannya hanya dengan menatap raut wajah gadis dihadapannya.

 

Ify menganggukan kepalanya, tak bisa berkata apa-apa saat ini.  Kapan Rio menyiapkan kalung ini?. Ify tak mau memfikirkan itu, ia hanya dapat merasa kebahagiaan saat ini.

 

Rio mengambil kembali kalung tersebut, menaruh buket rangkaian bunga yang masih ditangannya sedari tadi di bawah. Rio melangkah lebih dekat dengan tubuh Ify, ia memakaikan kalung itu pada leher jenjang, putih Ify.

 

Ify mengigit bibirnya, ia dapat merasakan parfume tubuh Rio menyeruak indra penciumannya.  Dada Rio begitu dekat sekali –pas- di depan kedua matanya. Tanpa terasa kedua pipi Ify memanas, merah merona.

 

“Cantik” ucap Rio sambil memundurkan langkahnya, melihat hasil kalung tersebut yang sangat cocok di leher Ify.

 

Rio mengacak-acak puncak rambut Ify, menatap Ify lekat yang masih tersenyum ke arahnya dan mau tak mau Rio ikut mengembangkan sudut bibirnya. Kedua mata mereka saling pandang cukup lama.

 

“Tutup mata lo” suruh Ify membuat Rio langsung berpikir dengan banyak praduga, ia tersenyum picik.

 

“Untuk?”

 

“Gue ada sesuatu buat lo”

 

“Apa? Kiss?” sahut Rio dengan cepat tanpa dosa.

 

“Lo ngajak gue bercanda?!!” sinis Ify langsung memberikan tatapan tajam ke Rio. Ia tak percaya dengan isi otak pria ini. Ify mendesah berat, ia harus mulai terbiasa dengan kata itu, mengingat kekasih.nya ini adalah pria berumur 25 tahun yang sudah menginjak dewasa!.

 

“Gue nggak nerima hadiah lain, selain bibir lo”

 

Plaaakk

 

Rio meringis memegangi kepalnya yang ditabok Ify dengan keras. Untung saja bukan mulutnya yang menjadi sasaran. Rio menatap Ify kesal, gadis ini kembali menjadi gadis kejam nan brutal.

 

“Sakitt!!!”

 

“Nggak usah manja!! Cepat tutup mata lo!!” perintah Ify sarkastis,

 

Rio mendecak kesal, dengan ogah-ogahan ia menutup kedua matanya, menunggu apa yang akan Ify berikan kepadannya. Ia sangat penasaran, tak sabar menunggu.

 

Rio bingung karena tak ada gerakan apapun yang dilakukan oleh Ify, sekitarnya terasa hening. Apa Ify sudah pergi begitu saja? Rio mulai curiga. Ia ingin membuka kedua matanya tapi takut Ify akan menghabisinya. Tapi dirinya penasaran!.

 

“Buka mata lo” Rio bernafas legah, akhirnya ia mendengar suara gadis itu kembali. Dengan cepat Rio membuka kedua matanya.

 

Ia tak melihat ada yang berubah, ia mengernyitkan kening bingung. Ify masih didepannya dengan senyum mengembang. Gadis itu tak memberikannya apapun, ia jadi tak mengerti. Lalu tujuan Ify menyuruhnya menutup mata apa?.
Rio menatap Ify lebih dekat, mencari apa ada yang berubah pada gadis itu. Menatap semakin lekat. Ah! He Got it!. Rio menemukannya,

 

“Apa lo ingin gue melakukannya?” tanya Rio tersenyum penuh arti. Rio melangkah maju, mendekat.

 

“Ap—, apa?” tantang Ify sedikit takut, ia meneguk ludahnya sendiri.

 

“Bibir lo, sejak kapan jadi merah seperti itu?”

 

Rio menyadarinya, bahwa gadis itu melapisi bibirnya sendiri menggunakan lipstik agar lebih berwarna, dan tak dapat Rio pungkiri Ify terlihat semakin cantik dan sedikit dewasa. Mungkin.

 

Ify merasakan desiran hebat, bulu tangannya berdiri semua dan mendadak tubuhnya menegang. Rio menyentuh bibir mungil-nya dengan jemari masculine itu. Ify dapat merasakan nafas Rio dekat menerpa wajahnya. Jarak mereka hanya tinggal beberapa centi saja. Ify menunduk, tak berani membalas tatapan Rio.

 

“Sekarang?”

 

Ify mati gaya, terbungkam seribu bahasa. Rio benar-benar membuatnya gila!. Jantungnya berdegup tak tentu, hormon adrenalin-nya naik dua kali lipat dan fikirannya kacau seketika. Kenapa Rio  harus bertanya seperti itu? Membuatnya bingung dan salah tingkah tak tau harus menjawab apa.

 

“Kalau lo ngelarang gue nggak akan melakukannya”

 

Sejak kapan pria ini jadi sesopan ini? Biasanya juga dia berbuat seenaknya!!. Ify mendengus pelan, mulai kesal. Rio sekali lagi mempermainkannya.

 

“Gu—“

 

Ify tak dapat meneruskan kalimatnya, bibirnya dibungkam begitu saja oleh Rio. Kan apa Ify bilang barusan, Rio selalu berbuat seenak jidat-nya!.

 

Ify dapat merasakan terpaan hangat. Rio menempelkan bibirnya, menyatukan dengan bibir mungilnya. Ify dapat merasakan sentuhan lembut yang Rio berikan. Tangan pria itu bergerak mencengkram rahangnya, agar lebih memperdalam ciuman yang dilakukan.

 

Ify perlahan menutup kedua matanya, menikmati perlakuan Rio terhadap bibirnya. Sangat lembut dan memabukkan. Ia memberanikan diri untuk membalas ciuman Rio. Desahan nafas mereka mulai beradu, Ify terbuai semakin dalam, kedua tanganya perlahan ia lingkarkan di leher Rio.

 

Ify mulai kehabisan napas, namun Rio sama sekali tak memberikannya jedah. Rio terus menjelajah, melumat bibirnya sedikit kasar. Suara desahan mereka berdua memecah keheningan malam, menjadi alunan hiburan bagi hewan-hewan kecil disekitar.

 

Dreeettt

 

Pintu gerbang rumah Ify dibuka oleh seseorang,

 

“Kal—“

 

Rio dan Ify dengan cepat menjauhkan tubuh mereka dalam sekali sentakkan, Ify berpura-pura sibuk dengan bunga yang ia pegang sedangkan Rio menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, pandangannya dialihkan.

 

“Fy! Lo masuk kedalam. Cepat istirahat!!” suara bariton khas itu terdengar berat. Ify mengangguk, tak berani membantah. Yah, dia adalah Ando.

 

Bagaimana bisa Ando tiba-tiba keluar dan melihat kejadian barusan!! Ify hanya bisa merutuki dirinnya sendiri, Ando pasti akan marah besar setelah ini.

 

Dengan cepat Ify berjalan ngeluyur masuk kedalam rumah. Tak berani menatap sang kakak, kepalanya terus tertunduk dalam diam. Tak tau bagaimana nasib Rio nantinya, Ify hanya bisa mendoakan dari jauh untuk keselamatan Rio.

 

Setelah kepergian Ify, Ando berjalan mendekati Rio.

 

“Lo nggak kerja?” tanya Ando basa-basi.

 

“Hah? Gue udah pulang, kerjaan udah selesai.” Jawab Rio mencoba biasa, ia memberanikan diri melihat Ando yang terlihat tenang seolah tak terjadi apapun.

 

Ando mengangguk-angguk-an kepalanya,

 

“Kok lo bisa pulang bareng Ify?”

 

“Oh itu, tadi di—“

 

Dtttaaaakkkk

 

“Aisshh!! Sakit goblok!!” ringis Rio memegangi perutnya yang dihantam Ando begitu cepat.

 

Ando tertawa pelan, tanganya menepuk-nepuk bahu kanan Rio.

 

“Good night!” ucap Ando kemudian beranjak meningalkan Rio begitu saja.

 

Rio menatap kepergian Ando dengan wajah kesal!

 

“Brengsek lo ndo!! Aissh!! ”

 

Rio merasakan perutnya sangat nyeri tak karuan, Ando memukulnya dengan  tepat ditengah abdomen. Rio tidak akan mengulangi kejadian ini, lebih tepatnya ia tidak akan melakukanya digerbang rumah Ify ataupun di rumah Ify. Pokoknya ditempat yang masih dalam jangkauan Ando, ia tidak akan melakukanya. Bisa berbahaya! Siaga 3!!.

 

Rio pun berjalan ke mobilnya, masih dengan suara ringisannya. Ia beranjak untuk pulang kerumahnya.

 

Bersambung . . . . . .

 

 

 

 

 

“Udah cepetan tutup!!” teriak Ify sedikit membentak,

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s