ENLOVQER DEVIL – 36

ENLOVQER DEVIL – 36

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

Ify berfikir keras, keringat dingin sekujur tubuhnya semakin bercucuran bebas, Ify melirik kesamping dilihatnya Shilla meringis tertunduk, bibirnya semakin memutuih. Ia kesakitan. Ify menatap kembali ke depan, berusaha mencari keberadaan Rio. Pria itu tak ada ditempat. Ify mengedarkan pandangannya dengan cepat, panik.

 

DAAAAAKKK

PRAANGG

 

Suara benda dihantamkan di dekat pintu terdengar nyaring, semua mata teralihkan. Sebuah ponsel!.

 

Bukkkk

Bukkkk

 

Rio muncul dari arah lain, menghantam salah satu pria bertopeng yang berdiri paling pojok, memukul titik tulang belakang dan detik berikutnya berhasil membuat pria itu tak sadarkan diri, Rio merebut senapannya, dengan cepat menodongkan ke depan ketika pria bertopeng yang lain menyadari keberadaan Rio yang entah sejak kapan disana, semua nampak terkejut!

 

“YA TUHAN!!”

 

“APA YANG DIA LAKUKAN!!

 

“YA ALLAH SELAMATKAN KAMI”

 

            Suara riuh ketakutan terdengar cukup jelas dari mulut para penonton yang lain, mereka hanya dapat menutup mulut dengan kedua mata terbuka lebar melihat apa yang dilakukan oleh Rio.

 

“Minggir lo!!” tajam Rio menantang pria-pria tersebut. Rio dengan hati-hati berjalan maju mendekati Ify dan Shilla. Mereka saling beradu todong senapan,

 

Ify menahan gemetar di kedua tangannya, ia bukan takut dengan keadaannya, melainkan takut terjadi sesuatu kepada Rio. Pria itu bisa saja tertembak kapanpun.

 

            Rio menatap Ify tajam, mengedipkan matanya beberapa kali, memberikan suatu isyarat dengan tatapanya, Rio berharap Ify bisa menerima signal itu dengan mudah.

 

Sreeettt

 

“AWWW!!!” jerit Shilla sangat keras.

            Rio menarik tubuh Shilla kasar, menondongkan senapan diatas kepala Shilla, menjadikannya sebagai sandra.

 

Ify menagkap signalnya!. Gadis itu dengan cepat berlari mengikuti dibelakang Rio. Ify berusaha mendekatkan tubuhnya, merapatkan ke Rio.

 

 

“HAHAHAHAHAHA KALIAN BERDUA SUNGGUH BODOH!!”

 

Suara pria di layar kembali terdengar, kedua matanya memerah. Yah, dia memendam kemarahan besar. Terbesit rasa muak disana.

 

“Kita buat kesepakatan sekarang, atau gadis ini akan saya tembak kepalannya saat ini juga!!”

 

“Anda tidak akan dapat apapun, dan saya pastikan Anda yang akan menaggung segalanya!!”

 

“Anda akan masuk kedalam penjara dengan sia-sia, dan presiden akan tetap di posisinya” ucap Rio menantang, ia mengucapkan dengan tenang dan sebisa mungkin tak takut.  Rio sudah memfikirkan matang-matang kalimat yang diucapkannya barusan, ia harus bernegosiasi. Hanya itu yang bisa menyelamatkan banyak orang disini.

 

“Apa kau sedang mengancamku?” balas pria itu dengan sangat sinis, semakin terlihat emosi.

 

“Tidak ! Aku serius!!”

 

“HAHAHAHAHAHA. SUNGGUH MENYEBALKAN SEKALI!!”

 

            Rio mengambil kesempatan,

 

“Ambil Jagdkomando di saku gue sekarang!!” bisik Rio tanpa mengalihkan tatapanya,

 

“Hati-hati mengambilnya” lanjut Rio, Ify menurti ucapan kekasihnya, dengan hati-hati ia merogoh saku kanan Rio, ia menarik sebuah pisau berwarna silver dengan bentuk spiral. Ify cukup tertegun dengan pisau yang kini berada ditangannya, bibirnya terangkat. Sinis.

 

“Dari mana mereka mendapat pisau ini?” tanya Ify dengan suara cukup pelan, mungkin hanya Rio saja yang dapat mendengarnya.

 

“Mereka semua sepertinya mantan tentara militer yang kabur dan menjadi pembunuh bayaran!” jawab Rio.

 

Ify mendecak tak peraya, ia mencoba hati-hati memegangnya dan menggunakannya. Bisa-bisa diirnnya sendiri yang akan terluka. Ify pernah menemui pisau ini ketika dia di Austrian beberapa tahun lalu, pisau langkah yang hanya dipakai oleh pasukan tentara.


“Apa kesepakatannya?”

 

“Bebaskan seluruh penonton dan sebagai gantinya kami bertiga akan tetap berada disini”

 

“Bagaimana?”

 

“Waahhh!! Cara negosiasi anda sangat mengagumkan sekali!! HAHAHAHA”

 

Suara pria itu membahana nyaring terdengar di speaker studio, semakin menyeramkan dan membuat bulu merinding hebat.

 

Rio mengangkat tubuh Shilla agar berdiri, ia dapat merasakan tubuh gadis didepannya bergetar sangat hebat, isakannya tertahankan.

 

“Lo nggak akan mati! Gue janji” bisik Rio kepada Shilla dan membuatnya menunduk menurut.

 

“Bagaimana? Saya hitung sampai 3, jika anda tidak menyetujuinya saya akan melepaskan satu peluru di kepalanya!!”

 

“Saya tidak percaya dengan keberanian anda! Buktikan!!”

 

Pria itu menantang, kedua mata tajamnya beradu dengan kedua mata elang Rio. Walaupun tidak bertatap muka secara langsung, dapat dirasakan ketengangan hebat disekitar.

 

“Baiklah saya akan menghitungnya!!”

 

Kleekk!!

 

Rio membuka kunci peletuk senapannya,

 

“Hikss….. Papa”

 

“Tolong shilla…..”

 

“SATU!!” Rio mulai menghitung

 

“Jangan bunuh saya…..”

 

Shilla menangis, isakannya mulai terdengar, gadis itu tertunduk dengan tubuh semakin gemetar. Ia menutup kedua matannya erat. Bayangkan saja jika kalian yang berada disisi gadis ini, apa tidak sangat menakutkan?.

            Semua penonton di studio saling berpegangan erat, ini berbeda seperti film action yang sering mereka tonton. Tidak hanya menegangkan tapi juga sangat menakutkan, rasanya tak sanggup untuk melihatnya lagi.

            Beberapa wanita sampai ikut menangis, tidak tega melihat isakan Shilla seperti itu.

 

“Jangan bunuh sayaa…..”

 

Ify memegang jaket Rio dengan erat, dirinya pun tak sama bedanya dengan Shilla ataupun penonton lain. Tegang!. Ify memberikan segala kepercayaanya kepada Rio.

 

“DUA!!”

 

Rio semakin mendekatkan senapannya di puncak kepala Shilla, menekannya!

 

“Hikss…. Hiks….. Aku nggak mau mati”

 

“TI—“

 

“HENTIKAN!!!”

 

Rio dengan cepat menarik senapannya, dan menodongkannya ke depan kembali. Tubuh Shilla seketika itu ambruk, dengan cepat Ify menangkapnya. Rio tetap fokus ke depan, melindungi dirinya dan dua gadis didekatnya ini.

 

Rio bernapas legah, dengan ekspresi dingin yang terkontrol rapi. Ia puas!

 

“Baiklah saya akan menyetujui kesepakatan itu!”

 

“BEBASKAN SEMUA ORANG TERKECUALI TIGA ORANG INI!!”

 

Ucapan pria dilayar tersebut membuat riuh senang para penonton. Mereka dengan cepat mengambil barang-barang mereka di kursi dan berjalan langkah seribu turun dari kursi menuju luar pintu.

 

Dengan tetap dikawal pria bertopeng hitam-hitam tersebut, mereka semua berhambur berebutan keluar dari studio. Mereka ingin bebas, terlepas dari sandraan menakutkan ini.

 

****

Diluar bioskop terjaga banyak pasukan densus dan beberapa polisi. Kejadian ini nampaknya telah mengobohkan banyak penduduk dan telah menyebar begitu cepat.

 

Sedangkan di dalam TKP saat ini hanya tinggal 3 sandra dan 13 pria bertopeng dengan tubuh kekar dan senapan ditangan mereka. Keadaan mencekam dan menegangkan.

 

Ify mendekat ke Rio,

 

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Ify lirih, kedua matanya mencoba tetap waspada.

 

“Gue sedang memfikirkannya” dingin Rio, ify tak berani bertanya lagi. Ia memilih diam, menunggu perintah dari kekasihnya.

 

“Apapun yang terjadi, jangan biarkan diri lo terluka sedikitpun!!”

 

Ify terdiam, sedikit tak mengerti ucapan Rio.

 

“Itu bukan perintah, tapi sebuah permohonan!”

 

“Baiklah” jawab Ify menurut. Ia semakin merapatkan punggungnya ke punggung Rio. Mereka saling membelakangi. Semua pria bertopeng tersebut mulai menyebar ke segala penjuru mengepung mereka bertiga,.

 

Rio menyipitkan matanya, sebuah ide muncul di otaknya. Ia tak ada pilihan lain, hanya ini jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan Ify dan Shilla. Rio menghembuskan napas berat,

 

“Mundur dua langkah” Rio memberikan instruksi kepada dua gadis di depan dan di belakangnya.

 

Shilla dan Ify melangkahkan kakinya mundur, seperti yang diperintahkan oleh Rio.

 

“Dua langkah lagi”

 

Mereka berdua terus menurut, memundurkan langkah mereka kembali.  Ify masih tak menangkap apa rencana yang akan dilakukan oleh Rio, ia akan menuruti saja. Fikiran kritis Rio sangat tak terbaca.

 

“Lo cepat sembunyi di antara gue dan Ify” bisik Rio ke Shilla.

 

Ify menyeret Shilla dengan satu tangannya, menarik gadis itu hingga kini berada di tengah antara dirinnya dan Rio.

 

“Gue takut Fy” isak Shilla,

 

Ify mengeratkan genggaman tangannya ke Shilla, memberikan ketenangan kepada gadis itu. Tangan Shilla sangat dingin, seperti seorang gadis yang terkena hyportemia!.

 

“Kita akan selamat Shil, gue janji” ucap Ify pelan, setidaknya berhasil membuat isakan Shilla perlahan meredah. Gadis itu menunduk.

 

“Fy lo bisa gunakan Senapan ini?”

 

“Sure” jawab Ify dengan yakin, toh memang ia pernag dua kali menggunakannya ketika dirinya berada di Austrian.

 

Rio menghela napas panjang, menghmebuskannya dalam sekali hentakan.

 

“Lo dengerin gue baik-baik! Dan lo lakuin apa yang gue suruh!!”

 

Ify memincingkan sebelah matanya, ia mulai tak yakin dengan ucapan Rio. Ia mencium bau yang tak enak dari ucapan pria itu. Rio sangat serius mengucapkannya.

 

“Gue akan lindungi lo dan Shilla, gue beri senapan ini dan tembak seluruh orang yang ada di belakang lo!”

 

“Gue akan gunakan tubuh gue sebagai pelindung agar lo nggak tertembak!”

 

“LO GILA!!!” pekik Ify tajam namun dengan suara cukup pelan.

 

Ify menggeleng tegas, ia tak mau melakukannya. Ia sangat tak menyetujui ide gila kekasihnya itu. Sangat berbahaya menurutnya.

 

“Gue nggak mau!!”  tolak Ify dengan cepat.  This is so crazy!!. Bagaimana bisa Rio berfikir sempit seperti itu?. Yah, meskipun memang dirinya tak bsia memfikirkan jalan lain. Mereka terlalu banyak dan sangat profesional.

 

“Fy! Cuma ini yang bisa nyelametin lo dan Shilla”

 

“Terus lo gimana? Nyawa lo yang terancam”

 

“Gue nggak ap—“

 

“Yo, gue nggak mau ngelakuin!!” pkekuh Ify dengan cepat. Suarannya mengeras, rahang Ify menegas menunjukkan amarahnya mulai muncul.

 

“Gue nggak akan kenapa-kenapa Fy, lo jangan takut”

 

Perlahan Rio meraih tangan kanan Ify, melepaskannya dari genggaman Shilla, Rio mengenggam erat tangan Ify meyakinkan gadis itu.

 

Ify menahan napas sangat lama, bagian dalam bibirnya tergigit keras. Ia berpikir apakah harus melakukannya atau tidak. Banyak resiko yang bisa terjadi jika ia menuruti perintah Rio. Dan resiko terburuknya adalah Nyawa Rio sebagai taruhan!.

 

Ia bukan gadis yang bisa dibohongi seperti anak kecil, tidak mungkin nantinya  kekasihnya itu tidak akan apa-apa.

 

“Dalam hitungan ketiga, kita bertukar senjata!”

 

Ucap Rio mengintimidasi Ify. Ify mendengus kesal, Sikap egois Rio keluar saat ini. Dan dirinya tak tau harus berbuat apa!.

 

“Gue nggak mau!!” Ify mencoba menolak.

 

“Satu!!”

 

“Gue udah bilang, gue nggak akan lakuin brengsek!” Ify merasakan tangannya mulai gemetar, kedua matannya memerah menahan segala amarahnya disana.

 

“Dua!!”

 

“YOO!!!”

 

“Gue janji gue nggak akan mati, Fy! Gue janji!!” Rio semakin mengeratkan genggamannya ke Ify.

 

“Gue nggak mau!!”

 

“Sorry, Fy” perlahan genggaman tangan Rio melonggar, mencoba lepas.

 

“Tigaaa”

 

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

 

 

“AAAAAARGHHSS”

 

*****

“Tigaaa”

 

Rio melemparkan senapannya ke Ify dan dengan cepat gadis itu menangkapnya, Rio merebut pisau yang dipegang Ify, ia segera membalikkan badannya melindungi Shilla dan Ify. Secara bersamaan, Ify mengarahkan senapannya ke arah depan dan melepaskan pelurunya ke 7 orang tak jauh berdiri sana tanpa jeda sedikitpun, ia terus memainkan senapannya yang lumayan berat. Ify menahan kedua tangannya sekuat mungkin.

Aliran darah Ify mengalir dengan kecepatan dua kali lipat, kedua pipinya memanas, menahan segalanya.

 

Terjadi baku tembakkan yang sangat cepat,

 

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

 

Di sisi lain Rio harus merasakan panasnya peluru menembus di punggunya akibat tembakkan dari sisi belakang, rasa sakit yang tiada terkira terasa di sekujur tubuhnya, ia merasa ada suatu menembus tulangnya, berkali-kali punggungnya diserang bah sengatan listrik yang menyakitkan. Ia menahannya dengan sekuat tenaga, mulutnya perlahan mengeuarkan darah segar. Rio mulai melemas, napasnya tersenggal.

 

“AAAAAARGHHSS”

 

Teriak Shilla ketakutan, Ia menahan tubuh Rio yang akan ambruk ke arahnya.

 

“CEPAT TEMBAK MEREKA BERTIGAA!!!”

 

Teriak pria dibalik layar yang mendadak berdiri dari kursinya dengan wajah sangat panik, ekspresinya penuh kefrustasian tak menyangka bahwa semuanya terjadi sangat kacau dan tidak sesuai dengan yang ia harapkan.

 

Ify langsung membalikkan badannya setelah menghabisi ke 7 pria bertopeng tersebut. Ia melihat wajah Rio sekilas yang entahlah ia tak bisa menjelaskannya sekarang. Ify dengan cepat mengalihkan tatapanya, membuang jauh-jauh ke khawatirannya kepada Rio, walaupun begitu susah! Ify bersusaha se-fokus mungkin, ia menembakkan ke depan, ke arah pria bertopeng yang tersisa.

 

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

DOOORRRR

 

“SIALAAANN!!!”

 

Layar tersebut langsung mati dalam sekejap. Setelah semua pria bertopeng bayaran itu tertembak oleh Ify, bersamaan itu juga tubuh Rio tak bisa bertahan lagi dan ambruk kedepan, ia tak sadarkan diri!!

 

Ify dengan cepat melemparkan senapannya, ia menarik Shilla dengan kasar untuk minggir. Ketakutan, panik dan khawatir semuanya terlihat jelas di raut wajahnya, tak bisa ia tahan dan sembunyikan lagi!!. Ify tidak tega melihat keadaan Rio. Ia takut!

 

Ify memangku tubuh Rio, darah segar keluar dari punggung kekasihnya bagai muara darah di daerah sekitar. Mulut Rio pun tak henti mengeluarkan darah segar. Tangan Ify gemetar hebat, menepuk-nepuk pipi Rio agar pria itu tetap dalam keadaan sadar.

 

“YO!! Lo bangun!! Jangan tutup mata lo!!”

 

“LO CEPAAT KELUAAR!!! PANGGIL AMBULANCE POLISI DAN SEBAGAINYA!!!”

 

Teriak Ify melampiaskan kemarahannya ke Shilla, gadis itu mengangguk dan segera berdiri dengan kaki yang sempoyongan. Ify kembali menatap Rio, kedua mata pria itu perlahan sedikit menutup, napasnya semakin tak beraturan.

 

Uhukkkkk

 

Rio memutahkan banyak darah, Ify membersihkan darah yang ada di bibir Rio dengan tangannya, membiarkan sekujur telapak tangannya berwarna merah pekat.

 

“Lo—, Lo—, Ng—, nggak ap—, apa-ap—apa??” tanya Rio dengan sisa tenagannya, ia susah payah mengeluarkan kalimat tersebut.

 

Ify menggeleng cepat, tubuhnya semakin gemetar. Tak terasa air matannya turun entah sejak kapan. Rasa ketakutan dan paniknya semakin memuncak. Ia takut Rio kenapa-kenapa. Ia yakin pria itu terkena lebih dari 10 tembakkan untuk melindunginya.

 

“Lo diam aja!! Jangan ngomong!”

 

“Ambulance akan datang sebentar lagi!”

 

“Lo tahan!!”

 

“Hmm” Rio berdeham pelan, ia mengangkat kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang ia berikan untuk sang kekasih. Rio tak ingin membuat Ify khawatir.

 

Tapi sepertinya senyumannya sama sekali tak berhasil, Ify semakin menangis tanpa isakan. Air matannya mengalir deras, tanpa henti di kedua pipi pucat gadis itu.

 

Rio merasakan tubuhnya semakin memanas, mengejang beberapa kali, sakit yang sangat luar biasa menyerangnya dalam sekali sentakan. Perlahan pandangannya mengabur, tubuhnya melemah, ia tak bisa merasakan apapun lagi di sekujur badannya, kedua matannya terasa mengantuk.

 

“Gu—, Gu—, Gu—“

 

“Yo, Yo!! Gue mohon lo tetap bangun!!”

 

“Gue mohon lo tetap bangun yo!!”

 

“Lo nggak boleh nutup mata!! Nggak boleh!!”

 

“Tahan yo!!”

 

Kepanikan Ify semakin menjadi, kedua mata Rio perlahan menutup. Napasnya tersenggal-senggal dan tangan Rio sudah tergeletak diatas pahannya.

 

“SIAPAPUN CEPAT TOLONGINN!!” teriak Ify frustasi.

 

Degghh!!

 

            Rio tak sadarkan diri, kedua matannya tertutup rapat. Ify menepuk-nepuk pipi Rio pelan namun lama-kelamaan menjadi sebuah tamparan dengan tempo cepat dan keras berharap pria itu akan bangun kembali.

 

“BANGUN YOO!!!”

 

“BANGUUNNNN!! GUE MOHONN!!!”

 

“MARIOOO!!!”

 

Ify mengoyahkan badan Rio, kedua kaki, kedua tangan, dan pahanya berwarna merah, dipenuhi oleh darah Rio yang mengalir semakin banyak.

 

“Gue mohon bangun yoo!!” Ify hanya bisa menangis, ia memeluk Rio dengan erat. Ia berharap pihak medis segera datang.

 

“Lo udah janji nggak bakalan mati!! Lo udah janji ke gue!!”

 

“Lo udah janji!!”

 

Bantuan medis pun akhirnya datang, lebih dari 7 orang dengan peralatan medis, dan tandu medis berlari ke arah Ify, dibelakang mereka terdapat pasukan densus 88 berjumlah hampir 40 orang mengamankan studio tersebut.

 

“Mohon minggir ya dek” suruh salah satu pihak medis, Ify menurutinya ia menjauhi tubuh Rio yang segera ditangani oleh mereka.

 

Ify segera mengikuti Rio yang telah di gotong dengan tandu dengan perlatan medis yang dipasang di sekujur tubuh pria itu. Ify mengikuti dari belakang, tak peduli dengan keadaan di studio yang sudah dikendalikan oleh pasukan densus. Mereka menangkap dan mengamankan penjahat-penjahat tersebut.

 

Keadaan luar studio tak kalah ricuh dan hebohnya. Banyak wartawan, media dan orang-orang yang penasaran tentang kejadian penyandraan ini, mereka semua berdiri dibalik pembatas-polisi.

 

Kedua mata Ify tak sengaja berpapasan dengan kedua mata Shilla, gadis itu sudah diamankan, digiring oleh pasukan pengaman presiden (paspampres). Ify tak mempedulikannya, ia mengalihkan tatapannya dan semakin berjalan cepat menyusul tandu Rio.

 

*****

 

Hot News night. Sebuah aksi penyandraan yang dilakukan oleh sekelompok teroris terjadi di Bioskop Studio Grand VVIP Ocean Mall pada pukul 16.30 WIB, aksi ini dipicu untuk ancaman penurunan jabatan Presiden, mereka menyandra Ashilla anak dari Presiden dan juga 45 citizen lainnya di dalam studio lebih dari 4 jam. Terdapat satu korban dalam kejadian ini, tak disangka korban tersebut adalah Pengusaha Muda Mario Adipati Haling. Polisi masih mencoba melidiki dari mana asal teroris tersebut, dan siapa dalang dibalik kejadian ini. Berikut berita Hot News night selengkapnya.

 

Seluruh bilboard, televisi, radio secara bersamaan mengabarkan hot berita tersebut. Kejadian ini tentu saja mengagetkan seluruh negeri. Banyak yang prihatin dengan kejadian ini, berbagai spekulasi mulai bermunculan.

 

Banyak korban yang mengalami trauma berat akibat kejadian menakutkan tersebut, polisi pun masih menyelidiki dan mencoba menanyai saksi-saksi yang berada ditempat. Bahkan beberapa media luar negeri tak ingin ketinggalan untuk meng-ekspos berita ini.

 

****

Ify duduk di runag tunggu depan ruang operasi dengan seluruh pakian dan bagian tubuhnya yang dipenuhi oleh darah. Ia sudah tak menangis lagi, namun ketakutan dan kecemasannya sama sekali tak bisa hilang, Ia benar-benar takut jika terjadi apa-apa kepada Rio.

 

Kepala Ify tertunduk dalam, mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Ia memejamkan matannya, dalam hati tak berhenti untuk berdoa.

 

“Kamu nggak apa-apa sayang?”

 

Sebuah selimut putih melekat di tubuh Ify, membalut tubuhnya. Ify tau pemilik suara khas ini, ia sama sekali tak berani mengangkat kepalannya, semakin tertunduk. Tangan pemilik suara tersebut membelai rambutnya pelan, Ify merasakan sengatan getaran yang tenang dan hangat menyerang sekujur tubuhnya.

 

“Ma—, ma—, maafkan—, maafkan Ify tante” lirih Ify dengan susah payah, Ify mengigit bibirnya, tak ingin menangis saat ini. Yah, pemilik suara tersebut adalah Nyonya Abahay, mama dari sang kekasih.

 

“Bukan kamu yang salah sayang,” balas nyonya abahay menenangkan Ify, wanita paruh baya itu perlahan menarik Ify kedalam pelukannya.

 

“Rio pasti selamat Ify, Pasti itu!!”

 

“Dia anak yang kuat, tante tahu pasti karena dia anak kandung tante”

 

Ify menganggukan kepalannya dalam dekapan Nyonya Abahay, memejamkan kedua matannya, membiarkan bendungan air mata yang sudah ia tahan sedari tadi mengalir bebas di kedua pipinya. Ify merasa lebih tenang berada dipelukan Nyonya Abahay.

 

“Sudah jangan nangis”

 

“Kita doakan bersama-sama”

 

Ify mengangguk kembali, perlahan ia membuka kedua matannya, ia melihat dari arah kejauhan nampak Ando dan Iqbal berjalan dengan cepat menuju arahnya. Ify memilih memejamkan kedua matannya kembali.

 

“Fy lo nggak apa-apa?”

 

“Ada yang terluka?”

 

“Lo nggak apa-apa?”

 

Ando tiba-tiba berlutut didepan Ify, memeriksa kondisi sang adik. Nyonya Abahay tersenyum ke Ando sambil menggelengkan kepalannya, memberikan  jawaban bahwa gadis didalam pelukannya ini sama sekali tidak kenapa-kenapa.

 

Ando bernapas legah, ia langsung terduduk begitu saja, kakinya terasa lemas sekali, sangat kentara terlihat ekspresi raut wajahnya tersirat ke-khawatiran.

 

Ify melepaskan pelukannya, ia menatap Ando dengan tatapan sendu.

 

Ando dengan jelas mengetahui arti tatapan tersebut, ia menoleh ke Nyonya Abahay yang mencoba untuk tersenyum ke arahnya. Ando meraih tangan kanan Nyonya Abahay, menggengamnya sangat erat. Like his mom.

 

“Dia pasti selamat! Ando yakin”

 

Nyonya Abahay mengangguk, semakin mengembangkan senyumnya. Ando pun ikut memberikan senyumannya.

 

“Ando akan temani tante disini”

 

“Terima kasih Ando”

 

Ando melepaskan genggaman tangannya, ia segera berdiri. Kedua matannya kembali ter-arah ke sang adik.

 

“Ganti baju lo sekarang, lo—“

 

“Nggak mau!! Gue nggak mau pergi sampai pintu operasi ke buka”

 

“Fy, baju lo darah semua, lo—“

 

“GUE NGGAK MAU!!” teriak Ify sangat keras, ia memberikan tatapan tajam kepada Ando.

 

Ando menghela berat, tatapan Ify tak bisa terbantahkan lagi. Ia mengangguk pelan, memilih untuk mengalah. Ia tau adiknya pasti sangat khawatir dengan Rio, begitu juga dengan dirinnya.

 

Ando berjalan mendekati Iqbal yang berdiri tak jauh di belakangnya, mereka berdua nampak berbicara serius. Tak lama kemudian, Iqbal beranjak dari sana, berjalan pergi meninggalkan Ify, Ando, Nyonya Abahay dan pengawal-pengawal Rio yang standby siaga disana juga.

 

 

Tak selang berapa lama, muncul illy dan Sivia yang baru datang, illy setengah menangis langsung memeluk mamanya.

 

“Kak Rio gimana ma? hikss—“

 

“Kak Rio nggak apa-apa kan?”

 

“Dia nggak apa-apa kan Ma?”

 

Suara tangisan Ify semakin keras, nyonya Abahay membelai rambut sang anak menenangkannya.

 

“Kakak kamu pasti tidak apa-apa”

 

“Kamu jangan nangis. Sekarang berdoa biar kakak kamu selamat”

 

Illy melepaskan pelukan mamanya, menatap sang mama yang tersenyum dengan ekspresi tenang, illy tau jelas bagaimana sang mama, wanita itu pasti lebih khawatir darinya, dan dia menahannya!. Pasti rasannya sangat menyakitkan.

 

Illy mencoba ikut tersenyum, walaupun terpaksa dan susah sekali mengangkat kedua sudut bibirnya.

 

“Kita berdoa sama-sama ya ma”

 

Nyonya abahay mengangguk, meraih kedua tangan anak bungsunya, mengenggamnya erat.

 

Di sisi lain, Sivia hanya bisa mematung karena sedari tadi Ando terus menatapnya dari arah sebrang. Pria itu sama sekali tak mengalihkan tatapannya, memberikan sorot mata yang tajam dan sedikit menakutkan. Yah, memang dirinya sudah lama tidak bertemu Ando, tak saling contac satu sama lain. Mereka berdua seperti orang tak saling kenal.

 

“Sivia turut sedih tante, sivia juga akan ikut mendoakan kak Rio” ucap Sivia kepada Nyonya Abahay,

 

Nyonya abahay menatap Sivia dan memberikan senyuman kharismatiknya.

 

“Iya Sivia, terima kasih banyak”

 

 

Sivia perlahan mendekati Ify, ia tak mempedulikan tatapan Ando, benar-benar mencoba tak peduli sama sekali. Ia mengambil duduk disamping Ify, meraih bahu Ify yang bergetar hebat.

 

Sivia menjadi khawatir sendiri, pasti Ify sangat tertekan. Gadis itu hanya tertunduk tak bergerak sama sekali.

 

“Lo udah makan?”

 

“Gue belikan makan ya”

 

Ify menggeleng tegas, menolaknya. Sivia menghelakan napas.

 

“Lo harus ganti baju Fy, ba—“

 

“Gue akan tetap disini!!!” ucap Ify penug penekanna. Sivia tak berni lagi memaksa Ify. Ia menepuk-nepuk pelan punggung tangan Ify, memberikan kekuatan kepada gadis itu.

 

*****

Pintu ruang operasi terbuka juga. Semua orang di ruang tunggu langsung berdiri, Ify dan Nyonya Abahay bersamaan mendekati dokter yang keluar dari sana.

 

“Bagaimana kondisi anak saya dok? Dia selamatkan?” tanya Nyonya Abahay menunjukkan kehwatiran yang sedari tadi ia tahan, kedua tangannya bergerak tak pasti.

 

Dokter tersebut tersenyum, dan mengangguk.

 

“Dia selamat, tuhan memberikan keajaiban kepadannya. Ia meleewati masa kritisnya. Punggungnya terkena 15 peluru, dan dia bisa menahan kesakitan itu”

 

“Sepertinya dia masih sangat ingin untuk hidup, ia berhasil bertahan melawan maut”

 

“Syukurlaahh”

 

“Terima kasih Ya allah”

 

Semuanya bernapas legah, dan senyum bahagia tak bisa lagi mereka sembunyikan. Rasanya seperti baru saja mendapatkan hadiah yang sangat besar.

 

“Pasien akan dipindahkan ke kamar rawat, dia masih harus terus diawasi, biarkan pasien istirahat dulu. Keluarga bisa menjenguknya besok.”

 

“Iya dok terima kasih banyak” ucap Nyonya Abahay sebelum dokter itu beranjak pergi.

 

Nyonya Abahay tak bisa menyembunyikan rasa bahagiannya, ia menatap Ify dengan kedua mata berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu memeluk Ify dengan erat, membiarkan air matannya akhirnya jatuh.

 

“Rio selamat Fy”

 

“Rio selamat!!”

 

“Rio selamat Fy”

 

Ify menepuk- nepuk pelan punggung Nyonya Abahay, kini gilirannya yang menenangkan wanita ini. Ia tau jelas bahwa sedari tadi Nyonya Abahay menahan rasa khawatir dan ketakutannya hingga akhirnya semua perasaan itu memecah saat ini.

 

“Iya tante, Rio selamat”

 

“Dia selamat”

 

Ify membiarkan saja Nyonya Abahay menangis dalam dia dipelukannya, ia memejamkan kedua  matannya dalam hati tak berhenti untuk bersyukur dan berterima kasih untuk keajabian besar ini.

 

“Terima kasih yo, lo udah nepatin janji lo”

 

Bersambung . . . . .

 

 

 

 

 

One thought on “ENLOVQER DEVIL – 36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s