ENLOVQER DEVIL – 37

ENLOVQER DEVIL – 37

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

 

Ify keluar dari toilet rumah sakit, ia telah mengganti seluruh bajunya dari atas sampai bawah. Iqbal yang membawakanya dari rumah. Ify berjalan menuju kamar rawat Rio yang masih tidak boleh dimasuki pihak keluarga.  Ia hanya ingin melihat bagaimana keadaan Rio saat ini meskipun hanya dari balik kaca.

 

DRTTRDRT

 

            Ponsel Ify berdering, ia mengeluarkannya dari saku celana. Sebuah pesan masuk.

 

From : 081323232081

Jangan lupa besok Trainning-Upclass. Lo wajib ikut Dafychi!

Ariel.

 

Ify menghela napas panjang, ia hampir lupa dengan itu. Wajahnya menyiratkan ke-engganannya untuk ikut ke acara tersebut. Hatinya memaksa untuk tetap berada dirumah sakit. Ia ingin menjaga Rio. Tapi mau bagaimana lagi!.

 

Ify memasukkan kembali ponselnya. Melanjutkan langkahnya kembali.

 

“Fy, kamu sekarang istirahat dirumah dulu, Besok kalau sudah diperbolehkan menjenguk dan kondisi Rio sudah membaik, tante akan kabari kamu”

 

“Tenangkan dulu fikiran kamu ya” ucap Nyonya Abahay kepada Ify sesaat gadis itu tiba di depan kamar rawat Rio.

 

Ify terdiam, berpikir.

 

“I… Iya tante. “ balas Ify menyetujui sambil menganggukan kepalannya sekali.

 

Ando tersenyum, mendekat ke sang adik dan merangkul bahu Ify erat.

 

“Ayo kita pulang” ajaknya,

 

“Ando, Ify dan Iqbal pamit dulu ya tante” pamit Ando menyalami Nyonya Abahay di susul oleh Ify dan Iqbal.

 

“Kalau gitu Sivia juga pamit ya tante, besok pagi Sivia ada shift kerja” ucap Sivia membuka suara, ia mendekati nyonya abahay ikut menyalami wanita paruh baya tersebut.

 

Illy bangun dari tempat duduknya,

 

“Ayo gue anterin” tawar illy namun Sivia menggelengkan kepalanya, menolak.

 

“Nggak usah, gue bisa naik taxi. Lo disini aja temenin mama lo” balas Sivia tak ingin merepotkan.

 

“Yaudah kalau gitu lo bareng aja sama kak Ando, Ify dan Iqbal. Sekalian mereka pulang”

 

Sivia terdiam, menatap Ando yang juga sedang menatapnya. Pria itu hanya diam saja, membungkam suara.

 

“Nggak usah, rumah gue lawan arah sama mereka. Kasihan Ify harus istirahat”

 

“Lo bareng kita aja” sahut Ify, suaranya terdengar serak dan tanpa tenaga.

 

Sivia tidak tega melihatnya.

 

“Nggak usah Fy, lo har—“

 

“Lo nggak usah rewel jadi orang, gue udah capek. Ayo pulang” potong Ify dengan tatapan lo nurut sama gue!.

 

Sivia menghela napas panjang, Ify memang selalu mengintimidasinya disaat seperti ini. Sivia memilih pasrah dan mengikuti kemauan sahabatnya tersebut.

“Hati-hati kalian semua pulangnya” ucap Nyonya Abahay sebelum mereka semua beranjak.

 

*****

 

            Mobil. Tak ada yang membuka suara, semuanya bergelut dengan pikiran masing-masing. Ando fokus menyetir, ia mengantarkan Ify dan Iqbal pulang dahulu, karena memang daerah rumah sakit lebih dekat dengan perumahan mereka.

 

*****

Rumah. Ify masuk kedalam kamar, berjalan menuju kasurnya dengan langkah gontai. Raut wajah-nya menunjukkan kelelahan berat yang tak bisa ia sembunyikan. Ify merebahkan tubuhnya diatas kasur, perlahan ia memejamkan kedua matanya.

 

Tangan Ify bergerak, menyentuh kalung yang ada dilehernya. Ia kembali diam, semua memorinya kembali ke ­kejadian menakutkan dan menegangkan beberapa jam yang lalu. Ia tak pernah menyangka bahwa akan terjadi big-something seperti itu.

 

Dalam benak Ify hanya ingin Rio segera sadar dan sembuh. Ia ingin sekali menyumpahi Rio karena kelakuan gilanya itu, disisi lain ia berterima kasih karena tak membiarkan dirinnya terluka sedikit pun.

 

Napas Ify sedikit tak beraturan, ia membuka kedua matanya. Menatap dinding langit-langit atap dengan ekspresi entahlah. Dingin, datar dan tak terbaca.

 

“Bagaimana kalau tadi lo mati?”

 

Ify menghembuskan napas berat, ia tak bisa membayangkan jika Rio tak selamat. Entahlah, mungkin sekarang tidak sedang diam dikamar, mungkin ia akan berteriak dan menangis seperti orang gila.

 

“Cih—, apa gue benar-benar sudah jatuh cinta sama dia?”

 

Ify menggelengkan kepalanya pelan, tak pernah terbayangkan sebelumnya ia akan mencintai seseorang se-serius ini. Seolah tak ingin pernah berpisah dan selalu didekatnya. Ia tak munafik jika dirinya sangat nyaman ketika berada di dekat Rio. Ia merasa Rio berbeda dengan pria lainnya. Dia kelewat luar biasannya!.

 

Meskipun dingin, tak ada ekspresi, kaku, sama sekali nggak romantis, tapi pria itu berhasil merebut sepenuh hatinya dan membuat dirinya jatuh cinta seperti orang gila! Membuat dirinnya menjadi bukan-seperti Ify biasannya. Pria itu mampu merombak perasaan Ify setiap detiknya.

 

“Lo emang udah gila karena Rio, Fy!!”

 

“Lo udah gila!!”

 

Ify menarik selimutnya, memejamkan matannya kembali. Ia sangat butuh istirahat. Ify membiarkan saja dirinnya tertidur dengan sepatu yang masih ia kenakan, dan tidak mengganti bajunya dengan piyama tidur. Ia sudah sangat lelah!.

 

*****

 

Sivia membuka seatbelt-nya. Ia dan Ando sudah berada di depan gang rumahnya. Tidak ada yang mereka bicarakan selama perjalanna, Ando sama sekali mengacuhkannya dan Sivia pun mencoba tak peduli.

 

“Sivia turun dulu kak, Terima kaish banyak”

 

“Maaf merepotkan” ucap Sivia ke Ando, pria itu menatap ke depan tak bergeming sedikit pun.

 

Sivia memaksa untuk tersenyum dalam hati. Ia mengalihkan pandangannya, membuka pintu mobil.

 

“Eh—“ kaget Sivia, sebuah tangan mencengkram pergelangannya. Sivia menengok 90 derajat,

 

“Gue kasih kesempatan terakhir” ucap Ando dengan suara sangat dingin, tatapanya lebih dari serius seperti biasannya. Sivia menahan napas. Ando sedikit menakutkan.

 

“Untuk?” jawab Sivia setenang mungkin,

 

“Lo beneran hanya anggap gue kakak?”

 

Sivia menghela napas panjang,

 

“Yah”

 

Ando tersenyum picik, ia mendekat ke Sivia membuat gadis itu mematung seketika.

 

“Sungguh?”

 

Sivia meneguk salivanya, darahnya mengalir cepat, sekujur tubuhnya terasa panas. Ia dapat merasakan genggaman Ando semakin erat di pergelangannya, Ando semakin mendekat. Sivia binggung harus berbuat apa. Ia ingin beralih, tapi kenapa tubuhnya sama sekali tak bisa ia gerakkan. Menyuruhnya untuk tetap diam.

 

Kedua tangan Sivia terkepalkan,

 

“Gue akan buktikan sendiri—“

 

“Sekarang juga!!”

 

Ando mendekatkan wajahnya ke Sivia, meraih dagu gadis itu dengan sedikit kasar. Tanpa perizinan-sah dan melakukannya sebelah-pihak, Ando mencium bibir Sivia.

 

Sivia membuka lebar kedua matannya sempurna, ia melihat Ando menciumnya dengan kedua mata yang sudah tertutup. Sivia semakin menegang,

 

“Gue nggak boleh kayak gini!!”

 

Sivia mencoba melepaskan ciumannya, menarik tubuhnya dari Ando tapi pria itu sama sekali tak membiarkannya lepas. Ando semakin erat memegang dagunya dan mendekatkannya kembali, pria itu menciumnya lagi bahkan sedikit kasar.

 

Sivia mengerang, kesakitan. Ando kalut berat.

 

Kedua mata Sivia memanas, ia ingin menangis saat ini. Ando menakutkan!!

 

“KAK!!!” teriak Sivia dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Ando darinya,

 

PLAAAAKK

 

Sebuah tamparan keras berhasil Sivia layangkan di pipi kanan Ando, pria itu mematung menatapnya tajam. Sivia tak peduli Ando akan marah kepadannya!.

 

“Gue turun!”

 

Sivia menyeka air matanya yang entah sejak kapan telah terjujun bebas, Sivia segera turun dari mobil Ando meninggalkan pria itu yang mematung dan terlihat terkejut ketika melihatnya menangis.

 

Sivia berjalan cepat menuju rumahnya, ia hanya ingin menjauh dari Ando.

 

*****

 

Ando membanting kasar stir mobilnya! Ia merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia melakukan hal seperti itu dan membuat Sivia menangis. Dia kelewat batas!

 

Ando turun dari mobilnya, ia berjalan mengarah ke rumah Sivia. Ia harus meminta maaf kepada gadis itu saat ini juga!. Yah, harus!.

 

*****

 

TokkTokkk

 

            Ando mengetuk pintu Sivia beberapa kali, tak ada sahutan dari dalam.

 

“Vi…” pangil Ando pelan. Ia mengetuk kembali pintu rumah Sivia, tak ingin menyerah.

 

“Gue minta maaf. Lo bisa keluar sebentar?”

 

Hening, tak ada suara apapun yang membalas pertanyaan Ando, membuat pria ini semakin gusar, tak tenang. Ando menghela napas panjang.

 

“Gue akan tunggu disini sampai lo keluar!”ucap Ando sangat serius.

 

Perlahan ia menurunkan tubuhnya, duduk. Ando menyandarkan punggungnya di pintu rumah Sivia. Ia sungguh akan terjaga di depan rumah Sivia sampai gadis itu menemuinya. Ando sadar dirinya sudah melakukan kesalahan besar!.

 

*****

Keesokan Pagi. Ify menyeret mini-koper, membawanya ke ruang makan. Ify mengernyitkan kening,

 

“Kak Ando mana?” tanya Ify ke Iqbal yang sedang menikmati sarapannya. Iqbal mengangkat kedua bahunya, tidak tahu.

 

Ify ikut mengangkat bahunya, tak ingin memfikirkannya lebih lanjut. Ia segera duduk di depan Iqbal dan memakan sarapan yang sudah disiapkan untuknya.

 

“Lo mau kemana?”

 

“Gue ada trainning-upclass. Wajib ikut” jawab Ify malas,

 

“Kok pakek bawa koper segala?”

 

“Disana 3 hari”

 

“Tumben lo mau ikut gituan?”

 

“WAJIB!!” sentak Ify gemas, ia sebenarnya tidak kesal dengan pertanyaan Iqbal, melainkan sangat kesal untuk mengikuti acara tersebut. Tidak akan ada yang dirinya kenal disana, karena memang acara itu ditujukkan untuk kelas 12. Pasti sangat membosankan, membayangkannya saja sudah membuatnya merinding!.

 

Ify menyelesaikan makannya duluan.

 

“Gue berangkat! Bilang ke kak Ando”

 

“Oke. Becaraful”

 

“Hmm”

 

Ify berjalan dulun, membiarkan salah satu pengawalnya yang membawaka koper dan tas-nya. Minggu yang berat!.

****

 

Cleeekk

 

            Suara pintu rumah dibuka, Ando mengangkat kepalanya melihat ke belakang.

 

“Vi… gue mau mi—“

 

Ando menghentikan kalimatnya, ia melihat Sivia sudah berdiri di depannya dengan wajah terkejut. Sivia menatapnya binggung.

 

“Gue minta maaf untuk kemarin malam” Ando melanjutkan ucapannya, ia mengatakannya dengan tulus.

 

“Lo—, Lo tidur disini semalam?” tanya Sivia dengan susah payah, Ando nyengir, perlahan mengangguk.

 

Mulut Sivia terbuka, tak percaya dengan yang dilakukan oleh Ando. Ia merasa bahwa Ando sudah gila.

 

“Lo pulang sekarang kak.” Suruh Sivia dengan cepat, Ando mengernyitkan keningnya,

 

“Lo ngusir gue lagi?” tanya Ando, ekspresinya berubah dingin dan tersirat kekecewaan.

 

Sivia menghela napas panjang,

 

“Gue udah maafin lo. Sekarang lo balik ke rumah” ucap Sivia tenang.

 

Ando tersenyum miris, bukan ini yang ia mau. Sivia seolah tak ikhlas dengan ucapannya. Ando merasa usahannya dengan menunggu Sivia semalam tak ada hargannya dan sia-sia.

 

“Apa yang buat lo nggak suka sama gue?”

 

“Apa gue terlalu buruk buat lo?”

 

“Gue harus apa biar lo suka sama gue?”

 

Sivia mendadak terbungkam, dibuat terkejut kedua kalinya. Ia tak tau harus menjawab apa. Tatapan Ando begitu tajam dan menusuk. Sivia merasakan desiran hebat mencampur dengan aliran darahnya.

 

“Gue yang nggak pantes buat lo” jawab Sivia. Di fikirannya hanya ada satu kalimat tersebut, ia tak bisa memfikiran jawaban lainnya.

 

Ando terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban dari Sivia. Sedikit tak faham dengan maksud jawaan tersebut.

 

“Lalu? Siapa yang pantas buat gue?”

 

“illy” jawab sivia spontan tanpa fikir panjang, sedangkan Ando langsung tersenyum sinis.

 

“Kalian berdua sangat cocok.” Lanjut Sivia menyembunyikan ketegangannya sendiri.

 

“Cocok?” sinis Ando tajam.

 

“Ya” jawab Sivia tegas.

 

Ando mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.

 

“Lo benar-benar lucu banget!”

 

Setelah mengucapkan sindiran dingin tersebut, Ando membalikkan badannya meninggalkan Sivia begitu saja. Ia merasa seperti orang-buangan yang tak dianggap dan sama sekali tak dihargai.  Semua harapan diotaknya hancur seketika. Realita yang dihadapinya sungguh menyakitkan.

 

“Maafkan Sivia, kak”

 

******

Ify dan Ariel berdebat hampir 20 menit di depan parkiran sekolah. Ify memaksa untuk naik mobilnya sendiri, namun Ariel tetap kekuh agar Ify ikut di mobilnya. Karena ia sangat lelah dan tak ingin memperjang lagi, Ify mengalah. Ia pun terpaksa harus berangkat ke camp menaiki mobil Ariel.

 

 

Mereka berdua sampai di camp 15 menit lebih telat, Ify keluar dari mobil Ariel duluan, tak betah lama-lama didalam.  Tatapan tajam dari kakak-kakak kelas menyambutnya, Ify mendesis sinis, mencoba tak peduli. Ia menampakkan wajah tembok-nya. Toh, memang dirinnya sama sekali tak ada rasa dan tak menganggap Ariel.

 

“Dimana tenda gue?” tanya Ify to the point.

 

“Disana, tenda warna ungu, samping tenda anak-anak osis. Ayo gue anter”

 

“Nggak usah. Gue bisa sendiri” tolak Ify kasar, ia menarik kopernya dari tangan Ariel dan meninggalkan pria itu.

 

“Semakin lo nolak gue, semakin buat gue tertantang”  ucap Ariel, pria itu mengikuti langkah Ify dari belakang.

 

Ify bergidik jijik, Ariel sangat menyebalkan, Ia akui pria itu memang baik tapi sikapnya yang suka memaksa dan seenaknya sendiri membuatnya selalu kesal!. Ia jadi heran sendiri kenapa banyak gadis di sekolahnya menyukai bahkan tergila-gila kepada sosok Ariel!.

 

“1 jam lagi pembukaan, lo harus memberikan speech di depan” ucap Ariel mengingatkan. Ify mengangguk singkat sebagai jawaban.

 

Ify sampai di depan tendanya, ia membuka resleting tenda tersebut.

 

“Lo sampai kapan ngikutin gue? Pergi sana” usir Ify tak suka dengan keberadaan Ariel yang terus didekatnya.

 

“Oke, kalau lo perlu apa-apa panggil aja gue”

 

Ify tak menjawabnya, ia memilih langsung masuk kedalam tenda. Mengacuhkan pria aneh tersebut.

 

****

 

Ify duduk didalam tenda, mengecek ponselnya yang masih tak ada notif satu pun. Ia tak bisa memungkiri bahwa fikirannya tak ada hentinya memfikirkan Rio. Apakah pria itu sudah sadar? Bagaimana keadaan pria itu saat ini? Ify sangat khawatir!.

 

Ify berharap ia akan segera mendapatkan kabar dari keluarga Rio ataupun kakaknya. Ia terus berdoa agar kekasihnya cepat tersadar.

 

Entah mengapa Ify merasa begitu hampa. Ia merasa ada sesuatu yang kurang di pagi ini. Ia sama sekali tak melihat sosok Rio yang biasannya sudah bertenger dirumahnya pagi-pagi. Ify merindukannya.

 

“Aissh!! Lo benar-benar sudah gila, Fy!”

 

Bersambung . . ..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s