ENLOVQER DEVIL – 38

ENLOVQER DEVIL – 38

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

“Dia masih belum sadar Fy”

 

“Tapi kondisinya sudah mulai membaik”

 

“Lo jangan khawatir, gue pasti kabarin lo terus”

 

“Thanks il, gue tuttup. Bye!”

 

Ify mematikan sambungannya, napasya terhela berat. Setiap 6 jam sekali ia pasti akan menelfon illy atau sang kakak menanyakan perkembangan kondisi Rio. Ia berharap Rio cepat bangun.

 

Ify berjalan  menuju tendanya, ini hari keduanya ia berada di camp. Besok sore jadwal kepulangannya. Ify ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.  Dirinnya sama sekali tak betah. Ify memasuki tenda.

 

“Ngapain lo?”  kaget Ify melihat sosok Ariel duduk tak berdosa disana.

 

Ariel tersenyum ringan,

 

“Ayo makan sama-sama. Nanti jam 12 ada api unggun”

 

Mata Ify menyorot ke 2 kotak makanan dan 2 botol minuman soda dingin. Ify menghela napas panjang, kedua matanya menyorotkan ketidak-sukaan dengan kehadiran Ariel. Selalu saja menganggunya.

 

“Perlu gue perjelas?”

 

“Apanya?”

 

“Gue nggak suka sama lo!!” tegas Ify tak ada takutnya. Sedangkan Ariel hanya menanggapi dengan senyuman mengerikan. Ify bergidik pelan,

 

“I know—,”

 

“Tapi tingkah lo yang terus nolak gue,  buat gue semakin tertarik sama lo”

 

“Lo udah nggak waras!!” geram Ify, ia kembali keluar tak mau meladeni Ariel yang tiap harinya membuat kepalanya panas seakan mau pecah.

 

Ify berjalan menjauhi tendanya, moodnya semakin buruk saja. Ia mencari tempat untuk menyendiri.

 

“Gue nggak akan ganggu lo—, makan ini”

 

Bahu Ify draih oleh Ariel tiba-tiba, pria itu mengikutinya. Ify menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya penuh dengan kotak makanan dan minuman yang diberikan oleh Ariel.

 

“Lo bisa masuk ke tenda”

 

Ariel mengacak-acak puncak kepala Ify, memberikan senyum singkat kemudian beranjak meninggalkan Ify yang mematung, binggung. Ify mendesis pelan, alisnya saling tertaut.

 

“Mmm… dia emang nggak waras!!” gidik Ify tak ingin memfikirkan lebih panjang. Ia berjalan ke tendanya kembali. Toh, sudah tidak ada Ariel lagi.

****

 

02.30 a.m. Acara Api unggun telah selesai, semua peserta kembali ke tenda masing-masing. Begitu pula dengan Ify, ia berjalan gontai ke tendanya, kedua matanya terasa berat. Ia ingin cepat-cepat tidur.

 

DRTTTDRTT

 

            Ponsel Ify bergetar, ia merasa sedikit kesal. Ada saja peganggu di waktu seperti ini. Ify memilih tak menghiraukan, ia mematikan dering suara ponselnya tanpa melihat layarnya sedikitpun.

 

“Siapa juga yang telfon pagi-pagi kayak gini!!” gumel Ify ke dirinnya sendiri. Ia memasukkan dirinya ke sleepingbag, menarik zipper sampai ke atas dan perlahan menutup kedua matannya.

 

Ify tertidur, mengacuhkan layar ponselnya yang terus menyala karena sebuah panggilan. Gadis itu terlalu lelah, tenaganya hampir habis. Kegiatan camp ini menguras waktu dan energinya.

 

Namun baru 15 menit Ify dapat terlelap, ia tiba-tiba terbangun kembali. Kedua matanya membuka sempurna. Ia meraih ponselnya yang dimasukan di saku kanan tasnya, mengambilnya. Ify adalah tipe gadis yang peka akan keadaan. Sedari tadi ia merasa ada yang aneh dan menganggu fikirannya.

 

Ify membelakakan kedua matanya melihat layar ponsel di depan.

 

30 panggilan tak terjawab dari illy !!

 

Ify meneguk ludahnya dengan susah payah, hatinya mulai tak tenang, bola matanya bergerak tak pasti. Apa telah terjadi sesuatu disana?.

 

Dengan cepat Ify menelfon balik illy. Ia sangat khawatir. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya saat ini.

 

“Ayo angkat!!”

 

Ify membuka zipper dan keluar dari sleepingbag. Ia mendudukan tubuhnya. Belum ada jawaban, tak ada yang mengangkat sambunganya. Ify semakin cemas. Ia mengigit bibirnya, menahan segala kemungkinan-kemungkinan yang tidak ia inginkan.

 

“Aisshh!” desis Ify mulai frustasi karena tak ada jawaban. Ify menelfon sekali lagi, ia sangat berharap illy mengangkatnya.

 

Ify memainkan jemarinya, berdoa dalam hati sambungannya akan dijawab!

 

“Pliss ang—“

 

“Hallo”

 

Ify seketika itu mematung, semua tubuhnya sekaan membeku mendengar suara disebrang sana. Ia meyakinkan dirinnya bahwa pendengarannya tidak salah. Itu bukan suara illy, dan Ify yakin ia sangat mengenali suara bariton tersebut.

 

“Fy…”

 

“Ri—, Rio?” sahut Ify dengan susah payah, bibirnya sedikit bergetar.

 

“Ya?”

 

Senyum Ify mengembang, ingin rasanya ia teriak saat ini juga. Dia tidak bermimpi bukan?

 

“Lo—, lo—, lo udah sadar?”

 

“Sejak Kapan?”

 

“ Lo nggak apa-apa?”

 

“Apa ada orang di dalam kamar rawat lo?”

 

“Ap—“

 

Mana dulu yang harus gue jawab?”

 

Ify yakin 100% saat ini bahwa yang menjawab panggilannya adalah Rio. Suara dingin dan berwibawa milik Rio begitu khas ditelinga Ify. meskipun suara disana masih lemah, tapi itu benar-benar adalah Rio. Ify dapat merasakannya.

 

“Maaf” lirih Ify pelan, terdengar deruhan napas dari sebrang.

 

“Untuk?”    

 

“Karena gue, lo harus kayak gini” jawab Ify penuh penyesalan.

 

Untuk beberapa detik, tak ada jawaban dari Rio. Pria itu terdiam lama.

 

“Yaa… memang gara-gara lo”

 

 

Eh? Ify dibuat terkejut dan bingung. Apakah Rio marah kepadannya? Ify mengigit bibirnya sedikit takut. Suara Rio terdengar  mendadak dingin.

 

“Dan lo harus membayarnya.”

 

“Maksudnya?” tanya Ify tak mengerti.

 

“Apa lo nggak bisa kesini sekarang?”

 

Kini giliran Ify yang terdiam, pikirannya terus berputar. Pertanyaan rio bukanlah sebuah perintah melainkan permohonan yang tulus. Ify tersenyum ringan. Ide picik muncul di otaknya.

 

“Sekarang? Maaf… gue nggak bisa”

 

“Gue masih kegiatan camp, 3 hari lagi baru pulang” Ify membuat-buat nada suarannya agar terdengar sendu.

 

            Suara helaan berat terdengar di pendengaran Ify, nada suara Rio sedikit kesal.

 

“2 hari lagi?” tanya Rio kembali dingin.

 

“bukan.. 3 Hari lagi” ralat Ify dengan cepat.

 

“Oke, see you 3 days later” ucap Rio nampak pasrah.

 

Ify mengernyitkan kening, sedikit tak puas dengan reaksi Rio.

 

“Lo marah?” tanya Ify

 

“Untuk?”

 

“Karena gue nggak bisa kesana sekarang”

 

“Gue nggak marah”

 

“Sungguh?”

 

“Ya”

 

“Tapi lo kedengeran marah dan kesal sama gue!”

 

“Lalu kalau gue marah, gue bisa apa?”

 

Ah.. benar juga pertanyaan Rio. Ify menahan dirinnya agar tidak tertawa. Ia mengeluarkan hembusan napas berat, membuat situasi semakin meyakinkan. Ia sepertinya sedikit berhasil mengerjai Rio.

 

“Sorry…”

 

“Gue nggak marah sama lo, toh kita bisa ketemu 3 hari lagi” ralat Rio dengan cepat, suaranya sudah tak dingin seperti tadi, ia mulai melunak.

 

Ify tersenyum,

 

“Iya.. sampai ketemu 3 hari lagi mario. Cepat sembuh”

 

“Hati-hati disana”

 

“Oke, bye”

 

Ify mematikan sambungannya duluan, ia memasukan ponselnya ke dalam saku dan segera merapikan barang-barangnya, memasukannya ke dalam tas. Senyum di bibirnya sama sekali tak bisa menghilang, ia ingin cepat-cepat bertemu dengan kekasihnya.

 

Ify keluar dari tenda, memakai kedua sepatunya yang ada di depan.

 

“Lo mau kemana?”

 

Ify tak perlu untuk mendongakkan kepalanya, ia tau jelas siapa pria yang ada dihadapannya saat ini dan nampak penasaran. Dia adalah Ariel!.

 

“Pulang” jawab Ify seadanya, setelah selesai mengikat tali sepatunya Ify berdiri. Kini, ia baru dapat membalas tatapan Ariel yang binggung.

 

“Gue harus pulang duluan, gue harus ke rumah sakit” ucap Ify jujur, ia sedikit memohon agar Ariel mengizinkannya.

 

Pria itu terdiam, menatap Ify sedikit lekat.

 

“Siapa yang sakit?” tanyanya masih tak memberikan Ify izin untuk pulang saat ini juga. Ify mendesis pelan, Ariel selalu saja mempersulit keadaan.

 

“ Pacar gue” jawab Ify dingin,

 

Ariel menganggukkan kepalanya beberapa kali, terdiam kembali.

 

“Tunggu di parkiran, gue anterin lo ke rumah sakit”

 

“Heh?”

 

Kaget Ify dengan ekspresi binggung, belum sempat ia menolak permintaan Ariel, pria itu sudah meninggalkanya. Ariel berjalan cepat menuju tendanya. Ify hanya bisa mendesah berat. Semakin tak paham dengan jalan pikiran Ariel.

 

Ify melangkahkan kakinya menuju parkiran,

 

****

 

Ariel sungguh dengan ucapannya, ia terus memaksa Ify  dan akhirnya Ify tak ada jalan pilihan lain selain menuruti permintaan Ariel. Daripada ia sampai subuh berdebat dengan Ariel di parkiran.

 

“Lo cuma nganterin gue sampai depan rumah sakit!! Nggak lebih”

 

“Oke” jawab Ariel singkat, pria itu fokus menyetir.

 

Ify menahan amarahnya yang masih berada di ujung puncak, menenangkan dirinnya. Ia mencoba memfikirkan Rio saja.

 

PYAARR!!

 

Fikirannya kacau, terbelah. Ia terganggu dengan keberadaan Ariel di sampingnya, ia tak bisa menahannya lagi. Ify menolehkan kepalanya 90 derajat, mengarah ke Ariel.

 

“Mau lo sebenarnya apa sih?” tanya Ify melepaskan kekesalannya.

 

“Mau gue yang mana?” balas Ariel dengan wajah tak berdosa.

 

Ify sekali lagi mencoba bersabar, menahan amarahnya.

 

“Gue udah punya pacar! Dan gue nggak suka sama lo!. Tapi lo tetap kekuh deketin gue!”

 

“Gue udah tolak lo!! Jad—”

 

“Untuk sekarang” potong Ariel dengan cepat, Ify mengernyitkan keningnya tak mengerti/

 

“Maksud lo untuk sekarang?”

 

“Yaa… untuk sekarang lo akan bilang kalau lo nggak suka sama gue, tapi nanti gue yakin lo akan suka sama gue”

 

Ify mendesis sinis, ia mengeluarkan tawa remehnya. Merasa lucu dengan kepercayaan diri Ariel yang sangat tinggi.

 

“Gue nggak akan rusak hubungan lo sama pacar lo. Tapi gue akan nunggu lo sendiri yang mutusin pacar lo dan milih gue” tambah Ariel semakin percaya diri.

 

“HELL!!” batin Ify menertawakan Ariel lebih keras dalam hati. Ia tak ingin lagi meladeni pria setengah waras seperti Ariel. Ify memilih diam dan menatap ke luar jendela.

 

 

Jalanan sangat sepi, mengingat sudah dini hari. Ify menyenderkan kepalanya di peyanggah kursi, sedikit bergidik melihat gelapnya jalan yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar. Ify dapat merasakan kecepatan mobil semakin dinaikkan oleh Ariel. Ify membiarkannya saja. Toh, ia akan lebih senang jika cepat sampai di tempat tujuan.

 

****

 

Ify melepaskan seat-belt.nya. mereka berdua telah sampai didepan rumah sakit. Ariel mengambilkan tas Ify yang ada di kursi belakang, memberikannya ke Ify.

 

“Thanks” ucap Ify menerima tas tersebut.

 

“Gue balik dulu, salam ke pacar lo”

 

Ify menatap Ariel tajam, pria itu benarbenar !!

 

“Aissh!!” desis Ify sinis, ia tak menghiraukan Ariel yang nampak puas.

 

Ify segera keluar dari mobil Ariel dan berjalan menjauh. Tak ingin lagi membalikkan badannya, Ify masuk kedalam rumah sakit. Bersamaan dengan itu mobil Ariel beranjak menjauh dari rumah sakit.

****

 

Ify keluar dari lift, ia berjalan menuju kamar Rio. Banyak pengawal Rio yang setia menunggu di depan. Mereka langsung berdiri sigap ketika melihat kedatangan Ify.

 

“Santai aja.. kalian bisa duduk atau istirahat sejenak”

 

“Gue akan masuk” ucap Ify kepada para pengawal Rio, mereka mengangguk sopan.

 

“Titip tas ini ya” pinta Ify sekali lagi memberikan tasnya yang langsung diterima oleh salah satu pengawal Rio.

 

Ify pun kembali berjalan mendekati pintu kamar rawat Rio. Ia berharap pria itu belum tidur. Ify menyiapkan diri dan mentalnya, menghembuskan napasnya beberapa kali. Entah kenapa jantungnya mulai berdetak cepat, tubuhnya sedikit panas-dingin.

 

CKLEEEKK

 

Ify membuka pintu pelan-pelan, ia memasukkan sedikit tubuhnya ke dalam dengan hati-hati. Ify mengedarkan matanya, ia menemukan sosok Rio terbaring lemah diatas kasur dengan kepala menghadap keluar jendela. Ify sedikit tak yakin bahwa Rio tertidur.

 

Ify menutup pintu pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara. Ia berjalan mendekat, memastikan apakah Rio sudah tidur atau belum. Di dalam kamar rawat Rio tidak ada siapapun. Suasana didalam sangat sunyi, hanya terdengar suara air-conditioner dan peralatan medis Rio yang menyala.

 

Ify menghentikkan langkahnya, ia telah berada disamping kasur Rio. Pria itu sepertinya masih tak menyadari kehadiran Ify. Kini, Ify yang dibuat binggung harus berbuat apa, ia menggaruk pelipisnya yang sedikit gatal.

 

“Yo…” panggil Ify pelan, menunggu respon dari Rio. Namun, tak ada jawaban sama sekali.

 

“Rio…” panggil Ify sekali lagi.

 

“Hmm?” dehem Rio membalikkan posisi kepalanya ke arah sumber suara.

 

Ify sedikit terkejut, Rio ternyata sudah terlelap. Ify tertawa ringan, wajah Rio seperti itu sangat lucu. Pria itu saat ini sedang berusaha membuka matanya, lebih tepatnya menyadarkan dirinya.

 

“If—, Ify?” kini giliran Rio yang dibuat terkejut. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali, memperjelas pandangannya. Apakah ia tidak salah lihat saat ini.

 

“Kok lo bisa disini?” tanya Rio kembali, ekspresinya sangat binggung, Ify tersenyum senang. Ia berhasil mengejutkan kekasihnya.

 

“Tentu saja bisa” jawab Ify dengan sangat puas. Rio terkekeh pelan, ia nampaknya sadar bahwa dirinya sedang dikerjai oleh Ify. Rio menekan tombol up di samping kasur, agar bagian atas kasurnya terangkat.

 

Ify men-scan seluruh tubuh Rio dari atas sampai bawah, wajah Rio sangat jelas seperti orang sakit. Bibirnya pucat, kedua mata sendu dan rambut acak-acaakan. Ditambah suara Rio yang masih terdengar lemah. Ify merasa kasihan dengan keadaan kekasihnya tersebut. Pasti sangat kesakitan.

 

“Lo udah nggak apa-apa?” tanya Ify memulai pembicaraan. Ia mengambil kursi dan mendudukinya. Rio menggeleng pelan, sebagai jawaban.

 

“Lo bisa tidur lagi. Gue akan jagain lo” ucap Ify memberikan perintah. Rio menggeleng sekali lagi, menolak perintah Ify.

 

“Gue udah nggak bisa tidur” jawab Rio serak.

 

Mereka mendadak terdiam, hanya saling tatap untuk waktu yang lama. Suasana kembali sunyi,

 

Perlahan Rio meraih tangan Ify, menggengamnya. Ify sendiri cukup terkejut dengan yang dilakukan oleh Rio. Namun, ia membiarkannya saja.

 

“Makasih” ucap Rio dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

 

“Untuk?”

 

“Lo udah beneran datang kesini saat ini juga”

 

“With my pleasure Tuan mario”

 

Ify dan Rio sama-sama tertawa pelan, entahlah padahal tak ada yang lucu dengan ucapan Ify. Mungkin mereka sangat bahagia bisa saling bertemu seperti ini. Rio mengeratkan genggamannya.

 

“Lo nggak ngantuk?” tanya Rio melihat kedua mata Ify yang sedikit memerah.

 

“Sedikit” jujur Ify.

 

Rio berusaha menggeser tubuhnya dengan susah payah, ia menahan belakang punggungnya yang masih terasa sakit. Ify mendadak berdiri, membantu Rio walaupun ia tak paham apa yang sedang dilakukan kekasih-nya.

 

“Tidur disini” suruh Rio menepuk kasurnya. Ia memberikan spacei  yang cukup untuk tubuh Ify.

 

Ify mengernyitkan keningnya, terdiam beberapa saat. Ia baru paham maksud dari Rio menggeserkan tubuhnya sendiri. Ify tersenyum ringan sambil menganggukan kepalanya, menuruti ucapan Rio.

 

Ify melepaskan sepatunya, kemudian membaringkan tubuhnya disamping Rio. Rio memberikan tangan kanannya sebagai penumpu kepala Ify. Rio mendekatkan tubuh Ify dengan dirinnya.

 

Cupp

 

Rio memberikan kecupan singkat di dahi Ify, membuat Ify mematung seketika dengan kedua pipi memerah. Rio terkekeh pelan,

 

“Cepetan tidur” suruh Rio, mengacak-acak rambut Ify.

 

“Hmm” Ify memposisikan tubuhnya menghadap ke Rio, mencari posisi paling nyaman, Tangan kirinya ia lingkarkan di perut Rio, memeluknya.

 

Rio kembali mencium puncak kepala Ify.

 

Sleep-tight, sayang”

 

Ify merasakan desiran hebat di sekujur tubuhnya. Rasanya sedikit jijik mendengar kalimat tersebut, namun ia juga tak bisa memungkiri bahwa ucapan Rio berhasil membuat jantungnya berdetak semakin cepat. Ify berpura-pura menutup kedua matanya dengan rapat. Ia tak berani menatap Rio.

 

Perlahan Ify terlelap dengan sendirinya. Lelah dan penat di tubuhnya menghilang seketika itu juga. Ia merasakan kenyamanan yang tenang berada di dekat Rio. Ia sangat senang bisa menghirup bau khas tubuh Rio lagi.

“Sleep-tight juga Mario”

 

 

Bersmabung……

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s