ENLOVQER DEVIL – 39

ENLOVQER DEVIL – 39

( EL )

foto

By : Luluk_HF . Follow >>

Instagram : Luluk_HF

Twitter : “ @luckvy_s “

Fans Page (FP) : “ Lulukhf_STORYS ”

Blog : hyoluluk.wordpress.com

****

 

            5 days later. Kondisi Rio sudah lebih dari membaik, ia diperbolehkan untuk pulang hari ini. Selama lima hari itu juga Ify terus menjaga Rio, ia menginap di rumah sakit dan setelah pulang sekolah pun tujuannya hanya satu yaitu menemui Rio dirumah sakit.

 

Namun, hari ini Ify tidak bisa menemani kepulangan Rio. Ia masih berada di sekolah. Rio pun pulang hanya ditemani oleh Mama-nya, Ando beserta pengawal-pengawalnya yang setia.

 

*****

 

            Rumah Rio. Rio dibantu Ando berbaring di kasur.  Ia masih sedikit kesusahan untuk berjalan, punggungnya belum terlalu bisa untuk bergerak dengan leluasa.

 

“Lo beneran nggak keren sakit kayak gini” hina Ando menghidupkan suasana. Rio tertawa pelan.

 

“Gue bukan sakit tapi terluka, bego!” sahut Rio tak mau kalah. Kini giliran Ando yang tertawa.

 

Ando menyerahkan ponsel Rio yang tadi dititpkan kepadanya.

 

“Besok ulang tahun Ify, kan?” tanya Rio melihat tanggal di layar ponselnya.

 

Ando mengangguk, membenarkan. Raut wajah Rio mulai berubah,

 

“Gue harus apa ya?”tanya Rio ke siapapun yang mau menjawab dan mengerti pertanyaan anehnya tersebut.

 

Ando mengernyitkan kening, tak paham.

 

“Lo binggung apa?” tanya Ando mencoba membaca raut wajah Rio.

 

“Gue kemarin udah mau nyiapin something buat dia, tapi karena keadaan gue sekarang yang masih gini, sepertinya tidak memungkinkan”

 

Ando mengangguk-angguk mengerti. Ia menepuk bahu Rio pelan.

 

“Nggak usah ke beban, fikirin kondisi lo dulu. Ify pasti ngerti kok” ucap Ando memberikan solusi kepada Rio.

 

Rio menatap Ando,

 

“Lo ngadain pesta?” tanya Rio,

 

“Enggak, Ify nggak pernah suka ulang tahunya di rayain besar-besaran. Mungkin hanya makan-makan sama orang terdekat” jawab Ando, memorinya kembali ke ulang tahun Ify beberapa tahun lalu, karena tahun kemarin dirinnya tidak bisa pulang untuk langsung mengucapkan selamat-ulang tahun ke sang adik.

 

“Yaudah gue fikirikan nanti aja” serah Rio menyerah karena tak dapat ide apapun.

 

Ando tersenyum, merasa lucu dengan tingkah sahabatnya. Rio tak pernah bersifat aneh seperti ini sebelumnya. Ini untuk pertama kali, Ando melihat wajah binggung Rio karena seorang gadis, dan itu adalah adiknya. Ando tak tau harus memberikan respon bagaimana. Sungguh menakjubkan! menurutnya—,

 

“Gue balik ke rumah dulu, kalau ada apa-apa lo telfon gue”

 

Rio menganggukan kepalanya.

 

“Thanks, sorry udah banyak merepotkan”

 

“Santai aja”

 

“Bye”

 

Ando membalikkan badannya, melangkah ke pintu kamar.

 

“Ndo—,” panggil Rio, menghentikan langkah Ando. Pria itu membalikkan badanya dengan ekspresi binggung, Ando menunggu Rio melanjutkan kalimatnya.

 

“kalau adik lo sudah pulang, suruh kesini”

 

Ando mendisis pelan, ia mengira ada suatu hal yang sangat penting.

 

“Nggak usah gue bilang juga waktu dia pulang sekolah pasti langsung kesini tanpa masuk dulu kerumah”

 

“Ahh… Oke”  Rio mengangkat jempolnya kemudian mengibaskan tangannya, menandakan pengusiran untuk Ando.

 

Ando menggeleng-gelengkan kepalanya, Rio tak pernah berubah sedikit pun meskipun kondisinya sedang lemah.  Ando membalikkan badannya kembali dan melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia beranjak dari kamar Rio untuk kembali kerumahnya.

 

*****

Pintu kamar Rio terbuka, seorang gadis muncul dengan seragam sekolah yang masih lengkap beserta tas dan sepatunya. Rio tertawa pelan tanpa suara, benar yang dikatakan oleh Ando beberapa jam yang lalu, gadis ini sungguh datang tanpa pulang dulu ke rumahnya. Ya…. dia adalah Ify, kekasihnya.

 

Ify masuk kedalam kamar Rio dengan tangan kanan membawa sekotak donuts J.CO dan 2 gelas minuman Cappucino Avocado , Caramello Frappe. Ify menutup pintu kamar, kemudian berjalan mendekat ke arah Rio yang sedari tadi memperhatikannya.

 

“Lo mau yang mana?” tanya Ify  menyodorkan kedua gelas minuman di tangan kananya. Mata Rio beralih ke dua gelas minuman tersebut.

 

“Avocado” jawab Rio sambil mengarahkan jari telunjuknya di gelas berwarna hijau.

 

Ify mengeluarkan satu gelas dari kotak, memberikan kepada Rio. Ify melepas kedua sepatunya kemudian tanpa dosa duduk diatas kasur Rio, lebih tepatnya disamping sang kekasih sambil menikmati minumannya sendiri.  Rio mendesah pelan, tanpa suara. Ify sama sekali tak pernah berubah.

 

Rio menarik kaos-kaki Ify, melepaskannya. Sedangkan Ify tak peduli dengan yang dilakukan oleh Rio, membiarkannya saja. Ia menikmati donat dan minuman dinginnya.

 

“Lo pulang sama siapa?” tanya Rio, hanya ingin tau. Ify tiba-tiba menghentikkan aktivitasnya.

 

Rio menatap Ify,  karena gadis itu tak langsung menjawab pertanyaanya. Padahal dirinya hanya sekedar bertanya sebagai bahan pembicaraan. Rio mengira Ify akan langsung menjawab “Dijemput Mr. Lay atau like usually, the squad” . Tapi dilain dugaan Ify terdiam,

 

“Lo nggak pulang sama Mr. Lay?”

 

 

Ify mengerjapkan mata beberapa kali, terlihat seperti berpikir keras.

 

“Lo mau gue jawab jujur atau nggak?” tanya Ify balik dengan nada suara yang cukup aneh.

 

Rio mengernyitkan kening,

 

“Whatever. Be honest or Lie . That’s your choice”

 

Ify menghela pelan, Rio selalu tenang seperti biasanya. Namun, Ify sebaiknya memilih jujur. Tak ingin membuat masalah bagi hubungannya kedepan.

 

“Gue pulang lebih awal, Mr. Lay belum jemput. Illy dan Sivia sudah pulang duluan karena mau ke toko buku, gue mau pulang naix taxi tapi—“ Ify menatap Rio dengan wajah selugu mungkin, dan sepolos mungkin.

 

“Tapi?”

 

“Ada kakak kelas yang suka sama gue, dia nganterin gue beberapa hari yang lalu. Dia maksa mau nganterin gue pulang. Gue males debat panjang sama dia, akhirnya gue  nerima tawaranya” lanjut Ify mengakhiri kejujurannya, Rio mengangguk-anggukan kepalanya sambil menyeruput minumannya.

 

“Jadi semua ini yang beliin kakak kelas lo?” tanya Rio lagi, nada suaranya lebih dingin.

 

“Gue tadi niatnya mau bayar sendiri, tapi dia maksa buat bayarin” Jawab Ify sejujur mungkin, Rio kembali menganggukan kepalanya, tak menyahuti lagi.

 

“Lo nggak cemburu kan?”

 

“Nggak marah kan?” tanya Ify hati-hati.

 

“Nggak. Salam ke kakak kelas lo”

 

“Untuk?” tanya Ify terkejut, tak mengerti maksud kekasihnya.

 

“Ucapin makasih karena udah nganterin pacar gue dengan selamat” Rio mengembangkan senyumnya tanpa beban, membuat Ify langsung mendesis sinis. Sedikit kesal! Sangat susah untuk membuat kekasihnya cemburu. Ia jadi curiga sebenarnya Rio benar memiliki rasa kepadanya atau tidak sih? Aissh!! Menyebalkan!.

 

“Oke, nanti gue salamin!”  Ify mengangkat jempolnya, ekspresi kekesala-nya sedikit kentara. Rio mengacak-acak puncak rambut Ify.

 

DRTTDRTTT

 

            Ponsel Ify berdering, membuat pandangan Rio maupun dirinnya mengarah ke sumber suara, lebih tepatnya ke arah layar ponsel Ify yang berada ditengah-tengah mereka. Sebuah nama muncul, “Ariel”.

 

Ify menatap ke Rio, mengerjapkan matanya beberapa kali.

 

“Angkat” suruh Rio, Ify pun mengiyakan. Ia meraih ponselnya, menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga kanan.

 

“Kenapa?” tanya Ify menyahuti sedingin mungkin. Ia melirik ke Rio yang terus memperhatikannya lekat-lekat.

 

“Nanti malam? Ngapain?”

 

“Gue nggak bisa!!”

 

“Kok lo nyebelin sih!!” nada suara Ify meninggi, menandakan ketidak sukannya. Ariel terus memaksa untuk mengajaknya keluar.

 

“Loudspeaker” suruh Rio tiba-tiba, Ify mendadak diam sejenak, terkejut.

 

Dengan sedikit berat hati ia mengaktifkan loadspeaker di ponselnya, menjalankan perintah Rio.

 

“Kalau gitu gue jemput besok pagi, lo bareng gue ke sekolah”

 

“Gue nggak mau!” tolak Ify kembali.

 

“ Lo diantar pacar lo?”

 

Ify dan Rio saling tatap,

 

“Iya. Dia nganterin gue” bohong Ify sengaja.

 

“Dia udah keluar dari rumah sakit?”

 

Ify mengigit bibir dalamnya, meurutiki pertanyaan Ariel. Ify merasakan keringat dingin mulai keluar, sekali lagi ia seperti gadis yang kepergok selingkuh dengan pria lain. Ify melirik ke Rio sebentar, pria itu menatapnya dengan datar.

 

Diluar dugaan Ify.

 
“Sudah. Lo dapat salam dari dia, katanya terima kasih udah nganterin gue pulang” jawab Ify seenaknya.

 

“Dia kenal gue? Dia tau kalau gue suka sama lo?”

 

“Dia lagi di depan gue”

 

“Ah.. baguslah kalau tau.”

 

Ify menggeram pelan, pria ini sungguh kelewat tak waras. Tanpa menunggu lama Ify mematikan sambungannya sepihak. Emosinya mulai mencuak, sangat kesal dengan kelakuan Ariel yang lama kelamaan semakin seenak jidat.

 

Ify memasukkan ponselnya ke dalam tas, dengan kasar.

 

“Kok dia bisa tau kalau gue dirawat dirumah sakit?”  tanya Rio, ia mengambil satu donat didalam kotak dan mencomotnya. Ekspresinya sangat tenang, tanpa beban seolah tak terjadi apapun barusan.

 

Ify menghela pelan, ia tidak tau sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Rio apakah pria itu marah atau tidak? Ify sungguh tak tau. Rio tak bisa dibaca. Wajahnya sangat datar dan dingin. Like poker face!

 

“Dia yang nganterin gue waktu kerumah sakit malam-malam”

 

“Oh…” Rio hanya menyahuti singkat, ia mengambil tissue di sebelahnya mengusapkan ke mulut Ify yang belepotan dengan selai cokelat.

 

“Oh ya, besok ulang tahun gue dan gue nggak mau apa-apa dari lo.” Ucap Ify mencoba mengalihkan topik pembicaraan, ia sangat tak nyaman jika obrolan tentang Ariel diteruskan. Toh, memang dirinnya sama sekali tak ada rasa dengannya, hanya saja Ariel yang terus-terusan mengganggunya.

 

Rio mengernyitkan kening, membuat lipatan-lipatan ditengah dahinya.

 

“Kenapa? Lo boleh minta apapun, dan gue akan kabulkan ketika gue benar-benar pulih”

 

“Gue minta lo cepat sembuh dan bisa kembali ke rutinitas aja sudah cukup” jawab Ify dengan sungguh-sungguh, Rio terkekeh pelan.

 

“Gue pasti akan cepat sembuh” balas Rio tak mau dikhawatirkan. Ia sendiri merasa bahwa kondisinya semakin membaik.

 

“Kalau gitu—“ Ify menaikkan satu alisnya, sedikit berpikir.

 

“Gue mau lo terus setia sama gue dan nggak selingkuh dengan gadis lain!!” lanjut Ify setengah mengancam. Rio terkekeh pelan, ia menatap Ify.

 

“Bukannya kebalik?”

 

“Maksudnya?” tanya Ify tak mengerti.

 

“Seharusnya gue yang bilang kayak gitu ke lo”

 

Ify mendesis pelan tanpa suara, kedua tangannya refleks terkepal. Pernyataan singkat Rio sangat menusuk  dan mengena sampai sum-sum tulang paling dalam. Ia seperti baru saja disiram dengan air dingin satu ember. Bagaimana bisa pria itu mengatakannya dengan wajah yang sangat datar tanpa dosa.

 

Apakah baru saja ia mendapatkan tuduhan dari kekasihnya sendiri? Apakah Rio mulai meragukannya?

 

“Gue nggak selingkuh!! Gue nggak suka sama Ariel!!” teriak Ify tak terima dengan tuduhan Rio.

 

“Siapa yang tau, future!!” Rio mengangkat kedua bahunya sambil menyeruput minumannya yang hampir habis. Ify menahan kekesalannya.

 

“Lo nggak percaya sama gue?”

 

“Percaya, sangat!” jawab Rio sungguh-sungguh.

 

“Terus?”
Rio tersenyum, mengacak-acak pelan rambut Ify. Namun, gadis itu langsung menepisnya sedikit kasar. Ify butuh penjelasan! Ia merasa diragukan oleh kekasihnya sendiri. Ia memberikan tatapan tajam ke Rio.

 

“Kalau lo ngerasa udah bosan dan ingin lepas dari gue, jangan sungkan untuk bilang”

 

“Gue akan lepasin lo”

 

“Apaan sih!!” Ify semakin tak mengerti jalan pikiran Rio, ia langsung kesal setengah mati. Mood-nya turun drastis. Padahal ia sudah berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka, namun Rio seolah ingin memojokannya.

 

“Lo mau ngelepasin gue gitu aja?”

 

“Lo sebenarnya suka nggak sih sama gue? Lo hanya main-main sama gue?”

 

Ekspresi Rio berubah, terkejut. Sepertinya Ify salah paham dengan maksudnya. Ify terlihat sangat marah.

 

“Lo kira gue cewek yang suka selingkuh? Hah?”

 

“Gue hanya pulang sama kakak kelas nggak lebih. Gue nggak pernah ada perasaan sama dia, gue hanya menerima niat baiknya”

 

“Kalau lo nggak pingin gue dekat-dekat sama dia, gue akan lakuin. Tapi ucapan lo tadi secara nggak langsung udah nuduh gue kalau gue akan selingkuh. Dan lo kira gue barang?”

 

“Yang bisa lo lepas seenaknya dan buang gitu aja?”

 

Rio menggaruk belakang kepalanya. Semakin binggung, kok masalahnya tambah jadi besar gini. Bukan maksudnya seperti itu, Ify tambah salah paham.

 

“Fy.. dengerin gue dulu”

 

“bukan gitu maksud gue” Rio menenangkan kekasihnya, kedua mata Ify terlihat memerah menahan amarahnya.

 

“Gue ha—“

 
“Gue balik pulang dulu, kepala gue pusing banget!” potong Ify dengan cepat.

 

Ia meraih tasnya dan segera turun dari kasur Rio. Ify berjalan cepat keluar dari kamar Rio tanpa mengenakan sepatunya, membiarkannya tertinggal di kamar Rio. Ia tak mau emosinya tambah meledak disana, ia tak ingin bertengkar dengan Rio. Ify hanya ingin menenangkan pikirannya.

 

Ify tau bahwa dirinya kekanak-kanakan, tapi ia sedikit tidak terima karena secara tidak langsung Rio telah meragukan perasaannya.

 

Rio sendiri hanya bisa menatap kepergian Ify dengan wajah penuh kebingungan. Ia menghela berat, tak nenyangka bahwa Ify akan marah kepadanya.

 

Rio terkekeh pelan, ia menyadari dan harus mengerti bahwa yang ia pacari  adalah seorang gadis SMA yang akan menginjak umur 17 tahun. Ia harus mengalah dan tidak boleh ikut kebawa emosi, ia tau bahwa mood Ify saat ini masih naik-turun. Umur remaja yang masih cukup labil.

 

“Dia benar-benar seorang gadis remaja!”

Rio memilih membiarkan saja Ify menenangkan dirinnya, ia akan menemui kekasihnya jika sudah tenang.

 

Bersambung.  . . .  .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s